KISAHKU, INSPIRASIKU: ASA YANG TUMBUH DI ANTARA CITA DAN REALITA
Perjalananku dimulai ketika aku menginjakkan kaki di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Masa itu adalah waktu di mana kepalaku mulai dipenuhi oleh dua pilihan besar yang saling berkejaran: langsung bekerja untuk membantu keluarga, atau melanjutkan kuliah? Jujur, saat itu aku belum memikirkannya secara matang. Fokus utamaku hanyalah belajar dengan giat sambil mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Langkah pencarian jati diri itu membawaku masuk ke dalam organisasi Pramuka. Di sanalah mental dan fisikku benar-benar ditempa. Pramuka bukan sekadar ekskul biasa bagiku, melainkan penyelamat yang memberikan beasiswa hingga mampu meringankan beban biaya SPP sekolahku sejak kelas 10. Momen paling mengharukan sekaligus melelahkan yang tidak akan pernah aku lupakan adalah ketika satu angkatan kami memiliki ambisi yang sama: mencapai gelar Pramuka Garuda.
Prosesnya sangat menguras energi. Kami diuji secara fisik, mental, hingga wawasan pengetahuannya. Begitu beratnya latihan yang kami jalani, sampai-sampai aku dan temanku sempat pingsan karena kelelahan. Namun, ketika pelantikan tiba dan kami berhasil menyandang gelar Garuda tersebut, tangis kami pecah seketika. Rasa bangga berbaur haru, apalagi saat melihat Pembina Pramuka kami hadir, berdiri tegak, dan terus memberikan semangat sejak awal perjuangan kami.
Memasuki kelas 11, aku mendapatkan kesempatan magang di sebuah bank, sesuai dengan jurusanku yaitu Akuntansi. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan karena bekerja di bank adalah impian besarku. Di sana, aku menyerap banyak ilmu tentang dunia kerja, tanggung jawab, dan keahlian yang dibutuhkan. Ketika masa magang berakhir, seorang karyawan memberikan pesan yang membekas di hatiku: "Mau ke sini lagi gak? Tapi harus kuliah dulu, ya." Kalimat sederhana itu seketika memantik api inspirasi di dalam diriku. Aku ingin kuliah agar bisa kembali ke tempat itu.
Namun, realita kembali menamparku. Dari mana uangnya? Harapan yang baru tumbuh itu perlahan kabur. Setiap kali ada yang bertanya ke mana aku akan melanjutkan kuliah, aku selalu menjawab dengan tegas: "Aku mau langsung kerja." Padahal jauh di dalam lubuk hati, aku sangat ingin mencicipi bangku perkuliahan. Aku hanya mencoba tahu diri melihat keadaan ekonomi keluargaku.
Hingga akhirnya kelas 12 akan usai. Saat jalur SNBT dibuka, aku hanya bisa menjadi penonton yang mendukung perjuangan teman-temanku dari balik layar sambil mengikhlaskan keadaan. Tetapi, keajaiban itu datang secara tiba-tiba menjelang pengumuman SNBT. Orang tuaku yang mendapatkan informasi dari perkumpulan PKH membawa kabar bahwa aku diizinkan untuk kuliah secara gratis melalui jalur KIP-Kuliah (KIP-K). Ekspresi orang tuaku saat menyampaikannya memang datar dan biasa saja—mereka tipikal orang tua yang jarang menunjukkan kesedihan atau emosi berlebih. Namun, aku tahu di dalam hati mereka, ada rasa bangga dan keinginan besar untuk mengusahakan apa yang terbaik bagi anaknya.
Aku pun mulai berburu informasi di media sosial dan menemukan sebuah kampus swasta terdekat yang masih membuka pendaftaran. Awalnya aku sempat kecewa dan berniat mengambil gap year karena program studi (prodi) impianku tidak tersedia di sana. Namun, takdir berkata lain. Sebuah keajaiban kembali muncul ketika prodi yang aku mau tiba-tiba terdaftar di portal KIP-K.
Ditemani oleh Mamah tercinta yang dengan sabar membantuku mengurus seluruh berkas dari mulai mencetak dokumen hingga urusan administrasi lainnya, aku resmi mendaftarkan diri. Walaupun ini adalah kampus swasta, aku sangat bangga pada diriku sendiri. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk merasakan dunia perkuliahan, meski hampir semua orang menginginkannya.
Saat ini, aku masih menunggu pengumuman resmi apakah aku lolos seleksi KIP-K tersebut atau tidak. Besar harapanku agar pintu ini dibukakan untukku. Terima kasih KIP-K yang telah menjadi jembatan harapan, dan terima kasih untuk diriku yang tidak pernah menyerah pada keadaan demi meraih gelar impian.
