Ditolak Kampus Impian, Direstui Semesta: Perjalananku Menemukan Rumah Baru di Tahan Sriwijaya

Karya: Zhahwa Nayla

Ada kalanya hidup tidak memberikan apa yang kita minta, melainkan menyediakan apa yang benar-benar kita butuhkan. Itulan refleksi terbesar yang kupetik sepanjang perjalanan Panjang menuju bangku perkuliahan. Sebuah fase hidup yang sempat dipenuhi oleh ekspektasi yang runtuh, deretan doa yang egois, hingga akhirnya bermuara pada sebuah takdir baru—sebuah takdir yang ternyata jauh lebih indah dan bermakna daripada rencana awal yang kususun di atas kertas.

Aku tumbuh dalam kesederhanaan. Keluarga kami bukanlah keluarga yang bergelimang materi, tetapi konsisten menjadi lingkungan yang kaya akan doa dan dukungan moral. Sejak duduk di bangku SMA, aku sudah mengunci satu mimpi besar di kepala: mengemban ilmu di jurusan Sistem Informasi, Telkom University. Nama kampus swasta bergengsi di Bandung itu seolah menjadi bahan bakar utamaku. Setiap kali aku harus begadang mengejar nilai, membuka buku pelajaran di sepertiga malam, atau kelelahan karena tugas sekolah, bayangan tentang masa depan yang cerah di kampus itulah yang selalu berhasil membangkitkan semangatku kembali. Semua demi satu visi, mengangkat derajat dan ekonomi orang tuaku.

Perjuangan itu dimulai sejak kelas 10. Selama tiga tahun, aku memaksakan diri untuk konsisten menjaga performa akademik demi bisa masuk dalam kuota eligible sekolah untuk jalur SNBP. Mempertahankan nilai rapor di tengah kejenuhan masa SMA tentu bukan perkara mudah. Namun, langkah demi langkah kulalui dengan mata yang lurus menatap target tunggal tersebut. Ketika kelas 12 tiba, sebuah berita gembira datang; namaku resmi terdaftar sebagai siswa eligible. Air mataku nyaris tumpah karena merasa satu kaki sudah melangkah di gerbang kesuksesan. Namun, realitas mulai berbicara ketika proses pemilihan jurusan tiba. Di sinilah kompromi pertama terjadi. Mempertimbangkan banyak faktor, arah takdirku mulai bergeser secara drastis. Dengan berat hati, aku akhirnya mendaftarkan diri di Universitas Sriwijaya dengan jurusan Sistem Informasi, mengubur dalam-dalam obsesi awalku untuk merantau ke Bandung.

Ternyata, semesta belum selesai mengujiku. Hari pengumuman SNBP tiba, dan saat layar monitor kubuka, kalimat penolakan berwarna merah yang terpampang nyata. Gagal. Satu kata singkat yang rasanya begitu telak menghantam mimpi yang sudah kurawat dan kujaga selama tiga tahun terakhir. Seluruh rasa kecewa, lelah, dan sedih campur aduk menjadi satu, menyisakan ruang hampa di dadaku. Di titik nadir inilah mentalitasku benar-benar diuji. Muncul sebuah dilema besar yang menguras pikiran: haruskah aku bangkit berjuang lagi lewat jalur UTBK-SNBT, atau menyerah pada keadaan lalu langsung mencari pekerjaan demi membantu keuangan keluarga? Menyaksikan kondisi ekonomi orang tua yang terbatas, opsi untuk mengalah dan melupakan mimpi kuliah sempat terasa sangat rasional dan menggoda.

Namun, di tengah badai keraguan yang memuncak, orang tuakulah yang menjelma menjadi lentera pelindung. Mereka tidak pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata yang memintaku untuk menyerah. Sebaliknya, dengan tatapan penuh keyakinan, mereka terus membesarkan hatiku. Mereka meyakinkanku bahwa pendidikan adalah jalan keluar terbaik yang harus kutempuh, tak peduli seberapa besar keterbatasan finansial yang sedang kami hadapi. Dukungan tanpa syarat itulah yang akhirnya membasuh seluruh luka kegagalanku, menyuntikkan keberanian baru untuk berdiri, lalu kembali bertarung di medan UTBK dengan pilihan haluan yang benar-benar baru: Ekonomi Pembangunan.

Keputusan memilih Universitas Sriwijaya juga membawa konsekuensi emosional yang tidak main-main. Sebagai gadis yang lahir dan tumbuh di Purworejo, Jawa Tengah, memilih kampus di Sumatera Selatan berarti aku harus rela melintasi lautan, menyeberangi pulau, dan meninggalkan zona nyaman bersama orang tua di kampung halaman. Jujur, ada banyak kampus negeri yang jaraknya jauh lebih dekat di Pulau Jawa. Namun, kalkulasi ekonomi kembali menuntutku untuk bersikap bijaksana. Di Sumatera, kebetulan aku memiliki keluarga dekat yang tinggal tidak jauh dari area kampus. Artinya, aku bisa menumpang tinggal di sana tanpa harus membebani orang tua dengan biaya kos bulanan maupun tagihan listrik. Menetap jauh dari rumah sebagai anak rantau baru adalah fase yang sangat berat. Ada malam-malam sepi yang melelahkan, ada rindu yang mendadak menumpuk, dan ada air mata yang sengaja kusembunyikan rapat-rapat saat menelepon Ibu, agar mereka di rumah tidak ikut kepikiran.

Menyadari besarnya pengorbanan orang tua, aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku larut dalam kesedihan pasca-kegagalan SNBP. Jadwal belajar langsung kurombak total menjadi lebih ketat dan disiplin. Tidak ada lagi istilah belajar setengah hati atau bersantai-santai. Di sela-sela tumpukan latihan soal UTBK, aku juga bergerak aktif mencari peluang beasiswa pemerintah, hingga akhirnya menemukan titik terang lewat program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Bagi keluarga sederhanaku, KIP-K bukan sekadar bantuan finansial, melainkan jembatan mukjizat yang memastikan bahwa aku tetap bisa melanjutkan kuliah tanpa perlu mencemaskan biaya UKT.

Semua kombinasi dari air mata, keringat, latihan soal yang tiada habisnya, serta untaian doa di sepertiga malam akhirnya dibayar tunai oleh Tuhan. Hari pengumuman UTBK menjadi hari yang paling bersejarah: aku dinyatakan lolos di Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Sriwijaya, lengkap dengan status sebagai penerima beasiswa KIP-K. Rasa syukur yang membuncah seketika menggantikan semua trauma kegagalan masa lalu.

Kini, Ekonomi Pembangunan—jurusan yang dahulunya bahkan tidak pernah melintas sekilas pun dalam daftar cita-citaku—telah bertransformasi menjadi tempat terbaikku untuk bertumbuh, belajar, dan merajut masa depan. Jurusan ini bukan lagi sekadar nama program studi di kartu mahasiswa, melainkan sebuah simbol hidup tentang bagaimana aku dipaksa dewasa oleh keadaan; belajar beradaptasi, berani bermanuver, dan tetap menemukan jalan pulang meskipun peta rencana awalku telah hancur berantakan.

Melalui coretan kisah ini, kepada siapa pun yang hari ini sedang terduduk lesu karena ditolak oleh kampus impiannya atau merasa langkahnya terhenti oleh dinding keterbatasan ekonomi, aku ingin menitipkan satu pesan: kegagalan di satu jalur bukanlah akhir dari segalanya. Ia hanyalah sebuah cara elegan dari semesta untuk mengarahkan kita menuju jalan lain yang barangkali belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Rencana kita mungkin indah, tetapi rencana Tuhan jauh lebih matang. Jangan pernah membiarkan keadaan finansial merenggut hakmu untuk bermimpi besar. Manfaatkan setiap peluang yang ada, seperti beasiswa KIP-K, dekap erat doa keluarga, dan percayalah pada potensi luar biasa yang ada di dalam dirimu sendiri. Teruslah melangkah, karena setiap ketukan kecil yang kamu usahakan hari ini, sedang menuntunmu menjadi versi terbaik di masa depan. Perjalananku membuktikan bahwa tempat impian tidak melulu tentang apa yang tertulis di lembar kertas cita-cita masa SMA, melainkan tempat yang justru "memilih" kita untuk belajar arti sebuah perjuangan yang sesungguhnya.

Dokumentasi Pribadi: Sebuah pembuktian bahwa doa, kerja keras, dan restu orang tua tidak pernah salah alamat

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *