Mekar di Tanah yang Tak Kupilih

Fatih Muhammad Ikhsan Ramadhan

fatihramadhan483@gmail.com

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Halo semuanya, perkenalkan saya Fatih Muhammad Ikhsan Ramadhan, kerap disapa Fatih. Jika hari ini kalian melihat saya melangkah dengan tegap di koridor kampus, barangkali kalian hanya melihat sebuah cangkang yang utuh. Kalian mungkin tidak akan pernah menduga bahwa di balik nama ini, ada lembar-lembar cerita yang sempat basah oleh air mata dan babak-babak kehidupan yang nyaris karam

Jika roda waktu diputar kembali ke masa putih-abu-abu, ingatan saya akan mendarat pada sesosok remaja yang penuh dengan letup ambisi. Di mata guru dan teman-teman sekelas, saya adalah siluet yang selalu berada di bawah pendar lampu sorot. Rapor yang tak pernah membiarkan nilainya turun dan rentetan lomba yang diiktuti salah satunya meraih medali OSN matematika di tingkat Kota Tanjungbalai. Setiap semester, peringkat satu selalu jatuh ke pelukan, seolah-olah prestasi adalah bayangan yang patuh mengekor ke mana pun saya melangkah.

Namun, di balik riuh tepuk tangan dan decak kagum yang kerap memenuhi ruang kelas, ada sebuah kecemasan yang tumbuh subur di dada saya. Sebuah mantra yang saya bisikkan pada diri sendiri dengan jemari gemetar: “Orang yang mempertahankan prestasi akan berjalan di atas jembatan yang jauh lebih rapuh ketimbang mereka yang baru merajutnya.” Prestasi tidak pernah menjadi hadiah bagi saya. Prestasi adalah batu gilang yang saya panggul di atas pundak remaja tujuh belas tahun. Semua peluh, malam-malam tanpa tidur, dan tumpukan rumus yang saya lahap, sengaja saya tukar demi satu taruhan masa depan: selembar tiket menuju kampus impian, Universitas Gadjah Mada, di tanah Yogyakarta. Bagi saya saat itu, UGM adalah satu-satunya altar tempat saya harus meletakkan masa muda.

Tahun 2022 tiba membawa aroma kedewasaan yang prematur. Di semester kedua kelas 12, saya masih merayakan usia tujuh belas tahun, sebuah angka yang saya sebut sebagai golden age, musim semi di mana semua benih mimpi di dalam wishlist hidup harusnya mekar serentak. Nama saya terpahat rapi sebagai siswa eligible SNMPTN. Pintu menara gading itu rasanya sudah separuh terbuka.

Namun, takdir bukanlah juru tulis yang bisa kita dikte maunya. Di awal tahun yang dingin itu, langit runtuh tanpa suara guntur. Ayah, lelakiku yang paling teduh, dermaga tempatku selalu melabuhkan cerita tentang mimpi-mimpi pendidikan tiba-tiba dilepaskan dari dekapanku. Beliau berpulang ke haribaan Tuhan, melangkah mendahului mimpi-mimpi yang belum sempat kusaksikan di matanya.

Seketika itu pula, dunia kehilangan seluruh pigmen warnanya. Semuanya berubah menjadi abu-abu yang pekat. Saya kehilangan satu sayap kehidupan. Kehilangan itu bukan hanya meninggalkan ruang kosong di meja makan, tetapi juga memutus arus dialog yang biasa kami bangun. Saya belum sempat membanggakannya, belum sempat memperlihatkan toga yang kelak kupakai, namun ia sudah terlanjur menjadi tiada.

Di sekolah, hari-hari berjalan seperti pita kaset yang kusut. Koridor kelas terasa datar, dingin, dan asing. Pelajaran beberapa mata pelajaran yang biasanya kusantap dengan renyah, mendadak menjelma menjadi bait-bait tanpa makna. Konsentrasi saya buyar dihakimi duka. Dan ketika pengumuman SNMPTN itu tiba di layar gawai, warna merah menyala menyambut saya: Saya dinyatakan tidak lolos.

Secara sadar, ego saya berbisik, "Tidak apa-apa, Fatih. Ini hanya satu kerikil." Namun, lingkungan terlanjur membangun menara ekspektasi yang terlalu tinggi di atas kepala saya. Seorang teman menatap saya dengan tatapan tak percaya, lalu berujar, "Tih, ku kira kau lulus loh SNMPTN. Udh juara olimpiade, menang banyak kompetisi… aku kira bakal semudah itu seorang Fatih mencapai universitas impiannya."

Kata-kata itu mendarat layaknya sembilu. Sakit, bukan karena saya tidak terima, melainkan karena saya merasa telah mengecewakan banyak orang. Namun, sisa-sisa darah pejuang di tubuh saya menolak mati. Saya bangkit, mendaftar ke segala arah yang terbuka: berbagai macam tes PTN, beasiswa, hingga sekolah kedinasan. Saya bertaruh dengan nasib berkali-kali. Namun, sepanjang tahun 2022, Yogyakarta seolah mengunci pintunya rapat-rapat. UGM menolak saya hingga empat kali berturut-turut. Sekolah kedinasan menutup pintunya, jalur beasiswa pun karam.

Ajaibnya, di antara puluhan penolakan itu, ada tiga jalur PTN lain yang justru meloloskan saya. Namun, hati saya adalah kompas yang telanjur patah dan hanya mau menunjuk ke arah Yogyakarta. Saya mengalami apa yang saya sebut sebagai "gamon" (gagal move on) yang akut terhadap Kota Pelajar itu. Lingkungan saya terasa semrawut, batin saya bergejolak di dalam dunia abu-abu.

Setelah sebuah percakapan sunyi dan singkat bersama Ibu di sudut rumah, saya menyadari saya butuh tempat untuk memulihkan diri. Sebuah tempat yang bisa menjadi cermin bagi jiwa saya yang retak, yang bisa berbisik, "Kalau kau tak bisa mengeja mimpimu di UGM, kau masih bisa melukisnya di sini." Akhirnya, takdir menuntun langkah saya pada salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Saya menginjakkan kaki di tanah Yogyakarta tanpa lambaian tangan orang tua di gerbang kampus. Saya masuk merayap di antara ribuan mahasiswa baru dengan sebuah rahasia yang saya sembunyikan rapat di balik jas almamater: Aku hanya akan bertamu di UMY selama setahun. Tahun depan, aku akan merebut kembali UGM-ku.

Tahun pertama sebagai mahasiswa Agroteknologi berjalan laksana badai yang mengombang-ambingkan perahu kecil. Ritme hidup saya gedebag-gedebug, tidak karuan. Saya kuliah, namun pikiran saya mengembara ke tempat lain. Saya belum menemukan di mana Tuhan menyembunyikan arti dari kehadiran saya di kampus ini. Maka, di tahun 2023, dengan keras kepala yang tersisa, saya kembali mendaftar UGM. Hasilnya? Dua kali mencoba, dua kali pula layar merah penolakan itu menertawakan saya. Angka penolakan UGM di buku catatan saya resmi menginjak angka enam. Bodohnya aku, pikir saya saat itu, meratapi ketegaran yang mulai terasa seperti kebodohan.

Semester dua berakhir dengan dilema yang mencekik: lanjut atau pulang memeluk kekalahan? Namun, suara Ibu di seberang telepon selalu menjadi jangkar, "Sudah, tidak apa-apa. Kuliah dulu yang benar, Nak." Kalimat sederhana itu memaksa kaki saya kembali melangkah ke semester tiga.

Di sinilah, perlahan-lahan, kabut mulai tersibak. Saya mulai menemukan serpihan asa yang tercecer. Saya mencoba menyalurkan energi kemarahan saya ke dalam lembar-lembar proposal PKM. Meski hasilnya hanya sampai pada status nice try, setidaknya saya tahu saya masih hidup. Semester berikutnya berjalan lebih luwes, hingga pada tahun 2024, ego saya sedikit terobati saat terpilih menjadi delegasi ONMIPA UMY.

Tetapi, iblis ambisi masa lalu itu rupanya belum sepenuhnya terusir. Di pertengahan tahun itu, kesempatan UTBK terakhir bagi angkatan saya terbuka. Dan untuk ketujuh kalinya, saya kembali mengetuk pintu UGM. Dan untuk ketujuh kalinya pula, pintu itu dihempaskan tepat di depan wajah saya.

Tujuh kali penolakan adalah jumlah yang cukup untuk meruntuhkan kewarasan seorang manusia. Frustrasi itu bermutasi menjadi gangguan mental yang nyata. Di ambang transisi menuju semester lima, saya benar-benar kehilangan arah mata angin. Badai ekonomi keluarga datang mengepung di waktu yang bersamaan. Saya merasa berada di titik nadir yang paling pekat. Pikiran untuk menyudahi hidup sempat menari-nari di kepala. Saya merasa menjadi produk gagal dari sebuah ekspektasi besar. Saya ingin menyerah, berhenti kuliah, dan menghilang.

Libur semester itu terasa panjang dan menyiksa. Saya menghabiskan waktu dengan berdialog bersama kesunyian, mencari jawaban atas teka-teki mengapa hidup saya sekacau ini. Namun, skenario langit selalu bekerja dengan cara yang paling puitis: ia membiarkan kita hancur sekeping demi sekeping, sebelum menyatukannya kembali dalam bentuk yang lebih indah.

Pada suatu sepertiga malam menjelang Subuh, pertahanan saya yang angkuh runtuh total. Di atas hamparan sajadah, air mata saya tumpah, membasahi kain tempat dahi saya bersujud. Saya menangis sejadi-jadinya, melepaskan seluruh rasa sakit dari tujuh lubang penolakan yang menganga di dada. Di tengah isak tangis yang mulai mereda, tiba-tiba sebuah gema asing bergaung di dinding pikiran saya. Itu adalah petikan ayat dari Surah Yasin ayat 82:

“Innama amruhu idza arada syai’an an yaqula lahu kun fayaqun.” (Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah ia).

Ayat itu menghantam kesadaran saya seperti air es di tengah padang pasir. Saya mendadak tersadar secara utuh: Jika Allah menghendaki saya untuk bersinar, maka tidak ada satu pun dinding penolakan yang mampu meredupkannya. Sebaliknya, jika Allah belum menghendaki, sekeras apa pun saya mendobrak, pintu itu tak akan terbuka. Tugas saya bukanlah memaksa takdir, melainkan rida pada ketetapan-Nya.

Dan keajaiban dari sikap rida itu langsung dibayar tunai. Tak lama setelah subuh berdarah itu, sebuah surat keputusan tiba: Saya dinyatakan menerima beasiswa dari UMY. Kabar itu seolah menjadi napas buatan bagi asa saya yang hampir mati. Beban finansial keluarga yang tadinya menggunung, runtuh seketika. Saya kembali tegak, membusungkan dada, dan memasuki semester lima dengan api yang baru.

Semester lima menjelma menjadi musim semi yang paling ranum dalam hidup saya. Masya Allah, semua titik terang yang dulu saya cari dalam gelap, kini disorotkan langsung ke wajah saya. Keran prestasi saya terbuka lebar. Saya memenangkan berbagai lomba penulisan esai, menulis cerpen, dan merajai berbagai kompetisi kepenulisan. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saya berdiri kokoh, hingga mengantarkan saya pada sebuah gelar yang tak pernah berani saya bayangkan sebelumnya: Mahasiswa Berprestasi II Fakultas Pertanian UMY 2025.

Dunia saya yang dulunya berupa kepingan keramik hancur, perlahan-lahan mulai tersusun kembali membentuk mosaik yang indah. Melalui forum mahasiswa berprestasi, saya dipertemukan dengan manusia-manusia hebat dari berbagai fakultas. Kami saling bertukar cerita, saling menyembuhkan lewat karya.

Melangkah ke semester enam, langkah saya semakin ringan namun bertenaga. Saya kembali terpilih menjadi delegasi ONMIPA UMY 2026, aktif sebagai Co-Assistant praktikum yang membagikan ilmu kepada adik-adik tingkat, dan disibukkan dengan pengabdian sejati: Kuliah Kerja Nyata (KKN).

KKN adalah cerita tentang love-hate relationship yang manis. Di awal pertemuan, ego kami yang berbeda kepala membuat suasana terasa kaku dan tak langsung klop. Namun, malam-malam yang dihabiskan bersama untuk mengabdi, tawa di sela-sela kelelahan, dan kopi yang diseduh saat merancang program kerja, perlahan-lahan meruntuhkan sekat itu. Kami yang awalnya asing, pulang sebagai sebuah keluarga yang utuh.

Waktu bergulir cepat bagai embus angin. Semester tujuh diisi dengan kewajiban magang profesi, namun jemari saya masih sempat menggondol beberapa piala kompetisi. Hingga akhirnya, di semester delapan, saya berdiri di garis akhir. Saya menyelesaikan studi saya tepat waktu.

Dahulu, saya memandang UMY dengan pandangan sinis, sebuah batu loncatan yang terpaksa saya injak karena kaki saya terluka. Namun di akhir masa studi ini, Tuhan membalikkan pandangan itu 180 derajat. UMY bukanlah batu loncatan. UMY adalah rumah yang sesungguhnya. Tempat di mana air mata duka saya dirawat, tempat di mana kegagalan saya dirayakan sebagai proses pendewasaan, dan tempat di mana kebahagiaan sejati akhirnya berhasil saya jemput.

Tuhan melenyapkan seluruh keraguan saya dengan memperlihatkan betapa megahnya rumah yang dipilihkan-Nya ini. Kampus tempat saya bernaung ini bukanlah kampus sembarangan; ia berdiri tegak sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) Terbaik #1 di Indonesia, Universitas Islam Terbaik #1 di Indonesia, Perguruan Tinggi Swasta Terbaik #2 di Indonesia, dan bertengger di peringkat #14 Perguruan Tinggi Terbaik secara Nasional. Ada rasa bangga yang luar biasa gurih saat saya menyebut diri saya sebagai alumni kampus ini.

Kisah saya adalah sepotong monolog tentang apa yang terjadi “jikalau aku tidak menyerah pada ketukan ketujuh.” Melalui tulisan ini, saya ingin mengetuk hati teman-teman yang mungkin hari ini sedang menggenggam kertas penolakan yang sama, yang dunianya sedang berubah menjadi abu-abu, atau yang sedang menangis di atas sajadah subuhnya.

Ingatlah lambang keadilan semesta ini: Tuhan tidak pernah menaruh beban di atas pundak hamba-Nya di luar batas kesanggupannya. Dan Ia selalu menyimpan jawaban terbaik untuk dilepaskan di waktu yang paling tepat. Terkadang, kita tidak mendapatkan apa yang kita tangisi, karena Tuhan sedang mempersiapkan apa yang kita butuhkan. Tetaplah melangkah, dekap erat sisa harapanmu, dan biarkan takdir mengantarkanmu ke rumah terbaikmu. Semoga kabar baik segera mengetuk pintu rumah kalian, dan selamat merayakan hidup dengan penuh semangat.

Biodata Penulis

Nama : Fatih Muhammad Ikhsan Ramadhan

NIM : 20220210099

Prodi : Agroteknologi

Fakultas : Pertanian

Universitas : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *