Berjuang di Tengah Keterbatasan: Kisahku Menuju PTN
Ditulis oleh: Fatma Nurdiana Tantri
Setahun silam, saya menyaksikan dua pemandangan berbeda saat pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi. Ada wajah-wajah yang berseri karena berhasil. Ada pula raut kecewa yang berusaha ditutup dengan ketegaran. Video-video yang beredar di media sosial memperlihatkan bagaimana para calon mahasiswa menanti hasil dengan jantung berdebar.
Mereka yang lolos merayakannya sambil menangis haru, dan mereka yang belum berhasil tidak berhenti. Mereka mencari jalur lain, mencoba lagi, dan tetap percaya pada mimpi.
Kini, giliran saya berada di posisi itu. Saya akan merasakan sendiri betapa beratnya perjuangan dan getirnya penantian. Pertanyaannya hanya satu: Mampukah saya membanggakan orang tua, atau justru harus belajar dari kegagalan terlebih dahulu?
BELAJAR DI TENGAH KETERBATASAN WAKTU
Saya adalah siswi SMK yang memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Keinginan itu harus saya perjuangkan di tengah padatnya kegiatan akademik.
Dalam kurun waktu enam bulan, saya dihadapkan pada empat ujian besar secara bersamaan: Tes Kemampuan Akademik, Praktik Kerja Lapangan, Penilaian Sumatif Akhir Jenjang, dan Uji Kompetensi Keahlian. Di saat yang sama, saya juga harus mempersiapkan UTBK. Waktu untuk belajar terasa sangat sempit.
Namun, keterbatasan waktu tidak membuat saya menyerah. Di sela-sela tugas magang dan materi ujian sekolah, saya tetap memaksa diri untuk belajar. Fokus memang sering goyah, lelah pun sering datang. Akan tetapi, saya memilih untuk terus maju selangkah demi selangkah.
Malam hari menjadi waktu yang paling saya manfaatkan. Saya membagi waktu antara belajar materi sekolah dan materi UTBK, bahkan sering mempelajarinya secara bersamaan hingga larut malam.
Tekanan itu nyata. Saya sempat mengalami kelelahan mental dan rasa takut mengecewakan banyak orang. Sebagai anak pertama, saya memikul harapan besar untuk mengubah nasib keluarga dan menjadi contoh bagi adik saya. Satu-satunya jalan adalah melalui pendidikan tinggi.
MENGEJAR MIMPI DI TENGAH KETERBATASAN EKONOMI
Kesulitan ekonomi sering menjadi alasan seseorang berhenti bermimpi. Namun, bagi saya, mimpi tidak pernah bertanya berapa isi dompet kita. Setiap orang berhak bermimpi. Soal terwujud atau tidak, itu bergantung pada seberapa keras kita mengusahakannya.
Di tengah keterbatasan, saya belajar hanya dengan bermodalkan satu ponsel, kuota seadanya, satu buku tulis, dan satu pena. Tidak ada bimbingan belajar, tidak ada mentor, tidak ada buku UTBK. Arah belajar pun saya cari sendiri.
Setiap malam saya bertanya pada diri sendiri: "Dari mana harus memulai? Ke mana harus melangkah?"
Saya menemukan sebuah komunitas gratis di grup WhatsApp yang membagikan materi UTBK. Dari sana saya belajar, lalu melanjutkan melalui video YouTube dan konten edukasi di TikTok.
Suatu hari, sepulang dari magang, Bapak saya membawa pulang sebuah buku. Itu adalah buku materi UTBK bekas tahun 2021 yang sudah berdebu.
Lalu saya bertanya kepada Bapak, "Bukunya dapat dari mana, Pak?"
Bapak saya menjawab, "Dari tempat sampah. Bukunya masih bagus, jadi Bapak bawa pulang untukmu belajar."
Air mata saya hampir jatuh. Bapak saya seorang petugas kebersihan. Bergelut dengan sampah dan barang bekas adalah kesehariannya. Membeli buku baru tentu bukan hal yang mudah bagi keluarga kami. Buku bekas itu terasa seperti hadiah paling berharga.
Dengan waktu ujian yang tinggal satu minggu, saya membaca buku itu setiap malam. Setiap rumus saya hafalkan, setiap materi saya pahami. Bahkan ketika sakit menjelang hari H, saya tetap memaksa bangun dan belajar. Rasa takut gagal memang ada. Progres belajar saya tidak sempurna karena berbenturan dengan kegiatan sekolah. Akan tetapi, saya percaya bahwa usaha yang tidak sempurna lebih baik daripada tidak berusaha sama sekali.
Hingga hari ujian tiba. Saya mendapatkan jadwal sesi kedua, pukul 13.00 WIB.
Sejak pagi, saya mengulang materi yang belum saya kuasai. Di sela mengulang, saya memperbanyak doa dan menguatkan ibadah. Hati saya campur aduk antara cemas dan berharap.
Saya berangkat ke lokasi ujian diantar oleh Bapak. Sepanjang perjalanan, saya terus memutar kembali rumus dan konsep yang telah saya hafalkan. Bibir saya tidak henti merapalkan doa, meminta yang terbaik. Tepat pukul 13.00, setelah menunaikan salat Zuhur, ujian dimulai. Saya mengerjakan setiap soal dengan segala kemampuan yang saya miliki. Saya menggunakan rumus-rumus yang semalaman saya hafalkan.
Di tengah ujian, sempat muncul rasa putus asa. Banyak materi yang saya pelajari ternyata tidak keluar. Namun, saya teringat kepada Ibu dan Bapak yang sudah berusaha untuk membiayai dan menyemangati saya dalam ujian ini. Saya tidak boleh berhenti di tengah jalan. Saya sudah sejauh ini. Menyerah bukanlah pilihan.
BUAH DARI USAHA DAN KEKUATAN DOA
Dari segala keterbatasan yang saya miliki, saya belajar satu hal, yaitu bersyukur. Keterbatasan mengajarkan saya untuk menghargai waktu. Keterbatasan membentuk saya menjadi pribadi yang kuat, yang berani menyelesaikan masalah sendiri tanpa menunggu bantuan datang.
Setiap lelah yang saya rasakan, saya bayangkan senyum orang tua saya di hari pengumuman nanti. Senyum bangga yang selama ini menjadi bahan bakar saya untuk tetap belajar siang dan malam.
Saya mungkin hanya orang biasa dengan mimpi yang luar biasa besar. Namun, saya percaya pada kekuatan doa. Sebesar apa pun usaha kita, tanpa doa semuanya akan sia-sia. Doa adalah kekuatan utama, terutama doa orang tua. Saya yakin, setiap sujud dan munajat mereka adalah doa yang menembus langit, mengiringi setiap langkah saya.
Dan akhirnya, penantian itu terbayar.
Alhamdulillah, saya berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri melalui jalur UTBK. Hari itu, saya melihat senyum terbaik di wajah orang tua saya. Senyum yang selama ini saya kejar dengan air mata, begadang, dan pengorbanan.
Dari perjalanan ini saya belajar bahwa mimpi tidak pernah mempertanyakan seberapa besar kita, seberapa cukup harta kita, atau seberapa mulus jalan kita. Mimpi hanya bertanya soal seberapa kuat kita mau memperjuangkannya.
Selama ada usaha, selama ada doa, dan selama kita tidak berhenti, maka sejauh apa pun tujuan itu, kita pasti akan sampai.
