365 Hari Tanpa Almamater: Keputusan Sulit yang Tidak Tertulis di Benakku
"Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk"-Tan Malaka, kutipan tersebut aku temukan saat sedang bermain sosial media. Dulu aku bertanya-tanya kenapa harus terbentur dulu? kenapa kita tidak langsung terbentuk untuk menghadapi perjalanan hidup ini? kenapa harus tersimpan proses yang menyakitkan untuk mencapai suatu hal yang sudah kita niatkan dengan baik? Apakah niat baik saja tidak cukup?. Saat itu aku merasa dihianati dengan niat baik. Aku merasa semua yang aku lakukan selama ini sia-sia saja. Aku merasa aku telah gagal. Tetapi ternyata itu bukan akhir dari semuanya. Ternyata perasaan-perasaan tersebut baru awal dari perjalanan panjangku.
Hai perkenalkan namaku Hanun Anori Khairun Nisa, aku merupakan mahasiswi baru dari Universitas Sebelas Maret. Putri dari seorang Buruh Tani dan seorang Asisten Rumah Tangga. Di sini aku akan menceritakan kisah panjangku untuk bisa memperkenalkan diri sebagai mahasiswi Universitas Sebelas Maret. Kisah ini berawal pada bulan Januari 2025, dimana bulan tersebut merupakan bulan dimana hasil dari peringkat eligible sekolah diumumkan. Saat itu perasaanku campur aduk. Aku merasa takut, gelisah, dan merasa belum siap untuk menerima hasil yang tidak sesuai harapan. Ternyata saat pengumuman tersebut keluar aku termasuk dalam siswa yang mendapat hak untuk mendaftar jalur prestasi. Perasaanku saat itu sangat senang, aku langsung memeberitahu kabar tersebut kepada orang rumah, aku merasa ini merupakan awal yang baik dan aku berharap ini merupakan jalan yang bisa mengantarkanku untuk menjadi seorang mahasiswi.
Bulan- bulan selanjutnya aku gunakan untuk memikirkan dengan panjang jurusan apa yang akan aku pilih. Aku selalu menyempatkan diri untuk berkonsultasi dengan guru BK di sekolahku. Akhirnya dengan pertimbangan yang panjang setelah melihat peluang dari nilai- nilai rapotku, aku memutuskan untuk mendaftar di Universitas Sebelas Maret dengan prodi Ekonomi Pembangunan. Aku memilih jurusan ini karena aku sangat tertarik dengan pertumbuhan dari suatu negara. Aku selalu penasaran kebijakan apa yang harus diambil untuk menjaga kestabilan negara, langkah apa yang harus diambil saat terjadi krisis ekonomi, dan bagaimana kebijakan dari negara maju sehingga mereka bisa membawa kesejahteraan untuk rakyat mereka. Selain itu aku juga melihat peluang besar untuk bisa lolos dijurusan tersebut karena kakak alumni dari sekolahku terdapat 4 siswa yang telah lolos dengan jalur prestasi dijurusan tersebut.
Bulan-bulan selanjutnya aku gunakan untuk belajar Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) sambil menunggu hasil dari Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Hari-hari rasanya sangat resah, aku takut tapi aku penasaran dengan hasil SNBPku. Orang-orang di sekitarku selalu meyakinkan aku bahwa aku akan berhasil dengan peluang besar tersebut. Banyak dari mereka yang yakin bahwa aku sudah aman, mereka selalu berkata dengan nilai dan jaringan alumni dijurusanku aku pasti berhasil. Waktu cepat berlalu hingga waktu pengumuman hasil SNBP akhirnya keluar.
Saat itu aku masih menjalani Ujian Akhir Semester. Rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari hari biasanya. Saat mengerjakan ujianpun fokusku terbagi menjadi dua antara soal-soal yang sedang di depan mata dan hasil pengumuman SNBP nanti sore. Ujian hari itu selesai dan aku bergegas pulang untuk menyiapkan diri dengan hasil SNBPku nanti sore. Tepat jam 3 sore pengumuman hasil dari SNBP akan keluar. Saat Adzan Ashar dikumandangkan aku bergegas wudhu dan berdoa kepada tuhan. Aku meminta agar diberikan hasil yang terbaik dan diberikan keteguhan hati jika hasilnya belum sesuai dengan espektasiku. Tiba saatnya membuka penguman tersebut, tanganku bergetar dengan keringat dingin. Saat aku mengisikan tanggal lahirku dan memencet hasil seleksi, warna merah meronta terpapang disana. Ya, aku tidak lulus dari seleksi tersebut. Aku ingat sekali rasanya, badanku lemas dan air mata jatuh tiba-tiba. Rasanya seperti diberi kenyataan yang pahit sekali. Aku sangat sedih malam itu, tetapi hari esok masih akan tetap datang dan aku masih ada ujian akhir semester yang harus dikerjakan. Aku berusaha fokus untuk hari esok, tetapi di benakku selalu terbayang-bayang hasil dari pengumuman tersebut dan ekspresi kecewa dari ibuku. Beliau tidak mengatakannya tapi itu terlihat sangat jelas di wajahnya dan pada saat itu untuk pertama kalinya aku merasa sangat gagal sebagai putri mereka.
Hari terus berlalu, aku merasa harus bangkit. Hari-hari selanjutnya aku gunakan untuk lebih fokus dengan ujian tertulis berbasis computer atau yang biasanya disebut UTBK. Aku tetap memilih jurusan impianku di UTBK ini yaitu Ekonomi Pembangunan. Aku belajar setiap hari, mengerjakan tryout, mencoba soal soal tahun sebelumnya, menonton tutor, dan lain sebagainya. Tidak lupa aku juga senantiasa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dilancarkan segala hal yang sedang aku hadapi. Aku sering meluangkan waktu untuk belajar bersama teman-temanku untuk mendapatkan bimbingan belajar dari mereka. Aku merasa beruntung memiliki teman teman yang baik dan mau membantuku untuk beberapa soal yang tidak aku pahami pada saat itu. Singkat waktu tes tersebut akan berlangsung pada hari itu, aku mendapat sesi siang pada saat itu. Aku melaksanakan tes tersebut di Universitas Sebelas Maret karena kampus tersebut tidak begitu jauh dari kotaku. Aku Bersama teman seperjuanganku berangkat pukul 8 pagi dan sampai sana pukul 9 pagi. Masih banyak waktu untuk menyiapkan diri sebelum tes terlaksana. Perasaan gelisah menghampiriku, teringat bayang bayang ekspresi kecewa ibuku saat kegagalanku sebelumnya. Aku merasa sangat takut untuk gagal lagi. Tes tersebut berlangsung dan aku mengerjakan dengan semaksimal mungkin.
Tes tersebut akhirnya sudah berlalu dan aku sangat berharap ini merupakan akhir dari perjuanganku untuk menjadi mahasiswi. Hari selanjutnya sambil menunggu hasil tes UTBK tersebut aku mencari informasi di internet tentang tes mandiri kampus. Aku merasa minder karena uang Pembangunan yang harus dibayarkan untuk masuk dengan jalur tes mandiri sangat mahal. Bahkan harga tersebut sangat jauh dari jangkauan penghasilan orang tuaku. Saat itu ekonomi keluarga juga tidak bisa dikatakan bagus. Hingga akhirnya aku mendapatkan informasi dari salah satu kampus yang bisa membebaskan biaya uang Pembangunan untuk golongan 1 dan 2. Aku sangat senang dengan informasi tersebut dan akhirnya aku memutuskan untuk mengikti tes tersebut. Aku mulai belajar lagi untuk tesku yang berikutnya ini sambil menunggu pengumumna UTBK. Aku bangun jam 3 pagi untuk mencatat, mulai mengerjakan tryout jam 7 pagi, dan istirahat sampai menjelang sore. Saat malam hari aku mencoba soal-soal tahun sebelumnya dan soal-soal yang diprediksi sering muncul. Kadang juga aku harus membantu orang tuaku di sawah sehingga rutinitas belajarku tersebut harus tertunda beberapa waktu. Aku selalu berusaha semaksimal mungkin meyiapkan tes tersebut. Tak terasa waktu pengumuman hasil tes UTBK akan segera datang. Hasil tersebut keluar pukul 3 sore seperti sebelumnya. Saat itu aku selesai sholat ashar dan masih menggunakan mukenaku. Aku sangat takut saat itu, kabar teman temanku yang lolos sudah terdengar sedangkan aku untuk membuka pengumuman saja masih sangat takut. Aku masih menggunkan mukena dengan hp di genggamanku. Merenung di atas sajada apa yang akan terjadi setelah membuka pengumuman ini, hingga tak terikira aku sudah merenung selama 2 jam. Tepat pukul 5 sore aku ditemani dengan ayahku membuka pengumuman tersebut. Ayahku meyakinkan semua akan baik baik saja. Saat kubuka hasil tersebut kalimat semangat tertera disana. Aku gagal lagi. Ini lebih sakit dari sebelumnya karena perjuanganku selama ini terasa sia sia. Malam itu aku berdiam diri di kamar, takut kelaur, takut membuka sosial media, bahkan takut membalas pesan dari temanku.
Pagi setelah pengumuman tersebut aku sudah berada di sawah membantu kedua orang tuaku. Hidup akan terus berlanjut itu kata mereka. Aku berusaha Ikhlas dan menghadapi perjalananku selanjutnya. Aku masih punya kesempatan terakhir di tes mandiri yang sudah aku ceritakan sebelumnya. Aku berusaha sangat keras untuk tes terakhir ini. Tak lama dari pengumuman UTBK tes mandiri tersebut akan berlangsung. Saat itu tes tersebut harus dilaksanakan diluar kota dan aku membutuhkan biaya untuk datang kesana. Aku memutuskan untuk menjual cincin dari hasil menabungku untuk saku kesana. Aku merasa cukup malu untuk meminta ke kedua orang tuaku lagi karena ekonomi keluarga saat itu sedang sangat buruk.
Pagi itu aku berangkat ke stasiun kereta api pukul 10 pagi. Saat itu merupakan pertama kali aku keluar kota sendiri dan pertama kali aku naik kereta sendiri. Aku cukup takut tapi aku menghadapi rasa takut tersebut. Saat aku sampai disana aku sangat bingung. Aku akan menginap di kos kakakku yang kebetulan sekali sedang tidak dipakai. Aku bergegas memesan ojek online untuk kekos kakakku. Tapi karena kos tersebut tidak terlalu terkenal dan agak kumuh perjalanan kesana agak terhambat. Kita tidak dapat menemukan alamat yang pas hingga setengah jam berlalu dan kita baru sampai ke tempat tujuan. Sampai disana aku sangat Lelah sekali. Aku langsung membersihkan diri dan beristirahat untuk menhadapi tes esok hari.
Pagi itu subuh-subuh aku sudah memesan ojek online menggingat jarak dari kos ke kampus tujuan lumayan jauh. Sampai disana aku menjadi orang pertama yang datang. Udara dingin masih sangat terasa hingga menghangat dan peserta ujian lainnya satu persatu datang. Aku melihat sekitar banyak dari mereka yang datang Bersama keluarga, teman, kerabat dan lainya. Aku merasa aku sangat menyedihkan saat itu. Aku sendirian tanpa teman dan orang yang aku kenal. Tapi tidak apa itu bukan masalah serius untuk dipikirkan saat itu yang harus aku pikirkan saat itu adalah ujian yang sedang ada di depan mata. Singkatnya ujian berakhir dan aku Kembali ke kotaku.
Pengumuman dari tes tersebut berlangsung setelah seminggu pelaksanaan. Saat hari itu tiba bukan gelisah lagi yang aku rasakan tapi rasa pasrah terhadap takdir. Aku bingung saat itu aku bertanya tanya apakah kuliah adalah jalan terbaik bagi keluargaku?. Keadaan benar benar tidak memungkinkan saat itu. Aku khawatir aku hanya akan membebani kedua orang tuaku. Tetapi mereka selalu meyakinkanku bahwa Pendidikan akan memutus tali kemiskinan ini. Saat itu aku membuka pengumuman dan ternyata aku gagal lagi. Gagal untuk kesekiankalinya, aku merasa sangat tidak berguna.
Kesempatan terakhir sudah sirna dan aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku harus gapyear. Setelah memutuskan gapyear aku berusaha mencari kerja untuk membantu kedua orang tuaku dan menabung untuk biaya kuliahku tahun depan. Saat itu aku melamar di berbagai tempat tetapi tidak ada satupun yang memanggilku untuk interview hingga akhirnya terdapat satu lamaran yang diterima. Aku berkerja menjaga stand es teler di pinggir jalan. Pekerjaan yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, takdir yang tidak ada di pikiranku sebelumnya,dan inilah kenyataannya. Aku masih sangat ingat saat itu musim penghujan dan sering sekali hujan badai. Karena aku berada di pinggir jalan dan di bawah pohon yang besar aku sangat takut saat itu. Saat mendung yang sangat gelap datang aku hanya bisa berdoa agar hujan tidak turun disertai angin dan petir yang menyeramkan.
Pekerjaan tersebut berlangsung salama 2 bulan. Pagi itu saat aku akan mengambil dagangan hari itu aku diberi tau oleh pemilik usaha, ternyata usaha tersebut tidak dapat berlangsung lagi karena omset yang dihasilkan tidak menutup modal penjualan. Dengan berat hati aku harus meninggalkan pekerjaan tersebut. Hari selanjtnya aku gunakan untuk belajar UTBK lagi sambil mencari lowongan pekerjaan yang lainnya. Aku berusaha mencari pekerjaan di sosial media dan menemukan sebuah café yang sedang membuka loker. Aku segera melamar di café tersebut tetapi tidak ada panggilan selama 2 minggu. Aku sudah cukup pesimis bahwa aku tidak akan di terima untuk berkerja di café tersebut. Tapi ternyata keesokan hari setelah 2 minggu tersebut manager dari café tersebut menghubungiku. Singkatnya aku melakukan interview secara daring dan berhasil mendapat kesempatan untuk berkerja di café tersebut.
Selama satu bulan menjadi barista di café tersebut akhirnya aku diberi kepercayaan untuk mejadi kasir di café tersebut. Ini merupakan pengalaman baru untukku, tentu aku melakukan banyak kesalahan tapi aku belajar dari kesalahan kesalahan tersebut. Aku merasa sangat Lelah saat itu tapi aku senang karena aku bisa membantu kedua orang tuaku. Di café tersebut terdapat 2 shift jam kerja. Untuk shift pagi dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore sedangkan untuk shift malam dari jam 3 sore sampai jam 10 malam. Aku cukup senang dengan berkerja dan meghasilkan uang tapi aku tidak lupa dengan tujuanku berkerja. Aku tidak lupa dengan progres belajarku. Saat aku masuk sift pagi aku akan belajar dimalam hari dan saat aku shift siang aku akan belajar dipagi hari. Medekati ujian aku juga sering belajar di dini hari setelah shift siang.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa tes UTBK 2026 akan berlangsung 2 bulan lagi. Saat itu aku bimbang apakah aku harus berhenti berkerja untuk fokus belajar atau tidak. Setelah berkonsultasi dengan orang tuaku aku memutuskan untuk berhenti berkerja dan fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi tes UTBK tersebut. Aku mulai lagi dari awal, membuka catatan, mengerjakan soal, mengerjakan try out, mengevaluasi diri hingga menanamkan pikiran yang positif di dalam diriku. Aku belajar sepanjang hari karna aku tidak mau mengecewakan mereka untuk kesekiankalinya. Perjungan kali ini rasanya berbeda karena aku sendirian saat ini untuk berjuang. Teman temanku sudah memulai hidup baru di kampus mereka hanya aku sendiri disini yang masih berjuang. Aku merasa kesepian karena dulu walaupun berat itu tidak terasa karena kita meghadapinya bersama-sama. Tapi tidak apa aku juga punya keluarga yang akan selalu mendukungku.
Hari terus berlalu dan tes UTBK untuk yang kedua kalinya akan tiba. Kali ini aku mendapat sesi pagi. Malam sebelum tes aku tidak bisa tidur nyenyak karena aku cukup khawatir dengan hari esok. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku akan berhasil kali ini. Pagi itu di ruangan dengan ketegangan yang sama, dingin ac yang sama, dan kegelisahan yang sama untuk kedua kalinya aku hadapi. Aku menggerjakan soal-soal tersebut satu persatu dengan penuh keyakinan bahwa kali ini adalah kesempatanku. Hingga akhirnya tes tersebut berakhir. Perasaan lega dan takut menghantuiku, aku lega semua ini telah berakhir tetapi aku juga takut kegagalan itu datang lagi.
Pengumuman hasil tes UTBK akan datang. Kali ini aku membuka pengumuman dengan kedua orang tuaku dan adikku. Kakakku juga ikut serta dengan via video call karena dia berasa di luar kota. Aku gelisah dan sangat takut saat itu bahakan aku tidak berani membuka mataku untuk melihat hasil pengumuman tersebut. Saat aku mendengar sorak gembira dari keluargaku aku perlahan membuka mata dan menangis. Akhirnya setelah perjalanan panjang yang aku alami hari itu aku mendapat kata selamat. Aku sangat tidak percaya bahwa aku bisa dan aku berhasil masuk ke jurusan dan kampus impianku. Akhirnya aku bisa menjadi bagian dari mahasiswi dari jurusan yang aku impikan dahulu. Aku diterima di jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret. Persis sekali dengan yang aku impikan selama ini. Terimakasih tuhan perjalanan Panjang yang mengesankan.
