BERDAMAI DENGAN KECEWA: PERJALANANKU MENEMUKAN DIRI DI KAMPUS SWASTA

Karya dari kisah : Fathonah Zakiatun Nufus

Ada masa di mana kepalaku penuh dengan satu impian besar, yaitu menjadi bagian dari mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas impian, Selama SMA, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik. Aku aktif berorganisasi dan bersyukur sempat mengukir prestasi dalam lomba karya ilmiah bidang sosial humaniora, aku tidak pernah bayar SPP bulanan karena

aku dapat beasiswa prestasi.

Dan semua pencapaian kecil itu membuatku menaruh harapan yang sangat tinggi pada jalur penerimaan perguruan tinggi negeri. Namun, hidup sering kali berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan kan?

Pintu penolakan itu terbuka satu per satu secara beruntun. Dimulai dari pengumuman SNBP yang tidak meloloskanku, lalu disusul oleh kegagalan di jalur SNBT, hingga kesempatan terakhir di SPAN-PTKIN yang juga tertutup. Aku merasa semua usahaku itu sia-sia. Melihat rentetan hasil yang tidak sesuai harapan, mentalku seketika goyah. Rasa sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Aku mulai mempertanyakan kemampuan diriku sendiri dan merasa asing dengan kegagalan yang bertubi-tubi ini.

Aku bingung sambil bertanya-tanya “Yaa Allah aku mau kuliah ya Allah, apa aku nyerah aja? Tapi dari dulu aku ingin kuliah ya Allah" ucapku ketika aku sedang hancur, aku berfikir apa aku daftar swasta aja ya? Namun disisi lain, aku juga harus membantu dan memikirkan kondisi finansial keluargaku untuk membiayai adik-adik ku yang masih sekolah.

Di saat aku berjuang menata hati yang rapuh ini karena urusan masa depan, ujian lain datang menghampiri. Seseorang yang kuharap bisa menjadi tempat berbagi cerita di masa-masa sulit ini, justru memilih pergi menjauh tanpa memberikan kejelasan.

>

Kehilangan itu membuat duniaku terasa semakin sunyi ditambah dia adalah orang pertama yang aku cintai. Belum lagi adanya pandangan sebelah mata atau omongan miring dari lingkungan sekitar ketika mereka tahu aku akhirnya memilih melanjutkan studi ke kampus swasta dan bahkan ada yang memberikan pesan hujatan lewat media sosial.

Rasa sesak itu terkadang datang tanpa diundang, membuatku sering kali menangis sendirian di keheningan malam.

Di jalan yang sunyi, sambil membawa motor sendirian, dijatuhi rintikan air hujan aku menangis dan berteriak “Ya Allah aku lelah, aku sakit, apalagi yang harus aku lakukan ya Allah, saat ini aku hilang arah, aku selalu gagal!".

Namun, air mata tidak bisa mengubah keadaan. Di salah satu titik terendah itu, aku mencoba merenung kembali. Pengalaman berorganisasi dulu perlahan mengingatkanku bahwa kekuatan sejati seorang manusia diuji saat ia mampu bangkit dari kejatuhan. Aku memandang diriku dengan cara yang baru dan menyadari satu hal penting bahwa aku tidak boleh membiarkan diriku hancur oleh keadaan yang tidak bisa kukendalikan.

Sejak saat itu, aku memilih untuk berdamai dengan kenyataan. Aku mulai belajar untuk fokus pada pemulihan diri sendiri dan berhenti menggantungkan kebahagiaan pada penilaian orang

lain atau kepastian dari manusia. Rasa sakit dari patah hati dan kekecewaan akibat penolakan PTN perlahan kuubah menjadi energi positif untuk menata lembaran baru.

Melangkah ke kampus swasta menjadi awal dari kedewasaanku. Dulu aku berfikir bahwa aku tidak bisa masuk ke kampus swasta karena aku fikir, kampus swasta bayar mahal, aku tidak ingin menjadi beban untuk orang tua-ku. Namun aku tidak menyerah! Aku coba bangkit, mencoba untuk ubah mindset dan cari-cari informasi.

Dan ya, aku menerima informasi beasiswa, aku langsung coba untuk mendaftar. Langsung keterima? Tentu tidak! Banyak ujian, cobaan, tantangan dan rintangan yang aku hadapi, salah satunya aku pesimis karena takut ditolak lagi, kesulitan dalam submit data, menunggu proses surat tanah dan menunggu kelengkapan berkas lainnya, padahal sudah menghampiri deadline, Aku overthinking ketika seleksi wawancara karena takut ada salah kata, aku nangis lagi dan bilang kenapa sulit yaa Allah…

ketakutan yang aku hadapi terus menghantuiku, dan syukurlah, aku dapat melewati semua itu. Atas izin Allah, aku bisa kuliah dan lolos beasiswa! Senang rasanya. Dan aku berteriak “Alhamdulillah aku lolos! Aku bisa kuliah dengan jurusan yang aku mau tanpa memikirkan biaya" (dengan nada exited).

Aku masuk ke kampus sini dengan rasa syukur dan kesadaran penuh untuk mengandalkan kapasitas diriku sendiri. Aku percaya bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh di mana ia belajar, melainkan oleh bagaimana ia berproses dan memberikan dampak positif. Perjalanan ini mengajarkanku bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan cara semesta memaksaku untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, tangguh, dan siap menjemput masa depan dengan caraku sendiri. Aku berhasil menjadi peserta PPMB terbaik dan disini aku dapat membuktikan bahwa:

“orang yang benar-benar gagal adalah orang yang tidak berani untuk mencoba". Tidak ada usaha yang sia-sia, kalo kamu merasa gagal, itu berarti bukan yang terbaik buat kamu, ingat skenario tuhan itu lebih baik.

Fathonah Zakiatun Nufus

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Bandung_

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *