Mimpi yang Tidak Diwariskan: Perjuangan Menggapai Pendidikan di Tengah Keterbatasan
Oleh: Aufa Minahus Saniyyah
"Ibu kamu dulu saja gagal jadi guru, mau sekolah tinggi mengharapkan apa?"
Kalimat itu masih melekat jelas dalam ingatan saya meskipun telah berlalu bertahun-tahun. Saya mendengarnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, diucapkan oleh guru saya, seseorang yang seharusnya menjadi ruang aman bagi muridnya untuk tumbuh dan percaya pada dirinya sendiri. Pada usia itu, saya belum memahami makna stigma ataupun diskriminasi. Saya hanya tahu bahwa setelah mendengar kalimat tersebut, saya pulang dengan membawa satu pertanyaan yang terus memenuhi kepala saya: apakah mimpi seorang anak memang ditentukan oleh masa lalu orang tuanya?
Saat itu saya tidak menangis. Saya hanya diam. Namun, diam saya hari itu berubah menjadi sebuah janji yang saya simpan rapat selama bertahun-tahun: suatu hari nanti, saya akan membuktikan bahwa mimpi seorang anak tidak diwarisi dari kegagalan orang tuanya.
Seiring bertambahnya waktu, saya menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Kalimat yang dahulu terdengar seperti vonis justru menjadi alasan mengapa saya semakin yakin untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Saya ingin membuktikan, terutama kepada diri sendiri, bahwa masa depan dibentuk oleh pilihan, kerja keras, dan keberanian untuk terus melangkah, bukan oleh penilaian orang lain ataupun keterbatasan yang diwariskan keadaan. Pendidikan kemudian menjadi jalan yang saya pilih untuk memutus anggapan bahwa latar belakang keluarga menentukan batas masa depan seseorang.
Perjalanan menuju cita-cita tersebut tidak pernah mudah. Sejak SMA, saya sadar bahwa kuliah bukan sesuatu yang bisa saya anggap pasti. Biayanya terlalu besar bagi kondisi keluarga kami. Karena itu, saya menetapkan satu target yang tidak boleh gagal saya capai: tetap berada di tiga besar agar beasiswa sekolah tetap saya terima. Nilai bagi teman-teman saya mungkin hanya angka di rapor. Bagi saya, nilai adalah kesempatan untuk meringankan beban orang tua.
Di balik nilai-nilai yang tercantum di rapor, terdapat banyak pengorbanan yang mungkin tidak terlihat. Ada malam-malam ketika saya harus belajar hingga larut, menahan rasa lelah, dan terus meyakinkan diri bahwa usaha hari itu akan menjadi jalan bagi masa depan saya. Saya memahami bahwa saya tidak memiliki banyak kemewahan untuk gagal. Karena itu, saya menjadikan setiap kesempatan belajar sebagai bentuk ikhtiar agar suatu hari nanti saya dapat mengubah keadaan keluarga melalui pendidikan.
Di sela-sela belajar, saya hampir tidak pernah melewatkan kesempatan mengikuti perlombaan. Saya mengikuti lomba esai, karya tulis, presentasi, hingga berbagai kompetisi lainnya. Lebih banyak saya pulang tanpa membawa piala daripada membawa kemenangan. Namun, setiap kali gagal, saya selalu pulang dengan satu hal yang tidak saya miliki sebelumnya: pengalaman.
Puncak perjuangan itu hadir ketika saya harus menentukan pilihan pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Dengan penuh keyakinan, saya memilih Universitas Airlangga sebagai kampus impian dan Program Studi Sosiologi sebagai bidang yang ingin saya pelajari. Ketika saya mengatakan akan memilih Universitas Airlangga, beberapa orang langsung menyuruh saya mencari pilihan yang lebih realistis. Katanya, Unair terlalu tinggi untuk saya. Waktu itu saya tidak mencoba meyakinkan siapa pun. Saya hanya mengangguk, lalu pulang dan kembali belajar seperti biasa. Saya percaya, jawaban terbaik bukan berasal dari penjelasan saya, melainkan dari hasil yang akan saya terima nanti.
Hari pengumuman SNBP menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Dengan tangan yang gemetar, saya membuka laman pengumuman sambil terus memanjatkan doa. Ketika layar menampilkan bahwa saya diterima di Program Studi Sosiologi Universitas Airlangga, saya terdiam beberapa saat. Rasanya sulit percaya bahwa perjuangan yang selama ini saya jalani akhirnya menemukan jawabannya.
Saya sempat menatap layar beberapa detik karena tidak yakin dengan apa yang saya baca. Setelah memastikan nama dan program studinya benar, saya langsung memanggil ibu dan ayah. Saya masih ingat wajah mereka ketika membaca tulisan "Selamat! Anda dinyatakan lulus…". Untuk pertama kalinya, saya merasa perjuangan kami benar-benar sampai di tujuan.
Beberapa orang yang sebelumnya menyarankan saya menurunkan pilihan kampus justru menjadi pihak pertama yang mengirimkan ucapan selamat. Momen itu tidak saya maknai sebagai kemenangan atas mereka, melainkan sebagai pengingat bahwa keyakinan sering kali baru dipercaya ketika telah dibuktikan. Di antara semua ucapan yang datang, senyum bangga kedua orang tua saya adalah hadiah terbesar yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Pada saat itulah saya menyadari bahwa setiap malam yang diisi belajar, setiap kegagalan dalam perlombaan, dan setiap keraguan yang saya simpan dalam diam, semuanya bermuara pada satu momen yang mengubah hidup saya.
Diterima di Universitas Airlangga bukanlah garis akhir dari perjalanan saya, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Saya memilih Sosiologi bukan hanya karena ketertarikan terhadap ilmu sosial, tetapi juga karena pengalaman hidup saya sendiri. Kalimat yang saya dengar sejak kecil membuat saya menyadari bahwa stigma dan ketimpangan sosial mampu membatasi kepercayaan diri bahkan sebelum seseorang memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Saya ingin memahami mengapa kondisi sosial dapat memengaruhi masa depan seseorang, sekaligus mencari cara agar pendidikan dapat menjadi jembatan yang membuka lebih banyak kesempatan.
Kini saya memahami bahwa perjuangan menuju kampus impian tidak pernah hanya tentang berhasil diterima di sebuah universitas. Perjuangan itu adalah proses membangun ketangguhan ketika diremehkan, tetap melangkah ketika kemampuan dipertanyakan, dan menjaga harapan tetap menyala meskipun keadaan belum sepenuhnya berpihak. Janji yang saya ucapkan dalam diam bertahun-tahun lalu akhirnya saya tepati. Saya memang tidak dapat memilih dari keluarga seperti apa saya dilahirkan ataupun kalimat seperti apa yang pernah saya dengar saat kecil. Akan tetapi, saya selalu memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana saya meresponsnya.
Bagi saya, pendidikan bukan sekadar jalan menuju sebuah gelar, melainkan cara untuk memutus rantai keterbatasan yang selama ini dianggap sebagai takdir. Saya ingin membuktikan bahwa latar belakang bukanlah penentu masa depan, dan bahwa setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi setinggi mungkin. Sebab pada akhirnya, mimpi tidak diwarisi dari masa lalu orang tua, melainkan dibangun oleh keberanian anaknya untuk terus belajar, bertahan, dan melangkah.
