Langkah yang PataTragedi Kampus Bodong dan Mimpi Kuliah yang Tersisa
Oleh: Siti Aisah
Setiap anak yang baru saja menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah menengah pasti memiliki satu impian yang serupa, yaitu melangkah gagah ke perguruan tinggi, mengenakan jaket almamater, dan membawa pulang selembar ijazah sarjana yang kelak bisa mengubah nasib keluarga. Hal itu pula yang bergemuruh di dada saya sesaat setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga sederhana, saya tahu betul bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah adalah hal yang mewah. Namun, ketika sebuah tawaran datang dari seorang kenalan yang menawarkan jalur kuliah cepat dan fleksibel, saya merasa seperti mendapat durian runtuh. Tanpa curiga, saya menyambut uluran tangan itu dengan harapan yang membubung tinggi.
Awalnya, semua tampak berjalan dengan semestinya. Sistem perkuliahan dilakukan secara daring (online), dan kami hanya diminta sesekali datang ke tempatnya dalam satu semester. Bagi saya, skema ini terasa sangat membantu karena saya bisa membagi waktu. Di sela-sela waktu senggang, saya mengabdi sebagai seorang guru Taman Kanak-Kanak (TK). Sebuah pekerjaan yang lahir dari ketulusan hati, meskipun honor yang saya terima setiap bulannya jauh dari kata cukup, hanya sekitar 300 ribu rupiah. Angka yang kecil bagi sebagian orang, namun bagi saya dan orang tua yang setia membiayai sisa kekurangan biaya kuliah, uang itu adalah tetesan keringat yang dikumpulkan dengan penuh perjuangan dan doa di setiap sujudnya.
Namun, perlahan tapi pasti, kabut kecurigaan mulai menyelimuti perjalanan ini. Kejanggalan pertama muncul saat pihak pengelola menjanjikan kelulusan S1 dalam waktu hanya dua tahun. Alih-alih merasa beruntung, logika saya mulai terusik. Bagaimana mungkin gelar sarjana yang normalnya ditempuh dalam waktu empat tahun bisa dipangkas begitu saja? Lebih mengejutkan lagi, ada aturan sepihak yang menyatakan bahwa setelah lulus nanti, ijazah asli kami harus ditahan. Jika kami bersikeras ingin mengambilnya di awal, kami diwajibkan membayar biaya tambahan ganda yang nominalnya mencekik leher. Praktik ini lebih menyerupai transaksi jual-beli ijazah daripada sebuah lembaga pendidikan formal yang bermartabat.
Puncak dari segala badai kekecewaan ini meledak ketika memasuki tahun kedua. Di tengah kecemasan yang terus menumpuk, muncul sebuah kasus dari rekan angkatan yang sudah berkuliah selama satu tahun penuh namun belum juga terdaftar di pangkalan data pendidikan tinggi, bahkan belum memiliki Nomor Pokok Mahasiswa (NPM). Panik seketika menjalar. Sejak awal semester, saya dan teman-teman tidak pernah tinggal diam; kami selalu menanyakan status administrasi kami. Jawaban mereka selalu seragam, "Tenang saja, sedang diurus." Sebuah kalimat penenang palsu yang akhirnya runtuh ketika kebenaran pahit itu terungkap. Pihak pengelola mengaku dengan entengnya bahwa mereka lupa mengaktifkan NPM kami.
Sebagai solusi atas kelalaian fatal tersebut, kami diminta mengulang. Pilihannya terdengar konyol, yaitu mengulang dari semester satu atau langsung melompat ke semester lima, tetapi dengan syarat kami harus membayar biaya administrasi tambahan dalam jumlah yang sangat besar lagi. Mendengar keputusan itu, hati saya hancur berkeping-keping. Saya menyadari bahwa ini bukan lagi tempat untuk menimba ilmu, melainkan sebuah lingkaran penipuan yang memanfaatkan asa anak-anak muda. Dengan berat hati, namun demi menyelamatkan harga diri dan sisa tabungan orang tua, saya memutuskan untuk angkat kaki dan berhenti kuliah dari sana. Uang yang lumayan banyak telah keluar, menguap begitu saja bersama hilangnya satu tahun waktu yang berharga.
Kini, saya berdiri di sebuah persimpangan jalan yang sunyi. Luka dari kegagalan masa lalu itu masih basah dan menyisakan trauma yang mendalam. Rasa takut, cemas, dan bayang-bayang akan tertipu untuk kedua kalinya kerap kali menyergap pikiran setiap kali saya melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Di satu sisi, keinginan untuk merasakan bangku kuliah yang sejati, duduk di dalam kelas kampus impian yang legal, terakreditasi, dan sehat secara administrasi, masih menyala di sudut hati terkecil.
Beruntung, di tengah badai keraguan itu, saya tidak membiarkan diri tenggelam terlalu lama dalam ketakutan. Saya mulai membuka diri dan berkonsultasi secara mendalam dengan beberapa teman, baik mereka yang sudah lulus maupun yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Terbuka (UT). Melalui ruang diskusi yang jujur itu, saya mendapatkan gambaran nyata mengenai sistem perkuliahan yang transparan, fleksibel, terjangkau, dan yang terpenting legalitasnya diakui penuh oleh negara. Kejelasan administrasi dan rekam jejak UT yang kuat perlahan-lahan meruntuhkan tembok trauma di kepala saya. Akhirnya, dengan keyakinan yang baru, saya memantapkan hati memilih melanjutkan mimpi kuliah saya di Universitas Terbuka. Tempat di mana fleksibilitas bekerja dan belajar berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan kejujuran akademis.
Perjalanan berliku ini memberi saya seulas makna berharga yang ingin saya bagikan kepada seluruh pejuang pendidikan tinggi di luar sana. Jangan pernah tergiur oleh jalan pintas. Gelar akademis bukanlah barang dagangan yang bisa ditawar dengan janji manis kelulusan instan yang melompati proses, karena esensi dari kuliah adalah bertumbuhnya pola pikir lewat sebuah benturan dinamika belajar. Ketika sebuah lembaga menawarkan fleksibilitas yang tidak masuk akal, jadilah kritis dan periksa legalitasnya di pangkalan data resmi pemerintah. Jika pada akhirnya kita harus terjatuh dan salah melangkah seperti yang sempat saya alami, ingatlah bahwa patahnya langkah di masa lalu tidak boleh mematikan asa kita. Kegagalan bukanlah akhir dari garis finis, melainkan jeda untuk bersiap melangkah lebih bijaksana, waspada, dan berani guna menjemput masa depan di kampus impian yang sesungguhnya.

MaasyaAllah, pengalaman yang berat. Tapi aku salut, kamu masih bisa bangkit dan terus semangat untuk meraih masa depan. Hidup memang tak selamanya berjalan mudah dan sesuai yang kita mau, tapi asal ada kemauan kita pasti bisa lalui semuanya. Semangat terus, Sayang.
OMAGAA?!!! manusia keren inii, salut sii n yashh semangat kackk ✌
MasyaAllah. Sehat terus sayangku. Sukses terus ya, Nak. Doa terbaik buat kamu, Sayang.
Subhanallah, perjalanan hidup yang tak mudah membuatmu lebih hebat, lebih kuat. Semoga Dek Aisah lebih sukses, lebih bahagia menata masa depan.