Tiga Tahun Menjemput Mimpi
Perjuangan Seorang Ibu Mengantarkan Anaknya Menjadi Mahasiswa KIP Kuliah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nama anak saya M. Dimas Al-Rasyid. Kini ia adalah mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Garut. Alhamdulillah, ia telah menyelesaikan semester dua dan akan memasuki semester tiga. Ia juga berhasil masuk 10 besar angkatan dengan IPK 3,6.
Tahun 2023 menjadi awal perjuangan kami. Setelah lulus SMA, Dimas bercita-cita kuliah melalui Program KIP Kuliah karena kondisi ekonomi keluarga sedang menurun. Ia belajar sendiri dan mengikuti seluruh tahapan seleksi, namun belum berhasil.
Selama menunggu kesempatan berikutnya, Dimas bekerja sebagai editor di sebuah perusahaan properti. Tahun 2024 ia rela meninggalkan pekerjaannya demi mengejar cita-citanya, tetapi kembali belum lolos.
Tahun 2025 menjadi kesempatan terakhir. Saat semangatnya mulai hilang, saya berkata, ‘Nak, lulus KIP atau tidak, Ibu ingin kamu tetap kuliah. Selama kita mau berusaha, Allah pasti memberikan jalan.’
Kami menjalani berbagai tahapan dengan sabar, begadang bersama menyelesaikan persyaratan, dan terus berdoa. Saat kegiatan donor darah, Dimas tidak memenuhi syarat karena kelelahan sehingga saya menggantikannya. Melihat saya mendonorkan darah, Dimas menangis. Bagi saya, semua pengorbanan itu demi masa depan anak saya.
Akhirnya pengumuman yang kami tunggu datang. Dimas dinyatakan lulus sebagai penerima KIP Kuliah. Tangis bahagia kami pecah. Penantian tiga tahun akhirnya terbayar.
Kini Dimas kuliah dengan penuh semangat, berhasil masuk 10 besar angkatan dan meraih IPK 3,6.
Pesan saya kepada seluruh anak Indonesia: jangan pernah menyerah. Jika gagal sekali, bangkitlah. Jika gagal dua kali, bangkitlah lagi. Selama terus berusaha, belajar, dan berdoa, insyaallah Allah akan membuka jalan.
Semoga kisah kami menjadi inspirasi. Aamiin ya Rabbal ‘alamin’.
Dokumentasi Perjalanan
Gambar 1. Dimas saat pertama kali mengenakan jas almamater Institut Teknologi Garut.
Gambar 2. Saat Dimas tidak memenuhi syarat donor darah karena kelelahan, saya menggantikannya demi mendukung perjuangannya.
Gambar 3. Foto kami sebelum salah satu tahapan seleksi. Di balik senyum kami, ada doa dan harapan.
