KAMPUS yang MENJADI TEMPAT KERAGUANKU, KINI MENJADI TEMPAT BERTUMBUH
Pendahuluan
Gelar sarjana adalah suatu hal sederhana yang sangat diimpikan oleh semua orang dari berbagai kalangan. Oleh karena itu, menjadi mahasiswa merupakan impian terbesar dan momen yang ditunggu sejak masih duduk di bangku sekolah menengah ke atas, karena pendidikan merupakan jalan awal untuk menuju masa depan dan langkah awal untuk mencapai cita-cita. Akan tetapi, berbeda dengan yang saya alami selama sebelum menjadi mahasiswa, berbagai tantangan saya hadapi sebelum memasuki dunia perkuliahan, mulai dari tidak dapat izin orang tua untuk memasuki universitas impian, keraguan terus-menerus yang membuat saya takut melangkah hingga takut dalam mengambil keputusan dalam memilih program studi. Dari berbagai semua yang saya hadapi, saya menyadari bahwa pengalaman yang pernah saya hadapi membuat diri saya memiliki jiwa yang berani dan lebih kuat. Dengan artikel ini, saya menyampaikan kisah perjalanan saya sebagai motivasi bagi semua orang yang sedang berusaha meraih impian dan melawan semua keraguannya.
Isi
Ketika saya ditanya tentang kuliah, jujur saja saya bingung harus bagaimana menjawabnya, karena kuliah bukan bagian rencana dari hidup saya sejak dulu. Pada saat saya masih menduduki bangku sekolah menengah ke atas kelas XII, semua siswa/i dikumpulkan pada sebuah aula untuk pendataan nama universitas yang akan kami tuju selanjutnya, di situ saya hanya bisa diam, kebingungan, takut dan ragu, karena saya berpikir apa yang akan saya lakukan. Di sisi lain, teman-teman saya mencari-cari informasi tentang universitas yang mereka impikan. Sejak saat itu juga saya terbesit dalam sebuah pikiran bahwa saya ingin memasuki Universitas Brawijaya dan mengambil program studi Sastra Inggris, alasan saya memilih Sastra Inggris karena saya menyukai pelajaran Bahasa Inggris serta memilih universitas tersebut karena keluarga saya banyak yang berada di Jawa Timur, jadi saya berpikir akan lebih mudah izin ke orang tua untuk berkuliah di sana.
Sembari menunggu kelulusan sekolah, saya berjuang belajar hal-hal mendasar Bahasa Inggris hingga membeli kamus Bahasa Inggris edisi terbaru. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai memberanikan diri untuk membicarakan tentang universitas yang saya inginkan, tetapi orang tua saya terutama ibu tidak memberikan izin untuk saya berkuliah di sana. Waktu itu hal pertama yang saya rasakan adalah sedih, saya cuma bisa diam dan tidak bisa berbuat apapun, karena bagaimanapun alasan saya untuk berkuliah di sana mereka tidak setuju, alasannya jarak yang sangat jauh dari Kalimantan ke Jawa, hal itulah yang membuat mereka khawatir terlebih lagi saya anak perempuan.
Setelah kelulusan sekolah, saya sempat bingung dan bertanya kepada ibu bahwasanya saya harus bagaimana dan berkuliah di mana sedangkan di daerah kami tidak ada program studi yang bersangkutan dengan Bahasa Inggris. Ibu saya bilang bahwa saya sebaiknya kuliah di dekat rumah sini saja, tidak sampai 5 menit jalan kaki sudah sampai karena begitu sangat dekat. Perasaan saya campur aduk karena meskipun rumah saya dekat dengan kampus tersebut, tetapi saya tidak pernah terpikir bahwa saya akan berkuliah di kampus itu. Saya hanya diam dan merenung serta bingung program studi apa yang akan saya ambil, karena pada kampus itu hanya ada program studi Agroteknologi dan Agribisnis. Dari situlah saya merasa ragu, takut dan putus asa, karena pada dasarnya waktu saya sekolah, jurusan yang saya ambil adalah Multimedia, saya merasa sangat jauh dan tidak ada hubungannya dengan pertanian, di situ juga saya merasa tersesat dan takut salah langkah.
Pada saat pendaftaran kuliah, akhirnya saya yakin untuk mengambil program studi Agroteknologi. Saya pun mulai mempersiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran serta mengikuti tes secara online, beruntungnya saya termasuk pendaftar tercepat dengan nomor urut dua yang di mana salah satu syaratnya bagi sepuluh siswa/i tercepat mendaftar maka tidak perlu melakukan tes dan langsung dinyatakan lulus, tidak lama kemudian saya diberitahu untuk tidak perlu mengikuti tes karena saya termasuk pendaftar nomor urut dua. Pada akhirnya, hari pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru pun tiba dan saya resmi menjadi bagian mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Amuntai yang di mana kampus ini adalah perguruan tinggi swasta. Seiring berjalannya waktu, saya merasa senang menjadi mahasiswi aktif dan bersyukur menjalani sehari-hari di kampus yang bahkan kampus itu tidak pernah saya bayangkan.
Penutup
Setelah melewati berbagai rintangan dan keraguan, saya menyadari bahwa menjalani jalan yang bukan kita rencanakan itu bukan berarti akan berakhir buruk. Meskipun saya harus mengikhlaskan untuk tidak berkuliah di universitas yang saya impikan, hal ini membuat saya menemukan banyak pengalaman, pembelajaran serta menemukan kesempatan berharga yang tidak pernah saya temui sebelumnya. Perjalanan hidup saya membantu diri saya sendiri lebih berkembang, ikhlas, sabar, kuat, percaya kepada kemampuan diri dan pantang menyerah dengan semua apa yang saya hadapi. Besar harapan saya kisah ini dapat menjadi nasihat bahwa gagal dalam mencapai apa yang kita inginkan bukan berarti diri kita berakhir sampai di situ saja, melainkan awal diri kita akan lebih banyak menemukan kesempatan yang lebih baik daripada apa yang kita rencanakan.
