DATA DIRI PESERTA LOMBA MENULIS KISAH NYATA 2026

Nama Lengkap: Balqis Winda Amaliah

Kategori Lomba: Kisah Nyata Tingkat Nasional 2026

Tema: Kisah Perjuangan Meraih Kampus Impian

Judul Karya: Saat Rencana Tak Sesuai Realita

SAAT RENCANA TAK SESUAI REALITA

Kisah Perjuangan Meraih Kampus Impian — Balqis Winda Amaliah

Prolog: Pahlawan Tanpa Gelar

Aku Balqis Winda Amaliah, anak ketiga dari empat bersaudara. Ayah dan mendiang Ibu bukan lulusan sarjana atau pejabat terpandang. Ayah hanya lulusan SMA yang bekerja sebagai tukang pangkas rambut, sementara Ibu, lulusan SMP, dahulu berjualan kopi sederhana di pinggir jalan. Namun di mataku, mereka adalah pahlawan tanpa tanding. Lewat peluh dan kerja keras, mereka berhasil mengantarkan kedua kakak perempuanku menyandang gelar sarjana. Kini giliranku, yang baru lulus SMA, bersiap melangkah ke jenjang berikutnya, sementara adik bungsu masih menempuh pendidikan di pondok pesantren. Aku tidak pernah malu dengan latar belakang mereka—sebaliknya, rasa bangga dan syukur selalu memenuhi dadaku.

Bagian I: Persimpangan di Aula Sekolah

Kisah ini bermula saat aku duduk di kelas 12. Suatu pagi, kepala sekolah, Ibu Arianti, mengumpulkan seluruh siswa di aula dan berkata tegas, “Bagi kalian yang berencana melanjutkan ke perguruan tinggi, silakan segera mendata diri sesuai jurusan yang akan dipilih pada jalur SNBP.” Aula seketika riuh oleh semangat sekaligus kecemasan. Sahabatku, Nida, sudah mantap akan kuliah di Universitas Airlangga. Saat ia bertanya soal rencanaku, aku hanya bisa menjawab lirih, “Jujur, aku masih bingung, Nid. Nanti malam aku mau bicara dulu sama Ayah.”

Malam itu, aku memberanikan diri bertanya kepada Ayah. Beliau terdiam sejenak sebelum menjawab, “Bukan Ayah melarang Winda kuliah, Nak. Tapi kuliah itu butuh biaya yang tidak sedikit. Sekarang Ayah harus berjuang sendirian tanpa Ibu, demi kamu dan adikmu di pondok.” Mendengar itu, aku hanya bisa memeluk erat tubuh ringkih Ayah, tak sanggup berkata apa-apa.

Bagian II: Cahaya dari Kakak-Kakak

Malam itu juga aku menelepon Kak Zulfa dan Kak Liya, mencurahkan segala kegelisahanku. Kak Zulfa menjawab dengan nada sesal, “Maaf ya, Winda, Kakak belum bisa bantu biaya kuliahmu, tapi Kakak akan selalu dengar keluh kesahmu.” Namun Kak Liya menambahkan harapan baru, “Jangan patah arang dulu. Kakak akan usahakan bantu sedikit biaya kuliahmu, asal kamu pilih kampus swasta yang jadwalnya fleksibel, supaya kamu bisa kerja paruh waktu.” Kalimat itu membuat semangatku yang sempat padam kembali menyala.

Bagian III: Langkah Diam-Diam

Esoknya, Nida meyakinkanku, “Coba saja daftar jalur SNBP dulu, kan gratis dan tanpa tes. Siapa tahu kamu malah dapat beasiswa.” Kalimat itu menumbuhkan keberanian yang nekat. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Ayah, aku mendaftar SNBP dengan pilihan Ilmu Komunikasi di UPN Veteran Jawa Timur dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Hari-hari berikutnya kuisi dengan belajar mandiri hingga larut malam, memakai ponsel sederhana untuk mencari materi karena tak mampu mengikuti bimbingan belajar seperti teman-teman lain. Ketakutan akan biaya UKT terus membayangi, namun di setiap sujud malam aku berbisik lirih, “Ya Allah, jika kuliah ini jalan terbaik untukku, mudahkanlah jalannya, dan jagalah hati Ayah agar tidak ikut terbebani.”

Bagian IV: Ketika Realita Berkata Lain

Sore pengumuman SNBP pun tiba. Dengan tangan gemetar, aku membuka hasilnya—dan dinyatakan tidak lulus di kedua pilihan. Tangisku pecah tanpa bisa ditahan. Mendengar itu, Ayah datang panik dan bertanya ada apa. Dengan suara terbata aku mengaku, “Ayah… maafkan Winda. Diam-diam kemarin Winda daftar SNBP karena ingin cari beasiswa buat Ayah. Tapi Winda gagal, Yah.” Di luar dugaan, Ayah tidak marah. Beliau justru memelukku erat dan berkata tenang, “Ayah tidak marah, Nak. Ayah malah bangga kamu berani berjuang. Rencana Tuhan tidak pernah salah. Mungkin tempatmu bukan di sana—masih ada jalan lain.”

Bagian V: Antara Syukur dan Luka

Esoknya di sekolah, Nida berseru gembira, “Winda! Aku lolos SNBP Unair jurusan Ekonomi Bisnis!” Aku sungguh ikut bahagia untuknya, meski ada perih yang menjalar diam-diam di hatiku. Melihat mataku berkaca-kaca, Nida merangkulku dan berkata lembut, “Sudah, tidak apa-apa, Winda. Masih ada jalur SNBT, atau kampus swasta yang katamu mau dibantu Kak Liya. Coba tanyakan lagi.”

Bagian VI: Pintu Baru di Universitas PGRI Delta

Sepulang sekolah, aku menemui Kak Liya. Ia merekomendasikan Universitas PGRI Delta, tempatnya dulu kuliah, khususnya Program Studi Sistem Informasi di Fakultas Sains dan Teknologi. Aku sempat ragu karena berlatar belakang IPS, namun Kak Liya meyakinkan, “Program studi ini juga mempelajari manajemen dan bisnis, jadi latar belakang IPS-mu justru membantu di bagian analisisnya. Kamu tidak perlu takut.”

Malam itu aku menyampaikan rencana ini kepada Ayah, yang menyambutnya dengan lega, “Kalau Kakakmu sudah bilang begitu, Ayah tentu sangat mendukung, Nak.” Sabtu paginya, Ayah mengantarku dengan sepeda motor tua menuju kampus tersebut. Di ruang pendaftaran, petugas menjelaskan dua jalur pembiayaan: jalur reguler dengan potongan biaya, dan jalur beasiswa KIP Kuliah yang membebaskan UKT serta memberi uang saku 5,7 juta rupiah per semester, dengan syarat melampirkan bukti keterbatasan ekonomi dan prestasi akademik maupun non-akademik.

Aku teringat piagam juara cerdas cermat tingkat kabupaten dan status finalis olimpiade sains yang pernah kuraih semasa sekolah. Melihat peluang itu, Ayah menggenggam tanganku dan berkata mantap, “Ambil jalur KIP ini saja, Nak. Piagam-piagam lombamu bisa dipakai. Ini jalan kemudahan dari Allah untuk kita.” Hari itu, di ruang pendaftaran kampus swasta, babak baru perjuanganku resmi dimulai.

Epilog: Kampus Impian yang Tak Terduga

Kuliah di jurusan yang jauh dari rencana awal rasanya masih sulit dipercaya. Namun melihat besarnya dukungan Ayah dan kakak-kakakku, aku memilih percaya pada proses. Aku yakin tidak ada yang namanya “salah jurusan”—yang terpenting adalah kesungguhan menjalani setiap langkahnya. Sembari kuliah kelas sore, aku bekerja paruh waktu sebagai pengajar les untuk membantu meringankan beban keluarga, sekaligus belajar mandiri dan menjaga lingkaran pertemanan yang positif.

Kegagalan di jalur SNBP bukanlah akhir dari mimpiku, melainkan titik balik yang mengantarkanku menemukan jalan lain menuju kampus impian—dengan restu penuh dari Ayah, dukungan hangat kakak-kakakku, dan perjuangan beasiswa KIP yang kini tengah kuusahakan. Aku, Balqis Winda Amaliah, siap menjemput impian yang telah lama kuukir di atas kaki sendiri.

Tinggalkan Komentar