Tantangan Bukan Sebuah Halangan
Perjalanan 12x daftar dalam Menembus Statistika UGM Tanpa Bimbingan Belajar dan Dukungan Finansial
———————————————-
Oleh: Deswita Anggraini
————————————————
"Kamu gak usah ikut les ya, kamu kan tau sendiri ekonomi kita gimana, kamu belajar mandiri aja, papah yakin bisa kok."
"Kamu yakin mau ikut mandiri? Mamah takut gak sanggup."
Dua kalimat itu yang aku bawa saat memutuskan untuk mengejar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) impian, di tengah keterbatasan finansial keluarga yang jujur saja, waktu itu terasa seperti tembok besar. Tapi aku percaya satu hal: keterbatasan itu nyata, tapi bukan vonis.
Perkenalkan, aku Deswita Anggraini, anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir di keluarga sederhana. Aku bertekad ingin kuliah sejak SMP, di saat kedua kakakku memutuskan masuk SMK, hanya aku yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Melalui tulisan ini, aku ingin berbagi lika-liku perjalananku mengejar kampus impian, GAMADA, sebutan bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada.
Aku tidak pernah mengikuti bimbingan belajar sejak kecil hingga sekarang, tetapi aku memiliki semangat belajar yang tinggi tanpa paksaan, karena cita-citaku memang ingin kuliah dan menjadi siswa eligible. Usaha itu membuahkan hasil: aku berhasil meraih ranking 1 berturut-turut di kelas, ranking 4 eligible di sekolah, dan berkesempatan mengikuti jalur SNBP.
Tapi apakah mimpi besar bisa terwujud begitu saja? Tentu saja tidak.
Merebut Izin Keluarga
Lahir di keluarga tanpa latar belakang pendidikan tinggi menjadi kesulitan tersendiri di awal perjalananku mendaftar kuliah. Keluargaku benar-benar awam terhadap dunia perkuliahan, karena akulah yang pertama kali mencoba mematahkan anggapan bahwa "pendidikan, harta, dan intelektual hanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya". Mereka sudah skeptis soal biaya pendidikan, dan aku berusaha meyakinkan bahwa selalu ada jalan menuju kesuksesan.
Masalahnya tidak berhenti di biaya. Orang tuaku juga awalnya tidak mengizinkanku kuliah di luar kota. Pikiranku penuh tekanan dari tiga arah sekaligus: biaya kuliah, larangan merantau, dan minimnya dukungan secara intelektual dari rumah. Apakah aku menyerah? Tidak. Dengan tekad yang kuat, aku akhirnya berhasil meyakinkan dan mendapat izin untuk mendaftar kuliah di luar kota.
"Kaki tanpa alas memang sering terluka, tetapi dirimulah yang mampu menyembuhnya."
Gambar 1. Dokumentasi Pribadi, 2026
Mendaftar SNBP
Bingung, takut, khawatir — itulah yang aku rasakan ketika mendaftar SNBP. Pilihanku yang berubah-ubah membuatku larut dalam ketidaksiapan selama berhari-hari. Meski tanpa bimbel untuk persiapan SNBT, aku tidak pernah menurunkan standar idealisme dalam memilih jurusan. Saat itu pilihanku hanya ada tiga: FMIPA-IPA ITB, D4 TSPD UGM, atau Teknik Fisika UGM. Karena dua di antaranya berbeda domisili denganku, aku akhirnya hanya mengisi satu pilihan tunggal: Teknik Fisika UGM.
Gambar 2. Pilihan SNBP (Sumber: website SNPMB 2026)
Waktu terus berjalan, sementara tidak ada jaminan kelulusan SNBP dari sekolah yang belum pernah punya alumni di UGM. Saat hari raya Idulfitri tiba, aku berharap ada dukungan, tapi yang kudapat justru keraguan dan sikap meremehkan dari orang-orang di sekitarku. Aku memutuskan tetap belajar SNBT sambil menunggu pengumuman, secara otodidak, hanya bermodal video YouTube dan TikTok.
Hingga pengumuman tiba, rasa getir menjalar ke seluruh tubuhku. Aku ditolak SNBP UGM. Nangis? Tidak. Aku justru semakin gigih mencari jalur-jalur PTN lain.
Mencari Peluang Lain
Ada satu hal yang harus aku syukuri, aku percaya Tuhan selalu punya caranya sendiri. Semasa SMA, aku mengumpulkan cukup banyak sertifikat, salah satu yang paling berharga adalah Finalis Nasional lomba Cipta Puisi FLS3N 2025. Bermodal itu, setelah ditolak SNBP, aku langsung mendaftar ke 10 jalur prestasi sekaligus, salah satunya jalur PBUTM UGM.
Persiapan SNBT
Setelah mendaftar dan memiliki beberapa cadangan, aku tetap fokus belajar SNBT setiap hari. Apakah aku menyesal karena tetap idealis? Apakah aku takut menghadapi SNBT tanpa bimbel? Tidak. Prinsipku sederhana: jangan turunkan mimpimu, tapi naikkan valuemu. Di pendaftaran SNBT, aku memasukkan tiga pilihan paling idealisku: S1 Statistika UGM, S1 FMIPA-Matematika ITB, dan D4 TSPD UGM. Faktanya, aku selalu belajar di luar rumah, dari pulang sekolah sampai malam, bahkan di hari libur aku pergi ke perpustakaan karena rumahku memang tidak nyaman untuk belajar. Lalu bagaimana rasanya belajar SNBT sambil menerima penolakan satu demi satu dari kampus dan beasiswa yang sudah kudaftarkan sebelumnya? Sakit, jujur sakit. Lima kali penolakan hampir membuat semangat belajarku runtuh, apalagi UGM saat itu membuka pendaftaran UM UGM sebelum pengumuman SNBT keluar.
Bagiku, mempertaruhkan biaya pendaftaran sebesar itu adalah risiko besar. Pikiranku galau antara mendaftar atau tidak, karena impianku memang UGM. Akhirnya aku mengikuti kata hati untuk tidak mendaftar, dan memilih melanjutkan fokus belajar SNBT.
Gambar 3. Pilihan SNBT (Sumber: website SNPMB 2026)
Pengumuman SNBT
Hari yang dinantikan jutaan orang di seluruh Indonesia akhirnya tiba. Tangisku pecah sejadi-jadinya ketika tahu aku juga ditolak SNBT di pilihan utamaku.
Gambar 4. Hasil SNBT (Sumber: website SNPMB 2026)
Sejak hari itu aku mencoba mengikhlaskan kampus impian, karena merasa harapan ke UGM sudah semakin tipis: tidak mendaftar UM UGM, dan jalur PBUTM UGM pun rasanya sulit diharapkan.
Tanpa memberi diriku waktu istirahat, karena takut mimpiku benar-benar hilang, malam itu juga aku mulai belajar untuk SSU ITB jalur tes. Esok harinya, saat menanti pengumuman SMITS ITS dan SSU ITB, aku memutuskan sejenak beristirahat dengan menonton pentas teater adik kelas. Niatnya mencari hiburan, tapi justru di sana aku diledek habis-habisan oleh temanku karena tidak lolos SNBT. Aku hanya diam, karena memang itu kenyataannya.
Pukul 3 sore, pengumuman skor UTBK keluar, dan hatiku lega karena skorku ternyata lebih tinggi dari orang yang meledekku. Tak lama setelah itu, aku mengecek pengumuman SMITS ITS — dan aku lolos di Teknik Geofisika ITS. Meski hatiku senang, aku masih berharap bisa lolos SSU ITB. Sayangnya, aku ditolak lagi oleh ITB. Tidak apa, setidaknya aku sudah lega punya satu PTN dan tidak perlu mengikuti tes SSU ITB.
Masih Berharap pada UGM
Bukan berarti aku tidak bersyukur telah diterima di ITS, tapi jauh di dalam hati, aku masih berharap bisa diterima di UGM. Aku terus berdoa agar bisa diluluskan lewat jalur PBUTM.
Dan akhirnya, penantian itu terbayar. Aku percaya bahwa rencana Allah adalah sebaik-baiknya takdir. Aku lolos di Statistika UGM.
Pelajaran yang Aku Bawa
Setelah semua proses itu, aku sadar satu hal: restu dan keberhasilan tidak datang secara instan, keduanya harus diperjuangkan berbarengan. Izin orang tuaku bukan didapat karena mereka tiba-tiba percaya, tetapi karena aku konsisten menunjukkan usaha. Kampus impian pun bukan kudapat lewat jalan mulus, melainkan karena aku menolak berhenti di penolakan pertama, kelima, bahkan kedua belas.
Gambar 5. Screenshot chat, 2026
Kalau ada yang bertanya, "Gimana caranya tetap waras di tengah 12 kali pendaftaran dan berkali-kali ditolak?" — jujur, tidak ada rumus ajaib. Yang ada hanyalah: nangis boleh, down boleh, tapi besoknya tetap buka buku lagi. Aku tidak pernah melewatkan waktu belajar walau hari itu hatiku hancur karena sebuah pengumuman.
Gambar 6. Dokumentasi Pribadi, 2026
Untuk Kamu yang Sedang Berjuang
Kalau kamu membaca ini dan merasa keadaanmu mirip denganku, keluarga yang belum sepenuhnya memahami mimpimu, tidak ada biaya untuk les, bahkan rumah yang tidak senyaman itu untuk belajar, aku hanya ingin bilang: keterbatasan itu nyata, tapi bukan vonis. Aku bukan anak yang paling pintar atau paling beruntung. Aku hanya anak yang tidak mau menurunkan standar mimpinya, walau keadaan tidak selalu mendukung.
GAMADA, atau PTN mana pun yang kamu incar, bukan cuma soal nilai. Itu soal seberapa banyak penolakan yang sanggup kamu lewati tanpa berhenti mencoba.
Selamat berjuang, untuk kamu yang masih berada di tengah prosesnya. Jalanmu mungkin tidak secepat orang lain, tapi bukan berarti tidak akan sampai.
Gambar 7. Dokumentasi Pribadi, 2026
