Melawan Keterbatasan: Kisah Menembus Kampus Tanpa Biaya
“Keterbatasan finansial bukanlah halangan, tetapi tantangan yang dapat dihadapi dengan berbagai solusi. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai impian, asalkan diiringi dengan usaha”
Saya adalah anak dari seorang buruh yang memiliki tekad besar untuk kuliah. Di tengah keterbatasan finansial, ada mimpi saya yang besar untuk masuk ke kampus impian. Sejak masuk SMA, saya memiliki tekad untuk kuliah di perguruan tinggi yang saya inginkan yaitu ITB, tetapi kenyataannya mimpi itu tidak dapat saya capai karena keuangan keluarga saya yang tidak mencukupi. Namun mimpi saya untuk kuliah tidak pudar secepat itu.”saya bisa kok berkuliah, walaupun tidak di ITB” gumam saya.
Di suatu hari, ada kegiatan sosialisasi dari sekolah saya tentang stretegi lolos SNBP, salah satunya yaitu dengan meningkatkan nilai disetiap semester. Mulai hari itu, saya terus bertekad untuk meningkatkan nilai saya untuk bisa meraih SNBP itu.
Perjuangan terbesar yang saya lakukan yaitu ketika menduduki bangku kelas akhir SMA. Dan perjuangan itu membuahkan hasil, saya mendapatkan posisi eligible yang ke-10 dari 30 siswa dari jurusan saya. Saat itu, saya langsung memikirkan jurusan apa saja yang ingin saya ambil. Berkat guru saya yang mengajari mata pelajaran ekonomi dengan baik dan jelas, saya jadi tertarik untuk memilih jurusan akuntansi karena menurut saya hitungan itu seru. Saya mulai bingung untuk memilih jurusan yang kedua.
Saat itu saya juga tertarik dengan jurusan teknik sipil, namun setelah saya bicarakan dengan orang tua saya, saya memilih untuk tidak mengambil jurusan tersebut karena menurut kami biaya untuk kuliah di jurusan tersebut akan sangat besar sedangkan kondisi keuangan kami tidak menentu. Kemudian saya terfikir jurusan manajemen sebagai pilihan kedua karena direkomendasikan oleh saudara saya. Setelah mendaftar SNBP, saya juga mendaftar beasiswa KIP-K, karena beasiswa tersebut akan sangat membantu saya dalam berkuliah tanpa membebankan orang tua saya.
Tibalah saat pengumuman SNBP, saya sangat takut untuk membukanya karena saya takut tidak lolos dan harus mengikuti UTBK. Kemenangan berpihak pada saya, saya lolos pada plihan kedua yaitu jurusan manajemen pada kampus yang saya pilih. Kesenangan meliputi saya dan keluarga, karena perjuangan yang saya lakukan selama sekolah tidak sia-sia dan keluarga saya sangat bangga pada saya. Namun tidak dengan pengumuman KIP-K, saya tidak lolos pada seleksi beasiswa tersebut.
Pada saat itu juga saya langsung bimbang dan sedih, bagaimana dengan biaya UKT saya jika saya tidak mendapatkan beasiswa ini. Tibalah pada saat pengisian biaya UKT, ternyata nominalnya jauh dari ekspektasi saya. Saya dan keluarga saya langsung terkejut melihat nominal biayanya. Tidak terlintas di fikiran saya bagaimana ayah saya akan membayar biaya itu. Namun ayah saya berkata “gapapa, itu biar ayah yang fikirkan, yang penting kamu bisa kuliah”. Saat itu juga tangisan saya tidak tertahan mendengar perkataan yang terdengar seperti kesedihan dan kebimbangan. Orang tua saya terus meyakinkan saya untuk mendaftar perkuliahan tanpa keraguan. Setelah beberapa hari, ayah memberikan uang kepada saya untuk membayar UKT saya.
Saya sangat sedih melihat perjuangan ayah saya untuk membiayai kuliah saya. Ayah saya terus bekerja keras di setiap harinya untuk memenuhi target kerjanya, padahal ia mempunyai riwayat penyakit jantung yang dimana tidak bisa bekerja telalu telah. Kemudian saya bertekad untuk mencari beasiswa lain agar dapat membantu membayar biaya kuliah saya. Saya tidak putus asa mencari di media sosial beasiswa yang bisa saya ikuti.
Beberapa beasiswa sudah saya daftar, namun tidak ada satupun kabar baik yang datang. Saya mulai ragu dengan kemampuan saya dan mulai menyerah dengan keadaan. Terlintas di fikiran saya “apakah bisa ayah membiayai kuliah saya sampai saya lulus tanpa saya mendapatkan beasiswa?”.
Di keseharian saya mengikuti perkuliahan, saya terus dibayang-bayangi biaya perkuliahan semester depan. Suatu hari, saudara saya mengirimkan informasi mengenai besiswa yang bermitra dengan kampus saya. Namun saya ragu, karena pengalaman pendaftaran beasiswa sebelumnya yang tidak membuahkan hasil. Saudara saya meyakinkan saya untuk mendaftar dan ia akan membantu saya untuk mengerjakan pernyaratan yang diberikan lembaga beasiswa. Berkat bantuannya saya berhasil membuat sebuah essay dan langsung saya mengisi link pendaftaran.
Tibalah hari pengumuman administrasi, saya menjadi salah satu peserta yang lolos. Kemudian keraguan datang kepada saya setelah melihat seleksi berikutnya yaitu seleksi potensi dan wawancara. Saya ragu apakah saya bisa melewati seleksi itu dengan keberanian. Tetapi orang tua saya terus menyemangati saya dan meyakinkan saya untuk terus berusaha. Berkat itu, saya bisa mengikuti proses seleksi dengan lancar.
Usaha yang saya lakukan tidak sia-sia. Pada hari pengumuman kelulusan, saya berhasil lolos sampai tahap terakhir dan menjadi salah satu dari 12 peserta yang diterima. Perasaan saya campur aduk, saya terharu sekaligus bangga dengan perjuangan yang saya lalui dan berkat doa orang tua, saya mendapatkan hasil yang terbaik. Tangisan saya tidak tertahan, air mata saya keluar dengan deras karena akhirnya impian saya berkuliah tidak akan putus karena biaya. Ekspresi senang dan bangga yang terlihat dari orang tua saya membuat saya terharu dan meyakinkan tekad saya untuk terus melangkah maju dengan usaha yang dapat saya lakukan.
