Hai, perkenalkan, saya David Ferdinand Sinaga, seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu PTN favorit di Indonesia.
Saya besar dan tumbuh dari keluarga Batak yang sederhana dan sudah lama menetap di Batam. Sejak duduk di bangku sekolah, saya sudah terbiasa dikucilkan dan diragukan karena kenakalan yang saya miliki. Semangat untuk belajar pun tidak pernah ada dalam kamus hidup saya saat itu. Saya tidak mengerti mengapa saya harus belajar keras dan meraih juara, karena menurut saya hal itu tidak menarik sama sekali. Di kepala saya hanya ada pikiran tentang bagaimana caranya bolos mata pelajaran yang tidak saya sukai, cabut kelas seharian, menikmati perkelahian, dan menjadi orang yang disegani. Meski terkenal sangat nakal, entah mengapa saya senang bermimpi. Saya selalu bermimpi untuk masuk ke sekolah favorit. Namun, seperti yang kita tahu, mimpi tanpa usaha hanyalah angan-angan belaka. Alhasil, SMP dan SMA saya tidak pernah berada di sekolah yang saya impikan. Catatan kenakalan saya justru terus bertambah karena bertemu teman-teman yang satu frekuensi dalam hal kenakalan.
Kelas 12 SMA menjadi titik balik dari segalanya. Di situlah saya mulai merasakan betapa pahitnya direndahkan orang lain, dicap sebagai anak bodoh yang tidak tahu apa-apa, dan diragukan oleh banyak orang. Belum lagi kenyataan yang harus saya terima ketika melihat orang tua saya dicaci maki oleh kerabat dekat karena terlilit utang. Masa SMA adalah puncak dari krisis ekonomi yang melanda keluarga saya.
Sejak saat itu, saya bertekad untuk benar-benar mewujudkan cita-cita sedari kecil, yaitu menjadi seorang abdi negara, demi mengangkat derajat keluarga saya. Fokus saya hanya satu: menjadi abdi negara. Itulah yang membuat saya tidak pernah tertarik untuk melanjutkan kuliah, karena saat itu saya tidak menganggap pendidikan tinggi sebagai sesuatu yang penting. Bahkan, entah mengapa, saya selalu berpikir bahwa seberapa pun keras saya belajar, saya tidak akan pernah mampu mengubah dunia. Saya hanya fokus melatih fisik dan belajar untuk keperluan rangkaian tes akademik abdi negara saja.
Namun, dalam perjalanan meraih impian itu, saya belajar satu hal berharga yaitu “Tuhan tahu mana yang terbaik bagi kita dan jadilah kuat untuk segala hal yang membuat kita patah.” Singkat cerita, saya mengalami kegagalan demi kegagalan dalam usaha menjadi seorang abdi negara. Tangisan dan rasa pilu menjadi oleh-oleh yang selalu saya bawa pulang, disambut dengan pelukan hangat dari mamak dan bapak, setiap kali saya menyampaikan bahwa saya belum berhasil menjadi anak yang membanggakan bagi mereka.
Saya adalah lulusan SMA tahun 2020, dan menghabiskan waktu untuk tes masuk abdi negara hingga batas umur terakhir di tahun 2022. Sejak tahun 2021, saudara laki-laki saya sudah mengingatkan agar saya melanjutkan kuliah jika di tahun 2022 saya masih belum lulus seleksi. Namun saat itu saya masih mengabaikannya dan tetap optimis hingga batas akhir pendaftaran.
Memasuki tahun 2022, saya mulai lebih bijak dan sadar bahwa saya harus menyiapkan rencana cadangan jika kembali gagal. Ternyata, jauh sebelum itu, saya sudah pernah mengenal beberapa kampus PTN terbaik, yaitu sejak SMP, lewat sebuah buku berjudul "Lolos SBMPTN 2016" berwarna kuning milik kakak perempuan saya. Saya pernah iseng membuka dan membacanya karena buku itu tergeletak di meja makan. Cover-nya menarik perhatian saya karena menampilkan gambar kampus-kampus top di Indonesia beserta logo masing-masing di bagian belakang. Saya membukanya hanya karena penasaran dengan bentuk soal di dalamnya, meski tidak benar-benar memahami cara pengerjaannya, meskipun di bawah setiap soal sudah ada penyelesaian yang dicoret-coret oleh kakak saya. Buku itu pun saya tutup kembali karena saya hanya senang memandangi cover-nya. Selain itu, kakak-kakak saya sering berdiskusi tentang kampus-kampus terbaik dan berbagai jalur masuk ke sana. Meski saya tidak pernah ikut nimbrung, saya menyerap setiap kata dari obrolan mereka setiap malam, hingga tanpa sadar saya menjadi hafal sendiri.
Awal tahun 2022 saya mulai mempertimbangkan nasihat saudara saya untuk mencoba kuliah, saya sudah punya bekal pengetahuan dari obrolan-obrolan itu. Saya mulai mencari tahu dan memahami setiap alur pendaftaran dan jalur tes di berbagai kampus. Saya juga mulai mencari bentuk-bentuk soal lima tahun terakhir, dari masa SBMPTN hingga berganti nama menjadi UTBK. Proses belajar itu tidak mudah. Saya sering merasa kesulitan dan kelelahan dalam memecahkan soal-soal tersebut. Kesedihan, frustrasi, dan air mata menjadi teman akrab saya di tengah malam.
Dari awal tahun 2022, saya sudah memiliki satu impian: jika saya harus kuliah, saya ingin kuliah di PTN mana pun yang ada di Pulau Jawa, karena saya ingin merasakan pengalaman kuliah di kampus yang selama ini diimpikan banyak orang. Memasuki bulan kedua belajar untuk UTBK, impian itu semakin spesifik. Saya ingin berkuliah di Institut Teknologi Bandung, Fakultas STEI-R. Saya tahu betul bahwa masuk ke kampus terbaik Indonesia itu bukanlah hal yang mudah. Bahkan saat pendaftaran UTBK, saya sempat diragukan oleh teman-teman yang menyarankan agar saya memilih program studi dan kampus dengan daya saing yang lebih rendah, mengingat tahun 2022 adalah kesempatan terakhir saya mengikuti UTBK. Namun nasihat itu tidak saya indahkan. Yang ada di dalam hati saya hanyalah satu kalimat: jangan takut untuk mencoba, dan bermimpilah setinggi langit.
Saya mencari tryout-tryout gratis dari internet dan aplikasi belajar online, serta belajar setiap hari hingga H-2 UTBK. Di dua hari terakhir sebelum ujian, saya hanya melakukan review ringan sambil menjaga kondisi fisik. Hingga hari ujian tiba, saya merasa lega dan puas karena sudah berusaha semaksimal mungkin dan berhasil menjawab semua soal tanpa ada satu pun yang dikosongkan.
Hari demi hari berlalu hingga tibalah pengumuman UTBK. Namun hari itu ternyata menjadi salah satu hari paling menyedihkan dalam hidup saya. Usaha belajar berbulan-bulan itu belum berbuah manis. Saya harus berjuang lebih keras lagi melalui jalur seleksi mandiri kampus. Kabar baiknya, sebagai pendaftar Beasiswa KIP-K, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti ujian mandiri di beberapa kampus tanpa biaya pendaftaran, di antaranya ITB, UI, UNPAD, dan IPB. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga saya, hal itu sungguh merupakan anugerah yang patut saya syukuri. Jadwal tes dan pengumuman setiap kampus berbeda-beda, sehingga hampir setiap selesai ujian, saya langsung kembali belajar untuk persiapan ujian berikutnya. Sekitar dua minggu penuh saya habiskan dengan siklus belajar dan ujian.
Tidak lama setelah ujian, tibalah waktunya pengumuman. Pengumuman pertama adalah seleksi mandiri UI dan ITB. Sekali lagi, saya harus menelan kenyataan pahit bahwa saya belum bisa menjadi bagian dari kedua kampus tersebut. Setelah membuka pengumuman itu, saya sangat sedih dan memilih pergi bermain basket bersama sahabat saya. Seusai berolahraga, kami duduk berdua dan saya bercerita bahwa saya baru saja menerima kabar kegagalan itu, bahwa saya harus mengubur mimpi untuk berkuliah di ITB melalui jalur mandiri. Sore itu, sahabat saya menyemangati dan menyarankan agar saya mendaftar ke kampus yang dekat dengan rumah saja. Namun itu tidak sesuai dengan impian dan harapan saya. Saya masih ingat betul kata-kata yang saya ucapkan kepadanya: "Aku sudah gagal masuk abdi negara dan umurku sudah tidak mencukupi lagi untuk mendaftar. Kalau jalanku memang harus kuliah, aku mau kuliah di PTN Jawa agar aku bisa belajar dengan sungguh-sungguh. Dan aku ingin mendaki gunung, karena gunung-gunung di Jawa itu sangat indah." Kami pun tertawa lepas bersama.
Keesokan harinya, pada siang hari, saya tidak sengaja menemukan sebuah cerita perjuangan seorang perempuan dalam mengejar kampus impiannya, yang muncul saat saya sedang Scroll TikTok. Singkatnya, perempuan itu diterima di dua kampus sekaligus yang ia daftarkan. Di dalam ceritanya, ia mengisahkan bahwa ia hanya meminta kepada Tuhan untuk diloloskan di salah satu kampus saja, karena ia sudah kelelahan mendaftar ke sana-sini dan belajar keras. Mendengar cerita itu, saya sontak berdoa dengan kalimat yang hampir persis sama seperti yang ia panjatkan. Ceritanya begitu relevan dengan apa yang sedang saya jalani.
Seminggu berlalu, tibalah hari pengumuman SMUP UNPAD pada pukul 15.00 sore. Sejak pagi hari itu, saya sudah sangat gelisah setelah membaca postingan instagram yang menyebutkan bahwa pendaftar SMUP UNPAD mencapai 39.000 orang. Saya menjadi sangat lemas membacanya. Karena ketakutan dan mental yang belum siap, saya meminta teman saya untuk membuka pengumuman tersebut atas nama saya, dan ia pun bersedia. Saya pun menyerahkan ID dan kata sandi akun ujian saya kepadanya.
Pukul 17.01 menjadi waktu yang penuh sejarah bagi saya. Saya masih ingat dengan jelas: pada jam tersebut, teman saya menghubungi saya dan mengirimkan tangkapan layar yang menunjukkan bahwa saya LULUS di pilihan pertama saya, yaitu Ilmu Kelautan UNPAD. Membaca pesan itu, tanpa terasa air mata saya jatuh. Saya menangis bahagia karena perjuangan saya tidak sia-sia. Saya pun langsung mengabari mamak saya, dan beliau sangat sukacita mendengarnya. Tiga hari kemudian, saya membuka pengumuman mandiri IPB di sore hari, dan ternyata saya juga diterima di Vokasi IPB. Tuhan sungguh Maha baik. Ia mendengar dan menjawab doa saya seminggu sebelumnya. Saya hanya meminta satu, dan Ia memberi saya dua pilihan kampus.
Saya akhirnya memutuskan untuk kuliah di Ilmu Kelautan UNPAD. Bundaran Gedung Rektorat yang dulu hanya bisa saya lihat di cover buku SBMPTN milik kakak saya, kini bisa saya tatap langsung setiap hari. Setiap kali saya menatap bundaran itu, saya selalu teringat bagaimana saya berjuang untuk bisa menjadi bagian dari kampus ini. Itulah mengapa setiap kali saya merasa lelah atau malas kuliah, saya akan berdiri sejenak di depan bundaran itu, mengingat kembali impian dan harapan saya, serta perjuangan panjang yang telah saya lalui. Api semangat saya tidak boleh padam. Saya harus menjadi yang terbaik, lulus dengan pengalaman riset yang luar biasa dan bermanfaat bagi dunia kelautan, meraih predikat wisudawan dengan pujian, dan yang terpenting, membanggakan kedua orang tua saya, keluarga saya, sahabat saya, serta Tuhan yang telah mengizinkan saya menuntut ilmu di Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran.
Akhir kata, terima kasih kepada para pembaca. Semoga tulisan ini dapat memotivasi banyak orang di luar sana. Ir. Soekarno pernah berkata, "Bermimpilah setinggi langit, jika engkau terjatuh maka engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
Saya bermimpi tinggi untuk bisa kuliah di ITB, dan saya jatuh di UNPAD kampus tetangganya dan di antara kampus terbaik juga hehe. Jangan pernah takut untuk bermimpi dan terus berusaha, karena sampai hari ini pun saya masih bermimpi dan masih berjuang.
Terima kasih. Salam hangat dari David Ferdinand Sinaga, calon S.Kel.
|
Kampus yang juga menerima saya, namun saya mengambil Ilmu Kelautan Unpad karena banyak kuliah lapangan nya 😊 |
Hari pertama saya menggunakan almet, dan pengambilan KTM dan foto di depan rektorat untuk pertama kalinya, teramat kagum dengan bentuk gedungnya dan bahagia sekali karena bisa melihat secara langsung |
|
Si anak nakal yang selalu punya mimpi jadi orang hebat |
Berkesempatan sebagai pembicara poster mengenai tema Blue carbon dalam pertemuan Ilmiah Ikatan Oseanologi Indonesia (ISOI) di Undip dan IPB |
|
Dipercayai menjadi korlap dalam penelitian Mikroplastik dan Karakterisasi Polymer pada Perairan, Mangrove dan Siput Laut. Saya sangat mencintai lapangan. |
Menjadi aslab/asprak mata kuliah sedimentologi, belajar cara pengambilan data ditengah dinamisnya lapangan. |
*Semua sumber gambar di atas merupakan dokumentas aslii dari perangkat saya sendiri
