Bukan Lupa, Hanya Merayakan Luka
(Oleh: Indra Arinka Nanditagaluh)
(Di antara kabut dan sunyinya alam Gunung Kawinajang, 27 Desember 2025. Tempat di mana aku belajar memeluk rasa sakit dan merajut kembali amanah yang sempat terasa berat.)
Suatu sore di lorong kelas yang mulai sepi, aku sempat terdiam. Di antara bayang-bayang koridor yang mulai meredup, aku merenung dan sesekali berbicara pada diri sendiri. Sungguh, kehidupan akademik dan dinamika perkuliahan terkadang berjalan begitu pahit hingga membuatku merasa terlena dalam nestapa. Di dalam kekacauan kepala ini, sebuah bisikan jahat tiba-tiba menyelinap: apakah sudah tidak ada lagi yang mengharapkan kehadiran seorang perempuan kecil yang hanya menjadi beban bagi semua orang?
Dahulu, jika kepalaku bising oleh keraguan seperti ini, ada satu suara yang selalu menjadi penenangku, suara Ayah. Ayah adalah kompas yang selalu tahu arah pulang ke dermaga yang tepat disaat aku tersesat. Sebelum takdir merenggutnya secara tiba-tiba tanpa notifikasi, Ayah pernah menitipkan sebuah amanah yang teramat sakral bagiku. "Nak, kuliah yang baik, ya. Raih kampus impianmu, jadilah perempuan yang mandiri dan berilmu, pastinya bermanfaat buat orang lain" ucapnya kala itu sambil memeluk diriku. Amanah itulah yang membakar semangatku untuk menembus gerbang perguruan tinggi ini. Namun, takdir datang terlalu cepat, merenggutnya tanpa notifikasi, dan memaksaku menyiapkan ruang ikhlas yang teramat luas di dalam dada secara mendadak. Kehilangan Ayah adalah luka pertama yang paling lebam, namun tak berdarah. Sebuah hantaman yang membuatku harus berdiri di atas kaki sendiri sebelum aku benar-benar siap untuk berdiri tanpa adanya lagi pegangan yang kuat.
Di tengah lamunan tentang Ayah, ponselku berdering nyaring. Bunyinya memecah keheningan sebelum akhirnya menyisakan beberapa pesan di layar. Pesan itu berisi tuntutan agar aku segera menyelesaikan tanggung jawab di sebuah kepanitiaan kampus. Beban itu terasa berkali-kali lipat lebih berat karena aku memegang peran inti di dalamnya. Tugas akademis dan organisasi yang datang bertubi-tubi ini seolah menuntutku untuk selalu tampil sempurna, tanpa peduli bahwa di dalam, jiwaku sedang kelelahan dan tidak baik-baik saja.
Tanpa banyak kata, aku memilih memendam semuanya. Banyak umpatan yang rasanya ingin memaksa keluar dari mulut, serasa terkunci rapat-rapat. Situasi ini membuat perasaanku menggebu, menciptakan ketidaknyamanan yang hebat. Hingga akhirnya, pertahanan itu runtuh juga. Air mata mulai membasahi pipiku di bawah redupnya pencahayaan lorong kelas. Sensasi kesedihan itu terasa begitu pekat, menjiwai setiap jengkal rasa sakit yang kupendam sendiri.
Di tengah hantaman badai emosi itu, aku berpikir: bagaimana caranya aku bisa melampiaskan semua luka ini dengan baik? Sempat terlintas celetukan kecil bahwa aku hanya membutuhkan sosok penyemangat baru, seorang pelarian. Namun, logika menghentikanku. Aku tidak akan mengulangi hal bodoh itu lagi. Mencari pelarian hanya akan memperkeruh keadaan dan menurunkan kualitas diriku. Sebagai seorang mahasiswi yang sedang berjuang. Aku harus menyembuhkan diriku sendiri demi mimpi yang kutitipkan di kampus ini.
Aku butuh suasana baru untuk berdamai dengan keadaan. Aku memutuskan untuk merencanakan kembali sebuah pendakian gunung yang sudah lama tertunda akibat padatnya aktivitas kampus. Aku ingin mencari ketenangan di tempat di mana tidak ada seorang pun yang akan menghakimi tanpa sebab yang jelas. Meski sempat ragu karena tak punya nyali pergi sendiri, seorang teman baik akhirnya memilih menemaniku dan memastikan agar aku tidak melakukan hal bodoh selama perjalanan.
Dalam setiap langkah kaki menapaki tanjakan yang menguras tenaga, isi kepalaku masih saja riuh memikirkan tanggung jawab di kampus. Aku sempat ragu, bagaimana aku bisa terbebas dari jerat kesedihan ini jika pendakian ini pun gagal menenangkanku? Namun secara ajaib, semua umpatan dan sesak di dada perlahan berubah menjadi energi yang luar biasa. Rasa sakit dan kerinduan pada Ayah itu justru mendorong kakiku melangkah lebih cepat, melewati tanjakan demi tanjakan yang curam.
Hingga setelah beberapa kali menghela napas dan beristirahat, aku tersadar bahwa aku telah berdiri di puncak ketinggian 2651 MDPL. Di bawah hamparan awan, rasa haru dan bahagia membuncah. Di titik itulah aku sadar: Aku tidak perlu melupakan rasa sakit dengan paksaan. Aku hanya perlu merayakannya dengan sebuah senyuman tulus.
Perasaan ikhlas mulai merengkuh seluruh tubuhku. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi berlarut dalam kekacauan yang hampir merenggut separuh jiwaku. Di atas puncak ini, aku kembali mengingat Ayah dan Amanah besarnya. Aku tahu, Ayah sedang tersenyum melihat putri kecilnya berhasil bertahan sejauh ini demi menjalani perkuliahan dan berani menghadapi dunia. Luka kehilangan Ayah, luka penolakan, beratnya perjuangan di kampus, dan lelahnya dinamika hidup tidak akan pernah aku lupakan. Sebab, dari luka-luka itulah aku ditempa menjadi manusia yang tegar hingga detik ini. Aku tidak lupa, aku hanya memilih merayakan luka, menjadikannya sebuah pembuktian bahwa aku mampu berdiri gagah di puncak impianku, yang selalu Ayah semogakan.
Pandaan, 10 Juli 2026
