RENCANA KEDUA YANG TERNYATA SEMPURNA
Menjadi lulusan dengan peringkat paralel tiga di sebuah sekolah negeri di sudut kota Banjarnegara sempat membuat saya merasa berada di atas angin. Sebagai anak desa yang memimpikan gelar sarjana, saya sangat percaya diri bahwa kerja keras saya sejak bangku SMP akan terbayar lunas. Namun, realitas pendaftaran kuliah mengajarkan saya satu hal penting bahwa roda kehidupan berputar tidak selalu sesuai dengan angka raport yang kita banggakan. Ini adalah kisah tentang bagaimana saya ditolak oleh ekspektasi sendiri, sebelum akhirnya menemukan rumah terbaik untuk masa depan.
Cerita bermula dari sekolah tersebut. Bagi sebagian orang, itu mungkin bukan sekolah yang tergolong favorit atau bukan sekolah bagus di pusat kota, namun bagi saya sekolah itu adalah panggung pembuktian. Sejak duduk di bangku SMP, cita-cita saya tidak pernah berubah saya ingin menjadi guru matematika. Di SMA, ambisi itu semakin membara. Saya menyukai setiap mata pelajaran matematika baik matematika wajib maupun matematika peminatan, hingga berhasil menjadi anak kesayangan dari para guru matematika dan menurut saya itu cukup menjadi bukti bagaimana ambisnya saya kala itu.
Awal semester genap kelas dua belas. Nama saya keluar di nomor urut 5 dalam daftar siswa eligible untuk jalur SNBP. Berada di posisi 5 besar membuat saya percaya diri bahwa langkah menuju kampus impian saya akan aman. Kampus itu adalah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), cinta pertama dan semestanya anak pendidikan.
Sebelum pengumuman SNBP keluar, atas saran dari guru BK dan wejangan dari ayah saya mendaftar jalur SPAN-PTKIN. Karena prodi pendidikan matematika tidak ada di jalur keagamaan tersebut, saya memilih jurusan bimbingan konseling UIN Sunan Kalijaga. Tidak nyambung memang, alasan saya memilih itu karena saya pernah menjadi konselor sebaya dalam PIK-R di sekolah.
Hari yang dinanti pun tiba. Saat itu sedang dilaksanakan ujian sekolah dan di bulan puasa. Jam 3 sore ditengah syahdunya bulan ramadhan, saya duduk menghadap layar hp kecil karena saat itu saya belum memiliki laptop. Ditemani mama dan ayah, serta sebuah chat dari guru matematika, guru BK dan guru Bahasa Jawa yang menanyakan hasil, jemari saya gemetar membuka pengumuman SNBP. Hasilnya? Layar merah menyala menyuruh saya berjuang kembali. Hari itu adalah momen paling melankolis dalam hidup saya, saya menangis sejadi-jadinya dan saya tetap berangkat tarawih meski dengan mata bengkak setelah meratapi sebuah kegagalan.
Tak berselang lama, pengumuman SPAN-PTKIN menyusul pun di sore hari. Sore itu, diwarnai dengan mati listrik dan sinyal yang hilangnya sinyal di desa. Meskipun ini bukan kampus Impian dan prodi Impian, saya tetap berharap mendapatkan kata selamat. Ketika berhasil di buka, hasilnya kembali sebuah kata semangat. Kecewa, namun masih diambang toleransi saya. Satu-satunya harapan kini tersisa pada jalur tes tulis SNBT.
Di SNBT kita bisa memilih 4 pilihan, namun dengan idealisme saya, saya hanya ingin memilih satu yaitu prodi pendidikan matematika UNY. Namun, orang tua saya tidak setuju karena saya terlalu idealis dan tidak memanfaatkan kuota pilihan dengan baik. Saat itu, banyak hal berkecimpung di kepala saya hingga akhirnya saya memilih prodi pendidikan matematika UIN Sunan Kalijaga sebagai pilihan 2. Toh sama sama di Jogja pikir saya saat itu.
Di fase ini, saya belajar sekuat tenaga. Saya melakukan drilling soal dari buku The King, berburu try out di Analitica, Sainsin, Pahamify hingga begadang demi materi di Ruang Guru sampai pagi buta. Ujian mental saya semakin lengkap ketika H-2 sebelum pelaksanaan tes UTBK, sekolah mengadakan acara perpisahan. Di momen itulah saya baru mengetahui bahwa saya berhasil meraih peringkat paralel 3 satu angkatan. Sungguh sebuah kejutan yang membahagiakan. Saya tetap menikmati kemeriahan acara dan larut dalam euforia kelulusan bersama teman-teman, meskipun di saat yang sama, pikiran saya bercabang dan dipenuhi kecemasan luar biasa tentang soal-soal ujian yang akan menentukan nasib saya dua hari kemudian.
Namun, perjuangan berdarah-darah itu berbuah sesuatu. Saya dinyatakan lolos di pilihan kedua, Pendidikan Matematika UIN Sunan Kalijaga.
Apakah saya senang? Iya. Tetapi apakah saya langsung ikhlas? Tentu tidak. Di hari pengumuman SNBT yang juga jam 3 sore saya menangis, meraung, menyalahkan diri sendiri kenapa saya tidak bisa lolos UNY sedangkan teman teman saya bisa. Orang tua saya berterima kasih, mencium dan memeluk saya, tentu saya terharu dengan itu. Namun, saya tetap nekat ingin mendaftar mandiri di UNY. Tidak hanya itu, saya pun mencoba mendaftar CBT UGM kampus top itu meskipun saya tidak berharap disitu. Saya tetap ingin UNY.
Namun, takdir memang suka sekali bercanda. Hasil akhirnya tetap sama, mereka menolak saya. Total, UNY menolak cinta saya sebanyak tiga kali, dan ditambah UGM, saya genap mengoleksi empat kali penolakan dalam satu musim.
Memasuki kehidupan kampus di UIN Sunan Kalijaga, ego saya belum sepenuhnya padam. Sepanjang semester 1 dan semester 2, saya mengalami fase gagal move on yang cukup lucu jika diingat kembali. Saya sering sengaja pergi jajan di dekat UNY atau sengaja berenang di kolam renang UNY seolah-olah mencoba meraba kehidupan yang gagal saya miliki. Saya sempat berniat untuk ikut UTBK lagi di tahun berikutnya, namun Ayah tidak mengizinkannya.
Titik balik saya baru benar-benar tiba saat memasuki semester 3. Saya menyadari bahwa terus meratapi apa yang hilang tidak akan mengubah keadaan. Saya menatap diri di cermin dan berkata, "Dimanapun saya kuliah, itu tergantung sayanya mau bagaimana." Sejak detik itu, saya memutuskan untuk berdamai. Saya mulai mengeksplorasi diri, aktif di kelas, dan menjelma menjadi sosok yang ceria di lingkungan kampus. Saya mulai menikmati setiap acara fakultas yang saya ikuti.
Perlahan tapi pasti, semesta membuka mata saya tentang indahnya rencana Tuhan yang sempat saya perekat dengan prasangka buruk. Di UIN Sunan Kalijaga, saya mendapatkan mata kuliah Pendidikan Inklusi sebuah materi luar biasa yang setahu saya saat itu belum diajarkan di kampus impian dulu. Saya berpikir, kalau saya tidak ditolak di sana, saya tidak akan pernah belajar bagaimana cara mendidik anak-anak istimewa ini. Tak hanya itu, dosen-dosen Pendidikan Matematika di kampus ternyata adalah sosok yang luar biasa hangat. Sedikit pun saya tidak pernah merasa asing, mereka merangkul dan mengayomi kami layaknya orang tua kandung di perantauan.
Saya tersadar bahwa selama ini saya hanya kurang bersyukur. Saya tetap kuliah di Jogja kota yang saya impikan. Saya juga tetap berjalan di jalur yang sama untuk menjadi seorang guru matematika di masa depan. Impian saya tidak pernah mati, ia hanya berganti atap tempat bernaung. Kini, setiap kali rasa rindu pada kampus impian itu kembali menyelinap, saya selalu mengingat satu kalimat magis yang diucapkan oleh Ayah, kalimat yang menjadi bahan bakar terbesar saya hingga hari ini.
“Nduk, kalau kamu tidak bisa S1 di sana, besok kamu S2 di sana. Kalau tidak bisa S2 di sana, belajarlah yang rajin, dan jadilah dosen di sana.”
Rentetan kata "semangat" di layar HP beberapa tahun lalu kini berubah menjadi sebuah romansa kegagalan yang manis. Kegagalan berkali-kali tidak pernah bertujuan untuk menghentikan langkah saya, melainkan untuk menempa saya menjadi seorang calon guru matematika yang tangguh, penuh empati, dan kaya akan rasa syukur.
