Dari Meja Kasir Menuju Gerbang Brawijaya
Saya Makaila Saskia Wardani biasa dipanggil Saskia yang lulus dari SMK Negeri 1 Jombang di tahun 2025 pernah tidak lolos seleksi PTN jalur SNBP, kemudian saya memutuskan untuk tidak mencoba jalur lain karena terkendala biaya. Dan akhirnya setelah lulus sekolah langsung bekerja. Waktu itu saya bekerja sebagai kasir di sebuah toko grosir.
Enam bulan lamanya setiap lembar gaji yang saya terima tidak saya gunakan untuk bersenang-senang, melainkan saya tabung untuk bisa ikut bimbel dan ikut SNBT di tahun 2026 ini. Sebagai lulusan SMK yang mengambil jeda (gapyear) sempat membuat saya merasa minder ketika berharap bisa masuk top 10 PTN. Namun saya meyakinkan diri untuk tetap terus mencoba.
Desember 2026, perjuangan sesungguhnya dimulai ketika saya nekat daftar bimble offline. Rasa lelah setiap hari saya rasakan. Saya harus sering bertukar shift pagi dengan rekan kerja agar sore hingga malamnya bisa belajar. Namun, realita kembali menampar. Satu bulan berjalan, skor tryout saya hampir tidak pernah meningkat dan jauh di bawah passing grade jurusan yang saya impikan. Menyadari saya tertinggal sangat jauh, sebuah keputusan besar saya ambil di bulan Januari. Saya memilih resign secara baik-baik dari tempat kerja demi fokus belajar.
Ternyata, belajar di rumah sendirian memicu kejenuhan yang luar biasa. Memutar otak agar tetap produktif, saya mengikuti pelatihan pembuatan Roti dan Kue di Disnaker Kabupaten Jombang. Pagi hingga sore saya ikut pelatihan, malamnya saya gunakan waktu untuk fokus belajar. Pengalaman dari ikut pelatihan pembuatan roti dan kue saya gunakan untuk mencoba berjualan kue kering, kebetulan waktu itu mendekati hari raya.
Lumayan hasil dari berjualan tersebut bisa saya gunakan untuk membayar biaya tes UTBK dan biaya transport ke tempat tes, kebetulan dapat lokasi untuk tes di Universitas Surabaya (Unesa).
Semakin dekat hari ujian, atmosfer kamar saya semakin berubah mencekam. Overthinking menyerang tanpa ampun. Hampir setiap malam saya menangis sendirian di kamar yang gelap, terbayang uang tabungan hasil kerja yang sudah ludes untuk biaya bimbel. Saya juga takut mengecewakan kedua orang tua jika tidak lolos.
Sampai akhirnya hari yang mendebarkan itu pun tiba. Bermodalkan nekat, saya naik kereta dan menginap di kosan teman di Surabaya. Malam sebelum ujian, dia mengajak saya berkeliling kampus hingga ke depan gedung rektorat tempat saya akan ujian besok.
Esok harinya, saya naik grab sampai depan Gedung Rektorat Unesa. Di sekeliling saya, mobil-mobil berjejer rapi, menurunkan para peserta yang ditemani orang tua mereka dengan pelukan hangat dan doa yang dibisikkan ke telinga. Saya tersenyum, sama sekali tidak ada rasa iri. Justru detik itu, hati saya membuncah oleh rasa syukur yang luar biasa kepada ayah dan ibu di rumah, yang meski tidak bisa menemani secara fisik, telah mengizinkan dan merestui langkah anak perempuan mereka untuk bertarung di kota orang.
Setelah ujian terlewati dengan menyisakan sejuta keraguan karena beberapa soal terasa begitu sulit. Di sebuah warung mie ayam di hadapan teman saya yang setia mendengarkan, tumpahlah segala kekhawatiran jika saya tidak lolos. "Berlapang hatilah, Sas. Tuhan pasti tahu yang terbaik untukmu," bisiknya kepada saya utuk menenangkan . Kata-kata itu saya bawa pulang ke Jombang. Sejak hari itu, malam-malam saya diisi dengan sajadah yang basah, deru doa tahajjud, dan puasa sunah, memohon agar diberi hati yang seluas samudra untuk menerima apa pun takdir-Nya.
Hingga tibalah tanggal 25 Mei, pukul 15.00 sore. Saat seluruh pendaftar di Indonesia mungkin sedang menahan napas di depan laptop, saya memilih membalikkan tubuh menghadap kiblat untuk menunaikan salat Ashar terlebih dahulu. Saya ingin memasrahkan seluruh hasil kepada pemilik alam semesta.
Setelah sholat ashar, dengan tangan gemetar saya akhirnya memutuskan untuk melihat pengumuman.
Air mata yang selama setahun ini saya tahan, pecah seketika. Tubuh saya luruh dalam sujud syukur yang paling dalam. Universitas Top 10 yang dulu terasa fana kini membuka gerbangnya lebar-lebar untuk saya.
Dari perjalanan ini saya belajar, bahwa tidak ada yang mustahil di bawah langit ini selama kita punya keberanian untuk memulai, kegigihan untuk bertahan, dan keikhlasan untuk berserah. Karena pada akhirnya, sebuah proses yang jujur, tidak akan pernah mengkhianati hasil
