Membungkam Remehan
Bagi sebagian besar remaja, masa putih abu-abu adalah panggung untuk menaklukkan rumus matematika, membedah teori fisika, atau menghafal narasi sejarah setiap harinya. Namun, garis awal yang kupunya berdiri di atas panggung yang sangat berbeda. Sebagai seorang santri yang mengabdi selama tiga tahun di balik dinding pondok pesantren, bentang waktu ku dihabiskan untuk menyelami bait-bait kitab suci dan pelajaran non-akademik. Kurikulum umum hanya menyapa seminggu sekali, itu pun hanya berdurasi dua jam yang akan berlalu sekejap mata.
Dengan bekal seminim itu, rasanya mustahil untuk bertarung di arena yang sama dengan mereka yang bersekolah umum. Terlebih, aku memikul defisit akademis sejak masa SD dan SMP yang juga steril dari pelajaran umum. Lingkungan sekitar pun mulai menghakimi. Sinisme dan kalimat-kalimat skeptis menjadi asupan harian yang menguji mental. Mereka melihat latar belakangku, lalu dengan mudah menjatuhkan vonis: "Kamu tidak punya fondasi akademik yang becus."
Namun, aku menolak untuk melipat sayap sebelum terbang. Aku memilih menutup telinga dari bisingnya keraguan manusia dan mulai merajut strategiku sendiri dalam sunyi.
Selama tiga tahun di SMA, aku menjadi "pencuri waktu" di sela ketatnya disiplin pesantren. Saban hari, beberapa menit sebelum bel qoilullah (tidur siang) memecah kesunyian, aku memaksakan otakku melahap minimal satu judul materi pelajaran. Tidak hanya itu, bentangan waktu sakral antara usainya sujud tahajud hingga gema azan subuh menjadi saksi bisu sebuah perjuanganku. Di saat dunia masih terlelap dalam selimut kenyamanan, aku membuka lembaran buku, mengejar ketertinggalan materi yang menganga selama bertahun-tahun, lalu mengadukan segala peluh di atas sajadah. Aku mencicil ketertinggalanku jengkal demi jengkal, menolak tunduk pada keterbatasan takdir.
Skeptisisme orang-orang itu mencapai puncaknya saat aku berniat melakukan survei kampus. Ketika aku dan orang tuaku menghadap untuk meminta izin, raut wajah ustadzahku seketika berubah kecut. Kartu izin keluar pondok disodorkan tanpa untaian doa, hanya menyisakan tatapan dingin yang seolah meramalkan kegagalanku di masa depan.
Dari sekian banyak universitas yang bertebaran, kompas hatiku akhirnya mantap menunjuk pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Begitu pilihan itu terdengar oleh telinga-telinga yang skeptis, tawa mereka pecah seketika. "Kampus apa itu? Tidak terkenal!" cemooh mereka berbarengan. Dadaku sempat sesak, namun jiwaku menolak tumbang. Aku tahu persis manifesto yang sedang kuperjuangkan, dan aku tahu berapa liter air mata yang telah tumpah di sepertiga malam yang sepi.
Hari pembungkaman itu akhirnya tiba. Bukan lewat surat atau pengumuman di papan tulis, melainkan sebuah tulisan di layar laptop yang menjadi saksi sejarah runtuhnya semua dinding keraguan. Layar itu menyala terang, memuat namaku yang dinyatakan lulus di UMY!
Puncak dari segala kebanggaan dan air mata adalah kenyataan bahwa aku menembus gerbang kampus tersebut melalui jalur Beasiswa Rapor. Lebih prestisius lagi, aku diterima di jurusan IPICOM (International Program of Islamic Communication and Broadcasting). Sebuah program eksklusif kelas internasional yang saat ini hanya ada satu di seluruh Indonesia. Tuhan tidak sekadar membukakan jalan, Dia memberikan karpet merah di jalur terbaik yang tidak akan pernah kutemukan di universitas lain manapun.
Manifestasi pertolongan-Nya tidak berhenti di sana. Sukacitaku membubung berkali-kali lipat saat namaku juga tertera dalam daftar santri yang lolos tes masuk asrama Unires milik UMY. Keberhasilan ini menjadi hadiah paling indah bagi peluh kedua orang tuaku, karena biaya kuliah dan kehidupku nanti terpangkas secara signifikan.
Kini, menjelang fajar perkuliahan yang akan menyingsing pada bulan September nanti, aku menikmati kelapangan waktu untuk membekali diri dengan amunisi akademik yang matang. Sementara itu, roda nasib berputar tanpa pernah berkompromi. Mereka yang dahulu menertawakan impianku dan menganggap remeh langkah kecilku, hingga detik ini justru masih terseok-seok mencari kepastian universitas.
Aku tidak ingin menari di atas kebingungan mereka. Realitas ini justru membuat dahiku bersujud lebih dalam ke bumi. Aku benar-benar takzim dan bersyukur atas skenario agung, keteguhan hati, dan plot twist memukau yang telah Allah gariskan dalam hidupku. Perjuangan yang bermula dari sudut kamar pondok yang senyap kini telah dibayar tunai dengan akhir yang benderang.
Melalui tulisan ini, aku ingin mengetuk hati siapa saja yang impiannya sedang dikecilkan oleh dunia: jangan pernah menyerah hanya karena garis awalmu tidak sempurna. Ketika manusia mengunci rapat pintu pembuktian di hadapanmu, gedorlah pintu langit di sepertiga malammu. Biarkan mereka mencemooh usahamu dalam senyap, karena pada akhirnya, Tuhan punya cara paling megah untuk merayakan kemenanganmu di panggung yang paling mulia.
Majalengka, 23 juni 2026
Fildzah FPP
