Setiap Pilihan Memiliki Jalan: Perjalanan Menggapai Mimpi dan Menjaga Janji kepada Al-Qur’an

Oleh: Ru’yatul Iktifa

Perkenalkan, nama saya Ru’yatul Iktifa, namun hampir semua orang memanggil saya Iffa. Saya lahir di Karawang pada tanggal 27 Desember 2005. Saya merupakan anak tunggal yang dibesarkan oleh seorang ibu yang luar biasa. Ayah saya meninggal dunia pada tahun 2013, tepat ketika saya duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Sejak saat itu, ibu menjadi satu-satunya orang tua yang berjuang membesarkan sekaligus mendidik saya. Beliau bekerja sebagai seorang guru taman kanak-kanak dengan penghasilan yang sederhana, tetapi kasih sayang, pengorbanan, dan semangatnya menjadi sumber kekuatan terbesar dalam hidup saya.

Sejak kecil, saya memiliki tekad untuk tidak menjadi beban bagi ibu, terutama dalam hal biaya pendidikan. Saya memahami bahwa setiap rupiah yang beliau keluarkan berasal dari kerja keras yang penuh perjuangan. Oleh karena itu, saya berusaha belajar dengan sungguh-sungguh dan aktif mengikuti berbagai perlombaan, khususnya lomba hafalan Al-Qur’an. Alhamdulillah, usaha tersebut membuahkan hasil. Beberapa prestasi yang saya raih membuat saya memperoleh beasiswa dari sekolah sehingga dapat sedikit meringankan beban ibu. Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi, melainkan motivasi untuk terus berusaha.

Perjalanan pendidikan saya kemudian berlanjut di salah satu pondok pesantren tahfizh di Karawang. Sejak jenjang SMP, saya menjalani kehidupan sebagai santri sekaligus pelajar. Hari-hari saya dipenuhi dengan aktivitas belajar di sekolah pada pagi hingga siang hari, kemudian dilanjutkan dengan menghafal Al-Qur’an, murojaah, dan berbagai kegiatan kepesantrenan hingga malam hari. Kehidupan itu tentu tidak mudah, tetapi saya menjalaninya dengan penuh keyakinan karena saya memiliki satu impian besar, yaitu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebanyak 30 juz.

Ketika lulus SMP, saya memutuskan untuk tetap melanjutkan pendidikan di pesantren yang sama. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Saya ingin menuntaskan cita-cita yang telah saya tanamkan sejak awal menjadi seorang santri. Berkat pertolongan Allah SWT, doa ibu, serta bimbingan para guru, tepat ketika saya duduk di kelas sebelas SMA, saya berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebanyak 30 juz. Momen itu menjadi salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup saya, sekaligus bukti bahwa setiap proses yang dijalani dengan kesabaran akan menghasilkan sesuatu yang indah.

Namun, perjalanan saya belum selesai. Setelah menyelesaikan hafalan, saya memiliki target berikutnya, yaitu mengikuti tasmi’ Al-Qur’an, sebuah proses memperdengarkan hafalan Al-Qur’an secara utuh di hadapan para penguji sebagai syarat kelulusan tahfizh. Saya berharap dapat menyelesaikannya saat kelas dua belas. Sayangnya, kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Padatnya aktivitas sebagai siswa kelas akhir, mulai dari ujian sekolah, ujian praktik, hingga persiapan kelulusan sehingga membuat pelaksanaan tasmi’ tidak dapat terlaksana sebagaimana yang saya rencanakan.

Saat kelulusan SMA semakin dekat, saya dihadapkan pada sebuah keputusan yang cukup sulit. Di satu sisi, banyak anggota keluarga besar yang menyarankan agar saya segera melanjutkan kuliah tanpa menunda waktu. Di sisi lain, hati saya merasa masih memiliki tanggung jawab yang belum selesai, yaitu menuntaskan tasmi’ Al-Qur’an. Saya berada dalam kebimbangan yang cukup panjang. Saya bertanya kepada diri sendiri, apakah saya harus langsung mengejar pendidikan tinggi seperti kebanyakan teman-teman saya, ataukah saya harus menunda satu tahun demi menyelesaikan amanah yang telah saya perjuangkan selama bertahun-tahun?

Setelah melalui banyak pertimbangan, doa, dan istikharah, saya akhirnya mengambil keputusan untuk menjalani gap year. Keputusan itu sepenuhnya saya ambil dengan penuh kesadaran. Saya memahami bahwa tidak semua orang akan mengerti alasan di balik pilihan tersebut. Saya juga menghargai setiap saran dari keluarga yang menginginkan saya segera kuliah. Namun saya menyadari bahwa kehidupan ini adalah perjalanan yang saya jalani sendiri. Saya percaya bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang menentukan pilihan, tetapi juga berani bertanggung jawab atas segala konsekuensi dari pilihan tersebut.

Tidak lama setelah lulus SMA, saya fokus menyelesaikan tasmi’ Al-Qur’an. Alhamdulillah, saya berhasil menuntaskannya dengan baik. Setelah itu saya mengikuti wisuda tahfizh sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah Allah mudahkan. Akan tetapi, perjalanan saya bersama Al-Qur’an belum berhenti sampai di sana.

Saya kemudian mengikuti sebuah program yang dikenal dengan nama Matang Puluh, yaitu menjalankan puasa selama empat puluh hari sambil mengkhatamkan Al-Qur’an setiap harinya. Kegiatan tersebut berlangsung mulai tanggal 31 Januari 2025 hingga 16 Maret 2025. Setiap hari, sejak selesai salat Subuh hingga menjelang Maghrib, saya menghabiskan waktu bersama Al-Qur’an. Bagi saya, program tersebut bukan sekadar ibadah, melainkan perjalanan spiritual yang sangat bermakna. Di setiap halaman yang saya baca, saya memohon kepada Allah SWT agar keputusan saya mengambil gap year benar-benar menjadi jalan terbaik. Saya meminta agar Allah menguatkan hati saya, memudahkan setiap langkah, serta membuka pintu masa depan yang paling baik menurut kehendak-Nya.

Setelah menyelesaikan program tersebut, saya mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat itu saya masih tinggal di pondok pesantren sehingga setiap ada keperluan administrasi atau pendaftaran kuliah, saya harus bolak-balik dari pondok menuju rumah. Meski cukup melelahkan, saya menjalaninya dengan penuh semangat karena saya percaya bahwa setiap perjuangan selalu memiliki hasil yang setimpal.

Pada tanggal 22 April 2025, saya mengikuti seleksi UM-PTKIN. Saya memilih tiga perguruan tinggi dengan harapan dapat melanjutkan pendidikan sesuai minat saya. Pilihan pertama adalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Pilihan kedua adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan program studi yang sama. Sementara pilihan ketiga adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam.

Hari pengumuman pun tiba pada 30 Juni 2025. Dengan penuh rasa cemas, saya membuka hasil seleksi dan mendapati bahwa saya diterima di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Hati saya dipenuhi rasa syukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Walaupun bukan universitas yang paling saya harapkan, saya menerima hasil tersebut dengan lapang dada.

Namun ternyata perjalanan belum selesai. Ibu saya merasa khawatir jika saya harus merantau jauh ke Malang. Kekhawatiran seorang ibu tentu lahir dari kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya. Walaupun saya meyakinkan beliau bahwa saya siap hidup mandiri, saya memahami bahwa hati seorang ibu selalu dipenuhi rasa cemas terhadap keselamatan anaknya.

Dengan dukungan dan doa beliau, saya memutuskan mengikuti Seleksi Mandiri Prestasi Tahfizh UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Saat itu saya benar-benar berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Saya telah merelakan kesempatan kuliah di Malang demi mengikuti seleksi ini. Ada rasa takut yang terus menghantui. Bagaimana jika saya gagal? Bagaimana jika saya justru kehilangan kedua kesempatan tersebut?

Hari demi hari saya lalui dengan memperbanyak doa dan terus berusaha memberikan yang terbaik. Hingga akhirnya, hari yang dinantikan tiba. Saat melihat hasil pengumuman, air mata saya tak mampu lagi dibendung. Semua rasa takut, cemas, dan penantian yang panjang akhirnya terjawab. Saya dinyatakan lulus di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam melalui jalur prestasi tahfizh.

Hari itu saya semakin yakin bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan setiap usaha, doa, dan kesabaran hamba-Nya. Jalan hidup setiap orang memang berbeda. Ada yang melangkah cepat, ada pula yang harus berhenti sejenak untuk menuntaskan sebuah amanah. Saya pernah merasa tertinggal karena memilih gap year, tetapi kini saya memahami bahwa saya tidak sedang tertinggal. Saya hanya sedang berjalan di waktu yang telah Allah tetapkan untuk saya.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, melainkan dari seberapa besar keberanian untuk tetap berpegang teguh pada nilai yang diyakini. Menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, menuntaskan tasmi’, menjalani program Matang Puluh, hingga akhirnya diterima di perguruan tinggi impian adalah rangkaian perjalanan yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih sabar, tangguh, dan percaya sepenuhnya kepada ketetapan Allah SWT.

Kini saya adalah mahasiswa semester tiga Program Studi Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Saya percaya bahwa perjalanan ini masih sangat panjang. Namun saya ingin terus membawa nilai-nilai yang telah diajarkan Al-Qur’an dalam setiap langkah kehidupan. Sebab bagi saya, mimpi bukan hanya tentang mencapai tujuan, melainkan tentang bagaimana tetap menjaga iman, kesabaran, dan keikhlasan selama menempuh perjalanan menuju tujuan tersebut.

14 Komentar

  1. sangat menginspirasi karena saya juga merupakan salah satu lulusan pondok pesantren

  2. Setelah membaca kisah ini, menjadi sadar bahwa antara duniawi dan ukhrawi dapat di dapat secara bersamaan jika kita bisa berusaha lebih keras untuk mendapatkannya

  3. saya merupakan salah satu keluarga penulis dan juga menjadi salah satu saksi perjuangan dia, membaca ini membuat saya yakin bahwa dia akan tumbuh menjadi anak yang sukses nantinya

  4. saya salah satu teman satu pondok dengan penulus, sejak di pondok dan sekolah memang dia sangat berprestasi, saya juga merasa kagum saat dia harus memperjuangkan hafalan Al-Qur’annya juga harus menyiapkan untuk kuliahnya
    semoga usaha yang telah dia lakukan bisa menjadi hasil yang baik

  5. sangat terharu melihar tulisan dari kakak ini, saya harap anak saya juga dapat menghafal alquran dan melanjutkan pendidikan di jenjang hang tinggi

  6. membaca tulisan kakak ini, membuatku sadar keputusan harus di pikirkan secara matang, dan diambil sesuai kemauan kita, karena kehidupan kita, kita sendiri yang menjalanj

  7. sangat menginspirasi, karena saya juga masih sulit untuk mengambil keputusan yang saya inginkan, membaca cerita kakak ini, membuat saya sadar segala keputusan tengang hidup saya itu ada di tangan saya sendiri
    terimakasih banyak untuk kakak yang menulis cerita ini

  8. sangat menginspirasi, karena saya juga masih sulit untuk mengambil keputusan yang saya inginkan, membaca cerita kakak ini, membuat saya sadar segala keputusan tentang hidup saya itu ada di tangan saya sendiri, dan saya juga sedang berikhtiar untuk menghafalkan alquran, doakan saya
    terimakasih banyak untuk kakak yang menulis cerita ini

  9. wah tulisan yang sangat² memiliki motivasi, baik pendidikan dunia maupun pendidikan akhirat, aku juga berfikir apa bisa meraih keduanya tanpa harus memilih salah satu, ternyata kakak penulis ini bisa meraih keduanya, luar biasa

  10. cerita kakak ini memberi aku motivasi, karena sekarang posisiku masih di pesantren, dan masih bingung apa aku harus melanjutkan pendidikan ku di universitas atau bagaimana, setelah membaca cerita ini aku menjadi yakin bahwa aku harus mengambil keputusan atas hidupku, thanks kak sudah menulis cerita yang membuatku sadar apa itu pilihan yang tepat

  11. ngga nyangka teman seperjuanganku sekarang di kuliah menulis cerita hebat seperti ini, aku kenal dengan dia, perempuan hebat yang selalu ceria dan berusaha melakukan yang terbaik
    terimakasih telah menulis cerita seindah ini aku senang menjadi salah satu saksi perjuangan hidupmu

  12. pagi tadi saya membaca tulisan dari kakak ini yang sungguh luar biasa, bagaimana kakak ini berjuang dalam meraih pendidikannya, bagaimana kakak ini mengambil keputusan nya sendiri
    saya banyak belajar dari tulisannya, semoga kita semua bisa mengambil manfaat dari tulisannya

  13. tulisan yang sangat menginspirasi, saya ingin nanti anak saya kelak bisa seperti kakak ini, semangat teruss

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *