PERJUANGAN ABU QOSIM DALAM MENGAKSES PENDIDIKAN TINGGI

Ditulis oleh : Abu Qosim

PENDAHULUAN

Pendidikan tinggi merupakan salah satu sarana penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membuka peluang masa depan yang lebih baik. Bagi banyak lulusan sekolah menengah, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri menjadi sebuah cita-cita yang diupayakan melalui berbagai jalur seleksi yang tersedia. Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan dengan mudah karena tingginya tingkat persaingan dan keterbatasan kuota penerimaan mahasiswa.

Hal tersebut juga dialami oleh penulis yang bernama Abu Qosim, seorang lulusan tahun 2022 yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri. Universitas yang menjadi tujuan utama pada saat itu adalah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Untuk mencapai tujuan tersebut, Abu Qosim berupaya mempersiapkan diri melalui berbagai tahapan seleksi nasional yang tersedia bagi calon mahasiswa.

Pada tahun kelulusannya, Abu Qosim mengikuti beberapa jalur seleksi penerimaan mahasiswa baru yang tersedia secara nasional. Salah satu jalur yang diikuti adalah SNMPTN, yaitu jalur seleksi yang didasarkan pada prestasi akademik siswa selama menempuh pendidikan di sekolah menengah. Jalur ini memberikan kesempatan bagi siswa berprestasi untuk diterima di perguruan tinggi negeri tanpa melalui ujian tertulis. Meskipun Abu Qosim telah berupaya mempertahankan performa akademiknya selama di sekolah, hasil seleksi menunjukkan bahwa ia belum berhasil diterima di universitas yang menjadi tujuan utamanya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi naratif. Pendekatan ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman dan perjalanan individu dalam menghadapi proses seleksi pendidikan tinggi. Data yang digunakan dalam tulisan ini bersumber dari pengalaman pribadi Abu Qosim sebagai subjek utama dalam penelitian.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi pengalaman pribadi serta refleksi terhadap proses seleksi masuk perguruan tinggi yang pernah diikuti. Selanjutnya, data tersebut dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan tahapan perjuangan yang dialami dalam upaya melanjutkan pendidikan tinggi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjalanan Abu Qosim dalam mengakses pendidikan tinggi melalui beberapa tahapan seleksi yang cukup kompetitif. Tahap pertama dimulai dengan mengikuti jalur SNMPTN, yaitu jalur seleksi berdasarkan prestasi akademik selama masa sekolah menengah. Jalur ini menjadi salah satu peluang bagi siswa untuk diterima di perguruan tinggi negeri tanpa mengikuti ujian tertulis. Namun, pada tahap ini Abu Qosim belum berhasil diterima di universitas yang diharapkannya.

Selanjutnya, Abu Qosim mencoba kembali melalui jalur SBMPTN, yaitu seleksi yang dilakukan melalui ujian tertulis yang terstandarisasi secara nasional. Untuk menghadapi seleksi ini, ia melakukan berbagai persiapan akademik seperti mempelajari materi ujian dan mengerjakan latihan soal. Meskipun telah melakukan berbagai persiapan, hasil seleksi menunjukkan bahwa ia kembali belum berhasil diterima di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Selain itu, Abu Qosim juga berupaya memperoleh dukungan finansial melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah yang ditujukan bagi mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi. Program tersebut menjadi salah satu harapan untuk membantu pembiayaan pendidikan tinggi. Namun, pada proses seleksi tersebut ia juga belum memperoleh kesempatan untuk mendapatkan bantuan tersebut.

Meskipun mengalami beberapa kegagalan dalam proses seleksi, Abu Qosim tetap berusaha melanjutkan pendidikan. Pada akhirnya, ia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Hal ini menunjukkan bahwa kegagalan dalam satu jalur seleksi tidak selalu menjadi akhir dari kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses untuk mengakses pendidikan tinggi sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan, baik dalam bentuk persaingan akademik maupun keterbatasan kesempatan. Pengalaman yang dialami oleh Abu Qosim menunjukkan bahwa kegagalan dalam beberapa jalur seleksi tidak serta-merta menghentikan peluang untuk melanjutkan pendidikan.

Melalui ketekunan dan semangat untuk terus mencoba, Abu Qosim akhirnya dapat melanjutkan pendidikan di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa kegigihan dan konsistensi merupakan faktor penting dalam menghadapi proses seleksi pendidikan tinggi serta dalam mencapai tujuan akademik di masa depan.

 

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.