By: Fitrawati nur
Namaku Naura Azzahra. Aku tinggal di sebuah desa kecil yang ada di Sulawesi Selatan. Aku bersekolah di salah satu Provinsi Sulawesi Selatan yaitu Sman 3 Gowa, letaknya pun cukup tragis karena terletak di pinggir jalan raya utama Kabupaten Gowa. Sekarang aku sudah kelas XII yang sudah tidak lama lagi akan lulus. Aku menjalani kehidupan sehari-hariku dengan sangat sederhana. Aku mempunyai mimpi untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi walaupun sebenarnya itu adalah sebuah tantangan besar, Apalagi aku adalah siswa yang dikenal sebagai siswa dengan nilai rata-rata. “Tidak ada yang istimewa darinya”, begitulah pandangan orang lain kepada ku.
Sejak dulu aku selalu bermimpi untuk bisa melanjutkan Pendidikan di Universitas terbaik di kota besar. Namun, mimpiku sering di tertawakan oleh keluarga dan teman-temanku. Mereka selalu berkata, “Naura, kuliah itu hanya buang uang, kamu mana mampu untuk biayanya. Kamu juga biasa-biasa aja tidak mungkin bisa masuk kampus terbaik!” setiap kali mendengar hal itu, hatiku terasa sakit, tetapi tidak pernah sekalipun aku menunjukkan keputusasaan. Tapi, dengan dorongan orang tuaku, aku mulai menyusun strategi. “Naura, tidak ada yang mustahil jika kamu mau berusaha lebih keras dan selalu melibatkan Allah dalam setiap rencana yang kamu lakukan. Kamu harus percaya pada diri sendiri,” Kata ibu suatu hari di ruang tamu yang sederhana. Kata-kata itu menancap kuat di benak ku.
Sejak saat itu, aku mulai menetapkan jadwal belajar yang ketat. Setiap malam sebelum tidur, aku mengulang materi pelajaran yang dipelajari tadi pagi. Sepulang sekolah, aku mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan disekolah lalu mengulang lagi materinya. Selain itu, jika aku ada waktu luang aku selalu membaca buku-buku yang berkaitan dengan ujian masuk perguruan tinggi. Meskipun ini sangat melelahkan, semangatku tidak pernah padam.
Pada awalnya, nilai ujianku tidak langsung meningkat. Beberapa kali aku mendapat nilai yang lebih rendah dari sebelumnya. Ada saat-saat ketika aku merasa putus asa. “Mungkin benar apa kata mereka, memang aku tidak pantas kuliah,” pikirku pada suatu malam, menatap buku-buku yang berserakan. Namun, aku teringat lagi pada kata-kata dan raut wajah ibuku yang selalu mendukungku dari belakang.
Ibu adalah sosok penting dalam kehidupanku. Wanita yang bekerja sebagai penjual gorengan keliling desa ini tidak pernah Lelah mendorong anaknya untuk terus berjuang. “Nak, kalau kamu punya mimpi, jangan biarkan apapun menghalangimu. Ibu selalu berdoa untuk keberhasilanmu,” begitu pesan ibuku setiap aku merasa putus asa. Perlahan tapi pasti, nilai aku mulai meningkat. Ia terus mengasah kemampuannya, mengikuti try-out, dan membiasakan diri dengan berbagai type soal yang mungkin keluar di ujian masuk perguruan tinggi. Pada saat yang sama, aku mulai meraih posisi tertinggi di kelas dan menjadi salah satu siswa terbaik di sekolahku. Keberhasilanku menarik perhatian guru-guru lain dan membuat teman-temanku mulai mengakui kemampuanku.
Hari ujian SBMPTN pun tiba. Aku merasa sangat gugup, tapi aku ingat semua usahaku selama ini. Dengan tenang, aku menjawab setiap soal dengan hati-hati. Setelah ujian, yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa dan berharap. Hari pengumuman tiba, aku membuka laptop milik temanku dengan tangan yang gemetar. Setelah beberapa detik memasukkan nomor peserta ujian, layar menampilkan kata-kata yang tak akan pernah aku lupakan: “Selamat anda diterima di Universitas Hasanuddin!”
Aku melonjak kegirangan. Air mataku mengalir tanpa henti. Aku langsung berlari ke dapur untuk memberitahu ibu ku yang sedang memasak, aku langsung memeluk ibuku sambil menangis Bahagia. “Bu, Naura berhasil! Tidak ada yang mustahil, Bu!” Kataku dengan mata berbinar. Kini, aku berdiri tegak sebagai mahasiswa Universitas Hasanuddin, kampus terbaik di Indonesia Timur. Perjuanganku belum selesai, tetapi aku yakin bahwa setiap langkah yang aku ambil selalu dimulai dari keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil jika kita mau berusaha di sertai do’a. Bagi aku, mimpi besar itu bukan hanya soal keberhasilan, tetapi tentang ketekunan, usaha dan keyakinan pada diri sendiri.
Cerpen ini mengisahkan tentang Naura, seorang remaja dari desa kecil yang memiliki mimpi besar untuk masuk ke universitas negeri terbaik di Indonesia bagian timur. Meski sering diremehkan oleh keluarga dan teman-temannya karena dianggap “biasa-biasa saja,” Naura tidak pernah menyerah. Dengan dukungan dari kedua orang tuanya yang bekerja sebagai penjual gorengan dan sayur keliling, Naura bertekad membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil jika seseorang bersedia berusaha keras dan percaya pada diri sendiri.
Naura menjalani rutinitas belajar yang disiplin dan gigih, menghadapi berbagai kegagalan dan rasa putus asa, namun tetap berpegang pada motivasi dan mimpinya. Akhirnya, berkat kerja kerasnya yang konsisten dan semangat pantang menyerah, Naura berhasil lolos ujian masuk Universitas Hasanuddin dan meraih mimpinya, menunjukkan bahwa usaha dan keyakinan adalah kunci keberhasilan.

