JATUH DI ATAS RIBUAN BINTANG

Intannia Ramadhani Putri

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat

Universitas Esa Unggul

Source: Freepik

Menjadi mahasiswa adalah impian yang sejak lama saya perjuangkan. Bagi sebagian orang, masuk kuliah mungkin terlihat seperti langkah yang biasa, tetapi bagi saya, perjalanan menuju bangku perkuliahan dipenuhi dengan keraguan, kegagalan, dan proses belajar menerima jalan hidup yang tidak selalu sesuai rencana.

Ketertarikan saya terhadap dunia kesehatan bermula ketika saya berada di lingkungan pondok pesantren. Saat itu, saya menjadi bagian kesehatan yang bertugas membantu santri yang sakit, memberikan obat-obatan sederhana, serta mendampingi santri ke klinik apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut. Dari pengalaman sederhana tersebut, saya mulai memahami bahwa membantu orang lain menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Saya juga menyadari bahwa kesehatan merupakan hal penting yang sering kali kurang diperhatikan, terutama oleh masyarakat dengan keterbatasan ekonomi.

Sejak saat itu, saya mulai memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan, khususnya Ilmu Gizi. Saya ingin menjadi ahli gizi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Saya percaya bahwa edukasi mengenai gizi dan pola hidup sehat sangat penting untuk meningkatkan

kualitas hidup masyarakat. Keinginan tersebut membuat saya berusaha belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat diterima di perguruan tinggi impian saya.

Namun, perjalanan menuju impian ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya mengikuti seleksi SNBP dengan penuh harapan, tetapi hasilnya tidak sesuai yang saya inginkan. Saat itu saya mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin masih ada kesempatan lain. Saya kembali mempersiapkan diri dan mengikuti SNBT dengan harapan yang lebih besar. Akan tetapi, saya kembali harus menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil lolos.

Kegagalan tersebut menjadi salah satu titik terberat dalam perjalanan saya. Saya sempat merasa kecewa, sedih, bahkan mempertanyakan diri sendiri. Saya mulai berpikir, apakah jalan yang saya pilih memang benar? Apakah saya memang tidak cukup mampu untuk berada di dunia yang saya impikan? Di tengah rasa putus asa itu, ada satu kalimat yang selalu saya tanamkan dalam diri saya, yaitu, “Jika kamu jatuh maka percayalah kamu akan jatuh di atas ribuan bintang-bintang yang istimewa.”

Kalimat tersebut perlahan membuat saya sadar bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Tidak semua jalan hidup harus berjalan sesuai rencana agar tetap memiliki arti. Saya mulai mencoba bangkit dan mencari jalan lain agar tetap dapat melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan. Saya mencari berbagai informasi mengenai kampus swasta yang memiliki jurusan kesehatan karena saya tidak ingin menyerah begitu saja pada keadaan.

Dalam proses tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk memilih jurusan Kesehatan Masyarakat. Awalnya, keputusan tersebut terasa cukup berat karena sejak awal saya bercita-cita masuk jurusan Ilmu Gizi. Namun, semakin saya mengenal kesehatan masyarakat, semakin saya memahami bahwa bidang ini memiliki peran yang sangat luas dan penting. Saya menyadari bahwa kesehatan masyarakat bukan hanya tentang mengobati penyakit, tetapi juga tentang mencegah masalah kesehatan melalui edukasi, promosi kesehatan, dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

Saya mulai memahami bahwa melalui kesehatan masyarakat, saya tetap dapat membantu banyak orang dengan cara yang berbeda. Saya ingin ikut memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Dari situlah saya mulai menerima bahwa terkadang jalan yang tidak kita rencanakan justru membawa kita menuju tujuan yang lebih luas.

Rasa syukur yang besar saya rasakan ketika akhirnya diterima sebagai mahasiswa program studi Kesehatan Masyarakat. Namun, perjalanan saya sebagai mahasiswa juga tidak langsung berjalan mudah. Pada awal perkuliahan, saya masih merasa kurang percaya diri dan belum terbiasa dengan lingkungan kampus. Selain itu, karena saya berasal dari jurusan IPS saat SMA, saya perlu menyesuaikan diri dengan pola pembelajaran di perkuliahan yang lebih mendalam dan terstruktur. Saya harus belajar lebih keras untuk memahami materi perkuliahan dengan baik.

Di sisi lain, keterbatasan biaya pendidikan juga menjadi tantangan yang sering saya pikirkan. Walaupun begitu, saya tidak ingin menjadikan keadaan tersebut sebagai alasan untuk berhenti berkembang. Saya mulai berusaha aktif mengikuti webinar, seminar, dan kegiatan pengembangan diri yang diselenggarakan oleh kampus. Melalui kegiatan tersebut, saya mencoba menambah wawasan sekaligus melatih keberanian agar lebih percaya diri dalam lingkungan baru.

Perjalanan yang saya lalui membuat saya belajar bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Kegagalan justru mengajarkan saya untuk menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih menghargai setiap proses kehidupan. Saya menyadari bahwa tidak semua orang memulai perjalanan dari titik yang sama, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk terus berkembang selama tidak berhenti berusaha.

Kini, saya masih berada di awal perjalanan sebagai mahasiswa. Saya masih memiliki banyak hal yang harus dipelajari dan banyak proses yang harus dijalani. Namun, satu hal yang saya yakini adalah saya tidak ingin berhenti bermimpi hanya karena pernah gagal. Saya ingin terus berkembang dan suatu hari nanti dapat memberikan manfaat bagi masyarakat melalui ilmu kesehatan yang saya pelajari.

Bagi saya, tidak lolos di jalan pertama bukan berarti mimpi harus berhenti. Terkadang, hidup hanya sedang mengarahkan kita menuju jalan lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dan mungkin benar, ketika kita jatuh, sebenarnya kita sedang jatuh di atas ribuan bintang-bintang yang istimewa.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *