Membangun Kepercayaan Diri di Tengah Ekonomi Keluarga serta dalam Lingkup Keluarga Tidak Peka Pendidikan

Oleh:

Devila Apriliani

Siswa Eligible

Semuanya mengharapkan itu, senang rasanya ketika bisa mendapat posisi lima besar pada peringkat siswa eligible di sekolah. Ada rada bangga terhadap diri sendiri ketika nama ini tertulis di surat pengumuman, namun sedih pun tidak tertinggal saat pengumuman siswa eligible. Saat itu melihat teman yang menangis terharu mendapatkan namanya tertera pada pengumuman itu aku pun ikut bangga melihatnya, berbincang bagaimana langkah selanjutnya akan menempuh kemana dan bagaimana.

Tapi aku? Sibuk memikirkan bagaimana cara mengundurkan diri dari siswa eligible, bukan tidak bersyukur namun aku tahu bagaimana kondisi keuangan keluargaku ini. Orang tua yang sudah berekspetasi pada bekerja setelah lulus SMA, keluarga yang memang pada dasarnya tidak ada yang melanjutkan sampai jenjang perguruan tinggi tambah menonjolkan diriku untuk memilih bekerja setelah lulus. Ketika ditanya “Lulus SMA kuliah atau kerja nduk?” dengan lantang karena kondisi aku menjawab “Insyaallah kerja paling bu”, nyatanya hati ini pun tetap mau berkuliah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Mendapat dukungan dari teman dan guru untuk tetap mencoba SNBP, namun mendapat dukungan pula untuk kerja dari kedua orang tua, jadi mana yang harus ku pilih?. Saat itu berani tidak berani, aku membicarakannya dengan kedua orang tuaku terkait eligible dan SNBP itu. Aku tahu ekspresi yang mereka perlihatkan mungkin memiliki rasa kecewa karena terkait biaya-biaya selanjutnya, tapi aku mencoba meyakinkan dan aku akan berusaha lewat program bantuan kuliah. Berbekal doa yang tiada putusnya dan ketika kedua orang tua sudah memberi izin untuk mencoba, maka aku mencoba mendaftarkannya.

Dua pilihan dalam SNBP hanya aku isi satu, terjangkau dari rumah sehingga tidak kos dan pada program studi dukungan dari kedua orang tua. Tidak, bukan sekedar itu namun memang aku juga yang ingin ke program studi tersebut. Yakin tidak yakin aku masukkan dalam “Simpan Permanen” di situs SNBP itu. Penuh doa, keraguan, tatapan asing dan lainnya, tapi aku percaya apapun hasilnya setelah aku mencoba aku akan menyerahkan segalanya. Disanding dengan aku yang mendaftarkan pada bantuan biaya kuliah yang menjadi penopang dan bagaimana kelanjutan episode yang sedang aku bangun itu.

Tidak berhenti keraguan itu sampai sini, dari keluarga yang memang bukan orang berada namun tidak pernah mendapatkan bantuan entah bagaimana alurnya. Aku dengan tekad mencoba mengikuti semuanya, kesana-kemari mempersiapkan segala berkas yang ada sendiri.

Hari itu… pukul 15.00 WIB

Pengumuman SNBP, bagaimana hasilnya aku percaya itu sudah bentuk terbaik dari doa yang terlampir dan ya… BIRU. Senang, gembira, haru, banyak kata selamat, sedih, semua perasaan campur aduk saat itu; di saat belum mendapatkan pengumuman terkait bantuan biaya kuliah. Banyak doa yang tidak pernah terlewatkan dan ikhlas yang dipersiapkan seluas-luasnya, aku mengikuti wawancara bantuan biaya kuliah itu. Mengikuti rangkaian yang ada dan pulang dengan hati yang memantapkan serta menyerahkan segalanya kepada sang pencipta.

Ting. . .

Notifikasi WhatsApp dari temanku “Dep kita lolos”. Lolos? Lolos apa? Bukannya pengumuman penerima bantuan itu masih esok? Lantas grup ini juga kenapa ramai?, banyaknya pertanyaan yang ada saat aku baru membuka handphone. DEVILA APRILIANI, ya… nama ini tertera dalam lampiran surat yang berjudul “Pengumuman Mahasiswa SNBP yang Lolos Bantuan Biaya Kuliah”. Terkejut dan menangis, itu hal pertama yang aku lakukan ketika baru membuka pengumuman itu, bahagia yang tidak bisa diukur.

Ma…, Pa…, aku lolos kuliah dan bantuan biaya kuliahnya. Mereka pun tidak terlepas dari rasa haru, senang, dan banyak rasa syukur yang terucap. Terima kasih banyak atas dukungan dan semangat yang diberikan oleh kedua orang tuaku, mereka memang bukan dari keluarga dan orang yang berada terlebih mereka hanya lulusan SMA. Namun, mereka bisa memberikan aku kesempatan untuk mencoba sesuatu ini, sesuatu yang sangat berdampak besar.

Terima kasih ya Allah sudah memberikan kepercayaan kepadaku, sehingga aku bisa melanjutkan pendidikanku ke jenjang perguruan tinggi negeri. Aku masuk di fakultas keguruan dan aku yakin kelak akan menjadi guru serta pribadi yang menginspirasi banyak orang, menebar banyak ilmu di segala penjuru negeri ini serta mengangkat derajat kedua orang tuaku yang mereka pun dipandang lain karena anaknya ini menginjakkan kaki di dunia perkuliahan dengan status keluarga yang tidak berkecukupan.

Tidak ada yang salah dari orang tuaku, aku tidak malu mengenalkan mereka karena mereka adalah orang tua yang sudah sangat hebat bagiku. Ayahku yang hanya bekerja sebagai buruh harian lepas serta ibuku yang tidak bekerja, namun mereka bisa mendidik dan membesarkan aku dengan sehebat ini. Meski aku besar pada keluarga yang sederhana, hebatnya kedua orang tuaku tidak pernah bermain tangan satu sama lain atau dalam didikannya terhadap anak-anaknya.

Disinilah aku, berdiri di perguruan tinggi negeri yang hebat, menyandang status sebagai mahasiswi. Dengan segala tekat yang sudah aku usahakan untuk aku bisa sampai di titik ini, aku belajar dengan giat dan sungguh-sungguh, harapannya tidak terlepas aku ingin membahagiakan kehidupanku setelah aku melangkah di episode selanjutnya. Walau tetap banyaknya tatapan yang selalu dipandang “rendah” oleh keluarga yang lain aku tidak peduli, nyatanya lebih parah salah satu anak dari keluargaku yang sama sekali tidak mendapat dukungan untuk ia bisa mencoba dan berjuang atas masa depan dan cita-citanya. Padahal percayalah anak akan mengerti ketika dibicarakan dengan baik-baik, namun tolong berikan kesempatan dan hak yang seharusnya didapatkan anak tersebut, berikan ia ruang untuk bisa berusaha dan mengejar impiannya tanpa menjatuhkan harga dirinya.

Tidak ada yang tidak mungkin ketika kamu mengusahakan hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika gagal itu bukan akhir, itu adalah bukti kamu sudah hebat berani melangkah sampai part itu, jangan bosan untuk menambahkan part di setiap episode yang sudah kamu bangun. Sedikit apapun part yang tersambung itu, percayalah selanjutnya akan ada part yang panjang dengan berisi kehebatan-kehebatanmu yang akan banyak orang saksikan.

Ekonomi memang jahat dalam membunuh cita-cita dan mimpi seorang anak yang sedang tumbuh, tapi percaya dengan tekat dan usahamu yang kamu bangun mati-matian kelak akan menjadi hasil yang memuaskan untukmu dan orang sekitar yang kamu sayangi. Selanjutnya ekonomi kehidupanmu akan sangat berkembang dengan bagaimana kamu bisa mengubahnya menuju keluarga yang lebih sukses.

Tidak ada yang spesial dari kisahku dan aku juga bukan orang hebat, namun aku hanya ingin mengirim dan menuliskannya dalam ini, agar aku pun selalu mengingat bagaimana perjuangan kecil yang sudah aku lakukan sejauh ini.

Salam hangat, Devila.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *