Menjemput Pelangi di Ujung Badai: Sebuah Memoar Perjuangan
"Perjuangan bukan sekadar tentang seberapa keras kita memukul takdir, melainkan tentang seberapa kuat kita bertahan saat kenyataan memukul kita berkali-kali. Sebab di balik doa yang sunyi, ada takdir yang sedang dirajut dengan rapi."
Bagi kebanyakan orang, kesunyian adalah tanda dari ketidakpedulian. Aku, Selvi Rahma Gusni atau yang kerap disapa Selvi adalah gadis yang akrab dengan label "pendiam" itu. Di sudut-sudut kelas semasa SMA, aku sering terlihat tenang, menarik diri dari hiruk-piruk obrolan remaja yang tak tentu arah. Namun, mereka tidak pernah tahu bahwa di dalam kepala dan dadaku, ada gemuruh yang tak pernah reda. Diamku bukanlah tanda bahwa aku menyerah pada keadaan, melainkan sebuah cara untuk mengumpulkan energi, menyusun strategi, dan bertarung dalam senyap.
Sejak berseragam putih abu-abu, garis hidupku sudah memperingatkan satu hal: jika aku ingin melangkah ke jenjang perguruan tinggi, aku harus berjalan dengan kakiku sendiri. Aku lahir dan tumbuh dalam kehangatan keluarga yang sangat sederhana. Ayahku adalah seorang petani dan juga sebagai buruh harian lepas sementara ibuku Tidak bekerja, Mengandalkan keuangan orang tua untuk biaya kuliah yang kian melambung tinggi adalah sebuah kemewahan yang tidak berani aku impikan. Maka, satu-satunya jalan keluar adalah beasiswa.
Di balik sifat pendiamku, aku menjelma menjadi seorang petarung di dunia akademik. Aku berburu kompetisi, menantang diriku dalam lomba esai, olimpiade, hingga menumpahkan segala rasa melalui untaian kata dalam lomba menulis puisi. Tidak hanya itu, aku juga aktif mencari dan mengikuti berbagai seleksi beasiswa sejak dini. Aku tahu, setiap lembar sertifikat yang berhasil kuraih bukan sekadar kertas pajangan, melainkan "peluru" yang suatu saat nanti akan membantuku menembus gerbang perguruan tinggi tanpa membebani pundak kedua orang tuaku yang kian menua.
Ada satu amanah besar yang tertanam kuat di lubuk hatiku. Sebuah pepatah Minang yang selalu dibisikan oleh kedua orang tuaku: "Mambangkik batang tarandam." Mereka sangat berharap aku bisa mengangkat derajat keluarga, menghidupkan kembali harapan yang lama terendam oleh keterbatasan ekonomi, dan membuat mereka tersenyum bangga di hadapan dunia. Janji itulah yang menjadi bahan bakar utamaku saat rasa lelah mulai menyergap.
Saat tahun kelulusan 2023 tiba, debar dada ini kian kencang. Aku memutuskan untuk melangkah ke dunia kesehatan. Awalnya, seperti kebanyakan anak berprestasi lainnya, aku meminati profesi kedokteran. Namun, setelah menimbang realitas, biaya, dan persaingan yang teramat sengit, aku memilih untuk bersikap realistis namun tetap idealis. Pilihan pertamaku jatuh pada Jurusan Keperawatan di Universitas Andalas melalui jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi). Dengan tumpukan sertifikat juara yang sudah kukumpulkan, aku merasa memiliki modal yang cukup kuat.
Namun, manusia hanya bisa berencana, dan kelalaian kecil bisa berakibat fatal. Karena sebuah kesalahan teknis dalam peletakan jurusan kedua di mana aku memilih jurusan perhotelan yang tidak linier dengan rekam jejakku strategi itu runtuh. Hari pengumuman SNBP tiba, dan layar monitor menampilkan warna yang paling ditakuti oleh seluruh siswa tingkat akhir: merah. Aku dinyatakan gagal. Dunia rasanya runtuh seketika. Air mata jatuh tanpa bisa dibendung, bukan hanya karena kecewa pada hasil, tapi karena rasa bersalah pada ayah dan ibu yang terlanjur menaruh harap.
Di tengah badai kekecewaan itu, guru BK di sekolahku mengulurkan tangan. Beliau melihat potensi dalam diriku dan menyarunkanku untuk mendaftar jalur prestasi atau PMDP (Penelusuran Minat dan Kemampuan Politeknik) di Poltekkes. "Selvi, kamu punya peluang besar dengan sertifikat-sertifikat ini. Jangan menyerah," katanya menguatkan.
Meski peluang di Poltekkes terbuka, ambisiku untuk menembus Universitas Andalas belum sepenuhnya padam. Sembari memproses berkas PMDP, aku membelah fokusku untuk bertarung di jalur UTBK-SNBT. Aku belajar siang dan malam, menghafal rumus, membedah soal-soal penalaran, dan mencoba menembus batas kemampuanku. Namun, takdir kembali mengujiku dengan keras. Saat pengumuman UTBK keluar, namaku kembali tidak tercantum. Nilaku jauh dari batas kelulusan. Dua kali dihantam kegagalan di kampus impian yang sama membuat mentalku berada di titik terendah. Aku mulai mempertanyakan kemampuanku, mempertanyakan apakah anak seorang petani dan buruh harian lepas ini benar-benar layak untuk bermimpi tinggi?
Namun, di saat aku merasa berada di titik tergelap, Allah SWT menunjukkan bahwa rencana-Nya jauh lebih indah dari sekadar ambisi manusiaku. Pintu yang sempat kukira tertutup rapat, ternyata dialihkan ke pintu lain yang jauh lebih berkah.
Pengumuman jalur PMDP Poltekkes Kemenkes Padang akhirnya keluar. Hatiku bergetar hebat saat membaca namaku dinyatakan Lulus di Jurusan D3 Keperawatan. Kebahagiaan itu tidak datang sendiri; Allah melipatgandakan ketetapan-Nya dengan menyatakan bahwa aku juga lolos program beasiswa penuh sampai lulus, yaitu Beasiswa UGO.
Malam itu, tangis yang pecah di rumah kami bukan lagi tangis kesedihan, melainkan tangis haru tiada tara. Biaya kuliahku dijamin sepenuhnya. Impianku untuk kuliah tanpa memberatkan orang tua akhirnya terwujud nyata. Saat itu aku sadar, bahwa filosofi pelangi setelah hujan lebat itu benar-benar nyata terjadi dalam hidupku. Kegagalanku di Universitas Andalas bukanlah akhir dari segalanya, melainkan cara Tuhan menyelamatkanku dan menuntunku ke tempat terbaik yang memang dipersiapkan untukku.
Kini, aku melangkah di jalan yang baru. Aku tahu betul bahwa menjadi seorang perawat bukanlah perkara yang mudah. Ini adalah profesi yang mulia namun sekaligus berat, sebuah pekerjaan yang akan menguras pikiran, tenaga, hingga kesehatan mentalku. Menghadapi pasien, lembar-lembar tugas klinis, dan tanggung jawab nyawa manusia adalah realitas yang harus kuhadapi setiap hari.
Namun, setiap kali rasa lelah itu datang menyapa di tengah perkuliahan, aku akan selalu memandang kembali ke belakang mengingat peluh ayah di sawah, mengingat guratan lelah di wajah ibuku, dan mengingat betapa berdarah-darahnya perjuanganku di tahun 2023 lalu.
Aku, Selvi Rahma Gusni, telah berjanji pada diriku sendiri dan kepada Tuhan. Apapun rintangan yang membentang di depan, aku akan bertahan dan menyelesaikannya dengan baik. Jalanku kini telah disertai oleh rida-Nya. Tekadku sudah bulat: aku akan menjadi perawat yang hebat, mengangkat derajat kedua orang tuaku, dan memastikan bahwa air mata yang mereka teteskan di masa depan adalah air mata kebahagiaan.
Pesanku untuk semua orang disana “Jangan pernah takut berjalan lambat atau berbelok arah, takutlah jika kamu memutuskan untuk berhenti. Kegagalan hari ini hanyalah cara Tuhan memisahkanmu dari pilihan yang salah, sebelum menghadiahkan sesuatu yang paling kamu butuhkan. Bersabarlah, perjuanganmu tidak akan pernah sia-sia.”
"Tuhan tidak memisahkan kita dari apa yang kita impikan, melainkan mendekatkan kita pada apa yang kita butuhkan. Teruslah berjuang, sebab senyum bahagia orang tuamu adalah mahkota tertinggi yang harus kamu menangkan."
