Ketika Mimpi Memilih untuk Datang Lebih Lambat
Ada satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas, tetapi justru paling banyak mengubah hidup saya, yaitu belajar menerima kegagalan tanpa kehilangan harapan.
Sejak kecil, saya selalu percaya bahwa pendidikan adalah jalan yang dapat mengubah masa depan seseorang. Saya lahir dari keluarga sederhana yang mengajarkan bahwa bekerja keras adalah kewajiban, sedangkan keberhasilan adalah bonus dari sebuah perjuangan. Karena itulah, ketika memasuki bangku SMA, saya menanamkan satu impian besar dalam hati: suatu hari nanti saya harus menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri dan menjadi orang pertama di keluarga yang menyandang gelar sarjana.
Impian itu bukan sekadar keinginan sesaat. Selama tiga tahun di SMA, saya berusaha menjaga prestasi akademik dengan sungguh-sungguh. Dari kelas X hingga kelas XII, saya selalu berada di jajaran sepuluh besar di kelas. Semua usaha itu akhirnya mengantarkan saya menjadi siswa eligible pada Desember 2023. Saya berada di peringkat ke-20 dari 60 siswa jurusan IPS. Saat itu saya merasa pintu menuju perguruan tinggi negeri mulai terbuka.
Dengan penuh harapan saya mendaftar melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Pilihan pertama saya adalah Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Padang, sedangkan pilihan kedua adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Jambi. Hari demi hari saya lalui dengan doa dan keyakinan bahwa perjuangan selama tiga tahun akan berakhir dengan kabar baik.
Namun, pada Maret 2024, semesta ternyata menuliskan cerita yang berbeda.
Di tengah pelaksanaan ujian akhir sekolah, saya menerima pengumuman bahwa saya tidak lolos di kedua pilihan tersebut.
Dunia seakan berhenti sesaat.
Saya menangis, kecewa, dan mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Selama ini saya berpikir bahwa kerja keras pasti akan berbanding lurus dengan hasil, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Di saat teman-teman mulai merencanakan kehidupan kampus mereka, saya justru sibuk mengumpulkan kembali serpihan semangat yang hampir hilang.
Meski belum memiliki persiapan yang matang, saya memberanikan diri mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2024. Saya memilih Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Jambi sebagai pilihan pertama serta Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Jambi sebagai pilihan kedua. Saya mengikuti ujian pada akhir April dengan bekal belajar seadanya dan harapan yang masih tersisa.
Sambil menunggu pengumuman, saya bekerja paruh waktu di sebuah pasar malam di desa tempat saya tinggal. Di balik keramaian lampu dan suara pengunjung, saya menyimpan satu doa yang sama setiap malam: semoga tahun ini menjadi akhir dari penantian saya. Saya juga mengajukan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), berharap keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
Sayangnya, pengumuman bulan Juni kembali menghadirkan kenyataan pahit.
Saya gagal.
Untuk kedua kalinya.
Sulit menggambarkan bagaimana rasanya melihat teman-teman mengenakan almamater kebanggaan mereka, sementara saya masih berdiri di tempat yang sama. Saya mencoba mencari berbagai perguruan tinggi swasta yang menerima KIP Kuliah. Saya mendaftar ke Universitas Adiwangsa Jambi, Universitas Batanghari Jambi, Universitas Terbuka Jambi, dan beberapa kampus lainnya. Namun, lagi-lagi hasil tidak berpihak kepada saya. Ada yang tidak menerima saya, ada pula yang menerima saya sebagai mahasiswa, tetapi pengajuan KIP Kuliah saya ditolak sehingga saya harus membayar uang kuliah sekitar lima juta rupiah per semester. Jumlah itu berada jauh di luar kemampuan ekonomi keluarga kami.
Pada akhirnya, saya memilih menjalani gap year.
Keputusan itu terasa sangat berat. Setiap kali media sosial dipenuhi foto-foto teman seangkatan yang mengikuti PKKMB, hati saya seperti diremas. Saya bertanya-tanya mengapa impian yang begitu saya perjuangkan terasa begitu sulit untuk digapai.
Namun, saya sadar bahwa hidup tidak akan berubah hanya dengan meratapi keadaan.
Saya mulai membantu ibu berjualan ke pasar-pasar. Dari sana saya belajar bahwa perjuangan memiliki banyak bentuk. Terkadang perjuangan bukan hanya tentang belajar di depan buku, tetapi juga tentang tetap tersenyum saat keadaan tidak sesuai harapan. Di sela-sela kesibukan itu, saya tidak pernah berhenti berdoa. Dalam setiap doa, saya hanya meminta satu kesempatan lagi.
Kesempatan itu datang pada awal tahun 2025.
Saya memutuskan mengikuti UTBK-SNBT untuk kedua kalinya. Kali ini saya memilih Kehutanan Universitas Jambi sebagai pilihan pertama, Ilmu Sejarah Universitas Jambi sebagai pilihan kedua, Kesehatan Hewan Universitas Jambi sebagai pilihan ketiga, dan Agrobisnis Universitas Jambi sebagai pilihan keempat.
Tidak ada bimbingan belajar mahal.
Tidak ada kelas intensif.
Saya belajar sendiri melalui video YouTube, mengerjakan latihan soal, dan mengikuti try out gratis di internet. Pada saat yang sama, saya kembali bekerja di pasar malam karena acara tersebut memang rutin diadakan setiap tahun. Dari hasil bekerja itulah saya mengumpulkan biaya pendaftaran UTBK sebesar Rp200.000 dan biaya transportasi menuju lokasi ujian sekitar Rp400.000.
Ada satu hal yang mungkin tidak diketahui banyak orang.
Saya mengikuti SNBT untuk kedua kalinya tanpa sepengetahuan orang tua.
Setelah melihat kegagalan saya sebelumnya, orang tua sebenarnya sudah tidak lagi menyarankan saya untuk kuliah. Mereka khawatir saya akan kembali kecewa. Namun, saya memilih diam-diam mendaftar karena saya belum sanggup mengubur impian menjadi orang pertama di keluarga yang memperoleh gelar sarjana. Sebagai anak pertama sekaligus seorang perempuan, saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak berhak menentukan masa depan seseorang.
Sekitar lima belas hari sebelum ujian, rahasia itu akhirnya terbongkar. Seorang adik kelas datang ke rumah meminta bantuan untuk mendaftar SNBT. Dari situlah orang tua mengetahui bahwa saya kembali mencoba.
Setelah menyelesaikan ujian pada pertengahan April, saya kembali menjalani hari-hari yang dipenuhi rasa cemas. Kalimat, "Tetap semangat, Anda belum lolos," masih terus menghantui pikiran saya. Namun kali ini saya memilih memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Saya bangun pada sepertiga malam selama berhari-hari, memohon dengan sungguh-sungguh agar diberi kesempatan mengubah hidup saya dan keluarga.
Lalu tibalah akhir Mei 2025.
Hari yang tidak akan pernah saya lupakan.
Dengan tangan gemetar dan napas yang terasa berat, saya membuka laman pengumuman. Detik berikutnya, air mata saya jatuh tanpa bisa dibendung.
Saya dinyatakan lolos di Program Studi S1 Ilmu Sejarah Universitas Jambi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya menangis bukan karena kegagalan, melainkan karena rasa syukur.
Namun, perjalanan itu belum benar-benar selesai. Saya masih harus melalui proses daftar ulang serta melengkapi berbagai berkas KIP Kuliah yang tidak sedikit. Sekali lagi saya menggantungkan harapan melalui doa. Hingga akhirnya kabar yang saya nantikan datang: saya resmi dinyatakan sebagai penerima KIP Kuliah.
Saat itulah saya benar-benar memahami bahwa Tuhan tidak pernah menolak doa saya. Ia hanya meminta saya untuk bersabar sedikit lebih lama.
Agustus 2025 menjadi awal babak baru dalam hidup saya. Saya mengikuti PKKMB Universitas Jambi dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Saat mengenakan almamater kebanggaan itu, saya hanya mampu tersenyum sambil berkata dalam hati, "Jadi, seperti inilah rasanya berada di tempat yang selama ini aku perjuangkan."
Kini saya bersiap memasuki semester tiga di Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Jambi. Setiap langkah yang saya jalani hari ini selalu mengingatkan saya pada perjalanan panjang yang pernah saya lalui. Kegagalan ternyata bukanlah tanda bahwa mimpi harus dihentikan, melainkan cara kehidupan mengajarkan arti kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan.
Jika hari ini ada seseorang yang sedang membaca tulisan ini dalam keadaan gagal, kecewa, atau merasa tertinggal dari teman-temannya, izinkan saya menyampaikan satu hal.
Tidak semua mimpi datang tepat waktu, tetapi semua mimpi yang terus diperjuangkan akan menemukan waktunya sendiri.
Jangan pernah menyerah hanya karena perjalananmu lebih panjang daripada orang lain. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Teruslah melangkah, teruslah belajar, teruslah berdoa. Sebab suatu hari nanti, ketika kamu berhasil berdiri di tempat yang selama ini kamu impikan, kamu akan menyadari bahwa setiap air mata, setiap penolakan, dan setiap kegagalan hanyalah bagian dari cara Tuhan mempersiapkanmu untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.
Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang seberapa besar keberanian kita untuk tetap berjalan ketika semua orang mengira kita akan berhenti.
Dokumentasi
|
Arsip milik pribadi |
