Kampus Impian yang Datang Lewat Jalan Memutar
Saya tidak akan lupa bagaimana rasanya duduk di depan layar laptop, jantung berdebar lebih kencang, menunggu sebuah halaman web selesai memuat. Saya, Ester Faith Harefa, saat ini menjalani hari-hari sebagai mahasiswa S1 Teknik Industri di Telkom University. Tapi sebelum nama kampus ini menempel di kartu tanda mahasiswa saya, ada jalan panjang tak terduga yang harus saya lewati dulu.
Seperti kebanyakan siswa SMA lainnya, saya memiliki keyakinan yang ditanamkan diam-diam bahwa kalau ingin sukses, gerbangnya harus lewat kampus negeri. Pemikiran itu mungkin tidak seluruhnya benar, tapi saat itu rasanya seperti kebenaran mutlak yang tidak perlu dibuktikan lagi. Maka saya pun mempersiapkan diri sepenuh hati. Buku-buku menumpuk di meja belajar, jam tidur saya korbankan demi satu soal lagi yang harus diselesaikan, dan doa-doa saya panjatkan setiap malam sebelum mata ini benar-benar terpejam. Saya begitu yakin pada diri sendiri, sampai rasanya kelulusan itu hanya tinggal menunggu waktu.
Awal tahun 2025, saya mengikuti SNBP. Sebagai salah satu siswa yang dinyatakan eligible di sekolah, saya memilih kampus dan jurusan dengan penuh percaya diri, seakan-akan masa depan saya sudah digariskan. Namun hari pengumuman berkata lain. Saya membuka halaman itu dengan tangan yang sedikit gemetar, dan yang menyambut saya bukan warna hijau yang saya harapkan, melainkan latar merah, yang menandakan bahwa saya dinyatakan tidak lolos. Untuk beberapa detik, saya hanya diam menatap layar, mencoba memahami apa yang sebenarnya baru saja terjadi.
Kekecewaan itu terasa sangat nyata, tapi saya memilih untuk tidak berlama-lama tenggelam di dalamnya. Masih ada SNBT atau UTBK, sebagai satu-satunya jalan lain yang tersisa menuju kampus impian saya. Maka saya kembali bangkit, kali ini dengan usaha yang berlipat ganda. Ribuan soal saya kerjakan satu demi satu, tryout demi tryout saya ikuti sampai saya kehilangan hitungan sudah berapa kali. Setiap malam, di sela rasa lelah yang menumpuk, saya tetap menyempatkan diri berdoa, berharap kali ini hasilnya akan sesuai dengan harapan saya.
Tapi semesta ternyata punya rencana yang lain. Pengumuman SNBT pun tiba, dan sekali lagi saya dinyatakan tidak lolos.
Saya tidak bisa menggambarkan betapa hancurnya perasaan saya saat itu. Rasanya seperti satu-satunya pintu yang saya percaya bisa membawa saya ke kampus impian, tertutup begitu saja di depan mata. Untuk waktu yang cukup lama, saya membawa kekecewaan itu ke mana-mana. Semua usaha, semua malam tanpa tidur, semua doa yang saya panjatkan, terasa seperti tidak berarti apa-apa. Pikiran-pikiran negatif datang tanpa saya undang. Saya mulai membandingkan diri dengan teman-teman yang dinyatakan lolos, bertanya-tanya dalam hati, "kenapa harus saya?", "kenapa saya yang gagal?", "lalu, saya harus kuliah di mana setelah ini?" Pertanyaan-pertanyaan itu berputar terus di kepala saya, seperti radio rusak yang tidak mau berhenti.
Namun di titik paling rendah itu, saya membuat satu keputusan yang akhirnya mengubah segalanya saya tidak akan menyerah. Apa pun yang terjadi, tahun itu saya harus tetap kuliah. Saya mulai melepaskan pemikiran lama yang mengatakan bahwa hanya kampus negeri yang layak diperjuangkan. Saya mulai mencari, membaca, dan mempertimbangkan berbagai pilihan kampus swasta. Dari sekian banyak nama yang muncul, satu nama akhirnya menarik perhatian saya: Telkom University, yang saya tahu menyandang predikat sebagai kampus swasta terbaik di Indonesia. Pemikiran sederhana saat itu adalah jika saya tidak bisa berdiri di kampus negeri, setidaknya saya harus berdiri di kampus swasta yang terbaik.
Saya mendaftar melalui jalur beasiswa, dan jalan ini pun tidak semudah yang dibayangkan. Ada seleksi administrasi yang harus dilewati, tes kemampuan yang menuntut konsentrasi penuh, hingga wawancara yang menguji kesiapan saya menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. Saya melewati setiap tahapnya dengan sungguh-sungguh, kali ini tanpa adanya rasa kesombongan seperti dulu, melainkan dengan kerendahan hati seseorang yang sudah pernah jatuh dan tahu betapa berharganya sebuah kesempatan.
Dan ketika pengumuman kelulusan itu akhirnya datang, saya membuka halaman itu dengan perasaan yang sangat berbeda dari sebelumnya campuran antara harap dan takut yang sulit dijelaskan. Kali ini, kabar baik yang saya temukan: saya dinyatakan lulus di Telkom University, sekaligus diterima sebagai penerima beasiswa di kampus tersebut. Rasa syukur yang membuncah seketika menghapus semua kekhawatiran yang saya bawa selama berbulan-bulan.
Hari ini, setiap kali saya melangkah masuk ke lingkungan kampus ini, rasa syukur itu justru semakin dalam. Saya bertemu dengan orang-orang luar biasa, teman-teman yang suportif, dan kesempatan-kesempatan belajar yang dulu tidak pernah saya bayangkan akan saya dapatkan. Saya bertumbuh di tempat yang dulu bukan menjadi pilihan pertama saya, namun justru menjadi tempat yang paling tepat untuk saya berkembang.
Dari perjalanan ini, saya belajar satu hal yang mengubah cara saya memandang kegagalan kampus impian bukan sekadar gelar atau status yang bisa dibanggakan, melainkan tempat yang benar-benar membentuk kita menjadi versi diri yang lebih baik. Saya pernah merasa bahwa kegagalan masuk PTN adalah akhir dari segalanya, tapi kini saya tahu, itu hanyalah jalan memutar yang membawa saya ke tempat yang justru lebih tepat. Bahkan jika waktu bisa diputar kembali, saya akan tetap memilih Telkom University sebagai kampus impian saya bukan karena keterpaksaan, tapi karena saya tahu, di sinilah saya seharusnya berada.
