Dari Keraguan dan Keterbatasan Menuju Kampus Impian: Kisahku, Inspirasiku
Oleh: Lulu Anjumae Kastri
Jujur, aku tidak tahu harus menulis apa. Namun, kadang aku percaya bahwa sebenarnya aku bisa lebih dari apa yang aku bayangkan. Di sisi lain, aku juga sering minder dan merasa tidak mampu. Meski begitu, jauh di dalam diriku selalu ada keyakinan bahwa aku memiliki potensi yang belum sepenuhnya aku sadari. Mungkin karena itulah, saat melihat lomba menulis ini, aku memutuskan untuk mencoba. Tujuanku bukan untuk menang, tetapi untuk mengetahui sejauh mana kemampuanku jika aku berani mengambil kesempatan.
Aku bukan anak olimpiade tingkat kabupaten, provinsi, apalagi nasional. Prestasi akademikku tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang sejak kecil sudah terbiasa meraih berbagai penghargaan. Aku hanya pernah menjadi juara olimpiade matematika tingkat kecamatan ketika duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Selebihnya, aku hanyalah seorang Lulu yang tumbuh di sebuah dusun kecil, di lingkungan yang masih kental dengan adat istiadat, tempat dimana pendidikan belum menjadi prioritas utama dan pernikahan dini dianggap sebagai hal yang biasa. Dari teman-temanku, hanya segelintir yang memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagian memilih untuk tidak melanjutkan, sementara sebagian lainnya harus mengubur mimpi karena keterbatasan ekonomi.
Dulu aku sering membandingkan diriku dengan anak-anak berprestasi di luar sana. Aku sadar betapa besar pengaruh lingkungan terhadap cara seseorang berpikir, bermimpi, dan berkembang. Jarak di antara kami terasa begitu jauh. Namun, aku bersyukur. Di tengah lingkungan seperti ini, Allah tetap menanamkan satu keyakinan dalam pikiranku bahwa aku tidak harus tergerus oleh arus. Aku masih bisa bermimpi, dan aku masih bisa terbang lebih jauh untuk menggapainya.
Malam itu, aku menatap langit-langit kamarku yang sempit. Pandanganku terus tertuju ke atas, sementara pikiranku melayang membayangkan kehidupan seperti apa yang akan kujalani setelah lulus SMA. Di tengah berbagai bayangan itu, ada satu keyakinan yang selalu hadir dalam benakku: suatu hari nanti aku pasti akan menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri. Keyakinan itu terus kugenggam, meskipun berkali-kali digoyahkan oleh keraguan.
Aku tinggal bersama ibu dan adikku di sebuah rumah sederhana yang luasnya bahkan tidak sampai 25 meter persegi. Enam tahun yang lalu, ketika aku baru memulai masa putih biru, kedua orang tuaku memutuskan untuk bercerai. Peristiwa itu sempat menghancurkanku. Aku kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri, pada mimpi-mimpiku, bahkan pada masa depan yang selama ini kubayangkan. Masa SMP yang seharusnya menjadi waktu untuk mencari jati diri justru berubah menjadi masa ketika aku benar-benar kehilangan diri sendiri.
Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai membangun kembali kepercayaan yang sempat runtuh. Memasuki masa SMA, aku menjadikan perjalanan itu sebagai misi untuk menemukan diriku kembali; mencari jati diri yang belum sempat kutemukan. Aku mulai mempertanyakan banyak hal kepada diriku sendiri. “Ingin menjadi apa aku?”, “Hal apa yang akan membuat hidupku terasa bermakna?”, “Who are you?”, “What do you want to be?”, dan “What can you give?” Pertanyaan-pertanyaan itu tentu bukan hal yang mudah untuk dijawab. Bahkan hingga detik ini, aku masih terus berusaha menuntaskannya.
Misi pencarian jati diri di masa SMA ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Aku sering merasa terlambat. Di saat banyak orang di luar sana sudah mengetahui ingin menjadi apa, jurusan apa yang akan mereka ambil di perguruan tinggi untuk menunjang impiannya, bahkan telah memiliki berbagai prestasi yang selaras dengan cita-cita mereka, aku justru masih sibuk mencari arah. Satu-satunya hal yang benar-benar kupegang saat itu hanyalah keyakinan bahwa setelah lulus SMA, aku pasti akan menjadi mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri. Meskipun begitu, keyakinan itu tidak selalu berdiri dengan kokoh. Berkali-kali ada peristiwa yang membuatnya goyah dan hampir runtuh.
Kepercayaan yang perlahan mulai kubangun ternyata tidak selalu berada dalam keadaan utuh. Ada masa ketika keyakinan itu kembali goyah. Aku mulai meragukan kemampuanku sendiri. Aku merasa minder, insecure, dan keterbatasan ekonomi semakin memperbesar keraguan itu. Hingga pada suatu hari, perkataan ibuku hampir membuatku benar-benar menyerah pada mimpiku. “Ibu tidak sanggup menguliahkanmu. Kalau kamu tidak mendapatkan beasiswa, lebih baik jangan kuliah,” ucap beliau. Sejak saat itu, mimpiku seperti berada di ujung tanduk. Aku mulai menyalahkan keadaan. Aku mempertanyakan kepada Tuhan mengapa aku harus terlahir dengan segala keterbatasan ini, mengapa kedua orang tuaku harus bercerai, dan mengapa jalan menuju mimpiku terasa begitu berat. Untuk sesaat, aku merasa benar-benar tidak memiliki tempat untuk pulang. Aku merasa tidak memiliki rumah yang mampu memberiku pelukan dan dukungan ketika aku hampir menyerah.
Namun, justru di titik terendah itulah Allah mengingatkanku bahwa aku masih memiliki-Nya. Perlahan aku menyadari satu hal yang selama ini luput dari pandanganku. Keterbatasan yang kami hadapi bukanlah keinginan ibuku. Suatu hari beliau pernah berkata bahwa jika mampu, beliau ingin selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, bahkan memberikan hal-hal yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh anak orang lain. Kalimat itu terus terngiang di kepalaku. Saat itulah aku sadar bahwa bukan hanya aku yang merasa sedih karena tidak bisa meraih keinginanku. Ada seorang ibu yang diam-diam juga merasa hancur karena hanya itu sebatas yang ia mampu. Sejak saat itu, tekadku justru semakin kuat. Aku ingin mengejar mimpiku, bukan hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk membuktikan kepada ibu bahwa dengan doa yang tak pernah putus, harapan yang terus dijaga, dan usaha yang sungguh-sungguh, aku bisa berada di titik yang bahkan tidak pernah beliau bayangkan. Aku ingin menjadi kebanggaannya.
Misi pencarian jati diri itu kemudian kujalani dengan mencoba berbagai pengalaman. Aku mulai mengeksplorasi banyak kegiatan untuk menjawab pertanyaan yang terus menggangguku: aku ingin menjadi apa, dan jurusan apa yang akan kupilih nanti. Aku memutuskan untuk aktif berorganisasi, mulai dari menjadi pengurus OSIS hingga dipercaya sebagai koordinator. Aku juga bergabung dengan Palang Merah Remaja (PMR) Wira dan mendapat kesempatan menjadi ketua organisasi tersebut.
Menjadi bagian dari PMR mengajarkanku banyak hal. Di sana aku menyadari betapa mulianya membantu dan menolong sesama. Dari pengalaman itulah aku sempat menemukan satu jawaban yang terasa begitu tepat saat itu, “Aku ingin menjadi dokter dan masuk jurusan kedokteran.” Berangkat dari mimpi tersebut, aku mengikuti seleksi Olimpiade Sains Nasional bidang Fisika, kemudian pada tahun berikutnya mencoba bidang Biologi. Aku juga mengikuti berbagai perlombaan, baik secara luring maupun daring, untuk terus mengembangkan diriku. Namun, dari semua kompetisi yang pernah kuikuti, tidak semuanya berakhir dengan keberhasilan. Bahkan, jika harus jujur, aku lebih sering bertemu dengan kata gagal daripada kata juara.
Di setiap kegagalan itulah aku menemukan keraguan terhadap kemampuanku sendiri. Namun, aku selalu berusaha meyakinkan diri bahwa setumpuk kegagalan adalah cikal bakal sebuah keberhasilan. Bagiku, lebih baik gagal karena mencoba daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Keyakinan itu terus kujaga hingga akhirnya perkataan ibuku, yang telah kuceritakan sebelumnya, kembali membuatku goyah. Keterbatasan ekonomi seolah berusaha menarikku menjauh dari mimpi yang selama ini kupercaya dan membuatku kembali dipenuhi keraguan.
Namun, Allah Maha Baik. Di balik semua itu, aku merasa ada satu fase penting dalam misi pencarian jati diriku yang selama ini terlewati. Fase itu adalah belajar menerima hal-hal yang tidak bisa kukendalikan. Aku lupa bahwa sebelum melangkah lebih jauh, aku harus terlebih dahulu menerima masa laluku, menerima kenyataan bahwa keluargaku tidak lagi utuh, menerima tempat aku dilahirkan, lingkungan tempat aku dibesarkan, pola asuh yang membentukku, hingga kondisi ekonomi keluargaku. Perlahan aku menyadari bahwa penerimaan bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan berdamai dengan hal-hal yang memang berada di luar kendaliku. Dari sanalah aku mulai bisa berdamai dengan diriku sendiri, seutuhnya.
Misi pencarian jati diri itu pun kumulai kembali dari awal. Sebelum menjawab semua pertanyaan yang selama ini memenuhi pikiranku, aku memutuskan untuk terlebih dahulu menerima, berdamai, dan belajar mencintai diriku sendiri. Proses itu tentu tidak selesai dalam semalam. Bahkan hingga hari ini, aku masih terus mengusahakannya. Namun, sejak belajar menerima diriku apa adanya, aku mulai berpikir lebih realistis dan memutuskan untuk kembali menggenggam mimpiku. Kali ini bukan dengan genggaman yang terlalu erat hingga dipenuhi rasa takut kehilangannya, melainkan dengan penerimaan, ketenangan, dan pemahaman bahwa setiap mimpi memiliki jalannya masing-masing.
Aku terus berusaha mengenal diriku sendiri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menjadi bagian dari misi pencarian jati diriku. Bedanya, kini aku menjalaninya dengan hati yang lebih tenang. Dengan penerimaan dan rasa cinta terhadap diri sendiri, langkahku terasa jauh lebih ringan. Kepercayaan diriku perlahan tumbuh kembali, begitu pula keyakinanku untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Daripada terus memikirkan keterbatasan yang tidak berpihak kepadaku, aku memilih memikirkan solusi yang dapat membawaku lebih dekat pada mimpiku. Aku tahu ibuku tidak sanggup membiayai kuliahku, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti melangkah. Aku mulai mencari berbagai informasi tentang beasiswa penuh yang dapat membantuku melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA. Dari situlah aku mengenal KIP Kuliah dan Beasiswa Glow & Lovely Bintang Beasiswa. Aku juga mulai perlahan membuka obrolan dengan ibu tentang dunia perkuliahan. Diskusi itu tidak terjadi dalam satu waktu. Aku memilih membangun keyakinannya sedikit demi sedikit, setiap kali ada kesempatan. Dengan penuh semangat aku sering berkata, “Bu, tahu nggak? Ada temanku yang berhasil masuk PTN terbaik di daerah kita lewat jalur prestasi. Dia mendapat beasiswa penuh, tidak membayar UKT, bahkan memperoleh uang penunjang kuliah.” Melalui percakapan-percakapan sederhana seperti itulah aku berusaha meyakinkan ibu bahwa meskipun kami hidup dalam keterbatasan, anaknya tetap memiliki kesempatan untuk meraih perguruan tinggi negeri impiannya.
Pada awalnya, ibu menyarankan agar aku melanjutkan kuliah di salah satu kampus swasta yang masih berada di kabupaten tempatku tinggal. Aku penah memberinya informasi tentang beberapa kampus swasta yang baru berdiri dengan biaya 0 rupiah. Saat itu aku berpikir, tidak apa-apa di mana pun aku kuliah, yang terpenting adalah aku tetap bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bukankah banyak orang mengatakan bahwa di mana pun kita berada, semuanya bergantung pada bagaimana kita membawa diri?. Kalimat itu memang benar. Namun, pengalaman hidup mengajarkanku bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap cara seseorang berpikir, bertumbuh, dan membawa dirinya. Setiap lingkungan menghadirkan peluang yang berbeda, mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki cara pandang yang berbeda pula. Sejak menyadari hal itu, aku selalu ingin melihat dunia yang lebih luas. Aku ingin berada di lingkungan yang mampu mendorongku untuk terus berkembang, sehingga suatu hari nanti aku bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang kusayangi.
Perlahan aku mencoba menyampaikan pemahamanku kepada ibu. Aku tidak memaksanya untuk langsung setuju, tetapi berusaha menjelaskan alasan di balik mimpiku. Syukurlah, usaha itu tidak mengkhianati hasil. Aku mendapatkan restu ibu untuk mencoba mengejar perguruan tinggi negeri impianku. Aku juga meminta dukungan dari ayah. Dengan izin Allah, satu per satu orang-orang terdekatku mulai percaya dan mendukung langkahku.
Sejak lama, Universitas Mataram telah menjadi perguruan tinggi negeri impianku. Sebagai kampus negeri terbaik di Nusa Tenggara Barat, kampus itu selalu memiliki tempat tersendiri di hatiku. Meski begitu, Universitas Airlangga juga pernah singgah dalam daftar mimpiku. Guru-guruku selalu percaya bahwa di mana pun aku berkuliah nanti, aku akan mampu berprestasi. Dukungan dan keyakinan mereka membuatku semakin terdorong untuk memberikan usaha terbaik. Karena itu, aku terus mempertimbangkan dengan matang perguruan tinggi mana yang paling tepat menjadi tempatku belajar, bertumbuh, dan mengembangkan kemampuan yang kumiliki.
Setelah mendapatkan restu dari kedua orang tuaku dan dukungan dari guru-guruku untuk mengejar perguruan tinggi negeri impian, tantangan berikutnya pun dimulai. Aku justru dibuat bingung menentukan jurusan. Hatiku masih belum benar-benar bisa melepaskan mimpi menjadi dokter. Selama ini, cita-cita itu telah menjadi bagian dari perjalanan pencarian jati diriku. Aku belum menemukan jurusan lain yang mampu menggantikan impian tersebut.
Aku mulai melakukan refleksi, mencari informasi dari berbagai sumber, bahkan berdiskusi dengan orang-orang di sekitarku. Aku kembali mengingat cita-citaku sejak kecil. Ketika duduk di bangku sekolah dasar, aku selalu menjawab ingin menjadi guru. Saat itu aku belum memahami perjalanan karier, tetapi aku merasakan kehangatan dari guru-guruku. Aku sangat bersyukur pernah diajar oleh orang-orang hebat yang membuatku mencintai proses belajar. Hampir setiap malam aku mencari informasi di internet, berdialog dengan ChatGPT tentang pilihan jurusan dan berbagai jalur karier yang mungkin sesuai denganku. Sampai akhirnya aku bertanya kepada diriku sendiri, “Selama ini, mata pelajaran apa yang paling aku sukai?”Aku mencoba menyukai Biologi karena pernah bermimpi menjadi dokter. Aku juga berusaha menikmati Fisika karena pernah mengikuti seleksi Olimpiade Sains Nasional pada bidang tersebut. Selain itu, aku menyukai Bahasa Indonesia, Kimia, PPKn, Sejarah, dan hampir semua mata pelajaran di sekolah. Rasanya tidak ada pelajaran yang benar-benar tidak kusukai. Namun, setelah kupikirkan kembali, Matematika selalu memiliki tempat yang berbeda di hatiku.
Aku memang bukan pemenang Olimpiade Sains Nasional, tetapi setiap kali pelajaran Matematika dimulai, aku selalu merasa bersemangat. Ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika berhasil menyelesaikan soal yang awalnya terasa mustahil. Aku menikmati proses berpikir, merasa hampir menyerah, lalu menemukan jawaban yang ternyata benar. Aku juga teringat pernah menjadi juara Olimpiade Matematika tingkat kecamatan saat duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Saat itu aku belajar bukan karena terpaksa, melainkan karena memang benar-benar menyukainya. Dari situlah aku mulai menyadari bahwa mungkin jalan yang paling tepat untukku adalah jurusan yang berkaitan dengan Matematika.
Menjelang dibukanya Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026, akhirnya aku memantapkan hati memilih Program Studi Statistika di Universitas Mataram. Keputusan itu tidak lahir secara serta merta. Sebelumnya aku sempat mempertimbangkan Pendidikan Matematika, Matematika murni, hingga Teknik Informatika. Namun pilihanku akhirnya bermula dari sebuah pengalaman sederhana yang tidak pernah kusangka. Aku teringat bagaimana degup jantungku ketika mempresentasikan esai pada sebuah lomba kepalangmerahan bertema bullying. Saat itu aku menampilkan diagram lingkaran yang menggambarkan tingkat perundungan di sekolahku. Aku menikmati setiap prosesnya, mulai dari menyusun survei menggunakan Google Form, mengumpulkan data, belajar secara otodidak mengolahnya melalui spreadsheet menjadi diagram batang dan diagram lingkaran, hingga menganalisis hasilnya untuk menarik sebuah kesimpulan. Pada akhir presentasi, aku bahkan memberikan rekomendasi solusi berdasarkan data yang telah kukumpulkan.
Saat mengingat kembali pengalaman itu, aku baru menyadari bahwa ternyata yang paling kunikmati bukan hanya proses menulis esainya, melainkan proses mengolah data hingga menghasilkan informasi yang mampu memberikan solusi. Dari situlah aku mulai mengenal dunia Statistika. Aku menemukan bahwa ilmu ini memiliki peran di berbagai bidang kehidupan. Salah satu profesi yang menarik perhatianku adalah menjadi seorang Data Analyst. Bahkan, jika diberi kesempatan, aku ingin berkontribusi dalam membantu pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan melalui data yang benar-benar mencerminkan kondisi masyarakat.
Akhirnya tibalah masa akhir kelas XII. Ketika pendaftaran SNBP dibuka, dengan penuh keyakinan aku memilih Statistika Universitas Mataram sebagai pilihan pertama dan Pendidikan Matematika sebagai pilihan kedua. Meskipun Program Studi Statistika Universitas Mataram masih tergolong baru, keputusan itu telah kupertimbangkan dengan matang. Keputusanku untuk tidak memilih perguruan tinggi yang termasuk dalam jajaran Top 10 nasional, seperti Universitas Airlangga, bukan karena aku menyerah atau tidak percaya diri. Sebaliknya, aku memilih untuk bersikap realistis. Aku percaya bahwa Universitas Mataram dapat menjadi batu loncatan terbaik untuk membawaku menuju lingkungan, pengalaman, dan karier yang kuimpikan, selangkah demi selangkah.
Kini, aku adalah mahasiswa baru Program Studi Statistika Universitas Mataram yang sebentar lagi akan menjalani PKKMB. Hari pengumuman SNBP menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah kulupakan. Saat melihat layar menampilkan warna biru, aku tahu bahwa salah satu mimpiku akhirnya menjadi kenyataan. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika aku dinyatakan sebagai penerima KIP Kuliah, beasiswa penuh dari pemerintah yang selama ini kuperjuangkan.
Aku percaya bahwa titik ini tidak akan pernah tercapai tanpa pertolongan Allah, doa seorang ibu yang tak pernah berhenti menginginkan masa depan terbaik untuk anaknya, serta ikhtiar yang terus kuusahakan meskipun berkali-kali dihampiri keraguan. Hari ini aku memahami bahwa setiap mimpi selalu memiliki jalannya sendiri. Tugas kita hanyalah terus percaya, berusaha, dan tidak berhenti melangkah. Bagiku, pencapaian ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari perjalanan yang sesungguhnya.
Melalui kisah ini, aku ingin menyampaikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, apalagi akhir dari sebuah perjalanan. Kita mungkin tidak bisa memilih di mana dilahirkan, bagaimana kondisi keluarga kita, atau lingkungan tempat kita bertumbuh. Namun, kita selalu memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana cara kita berpikir, bertindak, dan memperjuangkan mimpi. Aku percaya bahwa kepercayaan pada diri sendiri, ikhtiar yang sungguh-sungguh, doa seorang ibu, dan kuasa Allah akan selalu menemukan jalannya. Karena itu, jangan pernah menyerah hanya karena keadaan hari ini belum berpihak kepada kita.
Ada sebuah kutipan anonim yang selalu kuingat, “Takdir sengaja dibuat rahasia di luar batas mampu manusia agar mereka yang sedang berjuang tidak kehilangan semangatnya.” Tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana akhir dari perjalanan hidupnya. Selama Allah masih memberikan kesempatan untuk berusaha, jangan berhenti melangkah. Yakinlah, hal-hal indah selalu membutuhkan waktu untuk datang.
