Merawat Sebuah Angan-Angan

Saya ingin kuliah! Ingin seperti kakak-kakak keren yang waktu itu datang ke sekolah!!

Pikiran-pikiran itu terus-menerus terngiang dalam benak saya. Saat SD ada sekelompok mahasiswa yang datang ke sekolah, dan saat itu saya begitu terpukau dengan kakak-kakak yang menyampaikan materi kepada kami semua. Pokoknya aku harus bisa kuliah. Pikiran pendek itu spontan keluar, tanpa tau ada perjuangan dan pengorbanan panjang di baliknya. Sejak saat itu kuliah menjadi sebuah impian saya. Mimpi yang saya bangun sejak bangku sekolah dasar, yang berawal dari kakak-kakak mahasiswa.

Awalnya impian itu tidak saya pikirkan berlarut, saya remaja hanya fokus main dengan teman-teman SMP saat kala itu. Impian itu sempat saya lupakan begitu lama. Maklum, remaja labil ini sedang menikmati waktu remajanya dengan bermain. Memasuki bangku SMA impian itu kembali datang. Samar-samar ia mengetuk kembali apa yang menjadi ambisi saya waktu itu. Perlahan ambisi saya untuk berkuliah bangkit kembali, tepat ketika saya berada di bangku terakhir SMA. Hampir setiap hari saya dan teman-teman selalu bertanya satu sama lain ”Abis ini kalian mau kerja atau kuliah?”. Namun, apa yang diimpikan suka berbanding terbalik dengan realita yang ada. Realita dengan kejam menghantam apa yang saya impikan.

”Kuliah itu cuma buat orang-orang kaya!! Udah kamu gak usah kuliah, bantu mama aja bayar utang!”

Sebuah kalimat yang meluncur dari keluarga sendiri. Bibi yang seharusnya senang melihat keponakannya bisa bersekolah tinggi justru malah menghujat dan menghakimi. Semangat dan ambisi yang awalnya membara kini perlahan meredup. Realitas bahwa saya hanyalah seorang anak dari Ibu yang berjualan nasi uduk dan Ayah yang nganggur karena efek pandemi Covid-19, membuat saya harus menelan pil pahit. Semangat dari ambisi-ambisi yang membara tadi, kembali jatuh dalam dasar jurang yang dalam. Mungkin benar kata bibi. Untuk apa saya berkuliah jika hal tersebut membebani mama dan ayah yang penghasilannya pas-pasan bahkan cenderung kurang karena harus menutupi utang-utang. Benar, kuliah itu hanya untuk orang-orang yang mampu, tidak seperti saya yang kekurangan ini.

Mungkin impian ini terlalu tinggi untuk aku yang rendah ini.

Pikir ku waktu itu. Ah, besar sekali impian orang kecil ini. Pada akhirnya, mimpi itu hanya menjadi angan-angan yang tak akan pernah bisa terwujud. Orang kecil sepertiku tidak sepatutunya berpikir seperti itu. Impian itu akhirnya kembali masuk dalam gudang penyimpanan, yang ku segel rapat dengan tahu diri. Akhirnya orang kecil ini hanya bisa berkhayal semata, karena sampai kapanpun mimpi besar itu tak akan bisa diraih. Namun, mungkin saja Tuhan terlalu baik dengan saya. Saya tidak tau apakah ini yang disebut dengan doa sungguh-sungguh sehingga alam pun merestui atau bagaimana. Selepas dari omongan bibi saat itu entah bagaimana caranya tanpa sadar impian itu menjadi kenyataan, seolah alam pun merestuinya. Atau mungkin karena alam bawah sadarku terus-menerus memikirkan hal tersebut sehingga alam yang merasakan ikut mengaminkan, yang kalau kata anak sekarang adalah manifesting.

Sejujurnya, hingga hari ini saya masih merasa aneh dan takjub tak percaya. Seorang anak dari penjual nasi uduk bisa berkuliah! Sekali lagi, bisa berkuliah!! Tuhan, entah rencana apa yang sedang kau rangkai ini, tetapi saya berharap apapun yang sedang kau rencanakan menjadi sesuatu yang indah suatu hari nanti. Saya masih ingat hari itu, hari di mana saya diterima di kampus negeri yang cukup terkenal di daerah saya. Saya masih ingat hari itu, hari di mana kakak-kakak dari kampus-kampus datang untuk bersosialisai. Dan saya masih ingat hari itu, di mana saya mendaftarkan diri ini dalam daftar peserta eligible untuk pendaftaran SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi). Padahal, saya tidak tau maksud dari itu seperti apa, saya hanya iseng mendaftar secara impulsifman. Bahkan, jika sekarang ada orang yang bertanya bagaimana proses masuk universitas, jawaban saya adalah tidak tau. Saya tidak tau waktu itu bagaimana melakukannya. Saya hanya asal-asal pencet karena saya juga tidak tau bagaimana caranya karena semua itu saya lakukan secara mandiri, paling sesekali minta guru BK untuk membantu saya dalam pendaftaran. Saya juga tidak merasa yakin akan lolos karena saya tidak pernah mengikuti kegiatan organisasi sama sekali, dan prestasi saya di kelas pun tidak menjadi yang pertama.

Gapapa lah kalau gak keterima nanti kalo gak keterima bisa lewat tes. Pikiran naif saya waktu itu. Memang ngomong tuh, gampang sekali, ya. Pada kenyataannya proses tes UTBK juga perlu biaya, dan saya tidak bisa mengikuti tes tersebut karena keterbatasan biaya.

Namun, entah mungkin ini menjadi bagian dari rezeki saya, saya dinyatakan lolos di kampus tersebut. Sejujurnya saya hanya bermodalkan nekat ketika mendaftar, siapa sangka ternyata lolos. Semangat saya kembali bangkit. Saya senang sekali, akhirnya bisa menggapai apa yang saya impikan. Sayangnya saya tidak memikirkan dampaknya dalam jangka panjang. Ya, saya tidak memikirkan bagaimana langkah selanjutnya setelah saya diterima di kampus tersebut. Bagaimana saya ke kampus tersebut, bagaimana biaya untuk pendaftaran ulang yang perlu uang karena harus print sana sini, transportasi, dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya, saya kembali diomeli oleh bibi saya karena terlalu nekat. Padahal mama saya sendiri tidak merasa keberatan, katanya semoga aja ada rezeki. Walau memang mama saya juga tidak ingin saya berkuliah, ia ingin saya langsung kerja saya, tetapi ketika saya masuk ke universitas mama tidak merasa marah atau kecewa. Ia malah bangga, dan bilang kalau saya tidak usah memikirkan biayanya. Namun, saya tidak patah semangat, bermodalkan tabungan saya selama sekolah yang pas-pasan, saya nekat untuk lanjut berkuliah. Selagi menunggu beasiswa KIP-K yang belum pengumuman saat itu, saya mencoba mencari kerja untuk mendapat uang tambahan.

Saya menangis ketika beasiswa KIP-K saya lolos. Akhirnya saya bisa berkuliah tanpa membebani semua biaya ke orangtua saya. Saya bersyukur sekali bisa berkuliah dengan beasiswa. Entah berapa kali saya harus berterima kasih kepada Tuhan, karena berkat-Nya saya bisa berkuliah. Mungkin saya tidak bisa seperti sekarang jika tidak berkuliah, tidak bisa membeli laptop, tidak bisa bertemu dengan orang-orang hebat, tidak dapat ilmu baru, tidak merasakan perjalanan ke Jakarta dan kota lainnya karena tugas, tidak merasakan bertemu dengan penulis-penulis hebat, dan lain sebagainya. Melalui perjalanan ini, saya akhirnya memahami satu hal: angan-angan yang dirawat dengan ketulusan dan doa tidak akan pernah salah menemukan jalan pulangnya. Bagi seluruh "orang kecil" di luar sana yang sedang melipat mimpinya karena tamparan realitas, jangan terburu-buru menyerah. Terkadang, kita hanya perlu melangkah dengan sedikit kenekatan dan keyakinan, lalu biarkan Tuhan yang merangkai sisa keajaibannya hingga angan-angan itu menjelma menjadi kenyataan yang nyata.imp

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *