Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” — Ir. Soekarno

Kutipan tersebut merupakan motivasi yang selalu saya tanamkan dalam diri. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), saya selalu bermimpi untuk terus menimba ilmu hingga ke perguruan tinggi, karena bagi saya pendidikan adalah kunci untuk membangun masa depan yang lebih baik. Untuk mewujudkan impian tersebut saya mempersiapkan diri dengan belajar lebih giat agar dapat menjadi siswa eligible dan memperoleh kesempatan mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Selain aktif dalam bidang akademik, saya juga turut berkontribusi dalam organisasi SEC (Smabar English Club) yang mengajarkan saya dalam mengembangkan kemampuan bahasa Inggris dan kerja sama tim. Serta saya juga berpartisipasi dalam berbagai perlombaan yang memberikan saya pengalaman dan tempat saya untuk mengembangkan potensi diri.

Perjuangan saya menuju perguruan tinggi bukan hanya tentang akademik dan prestasi. Sejak SMA, saya sudah tinggal jauh dari orang tua. Hal ini merupakan tantangan yang sangat sulit bagi saya, namun kondisi ini berhasil mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Meskipun saya sering merasakan kerinduan terhadap keluarga, saya menjadikan perasaan tersebut sebagai pendorong untuk terus berusaha mencapai cita-cita yang saya inginkan.

Hari yang ditunggu pun telah tiba yaitu pengumuman siswa eligible untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Dengan perasaan cemas, saya mulai mencari nama saya di kertas pengumuman dan betapa bahagianya saya ketika mendapatkan nama saya tercantum sebagai salah satu siswa eligible. Keberhasilan ini merupakan langkah awal yang memberikan saya secercah harapan untuk meraih kampus impian.

Dengan percaya diri, saya mulai menentukan pilihan perguruan tinggi dan program studi yang ingin saya capai melalui jalur SNBP. Ketertarikan saya pada bidang teknologi mendorong saya untuk mengambil Program Studi Teknologi Informasi di Universitas Negeri Yogyakarta. Saya meyakini bahwa jurusan ini pilihan yang tepat untuk mengembangkan minat dan mewujudkan impian saya untuk berkontribusi di bidang teknologi.

Hari demi hari berlalu, hari pengumuman pun tiba. Sebelum membuka pengumuman, saya berdoa dengan penuh harap. Saat membuka laman pengumuman dan melihat layar berlatar merah, saya langsung memahami bahwa saya tidak berhasil lolos pada program studi dan universitas impian saya. Rasa kecewa, sedih, dan hampa semuanya menjadi satu dalam dada. Butuh berhari-hari saya menerima kenyataan ini, namun melihat orang sekitar saya yang terus memberikan semangat dan masukan. Saya mulai memahami kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya, namun awal dari perjalanan saya. Dengan tekad yang penuh akhirnya saya kembali bangkit dan menyusun rencana serta mempersiapkan diri untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

Dalam mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), saya memilih Program Studi Keperawatan di Universitas Hasanuddin sebagai pilihan pertama dan Program Studi Sastra Inggris di Universitas Negeri Makassar sebagai pilihan kedua. Saya memiliki alasan tersendiri untuk kedua pilihan tersebut. Keperawatan merupakan profesi tenaga kesehatan yang sangat mulia karena memiliki peran yang sangat penting yaitu melayani masyarakat dan sesuai dengan passion saya. Di sisi lain, Sastra Inggris menjadi pilihan karena sejak SMA saya memiliki ketertarikan terhadap bahasa inggris, terlebih setelah aktif dalam organisasi Smabar English Club yang semakin menumbuhkan kecintaan saya terhadap bahasa Inggris.

Masa persiapan SNBT adalah fase yang terberat dan penuh tantangan. Saya harus mulai dari awal untuk membangun kepercayaan diri setelah kegagalan di SNBP dan harus menyiapkan diri menghadapi ujian yang sangat kompetitif. Akan tetapi, saya yakin bahwa setiap usaha yang diiringi dengan kesungguhan akan membuahkan hasil yang optimal. Maka dari itu, saya terus berusaha lebih giat dengan belajar dari pagi sampai malam, memanfaatkan teknologi untuk berlatih soal, mengikuti bimbingan online serta berdoa tanpa henti. Saya percaya bahwa usaha tanpa doa adalah kesombongan dan doa tanpa usaha adalah kesia-siaan.

Ketika pengumuman SNBT tiba, saya hanya bisa pasrah dan memberikan afirmasi kepada diri sendiri bahwa jika kali ini saya gagal lag, saya harus mencoba lagi jangan mudah untuk menyerah, karena sejatinya hidup adalah gagal, lalu coba lagi dan begitu seterusnya hingga pada akhirnya berhasil.

Saat membuka pengumuman, saya ditemani oleh seorang teman yang juga mengikuti SNBT. Kami merasa tegang, takut dan diliputi berbagai perasaaan yang bercampur aduk. Saya mulai mengisi informasi yang diperlukan dan menunggu tampilan hasil di layar. Beberapa detik kemudian, saya melihat latar biru yang merupakan pertanda bahwa saya diterima di Program Studi Sastra Inggris Universitas Negeri Makassar. Saya sangat bersyukur dan rasa kebahagiaan mengisi hati saya pada saat itu. Setelah melewati kegagalan kemarin, akhirnya saya dapat melanjutkan membangun impian saya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun, kebahagiaan tersebut bercampur rasa sedih ketika mengetahui teman baik saya belum berhasil lulus. Ia harus memulai lagi dari awal, yaitu mendaftar pada jalur mandiri. Seperti yang saya katakan jika gagal, coba lagi, hingga pada akhirnya berhasil. Saya sebagai teman berusaha memberikan motivasi dan dukungan untuk tidak menyerah. Hingga pada akhirnya, teman saya berhasil lolos di Universitas impiaannya melalui jalur mandiri. Saat itu saya menyadari bahwa setiap orang diberikan waktu dan jalan masing-masing yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Saya yakin bahwa tidak ada usaha yang tidak berarti. Setiap langkah, setiap tetes air mata, dan setiap kegagalan merupakan proses dari perjalanan menuju masa depan yang lebih baik. Selagi kita berjuang, berdoa, dan mempunyai keyakinan terhadap potensi diri, kesempatan untuk meraih cita-cita akan selalu ada, meskipun terkadang harus melalui jalan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Selalulah percaya di bumi ini ada banyak jalan menuju Roma.

Tinggalkan Komentar