“Ke Mana Perginya Mimpi-Mimpi yang Katanya Gagal?”
Oleh Ulil Hidayah
Pernahkah kamu begitu menginginkan sesuatu, memperjuangkannya bertahun-tahun, lalu melepasnya pergi begitu saja di depan mata? Jika pernah, mungkin kamu akan memahami bagaimana rasanya menjadi aku melalui cerita ini.
Namaku Ulil Hidayah. Aku lahir dan tumbuh di sebuah desa kecil di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Sebuah desa yang bahkan namanya jarang muncul di peta mimpi anak-anak Indonesia. Di sana, sawah lebih luas daripada peluang, dan jalan menuju cita-cita terasa lebih panjang daripada jalan menuju kota.
Aku adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Orang tuaku merupakan petani yang sudah berusia setengah abad. Aku berasal dari keluarga sederhana. Sangat sederhana, bahkan. Namun, jika ada satu hal yang tidak pernah sederhana dalam hidupku, itu adalah mimpiku.
Sejak kecil, aku mencintai belajar dengan cara yang mungkin dianggap berlebihan. Mungkin, aku sadar bahwa belajar adalah salah satu jalan yang bisa membawaku melihat dunia yang lebih luas daripada hamparan sawah. Ketika orang tua lain menyuruh anak-anak mereka membuka buku, ibuku justru sering berkata, “Kamu sudah terlalu lama belajar, sudahi dulu belajarnya, Nak. Istirahatlah sebentar.”
Aku selalu penasaran dengan banyak hal. Bagiku, buku adalah jendela yang memperlihatkan dunia yang belum pernah kulihat. Sementara teman-temanku berlarian di sore hari, aku sering duduk mengerjakan soal-soal dan catatan yang bahkan belum ditugaskan guru.
Di sekolah dasar, aku hampir tidak pernah absen dari peringkat pertama. Selain itu, aku juga memenangkan berbagai lomba: Olimpiade Matematika, Olimpiade IPA, Cerdas Cermat, Olimpiade Pendidikan Agama Islam, pidato Bahasa Arab, tartil Al-Qur’an, hingga cerdas cermat Islam. Aku sangat senang setiap dikirim menjadi perwakilan sekolah pada setiap lomba. Alasannya sederhana: Uang.
Aku masih terlalu naif untuk memaknai ‘prestasi’ pada saat itu. Saat memenangkan lomba, aku tidak pernah tahu berapa jumlah hadiah yang diberikan panitia. Yang kutahu, aku selalu bahagia saat guruku memberi uang Rp100.000 rupiah. Uang yang jumlahnya sangat fantastis bagiku, saat itu. Uang tersebut selalu aku tabung untuk keperluan di masa depan. Meskipun saat itu aku belum tahu masa depan seperti apa yang sedang menungguku.
Dari sisi finansial, ekonomi keluarga kami belum banyak berubah. Sepulang sekolah saat musim padi, aku biasanya langsung ke sawah untuk membantu mulai dari tahap mencangkul sampai memanen padi. Aku juga masih ingat momen menunggu ibu mendapatkan pinjaman agar bisa berangkat sekolah di pagi hari. Kadang, aku berangkat saja tanpa membawa uang. Lalu, ibu akan datang mengantarkan uang yang baru didapat melalui jendela kelas. Tidak ada yang lebih mengharukan daripada melihat orangtua berjuang agar anaknya tetap bisa belajar dengan tenang.
Gambar: Keseharian di sawah (Dokumentasi Penulis)
Ketika lulus SD, aku ingin sekali masuk pesantren. Aku sudah membayangkan kehidupan baru di asrama yang penuh ilmu, teman, dan pengalaman.
Namun, mimpi itu berhenti pada angka Rp75.000.
Itulah biaya SPP pesantren yang saat itu terasa begitu mahal bagiku.
Akhirnya, aku mengurungkan niat dan memilih SMP terdekat.
Gratis, tentunya.
Masa SMP sebagian besar diwarnai pandemi Covid-19. Tidak banyak kenangan yang tercipta. Namun satu hal yang aku ingat, aku masih menjadi langganan peringkat pertama. Aku tentu saja merasa bahagia karena selalu berhasil memepertahankan peringkatku dari sekolah dasar. Sampai suatu hari aku mendengar sebuah kalimat dari sesorang yang tidak aku sangka.
Dia adalah temanku dari salah satu SMP unggulan,
“Tidak usah bangga jadi juara. Sekolahmu bukan sekolah favorit dan unggulan. Coba kalau kamu sekolah seperti itu, Kamu pasti tak akan dapat juara.”
Kalimat itu seperti duri yang tertancap diam-diam.
Menyakitkan.
Aku tidak membalas.
Aku memilih membuktikan karena terkadang, rasa sakit adalah bahan bakar terbaik untuk bisa berlari lebih jauh.
Mungkin dari sinilah awal mula aku menganggap bahwa impian sama dengan unggulan/favorit.
Saat melihat adanya peluang kompetisi melalui Olimpiade Sains Nasional (OSN), aku langsung saja mendaftar bidang Matematika. Aku belajar siang dan malam dengan tekun. Membedah berbagai soal yang aku dapat dari guru pembimbing. Mengerjakan soal sampai larut, dan memahami rumus-rumus yang belum diajarkan di sekolah.
Ketika ujian berlangsung, aku mengerjakannya dengan penuh keyakinan. Berbulan-bulan belajar akhirnya terbayar saat hasil diumumkan: aku berhasil meraih peringkat pertama. Tidak aku sangka jika aku bahkan bisa mengungguli peserta dari sekolah favorit, termasuk mereka yang pernah meremehkanku.
Sayangnya, kisah itu tidak berlanjut hingga tingkat provinsi. Karena keterbatasan akses informasi, sekolahku terlambat mengetahui jadwal seleksi berikutnya. Kesempatan yang telah kuperjuangkan berbulan-bulan akhirnya terlewat begitu saja. Aku tentu merasa sangat sedih. Padahal dalam benakku, aku sudah membayangkan perjalanan menuju tingkat nasional, bertemu peserta-peserta terbaik dari berbagai daerah, dan megharumkan nama sekolah. Namun, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Setelah berkali-kali menyalahkan diri sendiri, aku akhirnya menyadari bahwa tidak ada yang bisa kuubah dari sesuatu yang telah berlalu. Aku memilih menerima dan mensyukuri apa yang telah kucapai. Meski hanya sampai tingkat kabupaten, kemenangan itu tetap berarti. Setidaknya, aku telah membuktikan kepada diriku sendiri bahwa anak dari sekolah yang sering dipandang sebelah mata pun mampu bersaing.
Berkaca dari pengalaman SMP, aku bertekad tidak ingin kembali bersekolah di tempat yang minim kesempatan. Aku sangat percaya dengan kutipan:
“Mutiara akan tetap menjadi mutiara di mana pun ia berada”
Namun, aku juga tidak menerima 100%. Menurutku, siapa yang mau bersusah payah mencari mutiara di dasar lumpur? Bukankah orang-orang lebih memilih menyelam ke lautan yang jernih, tempat mutiara mudah ditemukan tanpa perlu membersihkan lapisan kotoran yang menutupinya?
Oleh karenanya, aku mendaftar ke sebuah SMA gratis untuk siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Sekolah ini didirikan oleh Bapak Chairul Tanjung, salah satu orang terkaya di Indonesia.
Tahap pertama aku lolos dengan nilai yang sangat memuaskan. Tahap kedua mengharuskanku ujian ke Medan, menempuh perjalanan 16 jam dari desa. Aku berangkat dengan meminjam uang tetangga, tentunya.
Aku datang membawa harapan sebesar langit.
Namun, takdir membawa cerita lain.
Menuju lokasi ujian, aku mabuk perjalanan dan pusing luar biasa. Perutku seperti diremas-remas. Konsentrasiku buyar saat mengerjakan soal ujian.
Dan ketika pengumuman tiba, namaku tidak ada di daftar kelulusan.
Aku merasa gagal.
Sangat gagal
Mungkin itu adalah salah satu hari paling menyedihkan dalam hidupku.
Aku telah membayangkan hidup di kota.
Aku telah membayangkan bertemu teman-teman hebat.
Aku telah membayangkan keluar dari batas-batas yang selama ini mengurungku.
………………….
Aku merasa semua angan itu runtuh dalam satu pengumuman.
Terlalu larut dalam kesedihan, aku lupa jika dunia masih terus berputar. Dia tidak menungguku selesai meromantisasi kegagalan.
Penerimaan SMA favorit berangsur-angsur ditutup, dan aku tidak menyadarinya.
Aku semakin stres saat tahu bahwa aku terlambat mendaftar ke SMA favorit lain.
Dan seperti kisah yang sudah-sudah, aku kembali bersekolah di SMA dekat rumah.
Gratis.
Tidak favorit.
Persis seperti yang berusaha kuhindari.
……………………..
Tahun pertamaku berjalan datar. Aku tidak memiliki banyak teman. Aku merasa mimpiku tertinggal jauh. Sampai kemudian aku bertemu seseorang yang mengubah arah hidupku. Namanya Pak Muttaqin Kholis Ali. Beliau adalah guru informatika sekaligus wali kelasku di kelas sepuluh. Aku sangat mengagumi beliau karena tidak hanya mengajar pelajaran, namun juga memberikan motivasi bagi aku yang mulai kehilangan arah. Dari beliau aku belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bertumbuh.
Sama seperti SD dan SMP, di masa SMA aku juga tetap mendapatkan peringkat pertama. Namun karena tidak ingin mengulang kisah yang sama, aku bertekad untuk mengumpulkan portofolio untuk masuk perguruan tinggi favorit. Aku memberanikan diri mengikuti lomba dengan bimbingan Pak Muttaqin.
Pada kompetisi karya tulis ilmiah pertama yang aku ikuti, aku dan tim langsung menyabet juara pertama. Nama sekolah kami yang hampir tidak pernah disebut dan dikenal, mendadak berdiri di podium tertinggi.
Sejak saat itu aku seperti menemukan kepercayaan diri untuk terus mencoba. Aku mengikuti berbagai kompetisi: karya tulis ilmiah, puisi, cerpen, pidato Bahasa Indonesia, pidato Bahasa Inggris, tahfiz, Olimpiade Matematika, hingga Informatika.
Aku menang berkali-kali.
Sertifikat mulai menumpuk.
Namun, anehnya, kebahagiaan itu perlahan terasa kosong.
Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.
Apakah tujuan hidupku hanya menjadi juara?
Aku mulai mencari jawaban dari pertanyaan tersebut dengan membangun Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bersama Pak Muttaqin. Di organisasi ini, aku dipercaya menjadi ketua. Kami mengadakan pelatihan menulis, public speaking, penelitian, dan berbagai kegiatan pengembangan diri lainnya. Kami juga aktif mengikuti berbagai lomba yang diadakan di sekitaran kabupaten/kota.
Anggota KIR satu persatu mulai berani ikut lomba. Ada yang kalah dan ada yang menang, tentu saja.
Saat kalah, mereka akan kecewa. Namun mereka tetap datang berterimakasih atas segala hal yang telah diajarkan “Terima kasih, Kak. Karena Kak Ulil, saya jadi berani mencoba.”
Begitupun saat menang, mereka akan datang dengan wajah berseri dan untaian panjang doa, “Terima kasih, Kak. Sudah membantu membimbing saya. Semoga Kakak sehat dan sukses selalu.”
Kalimat sederhana itu menghadirkan kebahagiaan yang tidak pernah kutemukan di podium mana pun. Saat itulah aku menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini aku cari. Ternyata bahagia bukan terhenti saat kita berdiri paling tinggi. Bahagia adalah ketika kita bisa membantu orang lain naik bersama.
……………..
Menjelang kelulusan SMA, aku mencoba mengejar satu hal besar yang sejak dahulu sudah aku impikan.
Aku ingin menjadi dokter.
Ibuku adalah orang yang paling sering mengaminkan mimpi itu. Beliau selalu berkata ketika aku memotong kuku kakinya yang rusak dimakan air sawah.
“Ulil pemberani dan gak mudah jijik ya, buat bedah-bedah kaki ibu gini. Ulil cocok jadi dokter.”
Meskipun tidak percaya diri untuk mendaftar, aku tetap mengamini ucapan ibu.
“Kenapa tidak mencoba mendaftar kampus impian? Sebenarnya, Ulil takut kecewa karena gagal? Atau Ulil takut orang lain kecewa karena Ulil gagal?”
Saat aku ragu-ragu, pertanyaan itu menjadi tamparan yang memantapkanku untuk memilih kampus dan jurusan impianku. Berbekal doa orang-orang, nilai sempurna, portofolio, segala usaha, dan harapku, aku mendaftar SNBP dengan memilih jurusan kedokteran di salah satu universitas di pulau Jawa.
Gambar: Pengumuman SNBP (Dokumentasi Penulis)
Tetapi apa hasilnya?
Lagi dan lagi aku harus menelan kegagalan.
Namun, belum sempat meromantitasi perasaan sedih tersebut, kabar pendaftaran SNBT segera datang. Awalnya, aku masih bersikeras mempertahankan mimpi lamaku: Berkuliah di Jawa dengan jurursan kedokteran. Aku selalu memperjuangkan mimpi itu pada ketidaksetujuan yang datang dari sekeliling. Setelah melalui perjalanan panjang yang tak ingin kuurai satu per satu, aku akhirnya mengalah. Dengan berat hati, aku mengikuti saran guruku dan memilih Program Studi Pendidikan Fisika di Universitas Negeri Medan.
Sejujurnya, aku tidak ingin di Universitas Negeri Medan. Sejujurnya, aku tidak mau menjadi guru. Sejujurnya, aku tidak menyukai fisika. Bukan karena profesi, jurusan, dan kampusnya jelek. Namun, aku tidak pernah terpikir dipersiapkan menjadi guru fisika. Fisika adalah mata pelajaran yang paling tidak kusukai. Namun seperti masa-masa laluku, hidup sering kali membawa kita ke tempat yang tidak pernah direncanakan.
………………..
Aku mengikuti ujian SNBT dengan perasaan hambar.
Dan benar saja.
Aku lolos dengan nilai yang seharusnya lolos passing grade di kampus dan jurusan impianku.
“Andai saja dulu aku tetap daftar,mungkin saja aku akan lolos dengan nilai setinggi ini” batinku
Gambar: Pengumuman SNBT (Dokumentasi Penulis)
Saat itu aku belum mengerti bahwa hidup kadang membawa kita ke tempat yang tidak diminta, karena di sanalah versi terbaik diri kita sedang menunggu. Singkat cerita, aku juga lolos di lima kampus lain yakni Universitas Presiden, Universitas Telkom, Universitas Islam Negeri Djamil Jambek Bukittinggi, Universitas Internasional Semen Indonesia, dan Politeknik Ketenagakerjaan masing-masing melalui jalur beasiswa. Namun, setelah melalui pertimbangan panjang dengan orang tua, aku memilih melanjutkan Pendidikan di Universitas Negeri Medan.
Hari-hari awal kuliah terasa seperti pengulangan masa SMA.
Aku datang tanpa semangat.
Tanpa ekspektasi.
Tanpa mimpi besar.
Tetapi sekali lagi, Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang baik.
Aku bertemu dosen dan teman-teman seperti orang-orang yang aku juga temui semasa SMA.
Aku kembali mengambil berbagai peluang.
Dan perlahan, kehidupan yang tidak pernah kurencanakan justru menjadi kehidupan yang paling kusyukuri.
Hari ini, orang-orang tidak mengenalku sebagai orang yang pernah gagal mencapai kampus impian.
Hari ini, orang-orang mengenalku sebagai penerima 4 beasiswa yakni Beasiswa Unggulan, Beasiswa Rinaldi, Beasiswa Pemimpin Indonesia, dan Beasiswa KIPK (meskipun pada akhirnya aku mengundurkan diri)
Hari ini, orang-orang mengenalku sebagai duta kampus dari salah satu perusahaan terbesar di dunia, Google.
Sebagai ambassador Popsurvey
Sebagai mentor Beasiswa Unggulan.
Sebagai narasumber dan content creator tentang self development dan life balance
Sebagai mahasiswa berprestasi yang memenangkan berbagai kompetisi.
Sebagai asisten laboratorium fisika saat masih semester 3.
Sebagai mahasiswa dengan IP 4.00.
……………….
Tetapi jika ada yang bertanya apa perjuangan terbesar dalam hidupku, jawabannya bukan perjuangan dalam mendapatkan semua prestasi itu.
Perjuangan sekaligus pencapaian terbesarku adalah aku tidak menyerah.
Aku tidak menyerah ketika harus menunggu ibu mendapatkan pinjaman agar bisa bersekolah.
Aku tidak menyerah ketika diremehkan.
Aku tidak menyerah ketika tidak jadi sekolah di pesantren
Aku tidak menyerah ketika ditolak SMA impian.
Aku tidak menyerah ketika gagal masuk jurusan impian.
Aku tidak menyerah ketika hidup membawaku ke jalan yang tidak pernah kupilih.
Kini aku mengerti.
Kampus impian bukan selalu kampus favorit. Kadang kampus impian adalah tempat yang pada akhirnya mengubah kita menjadi manusia yang selama ini diimpikan oleh diri kita sendiri.
Universitas Negeri Medan, kampus yang mungkin tidak spektakuler di mata banyak orang. Akan tetapi, barangkali itulah mimpi yang sebenarnya selama ini hidup diam-diam dalam hatiku. Selama bertahun-tahun, aku lantang mengatakan kepada banyak orang bahwa aku ingin masuk jurusan A di kampus A. Aku menyusunnya sebagai target, menuliskannya dalam rencana hidup, bahkan memperjuangkannya dengan segenap tenaga.
Namun, ada satu hal yang baru kusadari kemudian. Sering kali, apa yang kuucapkan kepada manusia ternyata berbeda dengan apa yang kupanjatkan kepada Tuhan. Saat aku berkata kepada semua orang bahwa aku ingin menjadi dokter, pada malam-malam yang sunyi aku justru berdoa agar Tuhan membawaku ke jalan yang membuatku tetap bisa mengabdi kepada banyak orang tanpa harus meninggalkan keluargaku terlalu jauh.
Saat aku berkata bahwa aku ingin berkuliah di kampus ternama di Pulau Jawa, dalam setiap sujudku aku justru memohon agar dapat belajar di tempat yang masih memungkinkan aku sampai dengan cepat ketika orang tuaku membutuhkan. Tempat yang aksesnya masih mudah untuk seorang anak yang memiliki ayah dan ibu yang telah menua.
Dan mungkin, di situlah letak titik lemah kita sebagai manusia.
Kita sering kali sibuk memperjuangkan apa yang kita inginkan, sementara hati kecil kita diam-diam memohon sesuatu yang berbeda. Kita merasa kecewa ketika Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta dengan lisan, padahal bisa jadi Ia sedang mengabulkan apa yang selama ini kita minta dengan hati.
Kini ketika aku menoleh ke belakang, aku mulai memahami bahwa tidak semua doa dikabulkan dalam bentuk yang kita kenali. Ada doa yang datang dengan wajah yang berbeda. Ada harapan yang terwujud melalui jalan yang tidak pernah kita rencanakan.
Dan Universitas Negeri Medan mungkin adalah salah satunya.
Bukan kampus yang paling sering kusebut dalam cita-citaku, tetapi kampus yang diam-diam menjadi jawaban atas doa-doa yang berulang kali kusampaikan dalam sujudku. Sebuah tempat sebagai jawaban dari setiap perjuanganku sejak SD sampai SMA.
Dan jika hari ini ada seseorang yang sedang merasa gagal karena tidak diterima di sekolah, jurusan, atau kampus impiannya, izinkan aku mengatakan satu hal.
Jangan buru-buru menganggap mimpimu berakhir. Mungkin Tuhan hanya sedang menulis cerita yang lebih indah daripada yang mampu kamu bayangkan.
Sebab aku adalah buktinya.
Aku pernah kehilangan kampus impian.
Tetapi aku menemukan diriku sendiri.
Gambar: Beberapa penghargaan dan kegiatan (Dokumentasi Penulis)
