RESTU DALAM KEHENINGAN
Tahun 2023 adalah tahun kelulusan Naila dari jenjang Madrasah Aliyah Alkhairaat Desa Koya. Hari itu, Naila berdiri di depan pintu rumahnya sambil memegang selembar poster pendaftaran kuliah di Universitas Alkhairaat Palu. Ia baru saja pulang dari rumah kakak sepupunya sekaligus guru agamanya di MA. Sekarang, jam menunjukkan pukul 10 pagi. Pintu rumah sudah terbuka sejak tadi, tetapi ia hanya terdiam. Matanya menatap kertas itu dengan bingung dan bimbang. Dalam hati, ia bertanya-tanya, "Apakah ayah akan setuju?"
Naila menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia membuka sepatu dan kaos kaki yang ia gunakan secara pelan, lalu menyimpannya ke dalam rak sepatu yang berada di samping pintu. Sejak awal masuk, ia sudah meyakini bahwa ayahnya ada di rumah. Ia menarik napas panjang lagi dan menghembuskannya pelan. Setelah itu, ia berjalan masuk dan benar saja, Naila mendapati ayahnya sedang duduk di ruang keluarga. Ayahnya menoleh ke arahnya sekilas, lalu kembali menatap layar televisi yang menampilkan film karate favoritnya. Ayahnya adalah pecinta tokoh karate Itmen dan Jekiceng—bahkan sampai sekarang, ia masih saja menonton tayangan itu berulang-ulang.
Naila bingung mau mulai dari mana. Seakan bibirnya melarang untuk berucap. Tenggorokannya seketika kering dan ia butuh air dingin untuk meredakan ketegangan.
"Baru pulang, Nak?" suara ibunya terdengar dari arah dapur.
Naila menoleh. Ibunya, Laras, baru saja keluar sambil mengelap tangannya dengan kain lap bekas. Bau masakan ibunya begitu menggiurkan—aroma tumisan bawang dan rempah khas pagi hari. Naila seketika lupa tujuannya. Tanpa menjawab, ia berjalan cepat ke arah dapur. Laras menggeleng pelan melihat respons putrinya—ia tahu ada sesuatu yang Naila sembunyikan. Sebagai seorang ibu, Laras bisa membaca raut muka putrinya sejak tadi ia memperhatikan sebelum bertanya.
Di dapur, Naila menuangkan air dingin ke dalam gelas plastik. Ia teguk sekaligus, membiarkan dinginnya mengalir di tenggorokan yang tadi terasa kering. Tapi air tidak cukup untuk menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang.
"Nak, ada apa?" suara Laras terdengar lembut dari balik pintu dapur. Ibu itu sudah berdiri di ambang pintu, menatap Naila dengan tatapan dalam—tatapan seorang ibu yang tahu anaknya sedang bergulat dengan sesuatu.
Naila menunduk. Ia memutar gelas di tangannya, air tersisa sedikit di dasar. "Bu…" suaranya hampir tidak terdengar. Ia mengangkat poster yang masih ia genggam erat. "Naila mau daftar kuliah."
Laras tidak langsung menjawab. Ia mendekat, mengambil poster dari tangan Naila, lalu membacanya sambil mengerutkan kening. "Universitas Alkhairaat Palu," gumamnya. "Jaraknya jauh, Nak. Dan biayanya…"
"Naila tahu, Bu," potong Naila cepat. "Tapi Naila bisa cari beasiswa. Naila bisa sambil kerja. Naila tidak ingin merepotkan Ayah dan Ibu."
Laras menghela napas. Ia meletakkan poster di atas meja dapur, lalu menggenggam tangan Naila. "Kuliah itu bukan hanya soal biaya, Nak. Tapi soal izin. Dan kamu tahu Ayahmu bagaimana."
Naila menelan ludah. Ya, ia tahu. Ayahnya adalah pria yang keras kepala dan sulit diyakinkan. Tapi ia juga tahu, di balik kekerasan itu, ada cinta yang tidak pernah diucapkan.
"Aku mau coba bicara sama Ayah, Bu," ucap Naila pelan. "Tapi aku takut."
Laras menepuk pundak putrinya. "Takut itu wajar, Nak. Tapi jangan biarkan ketakutan menghentikanmu. Ayahmu mungkin kelihatan keras, tapi ia bukan orang yang tidak mau mendengar. Jelaskan dengan baik. Tunjukkan bahwa kamu serius."
Naila mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan kembali ke ruang keluarga. Di sana, ayahnya masih setia menonton film karate kesukaannya—Itmen dan lawannya tengah beradu jurus di layar televisi.
"Ayah…" Naila memanggil pelan.
Ayahnya tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada layar. "Hm?" balasnya singkat.
Naila menggigit bibir bawahnya. Ia mengulurkan poster itu di hadapan ayahnya, menutupi sebagian layar televisi. "Ayah… Aku mau daftar kuliah."
Barulah ayahnya menoleh. Alisnya naik. Matanya beralih dari wajah Naila ke poster yang ia pegang, lalu kembali ke wajah Naila. Ia mengambil remote dan menekan tombol pause. Suara karate berhenti mendadak. Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
"Kuliah?" suara ayahnya datar, sulit ditebak. "Kamu baru saja lulus MA, lalu mau kuliah lagi? Buang-buang waktu."
Naila merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu seperti pukulan. Tapi ia ingat pesan ibunya: jelaskan dengan baik, tunjukkan bahwa kamu serius.
"Ayah…" Naila menelan ludah lagi. "Aku tidak minta ayah untuk biayai kuliahku. Aku akan cari beasiswa. Aku hanya minta izin, Ayah. Apa Ayah tidak suka punya anak yang punya masa depan lebih baik? Aku ingin membuat Ayah dan Ibu bangga."
Ayahnya terdiam. Matanya menatap Naila—gadis kecil yang dulu ia sering gendong ke mana pun, yang kini sudah tumbuh menjadi perempuan muda dengan mimpi di matanya. Di sorot matanya ada pertarungan yang sulit dijelaskan.
Lalu ia berkata, "Tidak usah kuliah. Kuliah cuma buang-buang waktu. Toh, ujung-ujungnya kamu tetap di dapur."
Naila terhenyak. Kata-kata itu seperti tamparan. Tapi ia tidak mau menyerah begitu saja. "Terserah Ayah. Aku bakal tetap lanjut kuliah."
"Jangan membantah, Naila!" suara ayahnya mulai meninggi.
"Ayah tidak tahu!" Naila akhirnya kelepasan. Suaranya meninggi, bergetar oleh emosi yang selama ini ia pendam. "Aku kuliah bukan cuma untuk masa depanku! Aku kuliah buat Ayah dan Ibu! Biar Ayah dan Ibu tidak diremehkan lagi sama orang-orang! Apalagi Ibu—Ibu selalu dipandang sebelah mata sama keluarga Ayah! Dan Ayah? Ayah cuma diam! Ibu selalu dipandang jelek sama keluarga jahat itu!"
Naila membentak ayahnya dengan suara yang pecah. Ia gemetar akibat banyak berteriak. Dadanya naik turun. Ia takut berdosa, takut melampaui batas. Dengan cepat, ia berbalik dan berlari keluar dari hadapan ibu dan ayahnya.
***
Malam itu, Naila duduk di beranda belakang rumah. Matanya sembab, tangannya masih gemetar. Ia menyesali kata-katanya, tapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa semua yang ia ucapkan adalah kebenaran yang selama ini terpendam.
Beberapa jam kemudian, ibunya keluar dengan membawa segelas teh hangat. Laras duduk di samping Naila tanpa berkata apa-apa, hanya memeluknya erat. Dan di dalam pelukan itu, Naila merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata: bahwa ibunya mengerti.
Besoknya, ayahnya tidak mengatakan apa-apa tentang kejadian kemarin. Tapi ketika Naila bangun, ia menemukan selembar kertas di atas meja makan. Di atasnya tertulis satu kalimat pendek dengan tulisan tangan ayahnya:
"Cari informasinya dulu. Nanti kita bicara."
Naila menangis. Bukan karena sedih, tapi karena ia tahu—ayahnya belum sepenuhnya setuju, tapi setidaknya ia sudah mendengar.
***
Hari-hari berikutnya, Naila mulai bergerak. Dibantu ibunya, ia mengurus semua berkas pendaftaran kuliah. Laras—yang selama ini hanya diam di dapur—tiba-tiba menjadi sekretaris pribadi putrinya. Ia mengantar Naila ke kantor pos untuk mengirim berkas, menemani ke bank untuk mengurus administrasi, dan bahkan ikut mencari informasi beasiswa.
Naila juga tidak sendiri. Bersama teman-temannya, ia mendaftar kuliah dan beasiswa secara bersama-sama. Mereka saling mengingatkan jadwal, bertukar informasi, dan berdoa satu sama lain. Ada kekuatan dalam kebersamaan itu—sebuah pengingat bahwa Naila tidak berjuang sendirian.
Dan kabar baik akhirnya tiba: Naila diterima di Universitas Alkhairaat Palu, kampus impiannya. Ia juga mendapatkan beasiswa yang cukup untuk meringankan biaya kuliah.
***
Tanggal 24 Agustus 2023 adalah hari keberangkatan Naila ke Palu. Pagi itu, seluruh keluarga berkumpul di rumah. Ayahnya tidak banyak bicara, tapi Naila melihat sesuatu yang berbeda di matanya—bukan kemarahan, tapi semacam… pasrah. Ternyata ayahnya keras kepala, tapi Naila lebih keras kepala lagi. Akhirnya, sang ayah menyerah pada kegigihan putrinya.
Keenam saudara Naila juga mendukung sepenuhnya. Mereka bergantian menepuk pundaknya, mendoakan yang terbaik. Terutama kakak keduanya, yang dengan rela menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai keperluan sehari-hari Naila di rantau. "Kamu fokus kuliah, Adek. Kakak di sini buat kamu," katanya sebelum berangkat. Kalimat itu terus terngiang di telinga Naila.
Di pelabuhan, Naila diantar langsung oleh ayah dan ibunya. Kapal yang akan membawanya menyebrangi laut selama 15 menit menuju pelabuhan daratan, lalu dilanjutkan perjalanan darat dengan mobil menuju Palu. Ibu Naila menangis sambil memeluknya erat. "Jaga diri baik-baik, Nak. Jangan lupa makan. Jangan lupa shalat. Jangan lupa kabari Ibu."
Ayahnya hanya terdiam.
Naila naik ke kapal bersama teman-temannya. Ustad mereka ikut mengantar—seorang guru yang selalu mendukung mimpinya sejak di MA. Kapal perlahan bergerak menjauhi dermaga. Naila melambaikan tangan dari atas kapal. Ibunya membalas lambaian itu sambil menyeka air mata. Sedangkan ayahnya? Ia tetap berdiri di tepi dermaga, tidak bergerak. Matanya lurus menatap kapal yang semakin menjauh.
Sampai kapal itu hilang dari pandangan—sekecil titik di tengah laut—ayahnya masih berdiri di tempat yang sama. Sepuluh menit lamanya ia menatap ke arah kapal, seolah berharap putrinya akan kembali melambai dari kejauhan. Hingga akhirnya, istrinya menarik lengannya pelan dan mengajaknya pulang. Barulah ia bergerak, perlahan, meninggalkan dermaga.
***
Palu, tempat yang selama ini hanya ia lihat di poster, kini menjadi rumah barunya. Naila menginjakkan kaki di kampus Universitas Alkhairaat dengan hati berdebar. Gedung-gedung tinggi, mahasiswa yang berlalu-lalang, dan suasana akademik yang ia impikan—semuanya nyata di hadapannya.
Ia ingat poster yang dulu ia genggam di depan pintu rumah Desa Koya. Poster yang menjadi awal dari segalanya. Kini, poster itu sudah menjadi kenyataan.
Naila bisa kuliah di kampus impiannya. Walau terhalang restu dari salah satu pihak—walau ayahnya tidak pernah benar-benar mengucapkan kata "setuju"—ia tetap melangkah. Karena Naila percaya, restu terkadang tidak datang dalam bentuk kata-kata. Restu bisa datang dalam bentuk keheningan seorang ayah yang menatap kapal anaknya sampai hilang dari pandangan.
Dan bagi Naila, itu adalah restu yang paling ia ingat seumur hidup.
