Mengubah Ragu Anak SMK Menjadi Tiket Untuk Menuju Kampus Impian
Oleh: Nur Adiba Zahra
Jujur, kalau menengok ke belakang sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, aku tidak pernah membayangkan akan menyandang status sebagai seorang mahasiswa. Jangankan bermimpi memakai almamater universitas, untuk sekadar percaya pada kemampuan diri sendiri saja rasanya aku tidak punya keberanian. Rasa tidak percaya diri itu selalu membayangi langkahku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan mengambil jurusan Teknik Audio Video.
Awalnya? Aku sama sekali tidak menyukai jurusan ini. Bergulat dengan komponen elektronik, memahami skema arus yang rumit, dan berhadapan dengan meja praktikum setiap hari terasa asing dan dipaksakan. Aku sempat merasa salah jurusan dan bingung harus melangkah ke mana. Namun, hidup selalu punya cara tersendiri untuk memberikan kejutan. Di tengah rasa keterpaksaan itu, aku dipertemukan dengan sosok yang mengubah total sudut pandangku yaitu guruku sendiri.
Beliau adalah tipe pendidik yang selama ini mungkin hanya ada di dalam cerita ideal. Sosok yang sangat sabar, penuh pengertian, dan menuntun kami, murid-muridnya, dengan penuh kasih sayang tanpa pernah membeda-bedakan latar belakang atau kemampuan kami. Setiap kali melihat beliau mengajar, ada sesuatu yang bergetar di dalam hatiku. Perlahan, kekaguman itu berubah menjadi sebuah tujuan hidup yang baru bahwa aku ingin menjadi seperti beliau. Aku ingin melanjutkan pendidikan ke universitas, mengambil jurusan pendidikan, dan meneruskan tongkat estafet di bidang teknik elektronika ini.
Sejak impian itu tertanam, duniaku berubah total. Aku yang awalnya acuh tak acuh mulai berjuang mati-matian. Aku memaksa diriku untuk menyukai semua pelajaran yang dulunya paling aku hindari. Proses membalikkan keadaan itu jelas tidak mudah. Entah sudah berapa banyak air mata yang menetes di atas meja belajar saat malam hari, menahan kantuk dan lelah demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun, setiap kali rasanya ingin menyerah, aku selalu menoleh ke belakang. Di sana ada keluargaku yang selalu berdiri tegak memberi dukungan. Mereka memeluk mimpiku dengan erat, meyakinkanku bahwa aku mampu dan layak untuk melangkah jauh.
Sayangnya, tidak semua orang senang melihat kita tumbuh. Ketika aku mulai berani menyuarakan mimpiku untuk kuliah, suara-suara sumbang dari luar mulai terdengar. Ada beberapa orang yang meremehkan tekadku. Mereka beranggapan bahwa bangku kuliah itu terlalu mahal dan aku tidak akan mampu menjangkaunya. Kalimat-kalimat skeptis itu sempat membuat hatiku menciut. Namun, dukungan keluarga justru semakin menguat. Kami berkomitmen untuk membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya milik mereka yang berada di kalangan atas. Semua orang, dari kalangan mana pun, berhak untuk kuliah asalkan ada niat dan usaha yang kuat.
Aku pun mulai bergerak, berburu informasi beasiswa ke sana kemari demi bisa kuliah gratis tanpa harus membebani keuangan orang tua. Sampai akhirnya, titik terang itu muncul lewat program KIP-Kuliah. Aku ingat betul bagaimana sibuknya hari-hari itu, mengurus tumpukan berkas yang rumit. Di momen inilah peranan Bunda menjadi begitu magis. Bunda adalah orang yang paling bersemangat. Dengan peluh dan senyumnya, beliau membantu menyusun dokumen satu per satu. Bunda selalu bilang bahwa apa yang kami tanam hari ini dengan kerja keras pasti akan membuahkan hasil yang manis kelak. Padahal saat itu, Bunda pun tidak tahu apakah aku akan benar-benar keterima atau tidak.
Ujian mental belum selesai sampai di situ. Saat jalur SNBP dibuka, aku dihadapkan pada realita bahwa nilai raporku tidaklah sebesar siswa-siswa ambis lainnya. Aku mencoba mencari validasi dengan bertanya kepada seorang kakak tingkat (kating). Respons yang kudapat justru membuat jantungku serasa berhenti, dia meragukan nilayaku dan sangsi kalau aku bisa lolos dengan modal nilai segitu. Detik itu juga, sisa-sisa kepercayaan diriku runtuh. Aku merasa pupus harapan. Tapi sekali lagi, keluargaku tidak membiarkanku jatuh terlalu lama. Mereka tetap meyakinkanku bahwa hasil akhir adalah mutlak urusan Tuhan, dan aku berhak mendapatkan yang terbaik atas semua keringat yang telah kukeluarkan.
Hingga akhirnya, hari pengumuman yang keramat itu tiba. Rasa deg-degan di dadaku saat itu benar-benar tidak main-main. Dengan tangan bergetar dan napas tertahan, aku memberanikan diri membuka portal pengumuman. Dan begitu layar itu terbuka… air mataku tumpah seketika. Warna biru menyala di layar menyatakan bahwa aku diterima di universitas dan jurusan yang selama ini aku semogakan dalam doa.
Rasanya luar biasa lega dan bangga. Aku berhasil membahagiakan keluargaku, membayar lunas semua peluh Bunda yang menemaniku mengurus berkas, dan membalas ketulusan guru role model-ku. Jauh di atas itu, aku sangat puas karena berhasil mematahkan pemikiran orang-orang yang dulu sempat meremehkan dan menganggap remeh mimpiku.
Kini, aku menyadari bahwa perjuanganku sama sekali belum berakhir di sini. Diterima di jurusan Pendidikan Teknik Elektronika bukanlah garis finish, melainkan sebuah garis start dari sebuah perjalanan panjang menuju masa depan yang cerah. Jalan ke depan mungkin akan jauh lebih menantang daripada masa-masa SMK dulu. Namun, dengan bekal tekad yang sudah teruji oleh air mata dan doa, aku melangkah masuk ke gerbang kampus dengan satu harapan besar. Bahwa kelak, aku bisa bertransformasi menjadi seorang pendidik yang hebat, yang menyebarkan ilmu dengan kasih sayang dan kesabaran, persis seperti guruku dahulu.
Pada akhirnya, langkahku menembus kampus negeri ini bukanlah sekadar kehebatanku sendiri, melainkan buah dari keringat Bunda, dukungan keluarga, dan ketulusan seorang guru yang percaya padaku ketika aku sendiri ragu. Jika merakit komponen di meja bengkel SMK mengajariku kesabaran dalam mencari letak kesalahan, maka perjalanan ini mengajariku tentang kekuatan keyakinan, bahwa pendidikan tinggi bukanlah privilese eksklusif bagi mereka yang berpunya, melainkan hak bagi siapa saja yang menolak menyerah. Kisahku memang berawal dari keraguan, tapi kelak, giliranku yang akan berdiri di depan kelas sebagai lulusan Pendidikan Teknik Elektronika, meyakinkan murid-muridku bahwa mimpi tidak pernah salah memilih tempat untuk tumbuh, selama kita tidak lelah menyiraminya dengan usaha dan doa.
