KETIKA MIMPI MERUBAH ARAH
Pernahkah kalian merasakan tertinggal dengan teman yang lain hanya karena tidak memiliki kesempatan yang sama?
Itulah yang kurasakan ketika duduk di bangku SMA, melihat teman-temanku yang mengikuti les mata pelajaran dengan biaya yang tidak sedikit membuatku sedikit tertinggal dan merasakan minder. Terlintas di fikiranku apakah aku bisa bersaing dengan cara belajar mandiri? Namun ternyata, pertanyaan itulah yang menjadikanku untuk belajar lebih giat lagi.
Ketika pegumuman akan diadakannya ulangan matematika, semangatku terasa membara karena, disitulah aku bisa membuktikan bahwa aku layak “lulus” ujian matematika. Pengumuman disampaikan pagi sebelum istirahat dan waktu istirahat kuhabiskan untuk belajar. Disaat teman-teman menuju kantin, aku memilih berada di kelas memahami rumus demi rumus. Seusai salat Dzuhur dan makan siang, akupun ke kelas sebelah berdiskusi dengan seorang teman yang lebih mahir matematika, dia bernama hila. Sedikit demi sedikit, rasa minder itu berubah menjadi keyakinan bahwa belajar mandiri pun bisa membuahkan hasil.
Saat hasilnya diumumkan, aku hampir tidak percaya bahwa namaku termasuk diantara enam orang yang berhasil lulus ulangan. Momen itu menjadi bukti bahwa usaha tidak akan menghianati hasil.
Keberhasilan ini membuatku semakin percaya diri dan mulai bermimpi bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Namun, dibalik mimpi itu, ada satu kekhawatiran yang benar-benar menghantuiku, yaitu aku tidak yakin bisa kuliah di perguruan tinggi karena kondisi ekonomi keluargaku. Dalam pikiranku, kuliah adalah impian yang mungkin sulit untuk diwujudkan.
Sumber : dokumntasi pribadi (tangkapan layar grup whatsaap kelas, sma)
Hingga suatu hari, keluargaku ternyata mendukungku untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Kabar itu menjadi salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Aku merasa mimpiku akan benar benar menjadi kenyataan. Agar peluangku semakin besar, aku memutuskan mengikuti bimbingan belajar SNBT yang sesuai dengan kemampuan ekonomi keluargaku.
Kesempatan besar ini tidak akan aku sia-siakan. Setiap selesai mengikuti bimbingan belajar, aku kembali mengulang materi di kamar, mempelajari ulang pembahasan serta mengerjakan soal yang sudah di bahas dan terkadang, belajar saat malam hari terlalu lama membuatku ketiduran. Aku percaya bahwa semua usaha yang aku lakukan dapat membuatku selangkah lebih dekat untuk dapat meraih kampus impian.
Namun, kenyataan kembali mengajarkanku bahwa perjuangan tidak semuanya berakhir sesuai harapan.
Saat mengerjakan ujian, aku mendapati banyak soal yang berbeda dari materi yang selama ini sering aku pelajari. Aku berusaha mengerjakan semampuku, tetapi hasil akhirnya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Aku dinyatakan tidak lolos SNBT.
Sumber : dokumentasi pribadi (foto hasil pengumuman snbt melalui halaman snpmb)
Aku benar-benar merasa terpuruk. Berbagai pertanyaan terus muncul di dalam pikiranku. "Aku sudah berusaha semampuku. Aku sudah belajar setiap hari dan saat malam hari. Aku bahkan sudah diberi kesempatan untuk mengikuti bimbingan belajar. Mengapa hasilnya tidak sesuai harapanku?"
Terpuruk, sedih, emosi, kecewa menjadi satu. Benar-benar pedih, menerima kenyataan pahit ini.
Kecewa karena gagal SNBT membuatku sempat kehilangan arah. Aku terus bertanya-tanya di mana letak kesalahanku. Padahal, aku telah berusaha semampuku. Aku belajar setiap hari, mengikuti bimbingan belajar, bahkan mengulang materi yang diajarkan berkali-kali. Namun, ternyata hasilnya belum sesuai dengan harapanku.
Mendengar kabar bahwa aku tidak lolos SNBT, kakakku yang sedang bekerja diluar kota memutuskan pulang ke rumah. Dia mengajakku berbicara serta memberiku banyak nasihat dan dari sanalah, muncul sebuah keputusan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku akan belajar bahasa di luar kota selama beberapa bulan.
Keputusan itu menjadi awal dari pengalaman baru dalam hidupku. Aku bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan dari berbagi kota serta luar pulau dan mendengar kisah mereka masing-masing. Namun, ada satu orang yang paling membekas dalam ingatanku, yaitu Cia, biasanya aku panggil dia dengan sebutan sis Cia.
Masa belajarku pun berakhir dan akupun kembali ke kota kelahiranku, aku memutuskan untuk kembali mencoba mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Kali ini aku memilih kuliah di kota yang sama dengan rumahku karena ingin berada dekat dengan keluarga. Aku pun mantap memilih Program Studi Gizi. Selain sesuai dengan minatku di bidang kesehatan, jurusan ini terasa paling sesuai denganku. Sebagai antisipasi, aku juga menyiapkan rencana cadangan agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Kesempatan kedua ini tidak akan aku sia-siakan, memilih prodi yang aku inginkan dan berharap, mimpi itu akan menjadi kenyataan. Berbekal pengalaman dari seleksi sebelumnya, aku kembali belajar menggunakan buku-buku latihan sebelumnya, mengikuti try out, dan mengevaluasi kesalahan yang pernah kulakukan agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
“Aku sadar bahwa pengalaman gagal bukanlah sesuatu yang harus disesali terus menerus, melainkan bekal untuk mempersiapkan langkah berikutnya agar lebih baik dari sebelumnya.”
Selain berusaha, akupun mencoba ikhtiar yang kata orang-orang adalah ‘jalur langit’. Mengikuti sholat di sepertiga malam, curhat keinginanku kepada Allah S.W.T serta berharap Allah mengabulkan semua doa-doa ku. Dan entah sebuah kebetulan atau emang sebuah petunjuk, ummi pipik hadir di kotaku yaitu kota Cirebon, mengisi dakwah di masjid yang dekat sekali dengan rumahku.
Akupun datang bersama mamah dengan berjalan kaki ke masjid At-taqwa, ummi pipik dian irawati berdakwah dengan tema “Tanda-tanda Allah mencitai kita”. Entah sebuah kebetulan atau tidak, ummi berkata “kenapa ya Allah aku diuji, kenapa harus aku?” ummi pun memberikan ayat Al-qur’an yaitu Al-baqarah ayat 155 yang artinya “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.”
Lalu ummi tambahkan ayat Al-Qur’an, surat az-zumar ayat 10 yang artinya “sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” Dan ummi tambahkan lagi, ayat Al-qur’an Surat At-Taubah ayat 40 yaitu “La Tahzan Innallaha Ma’ana” yang artinya “Janganlah engkau bersedih sesungguhnya Allah bersama kita”
Ini semua sangat sesuai dengan kondisi ku saat ini, dan mungkin inilah jawaban yang Allah berikan, ingin aku bersabar dan menjalankan semua takdir yang sudah Allah tetapkan ini dengan ikhlas.
Petunjuk itu membuatku kembali memiliki secercah harapan. Aku percaya bahwa allah sedang mempersiapan rencana terbaik dan membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat untuk menghadapi permasalahan berikutnya. Karena itu, kesempatan kedua ini tidak akan aku sia-siakan, memilih prodi yang aku inginkan dan berharap, itu akan menjadi kenyataan. Berbekal pengalaman dari seleksi PTN sebelumnya, aku kembali belajar menggunakan buku-buku latihan sebelumnya, mengikuti try out, dan mengevaluasi kesalahan yang pernah kulakukan agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Hingga hari pengumuman tiba, benar-benar membuatku gugup, hatiku kembali gelisah, mengingat pengalaman burukku saat membuka pengumuman snbt. Ketika membuka hasil seleksi kali ini, rasa gugupku dibayar dengan kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Aku dinyatakan lolos tahap pertama, dan akan mengikuti tahap kedua yaitu tes kesehatan dan psikotes.
Sumber : dokumentasi pribadi (tangkapan layar pengumuman SPMB poltekkes kemenkes dari halaman resmi)
Mengikuti rangkain tes kesehatan yang banyak, serta tes psikotes yang di adakan, membuatku gugup bukan main, apalagi tes kesehatan seperti pengambilan sample darah karena sebenarnya aku sendiri takut dengan darah.
Pengumuman tahap kedua pun tiba dan betapa terkejutnya, bahwa aku lulus spmb poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Dua tahap-pun sudah aku lewati dan hari ini, aku resmi menjadi mahasiswa poltekkes kemenkes tasikmalaya kampus Cirebon.
Sumber : dokumentasi pribadi (tangkapan layar pengumuman SPMB poltekkes kemenkes dari halaman resmi)
Memulai kehidupan sebagai mahasiswa, aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan materi perkuliahan yang berbeda dari masa SMA. Namun, di balik semua tantangan itu, aku dipertemukan dengan tiga orang yang menjadi bagian penting dalam perjalanan kuliahku, mereka bernama Najma, Tabina, dan Delphi.
Bersama mereka, aku belajar bahwa kuliah bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling hebat, melainkan perjalanan untuk saling bertumbuh. Karena kita saling mengingatkan ketika ada tugas yang terlupakan, belajar bersama menjelang ujian, berbagi catatan atau rumus persoalan, berdiskusi ketika ada materi yang sulit dipahami, dan saling mengajarkan dengan sabar tanpa pernah merasa direpotkan. Saat salah satu dari kami merasa lelah atau kehilangan semangat, yang lain selalu hadir memberikan dukungan dan mengingatkan bahwa kami sedang berjuang untuk tujuan yang sama. Kehadiran mereka membuatku menyadari bahwa keberhasilan tidak hanya dibangun oleh kerja keras sendiri, tetapi juga oleh lingkungan yang juga saling mendukung.
Dulu aku mengira, kegagalan telah menutup pintu mimpiku. Tapi kini aku tahu, kegagalan hanya mengantarkanku menuju pintu yang berbeda. Mungkin, jalanku tidak sesuai dengan rencana, tetapi setiap langkah yang kulewati telah membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih kuat. Dan bagiku, itulah makna sesungguhnya dari meraih kampus impian.
