“Bukan Jalan yang Saya Rencanakan, Tapi Jalan yang Saya Syukuri”
Perjalanan Saya Sebelum Menempatkan Hati di Universitas Lancang Kuning
Setiap orang memiliki jalan yang berbeda untuk sampai pada tujuan hidupnya. Ada yang berjalan dengan mulus, ada juga yang harus melewati berbagai kegagalan terlebih dahulu sebelum menemukan tempat terbaik untuk berkembang. Saya termasuk orang yang merasakan bahwa tidak semua hal yang kita impikan akan berjalan sesuai rencana, tetapi bukan berarti perjalanan itu berakhir.
Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah memiliki cita-cita yang sangat jelas. Saya ingin melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan. Karena mimpi itu, saya memilih jurusan IPA di SMA. Saya belajar dengan harapan suatu hari bisa masuk ke universitas impian melalui jalur prestasi. Saya percaya bahwa usaha yang saya lakukan selama sekolah akan membawa saya lebih dekat dengan impian tersebut.
Selama masa SMA, saya berusaha semaksimal mungkin. Walaupun saya bukan siswa yang selalu menjadi juara, saya tetap berusaha mempertahankan prestasi agar bisa masuk kategori eligible untuk mengikuti seleksi jalur prestasi. Saat akhirnya saya dinyatakan memenuhi syarat untuk mendaftar, harapan saya sangat besar. Saya membayangkan diri saya akan diterima di universitas impian dan menjalani pendidikan sesuai jurusan yang saya cita-citakan sejak lama.
Namun, kenyataan berkata lain.
Hari pengumuman menjadi salah satu hari yang sulit saya lupakan. Dengan penuh harapan, saya membuka hasil seleksi. Tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang saya impikan saya tidak lolos.
Saat itu saya sedih, kecewa, dan merasa semua usaha saya selama ini belum cukup. Tetapi saya mencoba untuk tidak menyerah. Saya meyakinkan diri bahwa masih ada kesempatan lain.
Saya memutuskan mencoba jalur UTBK. Dalam proses itu, saya sangat bersyukur karena selalu mendapatkan dukungan penuh dari orang tua saya. Bapak selalu mengantar saya pergi tes ke kota, menemani perjalanan saya tanpa mengeluh. Mama juga selalu memberikan doa, semangat, dan keyakinan bahwa apa pun hasilnya nanti, saya sudah berusaha.
Hari tes pun tiba. Saya berangkat bersama bapak dengan penuh harapan. Saya membayangkan mungkin kali ini adalah kesempatan saya.
Namun lagi-lagi, saya tidak lulus.
Rasa kecewa itu semakin besar. Saya mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Saya sempat berpikir untuk mencoba perguruan tinggi swasta saja. Tetapi saat itu ada kakak tingkat yang menyarankan saya untuk mencoba sekali lagi melalui jalur SMM PTN Barat.
Saya berdiskusi dengan orang tua dan kembali meminta izin untuk mencoba.
Yang membuat saya terharu adalah orang tua saya tidak pernah lelah mendukung. Mereka tetap percaya bahwa pendidikan adalah hal penting bagi masa depan saya. Sekali lagi, bapak menemani saya pergi untuk mengikuti tes.
Saya mencoba dengan harapan terakhir.
Tetapi hasilnya tetap sama.
Saya gagal lagi.
Saat itu saya benar-benar merasa lelah. Saya sangat sedih dan mulai kehilangan semangat untuk melanjutkan pendidikan. Saya sempat berpikir untuk berhenti sekolah dan menerima kenyataan bahwa mungkin kuliah bukan jalan saya.
Namun orang tua saya tidak pernah membiarkan saya berhenti begitu saja.
Mereka selalu mengingatkan bahwa pendidikan adalah investasi untuk masa depan. Orang tua saya mengatakan bahwa mereka tidak ingin saya mengalami keterbatasan yang sama seperti mereka yang hanya sampai pendidikan SMA. Mereka juga mengatakan bahwa saya harus menjadi contoh yang baik bagi kedua adik saya.
Perkataan itu membuat saya kembali berpikir.
Saya mulai mencari berbagai pilihan perguruan tinggi swasta melalui media sosial dan internet. Setelah mempertimbangkan banyak hal, pilihan saya jatuh kepada Universitas Lancang Kuning (Unilak).
Jujur saja, awalnya ini bukan universitas yang sejak awal saya impikan. Ini adalah pilihan terakhir yang saya ambil setelah berbagai kegagalan yang saya alami. Saya juga memikirkan kondisi ekonomi keluarga. Jika saya tetap memaksakan mengambil jurusan kesehatan di perguruan tinggi swasta, biayanya akan jauh lebih besar. Saya juga memikirkan kedua adik saya yang masih membutuhkan biaya pendidikan.
Saat itu saya belajar satu hal penting: terkadang mengikhlaskan bukan berarti menyerah, tetapi memilih jalan yang paling bijak.
Akhirnya saya memutuskan masuk ke jurusan Akuntansi.
Alasan saya memilih akuntansi sebenarnya sederhana: saya cukup menyukai pelajaran yang berhubungan dengan angka dan perhitungan. Walaupun saat itu saya sama sekali tidak memahami apa itu akuntansi dan bagaimana dunia perkuliahan di jurusan tersebut.
Awal perkuliahan menjadi tantangan baru bagi saya. Saya merasa tertinggal dibanding teman-teman yang sudah memiliki dasar akuntansi sejak SMK atau sudah mengenalnya lebih dulu. Saya sering merasa bingung ketika dosen menjelaskan materi. Ada banyak istilah yang terdengar asing.
Tetapi saya tidak ingin menyerah lagi.
Saya mulai belajar dari nol. Saya membeli buku akuntansi, membaca materi sebelum kuliah dimulai, dan mencoba memahami sedikit demi sedikit. Saya juga bersyukur karena bertemu teman-teman yang mau membantu saya belajar dan tidak membuat saya merasa tertinggal sendirian.
Perlahan, saya mulai memahami bahwa mungkin ini bukan jalan yang saya rencanakan dulu, tetapi bisa jadi ini adalah jalan yang memang disiapkan untuk saya.
Hari ini saya belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Tidak lolos di universitas impian bukan berarti masa depan ikut gagal. Kadang hidup membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, lalu mempertemukan kita dengan kesempatan baru untuk berkembang.
Saya memang tidak berada di jurusan yang dulu saya cita-citakan. Tetapi sekarang saya sedang belajar untuk mencintai pilihan yang saya ambil dan memberikan yang terbaik di tempat saya berada.
Karena pada akhirnya, bukan tentang di mana kita memulai, tetapi bagaimana kita terus berjalan dan tidak berhenti setelah gagal.
Meskipun pada akhirnya saya tidak bisa meraih cita-cita saya untuk menjadi seorang tenaga kesehatan seperti yang saya impikan sejak SMA, saya belajar bahwa tidak semua mimpi yang tidak tercapai berarti kehidupan kita berhenti di situ. Ada kalanya Tuhan membawa kita ke jalan yang berbeda dari rencana kita, bukan untuk menjauhkan kita dari kebahagiaan, tetapi untuk menunjukkan tujuan yang mungkin lebih baik untuk masa depan kita.
Awalnya memang tidak mudah menerima kenyataan bahwa saya harus melepaskan jurusan dan universitas yang sudah lama saya impikan. Saya pernah merasa sedih, kecewa, bahkan sempat merasa usaha saya selama ini sia-sia. Tetapi semakin saya menjalani semuanya, saya mulai memahami bahwa setiap kegagalan yang saya alami ternyata membawa saya sampai ke tempat saya sekarang.
Hari ini saya memang bukan mahasiswa di bidang kesehatan, tetapi saya sedang belajar menjadi mahasiswa akuntansi yang terus berkembang. Saya bertekad untuk menjalani pilihan ini dengan sungguh-sungguh. Saya ingin menjadi seorang akuntan yang baik, sukses, dan bisa dibanggakan.
Ada alasan lain yang membuat saya semakin semangat menjalani jurusan ini, yaitu karena bapak saya pernah bercerita bahwa jika dulu beliau bisa melanjutkan sekolah, beliau juga ingin menjadi seorang akuntan. Saat mendengar itu, saya merasa mungkin sekarang saya sedang melanjutkan mimpi yang dulu belum sempat bapak capai. Saya ingin membuktikan bahwa perjuangan dan pengorbanan orang tua saya tidak akan sia-sia.
Saya ingin belajar dengan sungguh-sungguh, menyelesaikan pendidikan saya dengan baik, mendapatkan pekerjaan yang baik, dan suatu hari nanti bisa mengangkat derajat orang tua saya. Saya ingin membalas semua doa, dukungan, tenaga, dan pengorbanan yang selama ini mereka berikan tanpa pernah mengeluh. Saya ingin membuat mereka bangga karena telah memperjuangkan pendidikan saya sampai sejauh ini.
Saya juga percaya bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Mungkin jalan saya tidak secepat orang lain, mungkin tidak sesuai dengan rencana awal saya, tetapi saya percaya Tuhan selalu punya jalan terbaik. Selama saya tetap berusaha, belajar, berdoa, dan tidak menyerah, saya yakin masa depan yang baik akan datang pada waktunya.
Perjalanan saya masih panjang, dan ini baru awal. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, tetapi saya ingin terus melangkah dengan hati yang lebih ikhlas dan semangat yang lebih besar.
Karena pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya tentang mencapai mimpi pertama yang kita inginkan, tetapi juga tentang bagaimana kita mampu bangkit, menerima, dan memberikan yang terbaik di jalan yang sedang kita jalani sekarang.
Terima kasih sudah membaca artikel saya dan menjadi bagian dari cerita perjalanan saya. Semoga cerita ini bisa mengingatkan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, dan selalu ada jalan terbaik yang sudah Tuhan siapkan untuk setiap langkah kita.
Universitas Lancang Kuning bukan akhir dari mimpi saya. Justru di sinilah saya mulai menemukan mimpi yang baru.
