Tali yang Tak Kunjung Tersambung

By: Ririn Herlina

Sejak menginjak bangku kelas X MA, saya mempunyai tujuan yang jelas—Psikologi Universitas Gadjah Mada. Rasanya sangat jauh untuk saya sampai ke sana. Saya berada di sekolah kabupaten yang namanya mungkin tidak mendunia tetapi berhasil memberikan ilmu dan pengalaman berharga, MAN Bulungan.

Untuk masuk UGM lewat jalur SNBP perlu upaya lebih, saya mencoba untuk konsisten dalam meningkatkan nilai rapor hingga semester 5. Tidak hanya sampai situ, saya mengikuti berbagai perlombaan. Walau akhirnya hanya menang 1 dari berbagai macam perlombaan—tingkat kabupaten, juara 2 OMI Biologi. Namun, saya berpindah tujuan sejak kelas XII, tetap dengan prodi kebanggaan tetapi kampus yang berbeda, yaitu Psikologi Universitas Mulawarman. Saya dilarang oleh orang tua untuk merantau jauh hingga di luar Kalimantan, hingga akhirnya saya memutuskan untuk memilih Psikologi UNMUL di SNBP. Perjuangan saya untuk mengikuti SNBP tidaklah mudah, perlu bersaing dengan siswa berprestasi dari berbagai macam daerah, memaksimalkan nilai TKA, dan konsistensi dalam nilai rapor—hingga akhirnya memperoleh eligible 5 seangkatan.

Saya memilah berbagai jurusan sebelum benar-benar menetapkan Psikologi, "Apakah tidak apa-apa mengambil UNMUL yang keketatan prodinya hingga 2%?" Bolak-balik mendatangi ruang konseling, lalu berdiskusi tentang apa prodi yang mungkin cocok. Apakah gizi? Psikologi? Kesehatan Masyarakat? atau mungkin… kedokteran? Hingga akhirnya saya benar-benar memilih prodi Psikologi UNMUL di SNBP. 

Tentunya, tidak hanya berharap dengan SNBP, saya juga mendaftar SPAN PTKIN hingga menyiapkan UTBK dari jauh hari. Saya mencari berbagai sumber pembelajaran secara otodidak yang relevan, dan menyiapkan diri untuk ujian praktik di sekolah.

Hingga tiba di hari pengumuman SNBP. Sebelum pengumuman, saat ujian praktik di lingkungan sekolah ada satu teman saya yang bertanya, "Rin, kamu gugup nggak? Hari ini pengumuman." Menggunakan logat khas Kalimantan Utara. Saya tentunya dengan percaya diri menjawab, "Nggak dong kan aku lulus." Dengan percaya diri, teman saya tertawa begitu pula sebaliknya. Di sore hari saat saya pulang ke rumah setelah menyelesaikan kegiatan yang ada di sekolah, saya menggambar untuk menyelesaikan ujian praktik seni budaya—desain baju. "Wah sebentar lagi pengumuman SNBP, aku gugup," pikirku.

Saya menatap laman pengumuman SNBP dengan perlahan mengucapkan berbagai doa dan sholawat meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa jika hasilnya tidak sesuai harapan, 1… 2… 3… "Anda dinyatakan tidak lulus SNBP." Saya terdiam, mencoba untuk membuka dari tautan yang berbeda hingga menyegarkan layar. Berharap kalau itu hanya kesalahan sistem, ternyata bukan—saya benar-benar tidak berhasil. Saya menginformasikan kepada keluarga dan teman-teman saya, supaya tidak ada yang bertanya lagi. Lalu, teman saya yang sebelumnya bertanya sebelum pengumuman ikut menyemangati, saya bersyukur mempunyai teman yang baik sepertinya. Saya menangis di dalam kamar sembari menyelesaikan kembali gambaran saya, "tidak apa-apa, ini bukan akhir, jalanku mungkin bukan di sini—bisa jadi di SPAN PTKIN dan SNBT." Ternyata hal itu tidak membuat saya tenang sama sekali, nyatanya saya benar-benar berharap dengan SNBP.

Setiap hari, ayah berkeliling mencari nafkah dengan menjual gorengan dan pentol. Penghasilannya yang tidak menentu membuat saya menyadari bahwa salah satu cara untuk mengubah keadaan adalah melalui pendidikan. Karena itu, saya menaruh harapan besar pada setiap jalur masuk perguruan tinggi. Saat pengumuman SNBP, saya benar-benar terpukul. Di benak saya hanya ada satu pikiran: Jika saya benar-benar lulus di jalur ini sebelumnya, saya dan keluarga tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk tes selanjutnya.

Tiba di keesokan harinya, saya tetap menjalani hidup seperti biasa. Ke sekolah dengan mata sembab, mengikuti praktik PJOK dan harus memaksimalkan nilai yang baik. Rasanya saya hanya ingin berdiam diri di kamar.

Usainya ujian praktik, di rumah. Orang tua saya tiba-tiba membuka pembicaraan, "Kenapa kamu nggak lulus SNBP? Temanmu aja banyak yang lulus." Saya tidak tahu ingin menjawab apa, saat itu saya sedang melipat baju dan tiba-tiba saja air mata saya mengucur lagi, "Aku nggak tahu, Ma."

Saya mengerjakan soal setiap hari, berharap saya benar-benar bisa masuk ke perguruan tinggi lewat jalur SNBT. Saya kembali mencari informasi mengenai passing grade jurusan di Universitas Mulawarman. Nyatanya, saya mulai mempertimbangkan kembali pilihan awal karena menyadari proses pendidikan yang lama dan kondisi keuangan keluarga yang kurang stabil. Saya mulai mencari bidang lain yang tetap sesuai dengan passion saya hingga Akuntansi menjadi pilihan utama saya. Di hari-hari saya mengerjakan soal UTBK, mempelajari konsep UTBK, tiba di hari pengumuman SPAN PTKIN. Saya gagal kedua kalinya—UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Ekonomi Syariah. Rasanya tidak apa-apa, saya juga tidak diizinkan untuk jauh di luar Kalimantan. Tapi saat guru saya bertanya, "Nak gimana hasilnya?" Saya terdiam, saya hanya menjawab, "Belum rezeki, Pak." Guru saya memberikan berbagai kata-kata motivasi, hingga akhirnya saya menangis tidak berdaya, "Nggak apa-apa, masih ada UTBK."

Saya belajar dari pagi hingga menemui malam, rasanya takut mengecewakan orang lain dan diri sendiri lagi. Selalu diganggu adik yang masih balita hingga harus mengimbangi dengan pekerjaan rumah setiap harinya. Saya masih berusaha dan tidak menyerah walau harus dipenuhi tangis dan tanya setiap hari.

Tiba di saat pelaksanaan UTBK, saya pergi ke kota orang hanya untuk mengerjakan UTBK. Dengan segenap harapan orang tua dan dukungan dari keluarga, saya harus pulang dengan memberi kabar bahagia. Saya pergi dengan teman-teman saya tinggal di kos dengan jarak yang lumayan jauh dari tempat pelaksanaan. Hingga tiba di hari pelaksanaan, saya dan teman saya berdua di hari yang sama naik mobil menuju UBT. Rasanya ingin menangis, saya tidak kuat naik mobil—ingin muntah dan pusing menyelimuti saya. Saya mengerjakan soal dengan rasa cemas dan tidak enak badan, percaya bahwa takdir Tuhan adalah yang terbaik.

Di hari-hari tenang, saya terus memikirkan, bagaimana hasilnya? Apakah akan berhasil? Bahkan saya sudah menyiapkan, apa yang akan saya lakukan jika harus gapyear dan keterima pilihan kedua—Agribisnis. Saya ingat, bagaimana sebelum pengumuman SNBP. Saya mencari berbagai informasi tentang perkuliahan, dari kos hingga pelajaran. Nyatanya takdir berkata lain, saya belum ditakdirkan dan mengalami penolakan. Hingga pada akhirnya saya menyiapkan, bagaimana jika gagal? Dan itu tidak apa-apa.

Malam sebelum hari pengumuman SNBT yang terlihat indah, saya membersihkan kamar—menyiapkan diri jika saya tidak lulus, saya takut kamar ikut berantakan. Saya melupakan segalanya dan hanya tidur sejenak, besok belum terjadi.

"Jika aku lulus, bagaimana dengan uangnya?" Saya memikirkan itu beberapa saat hingga akhirnya saya membuka laman pengumuman SNBT. Layar dengan barcode muncul di hadapan saya, "Anda dinyatakan lulus SNBT." Serentak saya langsung menggeser ke bawah, "Jurusan apa?" Duar, ‘Universitas Mulawarman Prodi Akuntansi’ saya tentunya kaget dan terdiam beberapa saat, ternyata… bisa? Saya langsung mengabari orang tua, guru, hingga teman saya. Berterima kasih atas dukungan yang mereka berikan dan memohon doa untuk perjalanan saya selanjutnya. Ada salah satu guru yang mengucapkan sepotong kata kepada saya, "Saya percaya dari awal, kamu bisa Rin." Saya tersenyum melihat teks itu. Terima kasih, guruku.

"Apakah ini semua akan berakhir setelah ini, bagaimana dengan kelanjutannya? Apakah saya akan keterima KIP-K?" Semuanya terpikir di benak saya, padahal ini semua baru awalan. Benar saja, saya tidak lulus KIP-K dan mendapatkan UKT yang di luar kemampuan keluarga—2 juta. Saya tidak pernah menyerah di tengah jalan, walaupun harus menangis berkali-kali. Saya akan terus melanjutkan, apa yang sudah saya mulai. Terus berusaha tidak membuat tali perjuangan terputus, justru akan tersambung perlahan. Jika takdir membawa saya ke sini, maka saya bisa mendapatkan yang lebih baik. Saya akan mengusahakan berbagai kemungkinan beasiswa yang ada.

Jika takdir tidak membawa saya ke tempat yang saya inginkan, bukan berarti saya gagal. Mungkin waktunya belum tepat—atau mungkin, takdir yang lebih baik menunggu saya di depan sana. Mungkin banyak sekali pertanyaan yang muncul di benak diri sendiri. Itu manusiawi. Bersyukur telah melangkah sejauh ini. Jika bukan diri kita yang menghargai perjuangan ini, siapa lagi? Tali itu belum tersambung sepenuhnya, tetapi saya percaya suatu hari nanti simpulnya akan bertemu.

It is totally fine.

Tinggalkan Komentar