CERPEN KE 1 : KURNIAWAN TRI WICAKSONO
CALON SARJANA PERTAMA
Aku anak yang terlahir dari keluarga sederhana, aku tinggal desa Pleret. Aku merupakan putra ketiga dari tiga bersaudara. Aku berasal dari keluarga kurang mampu. Rumah kami jelek, tembok dinding belum diplester dan lantainya juga masih tanah. Waktu kelas 6 SD tepatnya menjelang kelulusan, aku mulai pusing mikirin mau SMP mana. Ibu menyarankannya untuk bersekolah di tempat yang dekat dengan rumah dengan alasan irit transportasi.
“Nak, lebih baik kamu sekolah di SMPN 2 Pleret saja,” ujar ibunya lembut.
“Tidak, Bu. Aku ingin sekolah di SMPN 1 Pleret karena sekolah itu termasuk sekolah negeri banyak prestasinya,” jawab ku tegas.
Perbedaan pendapat itu membuat aku jadi banyak melamun, kalau ditanya jawab seperlunya. Suatu hari, setelah menunaikan salat, aku hanya terduduk lesu memandangi lantai. Melihat ekspresiku yang murung. Bapakku, Pak Sumardi namanya lalu masuk kamar pelan-pelan. Beliau duduk sambil menepuk Pundakku.
Bapak: “Ada apa, Kurni? Mengapa wajahmu tampak murung?”
Suara Bapak yang serak, tapi tegas. Bapak dari dulu patang menyerah apapun dilakukan untuk anak–anak nya.
Aku: “Aku sedang bimbang, Pak.” Kataku lirih.
Bapak: “Bimbang karena apa?”
Aku: “Masalah sekolah, Pak. Ibu menyuruh masuk SMPN 2 Pleret, padahal aku tidak tertarik di sana.”
Bapak: “Walah… Begini saja, besok pagi pukul tiga, bangunlah untuk salat Istikharah. Mintalah petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan jalan terbaik.”
Aku: “Baik, Pak. Akan aku coba.”
Setelah beberapa hari berdiam diri dan memikirkan, Aku akhirnya yakin buat daftar di SMPN 1 Pleret melalui jalur afirmasi—jalur khusus bagi keluarga kurang mampu. Aku terus memantau laman pengumuman dengan berdebar. Alhamdulillah, dinyatakan diterima.
Masa SMP dimulai dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Tak terasa, dua setengah tahun berlalu, dan kini aku berada di semester terakhir masa SMP. Namun, masalah serupa itu muncul lagi. Ibu menyarankan masuk SMA, sementara aku sendiri ingin masuk SMK. Mengingat nasihat bapak dulu, aku kembali melakukan salat Istikharah. Setelah berkali-kali berdoa, akhirnya merasa mantap untuk memilih SMA.
Akhirnya aku daftar di SMAN 2 Banguntapan melalui jalur afirmasi dan kembali dinyatakan lolos. Meski selalu mendapatkan ranking kelas urutan akhir ketika kelas 10 & 11 aku tidak putus semangat. Hal tersebut justru membuat aku merasa tertantang. Buku laporan siswa memperlihatkan bahwa nilainya selalu meningkat setiap semesternya. Malam sebelum tidur, aku sering membayangkan jadi guru. Di dalam hatiku, terpahat sebuah impian: menjadi seorang guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Supaya mereka merasakan Pendidikan dan memiliki hak yang sama tentang Pendidikan.
Masalah tentang perekolahan kini muncul kembali pada saat kelas 11. Aku mulai terjebak dalam pikiranku sendiri antara melanjutkan kuliah atau langsung bekerja. Bapak telah lama tidak bekerja lalu sekarang digantikan oleh ibu, namun ibu memiliki penyakit gula darah sehingga penghasilannya juga berkurang untuk membeli obat. Setiap lihat Ibu cape, hatiku terasa nyesek. “Aku kerja apa kuliah,ya?.”
Memasuki liburan semester dua aku bermain ke tempat tante, Tante Kum namanya. Di sana aku meminta pendapat tentang kuliah apa kerja agar mendapatkan solusi atas kebingungan yang dialami beberapa waktu itu, namun pada kenyataannya justru mendapatkan ucapan yang tidak enak didengar dan membuat sakit hati..
"Alah, buat apa kuliah? Kamu itu miskin tidak punya apa-apa. Mending kerja, cari duit buat bantu keluargamu!" ucapan Tante Kum.
Dadaku terasa panas. Mataku perih. Aku mengusap pipi yang penuh dengan air mata, lalu menatap tante dengan tatapan penuh keyakinan.
"Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sarjana pertama di keluarga ini, Tante," jawabku dengan suara yang bergetar.
Di tengah jalan air matanya Kembali pecah. Beruntung, aku bertemu dengan sahabat baikku ketika di jalan pulang yang bernama Irfan. Irfan memiliki latar belakang ekonomi yang sama. Mereka duduk di warung angkringan dan membahas banyak hal. Dengan kegigihan yang sama, keduanya bertekad melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berharap bisa mendapatkan KIP-K.
Ucapan Tante Kum justru membuatku tambah semangat untuk menggapai cita-cita. Sepanjang liburan semester, aku tidak pergi kemanapun. Meja belajarku penuh buku UTBK-SNBT salah satunya The King. Setiap hari aku berlatih dan berlatih.
Masuk kelas 12, momen yang menegangkan pun tiba: pengumuman siswa eligible. Jantung berdebar membuka file pengumuman. Nama Kurniawan Tri Wicaksono tertera di sana. Meski berada di urutan bawah, aku tidak merasa minder dengan teman-temanku. Justru sangat bangga karena kerja kerasku berhasil untuk menembus kuota 40% siswa/I terbaik di SMAN 2 Banguntapan ini.
Perjuangan belum selesai di sini. Setiap kali ada jam pelajaran yang kosong, aku selalu memanfaatkan waktu untuk berkonsultasi dengan guru BK mengenai beasiswa KIPK. Aku mendapatkan banyak informasi dari guru BK yang bernama Ibu Asri. Aku lalu mendaftarkan diri pada program beasiswa KIP-Kuliah (KIP-K) bersamaan dengan pendaftaran jalur SNBP. Tentunya dengan bimbingan guru BK SMAN2 Banguntapan.
Kampus impian ku adalah UNY. Demi mengejar cita-cita yang sudah Ia bayangkan sedari kecil, Aku memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) sebagai pilihan pertama, serta Pendidikan Luar Sekolah (PLS/PNF) sebagai pilihan kedua.
|
Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Hari pengumuman kelulusan SNBP tepatnya pada tanggal 31 Maret 2026. Tepat pukul 15.00 WIB, dengan tangan yang gemetar dan jantung yang hampir mau copot. Aku memberanikan diri membuka web pengumuman di layar ponselku. HP-ku nge lag parah saat hendak membuka web. Ketika warna biru muncul pada HP-ku rasanya campur aduk. Air mata ku dan Ibu seketika tumpah saat membaca kalimat di layar: Selamat Anda Dinyatakan LOLOS pada prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Yogyakarta. Semua capeknya belajar, ucapan “miskin” dari tante kini terbayar lunas. Impiannya untuk menjadi sarjana pertama dikrlusrgs kini sudah terlihat. |
Walaupun senang karena lolos SNBP, aku belum bisa tenang karena mendapatkan UKT yang sangat besar bagi keluarga kami. “Aku lulus KIP-Kuliah atau tidak?” ucap ku dengan nada lirih, rasa takut campur aduk. Sempat terpikir jalan nekat. Kalau tidak lolos KIP-K akan mengundurkan diri UNY. Aku sudah tidak peduli lagi dengan urusan sekolahnya yang bakal kena imbas atau di-blacklist oleh kampus.
Sambil menunggu pengumuman KIP-Kuliah keluar, aku tidak mau berdiam diri. Mencari cara agar mendapat penghasilan. Mulai dari melamar kerja ke sana-kemari, sampai mencoba dengan jualan pisang coklat lewat status WhatsApp-nya. Keuntungan memang kecil, namun hal tersebut membuatku belajar tentang mencari pengelolaan uang.
Waktu pengumuman KIP-K tiba, pada tanggal 1 Juli 2026. Sore itu gemetaran saat mengecek Gmail. Begitu layar terbuka, hasilnya menyatakan bahwa aku resmi LOLOS. Saat itu juga, aku berjanji dalam diriku sendiri kalo akan memakai uang beasiswa ini dengan sebaik-baiknya. Aku pun mulai bersiap untuk masuk kuliah, sambil tetap berniat mencari kerja sampingan (part-time) supaya bisa terus membantu biaya hidup ibu dan bapaknya di rumah.
Suara ayam tetangga sudah berkokok dan suara lantunan sholawat takhrim dari masjid sudah terdengar. Aku duduk di depan meja belajar kayu yang sudah kropos. Di atas meja tersebut, terdapat dua lembar kertas printout Surat Lolos SNBP dan Surat Lolos KIP-Kuliah. Itu semua diperoleh bukan cuma-cuma melainkan dari begadang, nangis, serta Latihan soal tiap harinya.
Tiba-tiba sang ibu perlahan mendekat, lalu mengelus-elus kepala dengan tatapan yang penuh kebanggaan.
"Nak… kita benaran kuliah tanpa biaya, ya?" tanya ibunya dengan suara bergetar. Air mata keduanya pun menetes, membasahi lembaran printout yang menjadi bukti kemenangan itu.
Aku hanya bisa mengangguk sambil menahan isak tangis. Di dalam hatinya, berbisik dengan penuh penegasan: Tante… sudah aku buktikan. Aku resmi menjadi calon sarjana pertama di keluarga ini.
Tak lama kemudian, di luar rumah, kumandang azan subuh mulai bersahut-sahutan memecah keheningan kala itu. Calon sarjana pertama untuk keluarga Pak Sumardi sudah muncul. Membawa cahaya kesejahteraan membuang kegelapan. Langkah penuh keberanian untuk mengubah takdirnya, baru saja dimulai.
Kini, impian bukan lagi bayangan. Adanya beasiswa KIP-K di tangan dan sisa tenaganya untuk kerja paruh waktu, aku siap membuktikan omonganku. Anak miskin ini resmi melangkah maju, siap menjadi sarjana pertama yang mengangkat derajat keluarganya.
Yogyakarta, 9 Juli 2026

bismillahirrahmanirrahim semoga dengan adanya karya saya yang jauh dari jata sempurna ini dapat menginspirasi teman teman pejuang ptn & kipk diluar sana.
wihh keren semangat untuk tantangan kedepannya , n proud of you
Keren bgtt, salut sangat menginspirasii semoga sukses yaa
Subhanallah, pengalaman yang luar biasa tuan Wawan, semoga selalu menginspirasi dan diberikan kelancaran terus dalam menempuh perjalanan ke depan.
Keren banget ceritanya. Bener-bener nunjukin kalau keadaan bukan penghalang buat meraih cita-cita. Semoga kisah ini bisa jadi penyemangat buat banyak orang. Semangat terus dan sukses selalu!
Keren, tetap semangat Wan semoga sukses selalu
Masyaallah keren sekali mas awang, alur ceritanya bikin meloww
Semangat terus, semoga menjadi sarjana yang bisa bermanfaat bagi masyarakat dan keluargaa.. semangat untuk terus berjuang ✊
Sangat inspiratif! Perjuangan Mas Kurniawan menjadi suntikan semangat baru untuk pejuang PTN dan KIP-K. Bukti nyata bahwa usaha dan doa tidak mengkhianati hasil.
kerenn kawand, semangat trs keep growing and be the best version of ur self✌️
WIHHH KEREN BANGETTTT, KAK. ✊
Keren banget kak, kisahmu sangat menginspirasi
kerenn banget bisa menginspirasi ceritanya. Usaha dan semangat tidak pernah menyerah, menjadikan remehan sebagai penyemangat. Semangat dan sukses selalu
i’m proud of you. keep up the great work, and I hope you achieve even more success in the future
keren wan, tetep semangat, sukses selalu..
Keren, all your hard work paid off. Congrats!
proud of you wan, may all of your wishes come true
KEREN KAK, SUKSES SELALU YAK
KEREN KURNI SANGAT MENGINSPIRASI, SUKSES UNTUK KEDEPANNYA
TERHARU… ., SEMANGAT DAN SUKSES SELALU KAK SEMOGA MENGINSPIRASI LAINNYA UNTUK BANGKIT
Keren bang Kurni semangat dan sukses di masa depan
Good Wan, Semangat terus ya buat langkah ke depannya, dan jangan lupa sama orang-orang yang selama ini nemenin serta nyemangatin kamu.
KERENN KERENN SEMANGATT
Semangat massss
Keren mas , bisa menjadi inspirasi bagi anak anak muda lainnya buat masuk ke perguruan tinggi negeri
kerennn kurrr✨✨
mantapp kurni melu bangga
mantapp, keren. sukses selaluu
ikut bangga wan, menginspirasi aku bgtt buat menuju PTN tahun depan. salutt lah pokoknya