THE WINNER TAKES IT ALL
Kalimat terbaik yang pernah terpikirkan di kepalaku yaitu, “Mimpi adalah pertaruhan, siapa yang berani bertaruh, ialah yang paling layak menang.” Dan menurutku, itu memang benar adanya. Fakta lainnya adalah, “Mimpi tidak pernah mati, sekalipun sang pemilik meninggal dunia.” Karena kenyataannya, banyak dari mereka yang sudah berpulang, tetapi hadir melalui mimpi orang terdekat untuk menceritakan mimpi mereka yang belum sempat terwujud itu. Termasuk aku.
Tidak, aku belum mati, dan aku tidak bangkit dari mati. Namun, 2 tahun tidak berhasil membunuh mimpiku.
Ini, cerita pertama yang aku buat berdasarkan pengalaman nyata, berdasarkan apa yang benar-benar terjadi dan berhasil aku hadapi dalam beberapa tahun terakhir.
Takdir memang tidak pernah berhasil ditebak, banyak pertanyaan yang terlintas di kepala, terutama tentang, “Mengapa semua ini terjadi?” Dan memang, semua benar-benar tidak pernah ada di rencana hidupku. Semua berjalan dengan sendirinya, tanpa tebakan, pertanda, atau apapun. Semua berjalan sempurna.
Atas banyaknya rasa tidak terima, perasaan tidak diadili, rasa tidak percaya diri untuk kembali bermimpi, akhirnya semua berubah menjadi “Oh ini, alasan kenapa kemarin aku gapernah sampai?”
Padahal sebetulnya, gap year bukanlah hal yang buruk. Gap year justru menjadi hal yang paling tepat untuk lebih bisa memahami diri sendiri, selama masa itu diisi dengan hal yang menyenangkan dan menguntungkan.
Aku pribadi, mengisi 2 tahun berhargaku untuk bekerja, dan mencari tabungan untuk persiapan awalku sebelum kuliah. Dan dari situ, aku justru mengetahui passionku dalam bekerja. Aku ini tipikal anak yang senang bekerja di bidang yang bertemu langsung dengan customer.
Tahun pertama, aku isi dengan bekerja sebagai crew outlet di salah satu usaha minuman. Di sana, aku berhasil memahami dasar menyajikan minuman. Selain itu, aku juga berhasil memiliki tim yang supportif, tim yang menyenangkan dan senang berbagi cerita yang membahagiakan. Bahkan, sampai detik ini kami masih berteman baik, meskipun satu di antara kami sudah merantau ke luar negeri, tapi itu sama sekali tidak menghalangi komunikasi kami.
Tahun kedua, aku isi dengan bekerja sebagai crew di salah satu perusahaan retail terbesar di Indonesia. Di sana, aku juga berhasil berteman baik dengan personal toko lainnya. Bahkan, tabungan yang aku punya untuk masa awal kuliah inipun berasal dari sana. Tabunganku tentu tidak banyak, aku bekerja dengan gaji UMR Cirebon, jarak belasan kilometer dari rumah, generasi sandwitch, dan jangka bekerjaku pun tidak genap satu tahun. Tapi setidaknya, cukup untuk membeli laptop, membayar UKT dan membeli perlengkapan kuliah.
Jangka bekerjaku yang tidak genap satu tahun ini, dikarenakan aku perlu mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.
Fun fact, aku merupakan peserta yang lolos SNBP tahun 2024 lalu. Di salah satu Politeknik Negeri yang terletak di Pulau Jawa. Sayangnya, karena terkendala biaya, kekhawatiran tinggi, dan takut akan dunia luar, membuatku menyerah di awal. Eits… Tapi aku sempat daftar ulang, ya… Jadi sekolahku masih aman. Dan faktanya, aku lulusan pertama dari sekolahku yang berhasil lolos di politeknik tersebut.
Banyak yang setuju bahwa kondisi ekonomi yang tidak baik, merupakan penghalang utama untuk banyak orang bermimpi. Akupun merasakan hal yang sama. Meski sudah 2 tahun mengumpulkan uang, itu tentu tidak cukup untuk menanggung biaya hidupku hingga 4 tahun ke depan. Kita tetap membutuhkan beasiswa. Yang menjadi permasalahan adalah informasi terkait beasiswa yang ada dan jumlah pejuang pendidikan yang tidak seimbang, ditambah lagi kurangnya support untuk kita membuka usaha sambil kuliah (atau tidak adanya yang memberikan modal).
Berulang kali bertanya, “Apa aku layak untuk memperjuangkan kembali mimpiku yang sudah mati?” “Apa nantinya aku akan tiba di sana?” “Bagaimana kalau akhirnya tetap tidak sesuai?” Padahal, itu tidak seharusnya terlintas di kepala, itu hanyalah penghambat untuk kita mau berusaha. Untuk mencapai titik keberhasilan, ada banyak sekali yang harus dikorbankan, terutama waktu. Aku pribadi memiliki target sendiri akan hidupku, kalau ternyata aku gagal lagi, itu berarti aku harus menambah waktu untuk aku bekerja, dan mengundur target menikah, haha.
Ada hal yang paling baik dari semua ketakutan itu, yaitu aku yang mulai menyadari bahwa hidup memang tidak selalu sempurna, banyak dari kita yang terlihat tenang bukan karna benar-benar merasa tidak masalah akan semuanya, tapi karna kita tidak memiliki orang yang dapat dipercaya untuk mengetahui segalanya. Aku tahu, karena aku juga ada di sana. Tapi itu dulu. Sekarang, hidupku sudah berbeda, aku memiliki banyak manusia supportif di hidupku.
Padahal, tidak ada salahnya berbagi cerita dengan orang terdekat. Itu justru bagus untuk kita dapat mengetahui bagaimana cara oranglain menyelesaikan masalahnya.
Hari ini, aku hadir dengan pribadi yang lebih berani, berani bercerita, berani menerima masukan dan arahan dari oranglain. Awalnya memang terasa begitu aneh dan tidak nyaman, karena aku beranggapan kalau mereka terlalu ikut campur akan permasalahan hidupku. Namun, lama kelamaan, aku mulai paham setelah waktu menjawabnya secara perlahan.
Teruntuk Faras, Indri, Nandar, Yumna, dan Ghina yang berhasil menjadi nyawa, aku ucapkan terima kasih karena berhasil membuatku tetap hidup seperti sekarang. Atas banyak cerita tidak menyenangkan, ribuan rasa ragu, dan takut yang tidak ada habisnya, namun berhasil aku kalahkan hari ini. Ini tentu bukan sepenuhnya karena inginku, ada campur tangan mereka setiap harinya, juga izin dan doa terbaik dari kedua orang tuaku.
Oiya, ada lagi loh yang berubah dari hidupku. Sebenarnya, dulu, saat aku memilih resign dari kerjaanku (15 April 2026 lalu) untuk melanjutkan pendidikan, dan keluargaku mengetahui akan hal itu, mereka sempat sedikit berkomentar. “Buat apa sih kuliah tuh? Enak juga kerja, dapet uang, kamu bisa beli apa aja yang kamu mau.” Itu bukan kali pertama mereka mengucapkannya, pernah juga sebelumnya, di tahun 2024 lalu. Dan aku menyadari satu hal, perbedaan perasaan yang aku alami saat kalimat itu diucapkan.
Dulu, ketika mendengar hal tersebut, rasanya seperti sangat sakit hati, marah, benci, dan merasa sendiri dalam memperjuangkan mimpi. Tapi sekarang, aku mulai menerima semuanya. Karena, “Mimpi adalah tanggung jawab pribadi.” Kita tidak seharusnya mendengarkan komentar tidak menyenangkan dari mereka, tugas kita hanya fokus pada usaha, perjuangkan mimpi sebaik mungkin. Kalau tidak sesuai, jangan langsung menyerah, cari jalan lain yang mungkin menghadirkan hal yang menyenangkan untuk hidupmu.
Dan katanya, “Jangan mengharapkan support dari orang terdekat, karena itu tidak akan pernah hadir,” aku rasa, mungkin saja semua benar adanya.
Tapi, jangan pernah lupa kalau roda kehidupan tetap dapat berputar. Kita tidak akan selamanya berada di bawah. Selama kamu konsisten dengan usahamu, fokus pada tujuan utama dan cita-citamu, takdir bisa saja menyapamu dengan penuh ramah.
Hari ini, aku sampaikan bahwa keluargaku sudah memberikan dukungan penuh untuk aku dapat melanjutkan Pendidikan. “Kuliah dimana aja ya, Ce, yang penting belajarnya fokus. Kamu di sana jangan pacaran dulu, kamu pergi dengan niat Pendidikan, pulang harus jadi orang yang terdidik” ucap sepupuku.
Aku tentu menangis membaca kalimat tersebut. Ternyata, dukungan tetap bisa hadir dari orang terdekat. Asalkan satu, jangan pernah berhenti mencoba dan berusaha.
Selain itu, story kegiatan Leadership Camp aku disukai oleh semua angggota keluargaku. Woahhh… Aku seperti hidup kembali.
Aku merupakan lulusan dari salah satu SMKN di Kabupaten Cirebon, jurusan Akuntansi. Namun, karena banyak hal yang terjadi di hidupku, membuat aku bermimpi sesuatu yang baru, yaitu menjadi Psikolog/ Konselor. Sayangnya, aku terkendala untuk bisa sampai ke sana.
Di atas sudah disebutkan kalau aku merupakan salah satu peserta yang lolos SNBP, dan itu menjadi kendala utamanya, karena membuatku tidak bisa mengikuti SNBT hingga tahun terakhirku.
Aku sebenarnya mengikuti beberapa ujian mandiri, ada TMBK-Universitas Negeri Malang, dan UM-PTKIN. Di TMBK, alhamdulillah aku berhasil lolos di prodi Psikologi (WOAHHH… APRESIASI AKU PLIS KARNA BERHASIL LOLOS PSIKOLOGI UM). Tapi karena terkendala biaya, aku memilih untuk mundur. “Tapikan ada KIPK.” Berdasarkan informasi yang aku peroleh dari banyak sumber, UM tidak menerima KIPK di seluruh jalur mandirinya. Dan untungnya, aku lolos di pilihan 1 UM-PTKIN, Akuntansi Syari’ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Tapi, aku mau sharing juga di sini terkait kondisi aku sebelum hari ini, karena faktanya, semua tidak semulus yang tertulis.
Kita flashback ke awal 2026 dulu, gapapa, ya?
Kalian perlu tau kalau aku sungguh-sungguh dalam mengejar PTN kali ini, maka dari itu, aku mendaftar beasiswa belajar di Mandiri Amal Institute. Saat itu, aku mendapatkan informasi kalau aku lolos pemberkasan dan aku mendapat jadwal wawancara di hari yang sama. 10 Februari 2026, pagi hari, saat itu aku baru memulai pekerjaan, aku mendapati ponsel yang penuh dengan notifikasi. Ternyata, itu berasal dari grup dan mentor pracamp aku.
Malamnya, pukul 20:00, aku mulai wawancara terkait keseriusanku dalam mengikuti program. Setelah selesai, aku disuruh menunggu hasilnya. Menariknya, wawancara itu diadakan tanggal 10 Februari, dan tanggal 11 Februari, aku ulang tahun.
Setelah menunggu beberapa waktu, aku dinyatakan lolos dan diberi kesempatan untuk melanjutkan kegiatan Learning Camp MAI.
Selama kegiatan berlangsung, aku mengikuti semuanya, webinar, makrab, tugas yang dibagikan di web, dan kegiatan zoom lainnya. Bukan tanpa alasan, aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa memberikan yang terbaik, karena aku mengetahui program ini dari Nandar, teman satu kelasku di SMK dulu.
Dan ternyata, ambisi ini mempertemukanku dengan salah satu teman sekelompok yang memiliki kesamaan denganku.
Awalnya, aku menginformasikan kepada mentorku kalau tugas yang aku submit di web memiliki keterangan terlambat, padahal deadlinenya besok malam. Lalu, temanku menyautkan di grup terkait hal serupa. Dari situ, aku memberanikan diri untuk mengiriminya pesan secara pribadi. Dan gongnya, TERNYATA PTN TUJUAN KITA SAMA, UNIVERSITAS NEGERI MALANG.
Namanya Yumna, kita memiliki banyak kesamaan. Selain PTN tadi, ternyata kita sama-sama lahir di bulan Februari, kita berdua juga gap year dan anak pertama. Yang paling mengejutkan di akhir adalah ketika aku mengetahui kalau mama kita lahir di bulan yang sama, Mei, itu benar-benar membuatku melongo.
Meskipun kami berdua baru saling mengenal, tapi sudah banyak bertukar cerita, bahkan hingga ke permasalahan pribadi sekalipun. Sejauh ini, dia selalu jadi orang pertama yang support aku di Learning Camp. Dan ketika di tahap selanjutnya kita tidak satu kelompok, komunikasi kita tetap berlangsung baik. Kita juga mempunyai target yang sama, yaitu ikut Leadership Camp, dan kuliah di Malang.
Karena aku ini bekerja di toko retail Rest Area, jarak belasan Kilometer dari rumah, jujur bikin hampir meninggal banget. Pulang selalu setelah matahari terbenam, belum lagi era mudik yang bikin aku di rumah cuma buat merem bentar dan mandi doang, itu bener-bener bikin aku pengen banget buat nyerah.
Berkali-kali konsultasi sama mentor buat selesai dan ga lanjut program, tapi mentorku selalu berhasil ngasi arahan dan mempertahankan aku. Selain itu, ada Ghina dan Yumna juga yang tentunya menjadi supporter utamaku. Kalau Yumna teman kelompokku saat Pra Learning Camp, Ghina ini teman sekelompokku di Learning Camp.
Ghina ini kepribadiannya sangat tenang. Aku ingat betul, saat itu menjelang pengumuman SNBP, semua anggota kelompok terlibat dalam pembuatan video, termasuk aku. Video sudah selesai, tinggal tahap editing, tapi H-1 pengumuman SNBP, aku baru sadar kalau kita salah konsep. Alhasil, mau tidak mau, kita mengulang pembuatan video.
Ternyata, hari itu kita belum berhasil menyelesaikan konsep video. Sedihnya lagi, tanggal 31 Maret, tepat saat pengumuman SNBP, banyak peserta yang menarik diri dari peran dalam video tersebut. Aku tentu tidak bisa marah, karena aku paham sekali bagaimana rasanya.
“Gapapa ya, Ghin, kita selesaikan tugas video ini berdua” ucapku ke Ghina, melalui panggilan telepon di malam hari. Saat itu, jujur, aku benar-benar kelelahan. Tokoku masih ramai karena arus mudik, itupun aku pulang malam, padahal masuk pagi. Tapi aku sadar, kalau aku egois, Ghina jauh lebih kasihan karena harus handle semuanya sendiri.
Untungnya, esok hari, aku mendapat jadwal libur, semesta seolah menyuruhku untuk fokus dengan tanggung jawabku di kelompok. Dan seharian penuh itu aku isi dengan editing dan take beberapa tugas video yang memang masih kosong.
Hingga akhirnya, sore menjelang malam hari setelah teman-teman merasa tenang, mereka mulai memberanikan diri untuk membuka ponsel dan menghubungi kami. (Jadi, kelompok kami ini terdiri dengan agit dan manusia gap year yaa, aku dan Ghina ini sama-sama gap year. Ini biar pembaca gak bingung). Di situ kita konfirmasi hasil, barulah aku istirahat dan menjauhkan diri dari ponsel.
Aku mengapresiasi usaha Ghina dalam menghandle tugas video, begitupun sebaliknya.
Hal yang perlu aku mention di sini, 25 Maret 2026, saat aku selesai shift dan ditugaskan untuk menukar uang, aku dan rekan satu shift mampir sebentar untuk makan bersama. Karena saat itu pendaftaran SNBT dan aku sangat antusias untuk ikut, tepat ketika aku tiba di tempat makan, aku mulai membuka web pendaftaran UTBK itu.
Badanku bergetar hebat, tenggorokanku terasa seperti ada yang mengganjal, dadaku sesak. Kemudian dengan tanpa sadar, air mataku terjatuh. Aku mendapat informasi kalau aku tidak dapat mengikuti SNBT, karena aku pernah lolos di jalur SNBP 2024 lalu. Gila, sakit sekali rasanya. Apalagi aku sudah mempersiapkan banyak hal untuk UTBK tahun ini, sudah deal akan resign dari pekerjaanku setelah mendaftar UTBK, juga sempat ribut besar dengan rekan tokoku pagi itu. Rasanya sangat gila, 25 Maret adalah hari terburukku.
Makanan sudah dihidangkan, tapi seleraku hilang. Aku memilih untuk membungkus makanan yang aku pesan sambil menunggu temanku selesai makan. Setelah selesai, aku pulang menerobos hujan yang sangat deras sore itu, menuju rumah dengan jarak 14 Kilometer. Gemetar dingin yang bercampur dengan sakit hati sore itu, menjadi satu.
Selama perjalanan, air mataku tak berhenti, sakit, kecewa, menyerah, takut, dan banyak perasaan lain yang tidak bisa diceritakan. Dinginnya hujan hari itu, kalah dengan panasnya isi kepalaku. Aku seperti, mengaku kalah.
Dua tahun fokus memperbaiki diri, menyiapkan mental, mengumpulkan tabungan, membaca buku Self-Improvement, ternyata berakhir seperti itu.
Hingga ketika aku tiba di rumah, aku mendapati kedua orang tuaku yang sudah siap dengan kameranya.
Aku tahu, awalnya mereka khawatir karna sebelumnya aku bercerita kalau aku bertengkar hebat dengan rekan kerjaku. Bahkan, ketika baru masuk rumah, aku menangis hebat di sana. Dengan pakaian yang masih basah kuyup, aku merebahkan badanku di kasur, dan tangisan yang tidak berhenti tentunya. Ini adalah kali pertama aku menangis hebat di rumah.
Orang tuaku tentu bingung, mereka pikir aku menangis karena masalah tadi pagi. Padahal, aku menangis karena tidak bisa mengikuti UTBK.
Mamaku hanya memelukku, namun dapat aku rasakan bingungnya mereka menenangkanku. Dan kalau diingat-ingat, masih sakit rasanya kalau harus melihat aku di hari itu. Pagi harinya ribut besar dengan salah satu personil toko karena masalah kecil, sorenya mendapat informasi tidak dapat mengikuti UTBK, dan aku menerobos hujan, padahal malam sebelum hari itu badanku demam.
Alhasil, malam harinya aku kembali demam menggigil.
“Ayo kita beli buku, aku yang bayar, dengan syarat kamu jangan sedih lagi” ucap Indri.
“Gapapa, masih banyak jalur kok, kamu bisa coba mandiri, atau UM-PTKIN” ucap Faras, Nandar, dan Yumna mirip-mirip.
Tapi meski begitu, besok harinya aku tetap kembali bekerja. Tokoku sangat ramai kala itu. Badanku masih demam, tapi salah satu rekan kerjaku sakit tipes dan masuk rumah sakit. Jam kerja menjadi tidak karuan, kita mengulur waktu lebih banyak. Tak jarang aku tiba di rumah pukul 21:00, padahal aku datang sebelum jam 07:00. Pernah juga tiba di rumah pukul 01:30 dini hari, ini ketika aku tiba di toko sebelum pukul 14:00.
Jam kerja yang tidak sesuai tentu bertabrakan dengan jadwalku mengerjakan tugas dan belajar, berkali-kali izin tidak mengikuti zoom pembelajaran karena harus fokus dengan kerjaan.
Hingga akhirnya, aku memilih untuk resign. Awalnya sempat menyesal, karena itu berarti tabunganku tidak akan mencapai target utama. Tapi siapa sangka, 4 hari setelah memutuskan berhenti bekerja, aku diberi sakit serius. Badanku demam tinggi selama seminggu, setelah demam sembuh, asam lambungku kambuh. Bahkan ketika intensif belajar mandiri dimulai, aku belum 100% sembuh dari sakitku.
Tapi, satu tekadku, “Aku harus maksimal.”
Lebih baik mengusahakan semuanya sampai mati-matian, daripada bertahan hidup dengan penuh penyesalan karena tidak pernah mengusahakan itu secara maksimal.
Selama kegiatan intensif mandiri, aku mengikuti seluruh tahapan, bahkan tidak pernah bolos kelas. Try Out aku kerjakan dengan sungguh-sungguh. Sayangnya, otak tidak pernah berbohong, apalagi aku lulusan SMKN, tidak pernah ada mata pelajaran rumpun Soshum yang diajarkan. Dan ketika itu di bahas di kelas, aku seperti orang bodoh. Bahkan sebutannya saja sangat asing di telingaku.
Ketika akhirnya hari pengumuman UTBK tiba, sangat senang rasanya karena berhasil melihat Yumna yang benar-benar lolos di PTN impian kita. Dan Ghina yang tentu saja lolos juga!
Dari situ, ambisi aku membara. Setelah melihat dua temanku berhasil, aku seperti semakin terdorong dengan kenyataan kalau aku harus berhasil juga.
Akhirnya, hari yang ditunggu pun tiba, 06 Juni 2026, aku melaksanakan TMBK di Kota Bandung. Di sana, aku memiliki dua teman baru, yaitu Kak Alya dan Kezia. Menariknya, ternyata Kezia juga mendaftar prodi yang sama denganku, Psikologi. Sayangnya, kita tidak sempat bertukar kontak karena Kezia terburu-buru. Dan satu lagi, ternyata Kak Alya lulusan 2021, benar, dia memilih gap 5 tahun.
Kesan pertama ketika aku mengetahui itu adalah kagum. Aku menjadi semakin yakin dengan kalimat bahwa, “Mimpi tidak pernah mati, sekalipun sang pemilik meninggal dunia.” Kak Alya menjadi tokoh yang sangat menginspirasi menurutku, karena ia tetap mau memperjuangkan mimpinya, bahkan setelah jeda 5 tahun sekalipun. Wataknya baik dan menyenangkan, meskipun tentu lebih tua dari kita, tapi ia rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Dan satu hal lain yang aku suka darinya adalah dia tidak minder dalam mengusahakan mimpinya, ia tidak mundur karena usianya.
Hadirnya seperti membuktikan kalau mengejar mimpi bisa di usia berapa saja. Karena ketika aku tahu ia merupakan lulusan 2021, rasa pertama yang muncul di hatiku adalah bangga. Aku pikir, bisa jadi oranglain juga merasakan hal yang sama, ketika mendengar hal tersebut.
Setelah pulang dari ujian mandiri, aku mendapat pesan dari teman-temanku yang sebelumnya lolos SNBT, mereka ternyata mendapat undangan Leadership Camp dari Mandiri Amal Insani. Mereka juga memastikan apakah aku mendapatkannya juga, atau tidak. Sayangnya, jawabannya adalah TIDAK.
Sakit hatiku tentu berkali lipat dari sebelumnya. Apalagi aku sudah berusaha maksimal dengan seluruh kegiatan yang ada, aku ikuti semuanya meski di beberapa sesi harus izin karena arus mudik. Tidak jarang aku zoom di perjalanan, sering pula masuk zoom di tempat kerja, ponselnya aku sambung ke earphone, dan aku taruh ponsel beserta earphone itu di belakang, aku tetap bekerja di depan (tidak untuk ditiru ya, teman-teman). Hafalan yang sudah selesai, kontribusi yang besar di kelompok, dan banyak lainnya yang ternyata tidak cukup untuk menebus syarat utama mengikuti Leadership Camp, yaitu LOLOS PTN.
Aku mengaku kalah berulang kali waktu itu. Meski sebenarnya sangat susah untuk ikhlas, tapi aku selalu berusaha.
Kembali ke Cirebon, belajar untuk UM-PTKIN, kemudian melaksanakannya di UIN SSC. Di sana, aku bertemu dengan teman baru, aku tidak sempat menanyakan nama dan nomor ponselnya, yang pasti, dia memilih prodi Akuntansi Syari’ah di pilihan kedua.
Karena ruang ujian kita berbeda, kita akhirnya berpisah. Dan saat berbaris sesuai ruang ujian, aku bertemu dengan teman baru, namanya Salsa. Gongnya, ternyata dia gap year juga, dan dia memilih prodi Akuntansi Syari’ah di pilihan pertamanya.
Hari itu, kita banyak berbincang sebelum akhirnya kembali ke rumah.
Tak jarang, aku mendapat informasi terkait kuota Leadership Camp yang masih belum penuh itu. Tapi, persyaratan utamanya harus lolos PTN lebih dulu. Sedangkan pengumuman TMBK baru akan muncul tanggal 20 nanti, berbarengan dengan pelaksanaan kegiatan Leadership Camp. Akhinya, aku tidak mendaftar.
Berkali-kali menangis setiap malam karena kenyataan usaha 5 bulan yang tidak membuahkan hasil manis. Tapi aku juga gabisa menyalahkan siapapun, karena sejak awal, ketentuan mengikuti Leadership Camp memang harus lolos PTN lebih duu.
Entah rezeki darimana, datang sebuah keajaiban yang tidak pernah terpikir akan semendadak itu. Tapi, “Apa yang sudah ditakdirkan untuk kita, akan selalu sampai ke diri kita, sekalipun itu terdengar sangat tidak mungkin.”
Tiba-tiba, aku mendapat informasi dari pejuang mandiri UM, kalau pengumuman TMBK dimajukan di hari itu juga. Pukul 17:00 tanggal 18 Juni 2026. Aku yang baru saja selesai bermain dengan sepupuku yang masih batita, langsung melongo dan beranjak bangun. Aku mandi dan bersiap untuk mengambil video saat membuka pengumuman.
Dan, tentu saja, AKU LOLOS!!!
Pilihan 1, prodi Psikologi Universitas Negeri Malang.
Sayangnya, tidak bisa KIPK.
Oke, bukan masalah besar, bisa jadi ini sinyal untuk aku ikut Leadership Camp.
Detik itu juga, aku mendaftarkan diri untuk mengikuti Leadership Camp. Untungnya, panitia sangat fast respon sore itu, dan aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Setelah Sholat Maghrib, aku beranjak dan mempersiapkan semuanya. Membeli perlengkapan yang ditugaskan, print name tag dan name bag, dan banyak lainnya. Aku juga langsung merapikan pakaianku malam itu juga.
“Yaampun, belum MCU” ucapku.
“Besok pagi keburu gak ya? Jam segini Puskesmas udah tutup”
Tentu saja, jam sudah menunjukkan setengah 10 malam.
Meski sangat lelah dan kewalahan, aku justru senang karena berhasil mendapat kuota di kegiatan Leadership Camp ini. Penantian lama, rencana yang sudah dibuat sejak awal bersama Yumna, akhirnya berhasil diraih.
Hari berganti, aku masih merapikan pakaian. Hingga akhirnya, pukul 02:30 tiba, aku baru selesai dengan kegiatanku. Akhirnya, aku memilih untuk tidur.
Pagi hari, aku mengantar Mama ke jalan sebelum akhirnya menaiki angkutan umum untuk melakukan check up jantung. Setelahnya, aku pulang, membersihkan diri dan pergi ke puskesmas untuk melakukan medical check up dan membuat surat keterangan sehat. Setelahnya, aku pulang untuk makan dan merapikan dokumen sebelum akhirnya aku pergi ke Bandung. Di pertengahan hari, barulah aku pergi membawa 2 tas besar dan 2 tas sedang. Mama menungguku di tempat yang sama, dengan saat aku mengantarkan Mama. Baru setelahnya, aku pergi sendiri ke Bandung, menaiki Bus.
Selama di perjalanan, banyak perasaan yang bercampur, tapi semuanya bahagia. Aku bahkan membuat twibbon di bus, saat sedang pusing dengan perjalanan, Yumna menyuruhku untuk segera memposting twibbon, karena deadlinenya pukul 16:00.
Aku tiba sore hari, sepupuku (berbeda dengan yang diceritakan di atas), menyambutku dengan baik. Aku meminta izin untuk menginap sebelum besok harus pergi ke titik kumpul.
Esok paginya, aku membuka grup peserta Leadership Camp, sangat senang rasanya karena berhasil melihat mereka yang penuh antusias di perjalanan.
Satu hal yang aku ambil, ternyata kita semua punya cobaannya masing-masing di perjalanan. Ada Yumna yang menggigil ketika melewati Bandung Barat, Fanny yang tertinggal kereta, Amel yang salah alamat, dia paling gong karena harus naik mobil kolbak yang diberhentikan ibu-ibu, banyak deh pokoknya. Aku sadar kalau kita semua berusaha, hanya saja, bentuk rintangannya memang berbeda, tapi point utamanya sama, semua berusaha untuk tiba di sana.
Delapan hari kegiatan Leadership Camp, aku pulang dan beristirahat semauku. Hingga tibalah saatnya, tanggal 30 Juni kemarin, adalah waktu pengumuman UM-PTKIN.
Aku meminta Nandar untuk menemaniku membuka pengumuman, karena dia berkuliah di UIN. Dan yang mengejutkan adalah kenyataan kalau aku lolos di pilihan pertama juga. UIN Sunan Gunung Djati Bandung, berhasil aku raih. Sesuatu hal yang bahkan sampai sekarang rasanya seperti mimpi, karena aku mengerjakannya dengan tidak yakin, apalagi bagian Arab dan BTQ.
Tapi, balik lagi, “Apa yang sudah ditakdirkan untukmu, akan tersampaikan padamu, meskipun itu terdengar sangat tidak mungkin sekalipun”
Ketika aku tiba di rumah, Mama menyambutku dengan pelukan hangat. “Alhamdulillah ya Allah, dikasih anak cerdas semua. Adekmu baru lolos SMPN1, kamu lolos pil 1 dua kali.”
Pesan terbaik yang aku ambil adalah, “Jangan pernah berhenti berusaha, jalan menuju kesuksesan tidak hanya 1. Kalau ternyata hari ini kamu berdiri di jalan yang tidak kamu inginkan, cobalah untuk pahami secara detail, pelajari dan terima jalan itu dengan baik, sambil kamu ingat-ingat kembali, kebaikan apa yang sudah kamu terima selama ada di sana”
Meski jujur, sulit rasanya untuk harus melepaskan Psikologi Universitas Negeri Malang, tapi mungkin memang di masa depan karirku bukan di sana. Bahkan mungkin juga kalau sebenarnya takdirku adalah menjadi akuntan
Hiduplah dengan baik, mulailah ikhlas dengan hal-hal yang tidak ditakdirkan untukmu, cari makna hidupmu yang sekarang. Percayalah, hanya dengan itu kamu bisa menikmati hidupmu.
Jangan pernah menyerah, kalau mimpimu terasa tidak mungkin digapai hari ini, masih ada hari esok untuk kembali bangkit. Eits… tapi bukan berarti kamu harus menunda rencana, ya!! Baiknya segera diusahakan, tapi tidak ada salahnya juga memberi jeda untuk menenangkan pikiran dan memikirkannya secara mendalan.
Semangat, pejuang mimpi tidak layak tumbang hanya karna gagal sekali!
Karya asli, milik Wulan Suci Indriyani
