PERJUANGANKU MERAIH KAMPUS IMPIAN

Nama Penulis: Restu Aprillia

Aku hanya anak dari keluarga yang biasa saja anak dari seorang penderes (pembuat gula jawa), namun tekadku untuk meraih masa depan yang lebih baik sangatlah besar. Walaupun saat SD-SMP masih bingung untuk memilih cita-cita Aku tetap semangat melanjutkan sekolahku hingga SMA. Banyak sekali orang yang meremehkan anak seorang penderes, ada yg berkata “Jangan bermimpi untuk kuliah, kuliah hanya untuk anak orang yang berada saja.” Bahkan ada yang bilang, “Jika ingin menjadi seorang guru itu hanya untuk keturunan guru saja, bukan untuk keturunan anak pembuat gula jawa.” Ingin rasanya aku melawan mereka, namun kedua orang tuaku melarangnya dan mengajarkan jangan melawan orang-orang itu, mereka hanya bisa dibalas dengan sesuatu yang tidak biasa. Akhirnya aku menurut apa kata mereka.

Jarak antara rumahku dengan SMA sangatlah jauh dan jarang ada angkutan yang bolak-balik dari arah rumahku ke SMA. Seharusnya aku mengambil sekolah yang ada di Kabupaten karena jaraknya dekat, namun disana hanya terdapat satu SMA dan pernah aku mencoba mendaftar tapi tertolak. Aku sangat ingin bersekolah di SMA bukan SMK, akhirnya pihak SMA yang di Kabupaten menyarankan aku untuk bersekolah di SMA yang ada di Kecamatan walaupun jaraknya sangat jauh dari rumahku. Dengan banyak pertimbangan orang tuaku mendukungku sekolah di SMA Kecamatan. Alhamdullilah aku sangat bersyukur memiliki orang tua yang selalu mendukung anaknya bersekolah dimana saja, setelah aku diterima di SMA itu orang tuaku masih bingung gimana caranya pulang pergi ke sekolahku karena gak ada angkot yang sampai ke Kecamatan. Beruntungnya aku mengenal angkot yang sampai ke SMP dengan ini aku berangkat naik angkot itu, sampai di terminal angkot aku turun dan kembali menaiki angkot kedua dengan jalur terminal-Kecamatan. Jadi selama 3 tahun aku selalu menaiki 2 angkot saat berangkat dan 1 angkot saat pulang dan sesampainya di terminal ayahku menjemputku pulang.

Kebanyakan siswa merasa masa putih abu-abu adalah hal yang membahagiakan, tapi tidak dengan diriku. Disaat ini mentalku diuji dengan berbagai masalah dan diuji dalam pertemanan. Setiap hari perlu mengeluarkan uang untuk sekolahku dam juga adik-adikku, uangku hanya cukup untuk membayar transportasi saja jadi di sekolah aku tidak pernah membeli makanan. Saat ditanya teman kenapa tidak jajan? Aku hanya menjawab gak ingin, mau ditabung saja. Tiap berangkat sekolah harus mengantar gula dulu ke toko yang menjual-belikan gula jawa, diantar lalu ditukar dengan sejumlah uang, saat itu harga gula sangatlah murah hanya beberapa ribu untuk satu kgnya apalagi saat itu musim hujan jarang gula jawa yang bagus terbuat. Gak ada seorangpun yang tahu tentang kondisi ekonomi keluargaku, kecuali seorang guruku yang menanyakan pekerjaan ayahku dan dia mengerti akan kondisi keluargaku.

Sampai dikelas 12 perjalanan di SMA penuh dengan lika-liku permasalahan, tapi itu sudah tidak aku pikirkan lagi di kelas terakhir ini aku hanya fokus ke rencanaku yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang terakhir. Aku masuk di antara kelompok eligible di SMA, dan guruku mewajibkan seluruh anak yang eligile untuk ikut jalur masuk perguruan tinggi negeri melalui rapor (SNBP). Aku ikut jalur itu dan sangat berharap bisa diterima di jalur yang pertama, hingga tiba saatnya dimana hasil SNBP itu muncul aku sangat mengharapkan keputusan ini. Hanya saja, siapa sangka hatiku sangat hancur mendapatkan hasil SNBP, aku dinyatakan GAGAL SNBP 2026. Waktu itu hidupku dan impianku seakan sudah menjadi bayang-bayang yang sulit dikejar, gak nafsu makan, sering melamun, jarang senyum, sehingga membuat orang tuaku khawatir akan keadaanku. Aku berniat untuk mencari pekerjaan dengan hati yang masih hancur, tetapi orang tuaku menyarankan yang lain. Mereka memintaku untuk ikut jalur yang kedua yaitu SNBT apapun hasilnya gak ada salahnya mencoba dulu, awalnya aku ragu dengan kemampuanku sendiri apalagi materi SNBT itu sangatlah lain dengan materi SMA, lebih banyak logikanya. Dengan berat hati, aku menurut untuk mengikuti ujian itu. Aku belajar dan terus belajar dan berusaha untuk memendam ingatan GAGAL SNBP itu dari pikiranku. Selama sebulan kurang lebih aku belajar SNBT dengan serius sampai hari-H, aku berangkat bersama ayahku naik motor, karena tidak ada ongkos jadi kita menjual gula jawa yang gagal dalam percetakannya dengan harga yang paling murah perkg nya.

Hari ujian SNBTku tiba, dan aku berusaha tenang supaya materi yang aku pelajari tidak hilang, masuk dari jam 12 sampai jam 4 sore. Energiku sangat terkuras sampai-sampai 7 hari 7 malam aku terbaring sakit dan tidak memikirkan hasil ujianku, hari itu kembali namun kini menunggu hasil ujianku. Aku sengaja tidak ingin membukanya sendiri takut kecewa lagi, jadi aku meminta orang tuaku untuk membuka hasilnya. Siapa sangka, kejadian itu membuatku sangat terkejut, aku DINYATAKAN LOLOS SNBT 2026 kabar yang tidak terduka olehku. Aku diterima SNBT di Universitas Jenderal Soedirman dengan prodi S1 Biologi tahun 2026.

Kadang banyak manusia yang berpikir bahwa pendidikan tertinggi hanya bisa dimasuki orang kaya saja, namun pemikiran itu dibantah dengan kehidupanku. Nyatanya aku anak dari keluarga kelas bawah anak seorang penderes bisa diterima di Universitas dengan prodi S1 Biologi Murni. Kejadian itu membuat orang yang mengatai keluargaku bungkam dan malu sendiri.

~Usaha memang tidak akan mengkhianati hasil, tetapi tanpa dorongan dan restu orang tua semua itu akan sulit digapai. Dan juga Allah SWT. tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya. Belajarlah bersabar untuk tidak meladeni orang yang syirik terhadap kita, percayalah jika kita tidak membalas mereka, maka Allah yang nanti akan membalasnya. Percayalah disetiap kegagalan yang kita alami akan diganti oleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya~

Cerita ini nyata tidak ada unsur copy atau yang lain, murni dari kisah kehidupan saya sendiri.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *