BARANG BOLEH BEKAS, MIMPI TAK PERNAH USANG

Kisahku, Inspirasiku: Perjalanan Anak Pemulung Menuju Mahasiswa Terinspiratif

Nama Penulis: Alan Ferdian Syah

Opening

Aku lahir dan tumbuh di Desa Kecicang, Karangasem, Bali, dari keluarga yang jauh dari kata berkecukupan. Ayahku seorang pemulung, ibuku seorang ibu rumah tangga. Kami tiga bersaudara, hidup dari barang-barang bekas yang dikumpulkan ayah setiap hari, berangkat sebelum subuh dan pulang saat matahari sudah condong ke barat, dengan karung-karung yang beratnya kadang lebih besar dari harapan yang ia bawa pulang.

Rumah kami sederhana, dindingnya sebagian masih anyaman bambu, tetapi tidak ada satu malam pun tanpa doa yang dipanjatkan ibu untuk masa depan anak-anaknya. Kami memang kekurangan dalam banyak hal, tetapi tidak pernah kekurangan dalam satu hal: keyakinan.

“Nak, sekolah yang benar. Biar martabat keluarga kita terangkat,” begitu pesan orang tuaku yang selalu terngiang sejak aku kecil. Kalimat itu sederhana, diucapkan di antara lelahnya ayah sepulang memulung dan ibu yang sibuk menghitung sisa uang belanja, tetapi menjadi bahan bakar yang menyalakan setiap langkahku, dari bangku SD hingga hari ini.

Aku tumbuh dengan satu keyakinan yang ditanamkan orang tuaku: pendidikan adalah satu-satunya jalan yang bisa mengubah nasib keluarga kami. Maka sejak kecil, aku selalu berusaha ikut berbagai kesempatan yang datang, meskipun aku tahu, jalan itu tidak akan mudah bagi anak seorang pemulung dari desa kecil di Karangasem.

Rintangan Pertama: Belajar Menerima Kekalahan

Saat SMP, aku mulai ikut olimpiade matematika. Aku berlatih sungguh-sungguh sepulang sekolah, mengerjakan soal-soal demi soal di bawah lampu yang kadang meredup karena listrik di rumah tidak selalu stabil, membayangkan namaku disebut sebagai juara.

Namun kenyataannya, aku tidak pernah menang. Tidak sekali pun.

Aku sempat pindah fokus ke jurusan IPS, mencoba peruntungan lain dengan harapan hasilnya akan berbeda, tetapi ternyata sama saja: nihil. Rasanya seperti berlari mengejar sesuatu yang selalu satu langkah lebih cepat dariku.

Ada masa aku bertanya pada diri sendiri, “Apa aku memang tidak berbakat?” Pertanyaan itu terus berputar setiap kali aku pulang tanpa membawa piala atau sertifikat kejuaraan apa pun, sementara teman-teman lain pulang dengan senyum kemenangan.

Tapi aku ingat wajah ibu yang setiap pagi berangkat mengurus rumah tanpa mengeluh, dan ayah yang memunguti barang bekas di bawah terik matahari tanpa pernah sekali pun berhenti karena lelah. Kalau mereka saja tidak menyerah pada hidup yang jauh lebih berat dari sekadar kalah lomba, kenapa aku harus menyerah hanya karena belum juga menang?

Dari sanalah aku belajar hal pertama yang kelak menjadi pegangan hidupku: kekalahan bukan tanda untuk berhenti, melainkan bagian dari proses yang harus dilalui sebelum sampai pada keberhasilan.

Rintangan Kedua: Berjuang di Tengah Pandemi

Masuk SMA, tepat saat pandemi Covid-19 melanda seluruh negeri, aku dipercaya sekolah untuk mengikuti seleksi olimpiade kimia mulai dari KSN, KSM, hingga olimpiade yang diselenggarakan universitas. Belajar dari balik layar kecil, sinyal internet desa yang naik turun, dan rasa cemas akan wabah yang mengintai keluarga, sama sekali tidak menyurutkan semangatku.

Ada kalanya aku harus mencari sudut rumah dengan sinyal paling stabil hanya untuk mengikuti kelas daring persiapan olimpiade, sementara di ruang lain, ibu dan ayah membicarakan kekhawatiran mereka tentang kondisi ekonomi selama pandemi. Aku memilih untuk membalas kekhawatiran itu dengan kerja keras belajar, karena itulah satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk membantu.

Di kelas 12, tahun 2022, aku berhasil mewakili Provinsi Bali dalam KSM bidang kimia. Sebuah pencapaian besar bagi anak dari Desa Kecicang yang dulunya bahkan tidak pernah menang lomba matematika sekalipun. Meski akhirnya aku tetap belum meraih gelar juara di tingkat itu, aku pulang dengan sesuatu yang lebih berharga: bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi tidak menghalangi seseorang untuk berdiri di panggung tingkat provinsi.

Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis saat wisuda SMA tiba. Namaku dipanggil sebagai wisudawan terbaik pertama jurusan MIPA. Aku berjalan naik ke panggung, dan dari kejauhan aku melihat air mata ibu pecah di kursi penonton, sementara ayah berdiri sambil bertepuk tangan paling keras. Itulah kali pertama aku benar-benar merasa, mimpi mengangkat martabat keluarga bukan sekadar angan yang diucapkan setiap malam, melainkan sesuatu yang perlahan mulai menjadi nyata.

Rintangan Ketiga: Merantau dan Berjuang Sendiri

Jalan itu ternyata masih terus terbuka lebih jauh lagi. Aku lolos SNBP di Universitas Negeri Malang, Fakultas Psikologi. Orang tuaku bangga sekaligus khawatir; anak laki-laki mereka harus merantau jauh, menyeberangi laut dari Bali ke Jawa, untuk pertama kalinya berpisah dari rumah dalam waktu lama.

“Jaga diri baik-baik di sana, Nak. Kami di sini akan selalu mendoakanmu,” pesan ibu sambil menahan tangis di pelabuhan, saat aku berangkat membawa satu koper kecil berisi harapan seluruh keluarga. Dalam setahun, aku hanya bisa pulang dua kali: saat libur panjang UAS dan Hari Raya Idul Fitri. Selebihnya, aku belajar mandiri sepenuhnya, jauh dari pelukan orang tua.

Satu hal yang membuatku dan keluarga bisa sedikit lega adalah aku diterima sebagai penerima KIP-Kuliah. Alhamdulillah, berkat program ini, aku tidak perlu membayar UKT sepeser pun, bahkan mendapat uang saku tiap semester. Bagi keluarga seperti kami, bantuan ini bukan sekadar keringanan biaya, melainkan bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi tidak lantas menutup jalan menuju bangku kuliah, selama kita berani mengejarnya.

Di Malang, aku belajar banyak hal baru: psikoedukasi, aktif di UKM Ikatan Pencinta Retorika Indonesia (IPRI) selama dua periode kepengurusan, dipercaya menjadi Koordinator Divisi Debat, bahkan menjadi pengajar ekstrakurikuler Public Speaking di SMP Laboratorium UM. Aku juga aktif mengikuti lomba esai, meraih beberapa kejuaraan, dan menjadi mentor bagi mahasiswa lain yang ingin berkembang di bidang yang sama.

Namun ujian yang sesungguhnya datang saat liburan panjang tiba. Aku mengambil pekerjaan sebagai shadow teacher untuk anak dengan ADHD di sebuah sekolah inklusi di Malang. Pekerjaan itu menuntut kesabaran ekstra, energi penuh, dan hati yang lapang setiap harinya. Baru seminggu berjalan, aku mengalami burnout yang begitu berat.

Ada bisikan dalam hati untuk menyerah saja, mencari pekerjaan lain yang lebih ringan. Tetapi aku kembali mengingat alasan awal aku mengambil pekerjaan itu: bukan untuk gengsi, melainkan agar bisa menambah uang saku sendiri dan tidak merepotkan orang tua yang sudah berjuang cukup keras di rumah. Aku menguatkan diri, bertahan hari demi hari, hingga akhirnya pekerjaan itu selesai dengan baik, dan aku pulang membawa pengalaman berharga sekaligus pelajaran tentang batas kemampuan diri sendiri.

Rintangan Keempat: Melawan Rasa Tidak Percaya Diri

Di tengah kelelahan yang belum sepenuhnya pulih itu, aku juga tengah mempersiapkan diri mengikuti seleksi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres). Jujur, rasa tidak percaya diri sempat menguasaiku sepenuhnya. “Apa pantas aku, anak seorang pemulung, bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa hebat lainnya yang sudah lebih dulu dikenal berprestasi?” batinku bertanya berkali-kali setiap malam sebelum tidur.

Karena keraguan itu, aku bahkan menunda-nunda dan baru mengumpulkan berkas pendaftaran mendekati batas waktu terakhir. Tanganku sempat gemetar saat menekan tombol kirim berkas, seolah aku sedang menyerahkan seluruh keberanian yang tersisa. Namun aku memilih untuk tetap mencoba, alih-alih menyerah hanya karena rasa takut yang belum tentu benar.

Hasilnya di luar dugaan: aku dinyatakan lolos dan terpilih sebagai Mahasiswa Terbaik 1 Fakultas Psikologi, melaju ke tingkat universitas. Kabar itu membuatku menangis sendirian di kamar asrama, mengirim pesan kepada ibu yang membalas hanya dengan tiga kata, “Ibu bangga, Nak.”

Sebulan penuh aku menjalani proses seleksi tingkat universitas, yang bertepatan dengan bulan puasa Ramadan. Menyeimbangkan ibadah, energi yang terbatas karena berpuasa, dan tekanan seleksi yang menuntut persiapan berkas, wawancara, dan presentasi, bukan perkara mudah. Tetapi aku belajar bahwa keterbatasan energi bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan pengingat untuk mengatur langkah dengan lebih bijak dan tidak memaksakan diri secara berlebihan.

Happy Ending: Panggung yang Selama Ini Kunanti

Tanggal 1 April 2026 menjadi hari yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Hari itu adalah grand final Pilmapres tingkat universitas. Ruangan itu dipenuhi mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai fakultas, dan aku duduk di antara mereka dengan jantung berdebar kencang. Satu per satu nama disebutkan, dan aku berhasil masuk ke jajaran 12 mahasiswa terbaik.

Dan dari 12 nama itu, panitia mengumumkan satu gelar khusus: Mahasiswa Terinspiratif Universitas Negeri Malang 2026. Ketika namaku disebut, seluruh ruangan seolah menghilang sejenak, hanya menyisakan gemuruh di dadaku dan bayangan wajah orang tua yang jauh di Bali.

Aku menangis di depan banyak orang, bukan karena sedih, tetapi karena teringat perjalanan panjang dari Desa Kecicang: anak seorang pemulung yang dulu tidak pernah menang lomba matematika sekali pun, yang berkali-kali pulang tanpa piala dari olimpiade kimia, kini berdiri di panggung sebagai sosok yang dianggap menginspirasi orang lain.

Gambar 1. Momen dinobatkan sebagai Mahasiswa Terinspiratif UM

Sumber: Dokumentasi pribadi

Aku belajar satu hal besar dari seluruh perjalanan ini: keterbatasan bukanlah penghalang untuk mengubah nasib. Kekalahan demi kekalahan bukan tanda ketidakmampuan, melainkan bagian dari proses menempa keyakinan. Selama kita mau bertahan satu hari lagi, mencoba satu kali lagi, dan percaya bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil, martabat keluarga yang dulu terasa jauh, perlahan bisa kita rengkuh sendiri.

Kepada siapa pun yang membaca kisah ini dan sedang merasa berasal dari keluarga yang serba terbatas: teruslah melangkah. Karena mimpi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, cepat atau lambat, akan menemukan jalannya sendiri untuk menjadi nyata.

Hikmah

Keterbatasan ekonomi dan kegagalan yang berulang bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan bagian dari proses menempa keyakinan diri. Selama kita mau terus mencoba, kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Tinggalkan Komentar