MENENUN SISA HARAPAN:
DARI LUKA PENOLAKAN MENUJU RUMAH YANG SESUNGGUHNYA
Karya: Ainiyatus Salimah
Banyak orang memandangku sebagai gadis yang beruntung. Mereka melihatku tumbuh dalam kehangatan keluarga yang penuh dukungan, kerap meraih prestasi, ramah, dan dikelilingi energi positif. Pujian demi pujian sering kali mampir, menciptakan ilusi bahwa jalan hidupku selalu rata dan mulus tanpa kerikil. Namun, manusia hanya pandai membaca apa yang tampak di permukaan, tanpa pernah tahu ada badai yang harus kulewati dan air mata yang jatuh dalam senyap di sudut kamar yang ditemani gelapnya malam. Aku adalah seorang gadis dengan kepala yang penuh dengan mimpi besar, namun harus tumbuh di sebuah rumah di mana harapan senantiasa dipaksa mengalah oleh kenyataan ekonomi.
Keluargaku bukanlah golongan kelas atas yang serba berkecukupan. Kami hidup dalam kesederhanaan yang rapuh, di mana setiap rupiah harus dihitung dengan cermat, bahkan sering kali harus mengorbankan keinginan demi kebutuhan yang lebih mendesak. Sering kali kami dihadapkan pada kesulitan ekonomi ketika keperluan yang tiba-tiba datang bertabrakan, memaksa salah satu dari kami untuk meredam ego dan mengalah. Sejak kecil, orang tuaku menanamkan nilai luhur tentang arti mencukupkan diri, berhemat, dan pentingnya sebuah perjuangan keras sebelum memetik hasil.
Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, aku hanyalah seorang anak tengah dengan posisi yang sering kali terasa abu-abu, seolah berdiri di antara bayang-bayang. Ada tuntutan tak tertulis untuk bisa menyamai atau bahkan melampaui pencapaian anak pertama, namun di saat yang sama, aku harus selalu siap menekan dada dan mengalah demi adik-adikku. Himpitan peran ini tak jarang membuatku didera rasa pesimis, mempertanyakan apakah anak tengah dengan ekonomi terbatas sepertiku berhak memiliki cita-cita setinggi langit. Kendati demikian, ada satu hal yang konstan mengalir di darah kami, orang tuaku, yang hanya lulusan sekolah menengah atas, menaruh rasa hormat yang luar biasa pada pendidikan. Mereka tidak ingin kemiskinan menjadi warisan untuk anak-anaknya kelak, mereka ingin anak-anaknya melangkah lebih jauh dari langkah yang pernah mereka jalani, ya mereka ingin anak-anaknya bisa menggenggam gelar sarjana. Dari sanalah, mimpi untuk kuliah itu lahir dan mengakar kuat sejak aku kecil.
Awalnya, duniaku berputar pada ambisi untuk mengenakan almamater dari Institut Pertanian Bogor (IPB), dimana aku sudah menyusun banyak rencana ketika aku berhasil masuk kampus tersebut. Namun, realitas kembali mengetuk pintu rumah kami dengan keras. Jarak yang jauh berarti biaya kos, biaya hidup, dan ongkos transportasi menjadi lebih membengkak dan sangat perlu untuk kembali di perhitungkan.
Orang tuaku, dengan mata yang berkaca-kaca, terpaksa mengatakan tak mampu melepas keberangkatanku karena alasan finansial, khawatir jika di paksakan aku akan berhenti di tengah jalan, di sisi lain mereka juga khawatir aku belum bisa semandiri itu berada di kota orang. Kecewa? Tentu saja, rasanya seperti patah hati sebelum bertarung.
Namun, ketika melihat kakakku yang berhasil menembus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan cara kuliah sambil bekerja demi bisa menggapai mimpi tanpa membebani orang tua, hatiku kembali diteguhkan. Kakakku adalah pembuka jalan sekaligus pembakar motivasiku bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Pada akhirnya UPI menjadi pelabuhan mimpi baruku.
Saat namaku masuk dalam daftar siswa eligible, secercah harapan melambung tinggi. Target utamaku tetap yaitu Jurusan Gizi, sebuah bidang yang sangat ku impikan. Aku mulai sibuk bertanya pada kakak tingkat dan mengumpulkan informasi. Namun, takdir kembali berkata lain, nilai raporku rupanya belum cukup kuat untuk bersaing di sana. Demi menyelamatkan peluang agar tidak hancur sebelum berkembang, aku melakukan riset mendalam, aku memutar kemudi dan akhirnya memilih Jurusan Sains Informasi Geografi di jalur SNBP. Aku menaruh seluruh taruhan hidupku pada jalur undangan ini, sebab aku tak punya rencana cadangan. Aku tidak memiliki biaya untuk mengikuti bimbingan belajar intensif atau les privat ratusan ribu rupiah seperti teman-teman yang lain. SNBP adalah satu-satunya jembatan gratis yang kupunya.
Hingga hari pengumuman itu tiba. Sore itu, dengan tangan gemetar dan jantung yang berdegup kencang, aku membuka pengumuman. Layar gawai berkedip, dan menampilkan warna merah yang seketika meremukkan dada, pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku tertolak. Dunia seolah runtuh seketika, meninggalkan sunyi yang mencekam. Sedih, jatuh, rapuh, dan putus asa bercampur menjadi rasa sesak yang tak tertahankan. Aku mengurung diri di kamar, menangis dalam kegelapan, meratapi nasib yang terasa begitu tidak adil. Luka penolakan itu semakin diperparah dengan kenyataan pahit bahwa saat itu orang tuaku benar-benar tidak memegang uang sepeserpun untuk mendaftarkanku di jalur SNBT. Pintu kuliah yang tadinya kubayangkan terbuka lebar, tiba-tiba tertutup rapat, digembok oleh masalah ekonomi. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan rasanya menguap begitu saja, meninggalkanku sendirian dalam ketidakpastian.
Di masa-masa gap year tersebut, aku benar-benar berada di titik akhir ego manusia. Rasa bingung, malu kepada teman-teman, hingga rasa iri yang menggerogoti hati melihat mereka bisa melenggang ke perguruan tinggi memakai almamater kampus, membuatku memilih untuk menonaktifkan seluruh akun media sosial. Aku menutup diri dari dunia luar karena takut, bahkan cemas, setiap kali membayangkan pertanyaan klise dari orang lain: "Sekarang lanjut kuliah di mana?" Pertanyaan sederhana yang rasanya seperti sembilu bagi jiwa yang sedang patah. Namun, di tengah pekatnya keputusasaan, pelukan hangat dan air mata sunyi dari orang tuaku menjadi lentera penunjuk arah. Pikiranku mulai terbuka. Menangis tidak akan mengubah warna merah di layar menjadi biru. Mungkin, Tuhan sedang memintaku beristirahat sejenak untuk menyiapkan lompatan yang lebih tinggi, menguji seberapa kuat aku bertahan dalam badai.
Perubahan besar pun dimulai dengan sebuah perjuangan yang menguras air mata. Aku mendapatkan kesempatan bekerja selama kurang lebih lima bulan. Di sela-sela lelahnya mencari nafkah, saat raga menuntut untuk tidur, aku memaksa mataku tetap terjaga untuk membagi waktu belajar materi SNBT secara mandiri. Tanpa bimbingan belajar yang mahal, hanya bermodalkan gawai dan video tutorial gratis di YouTube yang menjadi ruang kelasku, soal demi soal kuhadapi sendirian. Di sela-sela keterbatasan finansial keluarga, doa orang tua ku menjadi modal paling mewah yang kupunya. Dari hasil keringat dan lecet di tangan sendiri, akhirnya aku mampu membiayai pendaftaran SNBT-ku.
Meski aku mampu membiayai pendaftaran SNBT-ku secara mandiri , ujian kedewasaan belum usai, aku tetap tidak bisa melanjutkan impian lamaku untuk mengambil Jurusan Gizi di IPB karena kembali terbentur kekhawatiran ayah mengenai biaya hidup di luar kota yang tak pasti. Di titik ini, aku belajar tentang arti mengalah yang sesungguhnya. Dengan hati yang retak namun lapang, aku memutuskan untuk menutup buku mimpi lama itu, mengubur ambisi masa kecilku, dan bersujud pada sang pencipta memohon petunjuk baru atas pilihan masa depan yang harus ku ambil.
Hingga pada suatu hari, saat merapikan buku-buku SMA, aku menemukan catatan kimia lamaku. Memori tentang betapa ambisinya aku dulu di kelas kimia agar diperhatikan oleh guru seketika memicu ide untuk memilih Jurusan Kimia sebagai pilihan pertama. Di saat yang sama, kakakku mengusulkan sebuah jurusan yang asing dan terdengar remeh di telingaku yaitu Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Awalnya, egoku menolak keras. Di pikiranku muncul penolakan dan rasa gengsi yang menggebu, "Ngapain keluarga dipelajari? Malu ah, jurusan nya ga banyak yang tahu, nanti dikira mau jadi ibu-ibu PKK lagi setelah lulus". Namun, berbeda denganku yang keras kepala, ayah justru menunjukkan effort luar biasa yang menyentuh hati. Beliau mereset jurusan ini diam-diam, mencari tahu prospeknya demi masa depan anak tengahnya. Keyakinan di mata ayah dan ketulusan doa ibu akhirnya meruntuhkan dinding gengsiku. Aku memantapkan diri menaruh Kimia di pilihan pertama dan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga UPI di pilihan kedua. Walau sempat pesimis karena fisik yang terkuras antara bekerja dan belajar, aku melangitkan doa pasrah tanpa putus.
Sampai akhirnya dimana Tuhan melihat air mata dan peluh yang bercucuran dalam diam, Alhamdulillah takdir indah yang sinis itu akhirnya melunak. Berkat ikhtiar, doa yang mengetuk pintu langit, dan ridha orang tua yang menuntun, aku dinyatakan lolos di Universitas Pendidikan Indonesia pada Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Pilihan yang awalnya murni didasarkan atas ketidakberdayaan dan restu orang tua itu ternyata menyimpan rahasia terbaik yang disiapkan Tuhan untukku.
Di jurusan yang sempat kuremehkan ini, aku justru menemukan rumah dan jati diri yang sesungguhnya. Aku belajar dengan bahagia tentang arti keluarga, nilai kemanusiaan, dan dinamika sosial yang menyadarkanku betapa mahalnya ilmu ini. Namun, perjuanganku belum benar-benar usai. Berdiri di tanah Bumi Siliwangi sebagai mahasiswa tidak lantas membuatku lupa akan peluh yang masih bercucuran di dahi ayah dan ibu yang berjuang untuk masa depan anak-anaknya. Menyadari bahwa setiap lembar rupiah yang kukirimkan untuk biaya kuliah di UPI adalah hasil dari doa dan kerja keras mereka yang tak kenal lelah, kini aku kembali memutar roda perjuangan baru. Di sela-sela padatnya jadwal perkuliahan, aku kini sedang berjuang mati-matian mengejar program beasiswa. Mengumpulkan berkas demi berkas, mempertahankan nilai, dan mengetuk pintu-pintu peluang bukanlah hal yang mudah, namun bayangan senyum lega di wajah orang tuaku saat beban finansial mereka terangkat adalah bahan bakar yang membuatku menolak untuk menyerah. Aku ingin membuktikan, bahwa kuliahku hari ini bukan lagi tentang menambah beban, melainkan tentang menjemput masa depan yang lebih ringan bagi kami bersama.
Kini aku termenung memandang ke belakang, menyadari sebuah pelajaran berharga bahwa apa yang kita inginkan dengan menggebu-gebu, belum tentu apa yang kita butuhkan. Jika dahulu aku memaksakan kehendak di Jurusan Gizi IPB, aku mungkin tidak akan pernah belajar sedekat ini di sisi orang tuaku, tidak akan pernah mengerti cara berkomunikasi yang baik dengan mereka, dan tidak akan pernah mendewasa lewat dunia kerja di masa gap year.
Tuhan tidak pernah salah alamat dalam mengirimkan takdir. Masa jeda (gap year) bukanlah sebuah kutukan, aib, atau akhir dari dunia, ia adalah ruang tunggu suci yang disediakan-Nya agar jiwa kita ditempa menjadi lebih kokoh sebelum menerjang dunia perkuliahan yang sesungguhnya. Perjalanan meraih mimpiku tidak berhenti di sini, melainkan baru saja dimulai dengan langkah kaki yang jauh lebih mantap di bawah langit Bumi Siliwangi. Sebab pada akhirnya, masa depan bukan milik mereka yang jalannya selalu mulus, melainkan milik kita yang berani memeluk luka dan mendobrak keterbatasan. Kini aku berjalan dengan kepala tegak membawa sebuah bukti nyata, bahwa mimpi yang dijemput dengan air mata, keikhlasan, dan ridho orang tua, akan selalu menemukan jalan pulang dan membuktikan bahwa takdir Tuhan tidak pernah salah alamat.
