KISAHKU, INSPIRASIKU
“PINTU YANG BERBEDA, MIMPI YANG SAMA”

Ada masa ketika hidup perlahan mengubah ritmenya. Hari-hari yang dahulu dipenuhi tawa di lorong sekolah, obrolan ringan bersama teman, dan tugas-tugas sekolah yang terasa sebagai bagian dari rutinitas, mendadak berubah menjadi rentetan pertanyaan yang terus berputar di kepala. “Setelah lulus dari sekolah ini, aku akan ke mana? Pertanyaan itu yang datang hampir disetiap malam, mengusik tenang, seolah menjadi reminder bahwa sebentar lagi aku tidak lagi dikenal sebagai “anak sekolah”, melainkan seseorang yang harus mulai menentukan arah hidupnya sendiri.

Di masa itulah, aku belajar bahwa mimpi tidak selalu datang dengan jalan yang lurus. Ada harapan yang sempet runtuh, ada doa yang belum langsung menemukan jawabannya, dan ada air mata yang harus jatuh sebelum aku memahami bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Kini, ketika mengingat Kembali perjalanan itu, aku menyadari bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, ternyata sedang menuntunku menuju tempat yang sebenarnya sudah Allah siapkan dengan cara terbaik.

Namaku Athiyah. Aku lahir dan dibesarkan di Tengah keluarga yang sederhana. Kami memang bukan keluarga yang bergelimang harta, tetapi Allah selalu menghadirkan rasa cukup dalam kehidupan kami. Ayah dan ibu tidak pernah membebaniku dengan tuntuan yang tinggi. mereka tidak pernah memaksaku harus masuk ke kampus top 1 atau menjadi yang paling hebat. Sebaliknya, mereka selalu memberiku ruang untuk memilih jalanku sendiri. Dukungan mereka hadir dalam bentuk yang sederhana tetapi selalu mampu menenangkan hati: doa yang tidak pernah putus, pelukan saat aku lelah, dan keyakinan bahwa apa pun hasilnya, aku tetap pulang sebagai anak yang mereka banggakan.

Namun, di balik segala dukungan itu, aku menyimpan satu musuh terbesar yang sulit sekali aku hindari: diriku sendiri. Aku adalah seseorang yang sering bimbang ketika harus mengambil keputusan. Aku terbiasa bertahan di zona nyaman karena aku merasa disanalah semuanya lebih aman. Langkah yang belum pernah kucoba selalu tampak menakutkan. Sering kali aku meragukan pilihanku sendiri, bahkan sebelum sepat memberinya kesempatan untuk berhasil.

Saat itu diantara berbagai keraguan, ada satu nama yang diam-diam selalu tinggal di sudut pikiranku: Universitas Negeri Jakarta(UNJ)

Alasannya mungkin terdengar sederhana, bahkan sedikit lucu. Saat masih kecil, pernah mendengar seorang tetangga yang dimana anaknya diterima di jurusan keolahragaan UNJ. Dengan kepolosan anak, aku spontan berpikir, “Hmm, berarti kalau olaharaga itu berarti olahraga setiap hari dong?” Aku tidak benar-benar memahami apa itu dunia perkuliahan. Namun, sejak saat itu, nama UNJ entah bagaimana selalu tersimpan dalam ingatanku. Seiring bertambahnya usia, rasa perlahan itu berubah menjadi harapan, lalu menjelma menjadi sebuah mimpi yang ingin aku perjuangkan.

Ketika duduk di bangku kelas XII, aku dinyatakan sebagai siswa eligible. Kabar itu menjadi angin segar yang membuatku yakin untuk mencoba jalur prestasi. Untuk pertama kalinya, aku mulai membayangkan bahwa mungkin inilah jalan yang telah Allah siapkan untuk membawaku menuju kampus impianku. Aku mengisi setiap berkas dan membuat portofolio dengan penuh harap, menyempatkan sholat Dhuha setiap hari, memanjatkan doa-doa terbaik, lalu menunggu hasilnya dengan hati yang dipenuhi rasa yakin.

Namun, ternyata Allah sedang menulis cerita yang berbeda.

18 Maret 2025, pukul 15.00. Dimana hasil pengumuman jalur SNBP sudah bisa dilihat. Jari-jemariku sangat yakin untuk menyentuh layer ponsel dan melihat pengumuman tersebut. Ketika melihat hasil seleksinya, mataku membacanya berulang kali. Aku berharap ada sesuatu yang berubah jika kulihat sekali lagi. Namun, tetap saja. Aku gagal.

Rasanya seperti ada yang mengganjal di dadaku, hingga membuatku terasa sesak dan nangis. Aku merasa kehilangan harapan yang selama berbulan-bulan kujaga dengan hati-hati. Hari itu aku menangis sejadi-jadinya. Tidak ada yang ingin aku lakukan. Aku hanya ingin diam, seolah dunia sedang berhenti bergerak bersamaku.

Menjelang sore, aku memutuskan keluar rumah. Aku mengenakan sepatu, lalu berlari kecil mengelilingi jalanan. Lagu-lagu sedih terus mengalun, seakan menjadi teman yang setia menemani kesedihan yang belum juga ingin pergi. Tanpa kusadari, setiap langkah justru berubah menjadi percakapan paling jujur antara aku dan diriku sendiri.
“jadi…semua usaha yang sudah aku lakuin harus berhenti tepat di titik ini?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Sempat terlintas untuk menyerah. Kecewanya terlalu besar untuk diabaikan. Tapi entah kenapa, selalu ada suara kecil di dalam hati yang bilang kalau satu pintu yang tertutup bukan akhir dari segalanya. Barangkali Allah hanya sedang memintaku untuk mengetuk pintu yang lain.

Keesokan harinya, aku bangun dengan hati yang sedikit lebih tenang. Aku tahu kecewa itu belum sepenuhnya hilang, tetapi aku juga tahu bahwa aku masih ingin berjuang. Karena itu, aku memutuskan untuk mencoba lagi melalui jalur SNBT.

Perjalanannya tentu tidak mulus. Aku bukan tipe orang yang mampu belajar berjam-jam tanpa merasa lelah. Bahkan, kalau boleh jujur, subtes PKPM adalah bagian yang paling sering membuatku mengeluh. Ada hari ketika semangatku menggebu-gebu, tetapi ada pula hari ketika rasa malas datang tanpa diundang. Meski begitu, aku terus berusaha. Tidak selalu maksimal, tetapi aku memilih untuk konsisten belajar walau hanya sebentar. aku mulai percaya bahwa yang membawaku sampai ke tujuan nanti bukan usaha yang selalu sempurna, melainkan keberanian untuk terus mencoba, terus belajar, dan terus melangkah meski berkali-kali merasa belum cukup.

Di balik semua proses itu, aku bersyukur karena tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Di setiap keraguan yang datang, ibu dan ayah selalu menjadi tempatku kembali untuk menguatkan diri. Mereka tidak pernah memintaku mengubah jurusan atau memilih kampus lain hanya karena peluangnya lebih besar. Mereka percaya pada pilihanku, bahkan ketika aku sendiri masih sering meragukannya. Terima kasih karena tidak pernah lelah mendoakan, mendengarkan setiap keluh kesahku, dan tetap percaya padaku. Begitu pula dengan sahabat-sahabatku, Siti Rachma, Naila Khairani, dan Zafira Aurellia. Terima kasih karena sudah selalu mendukungku. Mereka hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkanku bahwa mimpi tidak seharusnya ditinggalkan hanya karena satu kegagalan.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya tibalah hari yang selama ini paling kutunggu sekaligus paling kutakuti: hari pengumuman SNBT.

Kali ini, aku kembali menatap layar ponsel dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Bedanya, aku tidak lagi dipenuhi ekspektasi. Aku hanya berharap yang terbaik, lalu menyerahkan sisanya kepada Allah. Beberapa detik kemudian, mataku berhenti pada sebuah tulisan yang selama ini hanya berani kubayangkan dalam doa-doaku.

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Aku membuka hasil pengumuman itu Bersama ibu. Kami sama-sama menatap layar ponsel dengan jantung yang berdebar. Saat tulisan "Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SNBT" muncul di layar handphone. Aku langsung jatuh ke pelukan ibu. Beliau memelukku erat sambil mengusap kepalaku. Di pelukannya, semua rasa lelah, takut, dan kecewa yang selama ini kupendam seakan luruh begitu saja.

Kini, ketika menoleh ke belakang, aku tidak lagi melihat kegagalan itu sebagai luka. Aku melihatnya sebagai titik balik yang mengajarkanku untuk lebih percaya pada takdir Allah daripada pada rencanaku sendiri. Aku pun belajar bahwa menangis bukanlah tanda kelemahan. Terkadang, air mata adalah cara hati mengumpulkan kekuatan sebelum kembali melangkah. Sebab pada akhirnya, bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa kuat kita bertahan dan tetap percaya selama perjalanan itu berlangsung.

Dan aku, Athiyah, akhirnya sampai di kampus dan program studi yang selama ini selalu kusebut dalam doa. Bukan karena semua rencanaku berjalan sempurna, melainkan karena Allah menunjukkan bahwa di balik setiap pintu yang tertutup, selalu ada pintu lain yang telah Dia siapkan pada waktu yang paling tepat.

Tinggalkan Komentar