MENJEMPUT MIMPI YANG HAMPIR HILANG
Oleh: Syifa
Nama saya Syifa, lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana yang selalu mengajarkan arti kerja keras. Di tengah segala keterbatasan, saya tumbuh dengan sejuta mimpi dan cita-cita yang ingin saya wujudkan. Ayah dan Ibu membangun usaha warung nasi kuning sebagai sumber penghasilan utama. Dari usaha itulah, kami memenuhi kebutuhan hidup sehari hari dan untuk memenuhi biaya Pendidikan. Ditengah keterbatasan ekonomi, saya tumbuh dengan satu Impian besar, yaitu dapat melanjutkan Pendidikan ke perguruan tinggi negeri.
Memasuki tahun terakhir di bangku SMA, saya mulai mempersiapkan diri untuk memasuki seleksi di perguruan tinggi. Salah satu harapan terbesar saya adalah dinyatakan terdaftar siswa elgible agar dapat mendaftarkan diri melalui jalur prestasi. Sampai akhirnya hari yang saya tunggu pun tiba. Dengan penuh harap dan tak berhenti berdoa, saya menyimak pengumuman yang dibacakan oleh pihak sekolah. Alhamdulillah, nama saya termasuk dalam deretan siswa elgible. Saat itu, saya tak henti-hentinya mengucapkan kalimat Syukur, saya merasa selangkah lebih dekat dengan Impian saya.
Tidak lama kemudian, tibalah waktu untuk memilih program studi dan universitas. Saya dihadapkan pada pilihan yang sulit, antara Impian saya dan harapan keluarga. Akhirnya saya memilih saran dari keluarga, saya menempatkan Bimbingan dan konseling (BK) dan Teknik informatika sebagai pilihan kedua.
Hari pengumuman SNBP akhirnya tiba. Saya berharap warna yang pertama kali muncul adalah biru yang menandakan bahwa lolos seleksi, tetapi hasil yang saya terima tidak sesuai harapan. Warna merah tertampil jelas pada layar, saya dinyatakan tidak lolos. Kegagalan itu membuat saya sangat kecewa hingga tidak mampu menahan air mata. Saat itu, keluarga menjadi tempat saya bersandar. Mereka menguatkan saya dan meyakinkan bahwa kegagalan di SNBP bukanlah akhir dari perjuangan karena masih ada kesempatan melalui jalur SNBT.
Setelah berusaha menenangkan diri, saya mulai membalas pesan dari teman dan guru yang menanyakan hasil pengumuman. Air mata tak hentinya mengalir, di antara banyaknya pesan yang masuk, ada satu pesan dari guru terdekat saya yang mengubah cara pandang saya. Air mata yang tadi nya terus mengalir akhirnya berhenti. Kata-kata beliau membuat saya kembali percaya bahwa setiap kegagalan adalah bagian dari rencana Allah untuk membawa saya menuju jalan yang lebih baik.
Di antara banyaknya pesan yang saya terima, ada satu pesan dari guru terdekat saya yang benar-benar mengubah cara pandang saya. Beliau berkata, "Tuhan tidak tidur. Tuhan tahu mana yang terbaik buat kamu. Mungkin Tuhan tidak membuat kamu lolos karena nanti kamu menjadi takabur, lupa diri, atau sombong. Tuhan masih ingin melihat perjuanganmu. Tuhan ingin kamu lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ketahuilah, Allah adalah the best planner."
Kalimat itu membuat saya berhenti menangis. Sejak saat itu, saya mulai percaya bahwa setiap kegagalan pasti menyimpan rencana terbaik dari Allah.
Kegagalan di SNBP tidak membuat saya berhenti. Saya kembali bangkit dan mendaftarkan diri melalui jalur SNBT. Kali ini, keluarga memberikan saya kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri. Saya kembali memilih Bimbingan dan Konseling sebagai pilihan pertama, sedangkan Pendidikan Sosiologi sebagai pilihan kedua.
Perjalanan menuju SNBT tidak berjalan mulus. Jadwal UTBK bertepatan dengan ujian lisan di pondok, sehingga saya harus membagi waktu untuk mempersiapkan keduanya. Meskipun melelahkan, saya percaya bahwa setiap usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.
Hari pengumuman SNBT menjadi momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya terus berdoa agar Allah memberikan jalan terbaik. Saya berharap saat saya membuka pengumuman, yang pertama muncul di layar adalah barcode yang menandakan lolos seleksi SNBT, saya berharap yang tertulis adalah kata selamat dan bukan kata semangat. Saat hasil pengumuman dibuka, saya dinyatakan lolos pada pilihan kedua, yaitu Pendidikan Sosiologi. Air mata Bahagia mengalir deras rasa syukur memenuhi hati saya. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga yang membuat saya tidak memiliki kesempatan mengikuti jalur mandiri, kelulusan ini menjadi jawaban atas doa dan perjuangan yang selama ini saya lakukan.
Kebahagiaan itu tidak hanya saya rasakan sendiri. Orang tua, keluarga, guru, dan teman-teman turut bersyukur karena mereka menyaksikan bagaimana saya pernah terpuruk setelah gagal di SNBP, tetapi memilih untuk bangkit dan mencoba kembali. Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah mimpi. Terkadang, Allah hanya sedang mengarahkan kita menuju jalan yang lebih baik. Benar adanya, Allah adalah sebaik-baik perencana.
Saya pikir perjuangan saya telah selesai setelah dinyatakan lulus SNBT. Namun, ternyata Allah kembali menguji saya. Saat hasil penetapan UKT diumumkan, saya mendapatkan golongan UKT yang cukup tinggi. Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah data pekerjaan orang tua pada Kartu Keluarga yang masih tercantum sebagai karyawan swasta, padahal saat itu ayah sudah mengalami PHK.
Saya kembali dihadapkan pada kenyataan yang berat. Orang tua tidak memiliki biaya untuk membayar UKT tersebut. Ayah sudah berusaha mencari pinjaman ke berbagai tempat, tetapi tidak berhasil. Hingga hari terakhir pembayaran, kami hanya bisa pasrah. Orang tua mengatakan bahwa mungkin saya harus menunda kuliah karena memang belum ada rezekinya.
Saya memilih masuk ke kamar dan menangis. Rasanya begitu berat menerima kenyataan bahwa setelah berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri, saya justru terancam kehilangan kesempatan itu karena biaya. Waktu pembayaran tinggal beberapa jam lagi.
Di saat kami hampir kehilangan harapan, Allah kembali menunjukkan pertolongan-Nya. Tante saya di kampung menelepon dan berkata, "Sayang sekali kalau Syifa tidak melanjutkan kuliah. Dia anak yang pintar, berprestasi, dan memiliki semangat belajar yang tinggi." Tanpa ragu, beliau membantu melunasi UKT saya beberapa jam sebelum batas akhir pembayaran.
Saat itu saya benar-benar merasakan bahwa pertolongan Allah datang pada waktu yang tidak pernah saya duga. Bagi saya, ini adalah sebuah keajaiban yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya sangat bersyukur dan akan selalu berterima kasih kepada tante saya yang telah menjadi jalan rezeki dari Allah untuk mewujudkan impian saya.
Sejak saat itu, saya bertekad untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan orang tua dan tante saya. Saya belajar dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan kesempatan kuliah sebaik mungkin. Saya aktif mengikuti kegiatan di kampus, dikenal oleh beberapa dosen, dan berhasil memperoleh nilai akademik yang memuaskan. Bagi saya, semua itu adalah bentuk tanggung jawab atas kepercayaan dan pengorbanan yang telah diberikan kepada saya.
Saya berharap kisah ini dapat menjadi pengingat dan motivasi bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah mimpi. Selama kita terus berusaha, berdoa, dan percaya kepada rencana Allah, selalu ada jalan yang akan dibukakan pada waktu yang tepat.
”Apa yang menjadi takdir mu akan menemukan jalan nya untuk mencarimu”
-Ali bin Abi Thalib-
