DI BALIK MESIN JAHIT IBU, ADA MIMPI YANG TAK PERNAH PADAM

Oleh: Alya Rossita Rahma_Universitas Negeri Yogyakarta

Suara mesin jahit itu selalu menemani malam-malam masa kecil saya. Krrr… krrr… krrr… berulang, tanpa henti, bahkan ketika jarum jam sudah menunjuk angka sebelas malam. Di balik suara itu, ada seorang perempuan tangguh yang tidak pernah mengeluh. Itulah ibu saya. Saya kehilangan ayah ketika berusia sekitar dua tahun. Saya tidak sempat mengenal beliau bahkan foto berdua pun tidak pernah. Yang saya tahu hanyalah bahwa sejak saat itu, ibu menanggung segalanya sendirian. Dengan satu mesin jahit tua dan sepasang tangan yang tidak kenal lelah, beliau menghidupi kami anak-anaknya hari demi hari. Penghasilan ibu tidak menentu, kadang ada pesanan banyak, kadang sepi berminggu-minggu. Saya tumbuh besar dengan belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, jauh sebelum saya tahu bahwa pelajaran itu termasuk dalam kurikulum kehidupan yang paling berharga. Ketika teman-teman datang ke sekolah dengan tas baru dan sepatu mengkilap, saya belajar merawat apa yang saya punya agar bisa bertahan lebih lama. Namun satu hal yang tidak pernah ibu biarkan kami kekurangan adalah semangat untuk belajar.

"Ibu tidak bisa mewariskan tanah atau harta," beliau pernah berkata suatu malam, sambil terus menginjak pedal mesin jahitnya. "Tapi ibu bisa menyekolahkan kamu setinggi mungkin. Itu warisan yang tidak bisa dicuri siapapun."Kalimat itu menancap dalam di hati saya. Dan kalimat itulah yang saya pegang erat ketika SMA, saat mulai muncul pertanyaan besar yang menghantui: Bagaimana saya bisa kuliah? Biaya pendaftaran, biaya UKT, biaya hidup di kota semuanya terasa seperti dinding tinggi yang menghadang di depan mata. Saya menyaksikan sendiri bagaimana beberapa teman memilih berhenti bermimpi karena alasan yang sama. Tapi saya tidak bisa melakukan itu. Bukan karena saya lebih kuat dari mereka, melainkan karena setiap kali saya hampir menyerah, saya teringat suara mesin jahit ibu yang tidak pernah berhenti. Kalau ibu saja tidak menyerah, bagaimana saya bisa? Saya mulai bergerak. Membuka laptop tua yang bagian touchpadnya sudah tidak bias digunakan melainkan harus menggunakan bantuan mouse, mencari informasi jalur masuk perguruan tinggi, mendaftar seleksi demi seleksi, mengisi formulir beasiswa satu per satu. Ada malam-malam di mana saya menangis diam-diam karena takut tidak cukup baik. Ada pagi-pagi di mana saya bangun dengan rasa cemas yang belum selesai dari malam sebelumnya. Tapi saya tetap melangkah satu hari, satu usaha, satu doa pada satu waktu.

Dan akhirnya, pintu itu terbuka. Hari saya diterima di perguruan tinggi, ibu tidak berteriak kegirangan. Beliau hanya diam, lalu memeluk saya erat-erat. Saya merasakan pundaknya bergetar pelan. Dalam pelukan itu, saya mengerti ini bukan hanya kemenangan saya. Ini adalah buah dari puluhan tahun mesin jahit yang berbunyi hingga larut malam. Ini adalah hasil dari doa-doa yang beliau panjatkan saat saya tidur. Ini adalah jawaban atas pengorbanan yang tidak pernah ia ceritakan. Kini, setiap hari saya melangkah ke kampus, saya membawa lebih dari sekadar tas dan buku. Saya membawa nama ibu, membawa harapannya, membawa janji diam-diam yang saya buat untuk diri sendiri “bahwa saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini” Kampus bagi saya bukan sekadar tempat meraih gelar. Ia adalah bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penjara. Ia adalah ruang di mana saya membuktikan bahwa anak seorang penjahit pun berhak berdiri di sana dengan kepala tegak, dengan mimpi yang utuh. Kepada siapa pun yang sedang berjuang dan hampir menyerah percayalah, jalan menuju kampus impian memang tidak selalu lurus. Tapi selama kamu mau terus berjalan, kamu sudah selangkah lebih dekat dari kemarin.

Dan kepada ibu terima kasih. Suara mesin jahitmu adalah lagu pengantar tidur sekaligus alarm penyemangat pagi saya. Di balik setiap jahitan yang kamu selesaikan, ada mimpi anak perempuanmu yang terus tumbuh. Saya berjanji, mimpi itu tidak akan pernah saya biarkan padam. Karena pada akhirnya, kampus impian bukan hanya tentang tempat saya belajar ia adalah bukti bahwa cinta seorang ibu dan tekad seorang anak, jika dipadukan, tidak ada yang mampu menghentikannya.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *