Tempat yang Tak Pernah Kucari, Justru Membawaku Lebih Tinggi
Ada tahun di mana air mata lebih banyak jatuh dari sebelumnya, doa terasa lebih panjang dari biasanya, dan usaha yang jauh lebih keras. Tahun 2024—tahun ketika semua orang meragukan mimpiku. Aku sekolah di sekolah kejuruan dengan mayoritas teman-teman sebayaku memilih bekerja dan menghasilkan uang karena mereka pikir percuma sekolah kejuruan jika setelah lulus tidak bekerja. Dari ratusan siswa di sekolahku, salah satu yang sering mengunjungi ruang konseling adalah aku. Bisa seminggu dua kali atau bahkan seminggu tiga kali sampai guru-guru di sana bosan melihatku bimbingan, “Kamu lagi, kamu lagi,” begitu katanya. Bukan tanpa alasan aku datang mengunjungi ruang konseling, tapi memang aku membutuhkannya, aku tak tahu arah. Tak ada sarjana di keluargaku, tak ada yang bisa kutanyai tentang dunia perkuliahan. Tujuanku adalah Unpad kala itu, indah di bayang-bayang aku kuliah di Jatinangor dengan jurusan impianku, pulang kuliah sehabis rintik hujan di kota orang dan hidup sendiri di sana.
Menjelang pendaftaran Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi atau biasa disebut SNBP, sekolahku mendapatkan kuota bagi siswa-siswi berprestasi untuk mendaftar. Jurusanku mendapat sekitar dua puluh kuota, dan aku termasuk salah satunya. Kesempatan itu membuatku berani menggantungkan harapan pada satu nama yang selama ini hidup di kepalaku: Unpad. Dengan penuh keyakinan, aku mengatakan pada guru konselingku aku ingin masuk Unpad. Namun, beliau hanya tertawa kecil dan berkata, “Konsultasikan saja dulu dengan orang tuamu.” Meskipun tanggapan itu terasa menggantung, aku tetap pulang dengan semangat yang sulit kusembunyikan. Bergegas aku menceritakan semuanya pada ibu. Kuceritakan bagaimana alur pendaftaran SNBP dengan penuh semangat. Aku menjelaskan dengan penuh keyakinan, “Gratis kok, Bu. SNBP ini tidak dipungut biaya,” kataku penuh harap. Namun, mendengar jawaban ibu pelan, nyaris mematahkan semangatku saat itu. Ibu mengatakan bahwa aku tidak perlu kuliah. Alasannya sederhana, tapi membuat terasa begitu berat kudengar. Biaya hidup di Jatinangor mahal, tidak ada biaya untuk kebutuhan sehari-hari, dan anak perempuan tidak perlu pergi jauh dari rumah. Saat itu, harapanku terasa runtuh. Mimpi yang selama ini kusimpan seakan harus kukubur perlahan.
Setelah memohon-mohon agar aku diberi izin untuk daftar SNBP yang sekali seumur hidup itu, akhirnya ibu menghela napas panjang dengan menjawab seadanya tidak mengiyakan, tidak juga melarang. Aku menganggap jawaban ibu saat itu adalah iya aku boleh mendaftar SNBP. Guru konselingku tak tahu kalau ibuku tidak memberi izin untuk aku mendaftar di Unpad, bukan hanya di Unpad tapi tidak diberi izin untuk mendaftar kuliah. Saat itu guruku terus meyakinkanku untuk memikirkan kembali kalau aku ingin mendaftarkan diri ke Unpad, aku diberi waktu kurang lebih dua minggu untuk memutuskan akan memilih kampus mana. Karena beliau tidak menyarankanku untuk memilih Unpad sama seperti ibu. Katanya karena belum ada lulusan sekolahku yang diterima di Unpad dan nilaiku terbilang kecil untuk sekelas Unpad apalagi jurusan yang aku mimpikan adalah jurusan bergengsi. Beliau bilang, aku terlalu percaya diri untuk memilih Unpad, lebih tepatnya tidak sadar diri dan tidak realistis, begitu katanya. Aku ditampar fakta. Sakit. Untuk bermimpi pun perlu tahu diri.
Kupikirkan semuanya berulang kali. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar berada di pilihan yang sulit kutentukan. Aku tidak pernah punya mimpi kuliah selain di Unpad. Seminggu terakhir sebelum pendaftaran berakhir aku kembali mengunjungi ruang konseling dan selama seminggu itu aku tidak punya keputusan apa-apa. Tatapanku kosong tapi pikiranku penuh, kuceritakan sebagian yang memenuhi kepalaku akhir-akhir ini pada guru konselingku. Aku bilang, aku bermimpi di Unpad tapi ibuku belum bisa mencukupi segala kebutuhanku jika aku kuliah di sana, aku yatim sejak kecil, nilaiku juga tidak begitu bagus untuk bersaing satu Indonesia. Aku ingin mundur dari pilihan ini, aku tidak punya pilihan lain. Guru konselingku paham akan hal itu, tamparan kemarin darinya cukup keras sampai aku tak ingin bermimpi lagi. Kemudian beliau memberikan pilihan lain, menyarankan untuk memilih kampus yang dekat dengan rumah dan mendaftar KIP-K untuk bisa melanjutkan pendidikan tanpa harus bingung memikirkan biaya, beliau memberiku waktu satu minggu terakhir aku bisa memutuskan.
Setiap kembali ke rumah, pikiranku terus dipenuhi kebingungan. Aku terus berkutat dengan kenyataan bahwa mimpi yang selama ini kutulis harus perlahan kulepaskan. Antara mimpi dan kenyataan membuatku berpikir apa sebenarnya aku tidak boleh bermimpi. Hari-hariku dipenuhi banyak pertimbangan. Aku terus berdoa, mencoba mencari jalan yang terbaik di tengah kebingungan yang tak kunjung selesai. Apa aku harus mencoba mengambil mimpiku dengan jalan yang lain? Dengan tetap kuliah di Universitas Siliwangi di dekat rumahku dengan jurusan yang tak pernah ada dalam mimpiku? Aku berpikir cukup lama, aku mempertimbangkan semuanya dengan matang. aku mengunjungi laman Universitas Siliwangi, kucari jurusan yang sekiranya sejalan denganku, meskipun yang kucari sebenarnya bukan bagian dari mimpiku. Aku berhenti di satu jurusan yang tak asing lagi di telingaku, Pendidikan Bahasa Indonesia. Ini yang sekiranya sejalan denganku, mempelajari bahasa juga sastra. Kuhirup napas panjang, kuhembuskan pelan, langsung kuputuskan saat itu juga untuk memilih jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia.
Menjelang malam aku masuk ke kamar ibuku untuk meminta doa dan segalanya, di sana kurasa aku sedang menantang takdir, karena bagi orang kecil sepertiku rasanya mustahil. Aku memecah keheningan malam dengan membuka percakapan lebih dulu pada ibuku. Aku berkata mantap bahwa pilihanku kali ini akan kupertanggungjawabkan. Aku hanya meminta izin untuk berjuang sekali ini saja dengan memilih Universitas yang ada di dekat rumah sekaligus aku akan mendaftar KIP-K dengan maksud agar tidak membebankan ibu sama sekali. Jika takdir berpihak padaku, aku akan kuliah di Universitas Siliwangi dengan jurusan yang kupilih, uang semesterku akan ditanggung KIP-K, jadi tidak akan terlalu memberatkan beban ibu selama ini. Tetapi jika takdir menginginkanku memilih jalan lain lagi alias aku tidak diterima jalur SNBP ini, aku memutuskan akan bekerja apapun yang bisa kulakukan. Begitu kataku pada ibu. Ibu hanya mengangguk mengiyakan, ia bilang terserah pilihanku saja. Perasaanku sedikit lega mendengar itu, setidaknya ibu tahu arah hidupku akan dibawa ke mana setelah lulus nanti.
Sambil menunggu hasil SNBP aku masih sibuk dengan tugas akhirku di sekolah karena menjelang kelulusan. Sebagian orang sudah ada yang diterima kerja di tempat mereka PKL dan di situ pula ada beberapa temanku yang tidak percaya bahkan terkesan meremehkan mendengar keputusanku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, aku tidak begitu peduli, kukatakan aku percaya diri, karena selama ini nilaiku naik bertahap setiap naik kelas. Meski berusaha terlihat yakin dan percaya diri di depan semua orang, tapi diam-diam aku masih dipenuhi ragu terhadap diriku sendiri.
Seiring berjalannya waktu, keyakinanku mulai tumbuh. Aku percaya segala usaha, ketakutan, dan harapan yang selama ini kuperjuangkan tak akan berakhir dengan kesia-siaan. Segala doa, upaya, dan harapan sudah aku kerahkan selama ini. Upayaku selama sekolah untuk menjaga nilai tetap stabil atau bahkan naik serta doa yang tak pernah henti kutulis dan kupanjatkan berakhir baik. Aku mendapatkan warna biru itu—warna yang menandakan bahwa aku diterima. Ya aku diterima di Universitas Siliwangi jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Tangisku pecah kala itu, senyum tak berhenti terbit dari bibirku, tak tahu siapa yang harus kukabari pertama kali selain ibu. Aku pulang ke rumah dengan perasaan yang tak karuan, segera kuberi tahu ibuku kabar bahagia ini. Saat itu aku menjadi salah satu siswa perempuan yang lolos SNBP karena mayoritas yang diterima jalur SNBP itu laki-laki di sekolahku dan dua perempuan, satu di antaranya adalah aku. Wajahku terpampang jelas di banner yang dibuat oleh pihak sekolah sebagai bentuk apresiasi. Aku bangga terhadap diriku sendiri, perjalanan hidupku akan segera dimulai.
Sesuai ucapanku, akan bertanggung jawab atas apa yang aku pilih saat itu, aku mengurus semua administrasi daftar ulang sendiri. Kuurus segalanya sendiri. Mulai dari pergi ke SD karena nama ijazahku salah, kemudian pergi ke SMP nama ijazahku masih salah dan beberapa kali pihak SMP menolakku karena tidak mau memberikan surat keterangan salah penulisan nama dan aku harus menempuh jarak 15 km untuk pulang-pergi ke sana. Aku pergi ke kelurahan mengurusi segala administrasi, pergi ke kecamatan untuk membuat surat mati ayahku, dan masih banyak lika-liku yang kuurus sendiri. Terkadang setiap kali menempuh perjalanan itu aku sambil menangis karena ternyata sesusah itu memperjuangkan sesuatu sendirian, bingung harus bertanya pada siapa selain pada diri sendiri. Tapi itu semua tanggung jawabku, kewajibanku yang memang seharusnya kulakukan sendiri.
Di sela-sela mengurusi administrasi itu aku dinyatakan lulus dari sekolah, semua rutinitas, kegiatan, kepanitiaan yang biasa kulakukan sudah tak ada lagi. Hanya tersisa puing-puing kenangan dan perjuangan hidup selama di sekolah. Aku kemudian membuat bisnis sendiri, berjualan berbagai makanan ringan, bertambah atau berganti menu tiap minggu agar pelangganku tak bosan. Setiap hari isi story WhatsAppku hanya promosi makanan dan makanan. Aku pakai uang tabunganku sebagai modal, aku merangkap menjadi serba bisa, aku yang belanja bahan, aku yang produksi makanan, aku yang promosi makanan, dan aku pula yang mengantarkan makanannya jika pelanggan itu ingin diantar ke rumah. Semua kulakukan terasa lelah sekaligus menyenangkan. Saat pengumuman KIP-K aku dinyatakan lolos juga, aku bersyukur berarti UKT akan ditanggung. Ternyata benar, Tuhan sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Segala doa panjangku tak ada yang sia-sia, inilah yang Tuhan persiapkan sesungguhnya. Sekarang aku telah melewati empat semester di Universitas Siliwangi. Aku menjalani perkuliahan dengan sangat sungguh-sungguh, aku tidak pernah absen kuliah, nilaiku selalu aman, aku selalu antusias mengikuti lomba meskipun belum sehebat itu untuk dinyatakan juara, aku selalu mengikuti berbagai kegiatan kampus, organisasi, kepanitiaan, dan magang. Kuusahakan untuk selalu memberikan yang terbaik karena UKT-ku sudah ditanggung pemerintah, kuberikan yang terbaik sebisaku untuk keluarga dan untuk diriku sendiri. Inilah kisah perjuanganku meraih kampus impian.
Kini, aku paham bahwa tidak semua jalan menuju mimpi akan berjalan sesuai keinginan. Aku memang tidak berakhir di kampus yang aku mimpikan, tetapi Tuhan sungguh telah membawaku pada tempat yang terbaik untuk tumbuh. Dari seorang anak SMK yang mimpinya sempat diragukan, kini aku belajar bahwa setiap perjuangan tidak selalu membawa kita ke tempat yang diinginkan, tetapi sering kali membawa mengantarkan ke tempat yang kita butuhkan. Terkadang, Tuhan tidak menolak doa-doa kita, Ia hanya sedang mengarahkannya menuju sesuatu yang lebih baik dari yang pernah kita bayangkan.
