Tak Menunggu Hebat untuk Memulai, Tak Pernah Menyerah untuk Menggapai PTN Impian

Penggalan lirik “Tak perlu tunggu hebat untuk berani memulai apa yang kau impikan”, dari sebuah lagu berjudul Terhebat yang dipopulerkan oleh Coboy Junior mengajar kan saya bahwa keberanian untuk memulai merupakan langkah awal menuju keberhasilan. Sebab sejatinya kita dapat menjadi berhasil berkat keberanian dalam mencoba, usaha, doa, dan kerja keras, bukan berkat perasaan hebat dalam diri.

‎Hal itu saya buktikan ketika masa-masa saya menggapai PTN impian saya. Awalnya banyak keraguan dalam diri saya untuk mencapai impian tersebut, karena nilai raport saya yang tidak mencukupi nilai prediksi untuk lulus SNBP. Selain itu nilai try out saya juga belum mencukupi nilai prediksi lulus SNBT di universitas dan jurusan impian saya. Akan tetapi keraguan itu dapat ditepis dengan ambisi kuat untuk mencapai PTN dan jurusan impian saya. Saat hari pengumuman siswa eligible, saya senang karena mendapatkan satu kursi untuk mengikuti SNBP, rasanya satu beban pikiran saya hilang. Akan tetapi nyatanya beban pikiran bertambah ketika saya mulai menghitung nilai rata-rata raport saya yang ternyata tidak mencukupi nilai prediksi lulus di jurusan dan PTN impian saya. Hari demi hari saya lewati dengan perasaan bingung, ingin rasanya tetap mengambil jurusan yang saya impikan, tetapi apa daya nilai rata-rata raport saya membuat saya ragu.

Namun, setelah berpikir matang-matang saya yakin untuk tetap mengambil jurusan dan PTN impian saya. Menurut saya lebih baik kita mencoba menggapai impian meskipun gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali, karena jika saya lulus SNBP tidak di jurusan dan PTN yang saya impikan, saya tidak bisa lagi untuk memperjuangkan impian saya tersebut. Hingga akhirnya tekad bulat saya membawa saya untuk tetap memilih pilihan idealis pada pilihan pertama di SNBP, tetapi di pilihan kedua saya memilih pilihan PTN yang realistis dengan jurusan yang tetap saya impikan. Hari-hari setelah pendaftaran SNBP selalu dipenuhi rasa keraguan, takut gagal, dan tidak percaya diri. Keraguan dalam diri saya pun bertambah ketika saya tau bahwa siswa eligible di atas saya juga mengambil jurusan dan PTN yang sama dengan saya, perasaan takut gagal mencuat sangat tinggi, tetapi saya yakin bahwa jika kelulusan ini memang menjadi rezeki saya, rezeki tersebut tidak akan tertukar.

Selama masa-masa menunggu hasil pengumuman saya selalu menyempatkan diri untuk berdoa dan meminta restu kepada kedua orang tua saya agar mendapatkan hasil yang terbaik. Hingga tibalah hari pengumuman SNBP diselenggarakan, perasaan tidak percaya diri atas hasilnya kembali bertengger kuat dalam diri saya, setiap detik sebelum pengumuman menjadi hitungan mundur yang menakutkan bagi saya. Di saat seperti ini, ibu saya meyakinkan bahwa apa pun hasil yang saya terima merupakan yang terbaik bagi saya. Ucapan tersebut menumbuhkan rasa lega dan menjadi angin segar yang meredakan ketakutan serta kecemasan yang saya rasakan.

Saya membuka pengumuman itu bersama ibu saya, perasaan cemas dan takut terasa jelas dalam diri. Seperti dugaan saya sebelumnya ternyata saya tidak lolos SNBP, tampilan merah di layar ponsel saya waktu itu mampu membuat saya terdiam tak berkutik, perjuangan saya menaikkan nilai akademik terasa sia-sia. Beberapa menit kemudian saya membagikan kabar tersebut kepada teman-teman saya. Tak lama berselang, teman baik saya menelepon. Ia menangis setelah mengetahui saya tidak lolos, hati saya teriris dan saya ikut menangis. Di hari itu banyak kata semangat yang saya terima dengan lapang dada, mungkin ini sudah jalannya.

Setelah melalui masa-masa kesedihan itu saya semakin bersemangat belajar. Setiap hari saya belajar dan mengikuti bimbingan belajar SNBT dengan harapan saya dapat lolos SNBT. Tak kenal lelah dan waktu saya terus belajar SNBT. Bahkan, tak jarang saya pulang pukul 22.00 demi mengikuti bimbingan belajar SNBT. Saat pemilihan jurusan dan PTN di SNBT pun saya tetap memilih pilihan yang sama seperti pilihan saya di SNBP dahulu, dengan pantang menyerah saya terus memperjuangkan apa yang menjadi keinginan saya. Usaha keras dan doa terus saya lakukan, berharap yang kali ini tidak sia-sia dan jalur ini merupakan jalan saya menuju PTN impian.

Tak terasa, waktu untuk mengikuti UTBK pun tiba. Semua perlengkapan yang dibutuhkan saya siapkan, tak lupa sebelum pergi saya meminta restu kepada kedua orang tua agar jalan saya dimudahkan dan saya dapat lulus di pilihan impian. Setelah merasa siap saya pergi ke tempat ujian dengan semangat yang membara. Saat ujian berlangsung, saya merasa sedikit tidak percaya diri, bagaimana tidak? saya mendengar teman-teman yang berada di ruangan yang sama dengan saya menekan tombol jawaban dengan cepat, terdengar dari ketukan pada mouse laptop yang menggema di ruangan UTBK yang senyap, tetapi saya? saya sangat lambat dalam menjawab soal. Lagi dan lagi saya terus menepis rasa-rasa menyebalkan itu, saya harus yakin bahwa saya mampu dan akan lulus SNBT.

Tibalah hari pengumuman SNBT. Rasa ragu, takut gagal, dan cemas terhadap hasil yang akan saya terima kembali muncul. Perasaan tersebut terasa begitu mirip dengan apa yang saya alami saat pengumuman SNBP dahulu. Saya berharap kali ini tidak mendapatkan kata semangat melainkan selamat. Akhirnya usaha dan doa yang saya langitkan membuahkan hasil. Ternyata ini jalan yang selama ini saya nanti. Kata selamat terpampang jelas di layar ponsel membuat senyum sumringah dan air mata bahagia menghiasi wajah saya, sebagai respon kebahagiaan karena lulus SNBT di pilihan impian. Perjalanan menuju PTN impian merupakan kilas balik berharga karena berisikan perjuangan yang luar biasa bagi saya.

Lewat cerita singkat ini saya belajar bahwa rasa keraguan dan ketidakpercayaan diri karena belum menjadi hebat harus ditepis demi sebuah keberhasilan. Keberhasilan itu adalah buah manis dari usaha, doa, dan kerja keras.

Tinggalkan Komentar