Menembus Langit Biru: Doa, Keyakinan dan Keikhlasan

Annisa Primawati

Kisah ini dimulai di ruang kelas 11, saat itu udara sekolah mulai dipenuhi obrolan tentang masa depan “Mau kuliah di mana setelah lulus nanti?” menjadi pertanyaan berseliweran di antara meja meja kelas. Di tengah riuhnya ambisi teman teman, pandanganku tertuju pada satu titik di ujung sana, tempat untuk melanjutkan pendidikanku yaitu kampus biru langit yang lebih di kenal dengan Universitas Riau, seketika menjadi kiblat dari segala impianku.

Sejak hari itu, sebuah mantra tertanam di kepalaku “Aku harus bisa kuliah di sana”. Tekad itu bukan sekedar pemanis bibir, ia menjelma menjadi jam tidur yang berkurang dan tumpukan buku yang terus bertambah. Aku mulai menyusun strategi agar nilai nilaiku di setiap semester harus meningkat. Kulihat kembali nilai nilai saat berada di kelas 10 dan nilai nilainya cukup membuatku yakin untuk terus meningkatkan di semester berikutnya.

Perjuanganku membuahkan hasil yang manis semester demi semester kulewati dengan bertahan di peringkat 10 besar. Keyakinanku melambung tinggi, puncaknya adalah hari di mana namaku diumumkan masuk dalam kuota siswa eligible SNBP. Senyumku merekah lebar, aku merasa gerbang kampus biru langit itu sudah selangkah lagi terbuka untukku.

Namun, semesta punya cara sendiri untuk menguji kesungguhan. Saat jemariku selesai menghitung kalkulasi nilai rata rata dari semester satu hingga lima, jantungku rasanya berhenti berdetak. Angka yang mucul di layar kalkulator adalah 87. Di sudut kelas lain, aku mendengar teman temanku saling melempar angka 90, 91 bahkan 93. Keadaan terasa kian menyudutkan saat aku menyadari sekolahku bukanlah sekolah yang terkenal atau punya nama besar. Logikaku berputar liar, di jalur SNBP reputasi sekolah adalah modal awal dan dengan nilai rata rata 87 dari sekolah yang biasa saja, rasanya peluangku runtuh. Harapan yang kubangun setinggi langit seketika ambruk.

Tetapi di sela sela patahnya hati itu, Tuhan menyelipkan seberkas cahaya. Di saat aku menemukan informasi bahwa nilai rata rata kelulusan untuk jurusan impianku di Universitas Riau berada di angka 86. Aku kembali tersenyum, harapan yang sempat layu, perlahan tegak kembali. Sampailah saat dimana mulai memasukkan nilai dan memilih jurusan. Dengan sisa keberanian dan keyakinan yang utuh, aku memfinalisasi pilihan pertamaku yaitu Biologi, Universitas Riau.

Ternyata ujian mental belum selesai, tepat setelah tombol finalisasi kuklik sebuah kabar datang saat aku mengetahui seorang teman sekolahku memilih jurusan dan kampus yang sama persis dengan nilainya yang jauh lebih tinggi dibanding aku. Logika dan aturan SNBP langsung menampar kesadaranku, hanya ada satu di antara kami yang akan lulus.

Di titik itu, aku kehabisan strategi manusia, aku terdiam, dadaku sesak dan tubuhku lemas karena hanya di jalur ini harapanku untuk kuliah. Di tengah kepasrahan yang teramat sangat, aku sadar aku masih punya satu jalur langit. Aku mulai mengetuk pintu Allah dengan doa yang tidak pernah putus. Doa itu terus kuulang setiap harinya, berkejaran dengan doa orang tuaku yang sangat hebat mengtuk pintu langit demi masa depanku. Aku menaruh seluruh keyakinanku di sana, karena aku percaya tidak ada doa yang pulang dengan tangan kosong. Setiap sujud adalah tempatku menumpahkan segala ketakutanku, sebuah doa yang diiringi keikhlasan paling purna “Ya Allah, jika Biologi Universitas Riau itu memang takdir untukku, tolong jadikan aku salah satu orang yang beruntung lulus di jalur ini. Karena jika tidak di jalur ini aku tidak tahu harus bagaimana, aku tidak mampu jika harus ikut lagi di jalur SNBT. Tetapi Ya Allah jika ini bukan untukku aku ikhlas karena aku percaya engkau lebih mengetahui apa yang terbaik untukku.”

Hari berganti hari, ntah mengapa aku merasa yakin aku akan lulus di jalur SNBP ini, hingga tibalah tanggal pengumuman yang sakral itu. Sejak subuh, aku melantunkan doa yang berbeda “Ya Allah, jika hari ini namaku dinyatakan lulus berikanlah rasa tenang di hatiku. Dan jika tidak, tolong luaskan rasa ikhlas di hatiku agar aku tidak hancur.” Ajaibnya, sepanjang hari itu hatiku begitu damai, tidak ada debar ketakutan yang berlebih, hanya ada rasa tenang yang menjalar di sekujur tubuh. Di dalam hatiku berbisik, mungkin ini tanda bahwa Allah telah mendengarku.

Tepat pukul tiga sore, layar handphone menyala. Di sampingku, ibu duduk dengan menggenggam tanganku erat, ikut menahan napas. Jemariku yang gemetar menekan tombol hasil, website memuat halaman perlahan lahan hingga akhirnya warna itu muncul. Layar biru, lambang kelulusan, namaku tertera di sana.

Tangisku pecah seketika, begitu pula tangis ibuku bersujud syukur. Hari itu, di jam tiga sore yang hangat Allah tidak hanya mengabulkan doaku, tapi Dia membuktikan bahwa kerja keras yang diserahkan penuh dengan rasa ikhlas akan selalu menemukan jalan pulangnya.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *