Inspirasi

“You may never know what the result comes from your actions, but if you do nothing, there will be not result.” Kutipan singkat dari Sang Politikus India ini mengungkapkan salah satu rumus dalam meraih mimpi, yaitu tindakan. Tindakan yang akan mengantarkan seseorang dalam poros perjuangan. Perjuangan dari sebuah proses yang panjang pastilah berlabuh di sebuah muara yang indah. Muara yang selama ini menjadi impian serta harapan dari para pejuang. Salah satunya adalah seorang gadis desa dengan segudang angan dan cita-cita. Gadis yang terlahir dari keluarga kecil dan sederhana. Keluarga yang terdiri dari lima anggota dan gadis ini adalah Si Sulung.

Menjadi anak terakhir bukanlah hal yang istimewa atau bahkan patut untuk dibanggakan. Banyak orang menilai, anak terakhir adalah anak yang selalu dimanja dan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah. Tidak seluruhnya salah, namun tidak seratus persen benar. Karena pada kenyataannya, menjadi “yang terakhir” justru dituntut untuk memperbaiki kesalahan dari “yang pertama” dan “yang kedua”. Namun, dari tuntutan inilah Si Sulung menjadi pribadi yang pantang menyerah dan optimis. Terutama dalam meraih pendidikan terbaik di kampus impian. Bagaimana tidak, jika mendaki puncak Gunung Everest adalah syarat mendapatkan kampus impian, maka akan Si Sulung lakukan. Bukan perkara hiperbola, namun memang beginilah alur ceritanya. Alur cerita yang akan mengantarkan pada sebuah pelajaran penting mengenai seni kehidupan.

Alur itu dimulai dari kisah seekor singa betina yang hidup di sebuah padang pasir. Padang pasir yang tandus, panas, dan bahkan sedikit sekali terdapat tanda-tanda kehidupan. Namun, justru di tempat inilah menjadi bukti sebuah loyalitas seorang makhluk terhadap Tuhannya. Sifat loyalitas yang membawa kepada jiwa perkasa dan bijaksana yang kelak menginspirasi seorang ibu untuk memberikan nama putrinya, Namira Andrea Puspa.

Namira, bukan perempuan cantik apalagi jenius. Tapi, angan-angannya melebihi langit ke-7. Angan-angan agar bisa berkuliah ke luar negeri dengan beasiswa. Benar-benar bagai pungguk merindukan bulan. Namun, ia percaya tidak ada yang tidak mungkin selama itu telah menjadi takdirnya. Takdir yang diiringi usaha, tangis, dan doa. Salah satu usaha yang dapat Namira lakukan adalah masuk ke sekolah favorit sejak SMP karena dengan begitu, akses untuk mendapatkan fasilitas pendidikan lebih mudah.

SMPN 1 Temanggung atau yang akrab dengan sebutan Greeza. Di tempat inilah pencarian sebuah jati diri dimulai. Pencarian jati diri itu dimulai dengan meningkatkan jiwa disiplin dan kepemimpinan. Namira merasa jiwa kepemimpinan dapat membantunya menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana, karena bagaimanapun hidup di negeri orang tidak dapat selalu bergantung kepada orang lain serta harus bisa mengambil keputusan sendiri dalam kondisi genting. Maka, Namira remaja memutuskan untuk memulainya dengan mengikuti berbagai macam organisasi dan kegiatan sekolah, mulai dari OSIS, tim redaksi, TONTI (barisan peleton inti), dan bahkan terpilih menjadi ketua kelas.  Selain itu, semua usaha yang dilakukan bukan serta merta untuk penunjang popularitas, namun lebih dari itu. Ilmu dan pengalaman. Dua akses penting untuk memenuhi syarat kelayakan berkuliah ke luar negeri.

Dalam segi akademik, Namira berusaha agar tidak tertinggal, walaupun ditengah tengah jadwal yang padat. Setiap malam diusahakan selalu belajar hingga larut malam, apalagi jika akan ujian maka intensitas belajar ditambah. Apakah semua itu cukup? Tentu tidak, setiap usaha pasti ada kendalanya. Persaingan yang sengit mengenalkan Namira dengan kata “gagal”. Ya, gagal menjadi perwakilan sekolah untuk ajang bergengsi, yaitu OSN (Olimpiade Sains Nasional) tahun 2018. Hal terberat bukan hanya perkara kata “gagal”, namun rasa sakit hati yang harus diterima karena orang-orang yang selalu membandingkan Namira dengan sahabatnya yang merupakan perwakilan sekolah untuk OSN tahun 2018 itu. Sakit hati yang dirasakan terus menerus menghantui Namira selama 3 tahun masa pendidikan dan puncaknya adalah ketika sahabat Namira menjadi obrolan utama di sekolah karena menjadi cover majalah tahunan. “Ih! Mereka sahabatan tapi beda ya! Yang satu pinter yang satu biasa aja”, “Namira banyak yang tahu, soalnya dia temenan sama yang pinter itu.” Sedikit celotehan yang Namira terima. Dampaknya sungguh luar biasa. Namira tidak bisa fokus dalam US (Ujian Sekolah) dan bahkan menganggap nilai tidak penting. Namun, dibalik itu semua ada rasa penyesalan yang menggerogoti hati dan pikiran Namira, “Aku anak yang tidak berguna! Aku tidak bisa membanggakan orang tua!” Kiranya pikiran Namira saat itu. Beruntung. Tuhan masih berbaik hati kepadanya. Seseorang bak malaikat hadir layaknya penyelamat. Menyelamatkan hati yang telah remuk untuk bangkit dan menyatu kembali. Ibu. Itulah sosoknya. Menyadarkan akan perkara rasa ikhlas dan sabar. Semua rezeki pasti datang kepada tuannya masing-masing. Tidak akan tertukar apalagi salah alamat dan tak tahu jalan pulang. Walaupun dengan proses yang pelan, ibu selalu memberikan arahan dan motivasi kepada Namira agar tetap teringat akan impiannya. Menyarankan dan memberikan pilihan terbaik juga tak luput dari perhatian. Salah satunya, menyarankan untuk memilih SMA dengan sistem islamic boarding school. Hal ini ibu lakukan supaya Namira tersadar bahwa prestasi sesungguhnya bukan hanya perkara dunia, namun juga kehidupan kekal setelahnya. Maka, dengan kesadaran penuh Namira mengangguk mantab.

Menjadi anak SMA, berasa sudah dewasa namun, masih butuh mama dan papa.

Kata orang masa terindah adalah masa SMA. Memang benar. Namun, di sisi lain, masa inilah penentuan arah masa depan. Arah yang menghantarkan ke pintu mana kalian akan memasukinya. Dunia kerja atau perkuliahan. Sebagai anak terakhir, tentu Namira tidak diperkenankan untuk memilih pintu yang bertuliskan “Kerja”, bahkan mengetuknya pun dilarang, entah karena dimanja atau gengsi dengan tetangga. “Masa punya anak cuma lulusan SMA! Rugi donk!” Mungkin begitu pikir orang tua. Namun, bagaimanapun kisahnya nanti, mari kita lanjutkan ceritanya dulu.

 

Setelah menuntaskan masa SMP yang sedikit rumit, Namira mulai menata hati dan pikirannya kembali supaya lebih fokus dalam menjalani masa putih abu-abu ini.

Terpilih menjadi salah satu siswa dengan jurusan MIPA bukanlah hal yang mudah di SMAS MTA Surakarta karena harus melalui berbagai tes, baik tulis maupun lisan. Namun, berkat rahmat Allah, Namira mampu mendapatkannya. SMAS MTA Surakarta, sekolah dengan sistem islamic boarding school, yang mana mewajibkan para siswa memiliki akhlak qurani karana dengan demikian akan menjadikan mereka berilmu lalu berprestasi.

Setelah pembagian kelas, terpilihlah MIPA 6 yang akan menjadi saksi perjuangan Si Sulung berikutnya. Saksi yang begitu epic yang bahkan masih terukir hingga kini. Saksi yang di dalamnya terdapat orang-orang yang solid namun, terkadang lupa diri. Bersama merekalah arti dari sebuah rumah bukan hanya sekedar bangunan tapi kebersamaan. Kebersamaan yang membersamai sebuah perjuangan.

Setiap dari kami memiliki impiannya masing-masing, ada yang terobsesi menjadi Gamada, ada yang ingin meneruskan usaha orang tua, dan ada yang bercita-cita untuk nikah muda. Oleh karena itu, walaupun kami berstatus sebagai seorang teman, persaingan sehat tetap ditegakkan. Persaingan memperebutkan posisi pertama. Posisi yang dapat memudahkan pemiliknya memperoleh impian yang ia inginkan. Begitu juga dengan Namira, susah payah segala usaha dilakukan, mulai dari ikut kelas tambahan, belajar hingga larut malam, bahkan hingga tepar tak tertahan. Tak hanya itu, sebagai lulusan 2021 atau yang sering disebut dengan angkatan Corona, kami dituntut memiliki rasa inisiatif dan komunikatif selama mengikuti proses PKMB. Semua murid pada masa itu dirumahkan karena ada salah satu warga yang teridentifikasi terjangkit virus Corona, sehingga proses pembelajaran dialihkan menjadi sistem online atau daring. Tantangan baru dimulai. Kurang lebih satu setengah tahun di rumah, hampir satu setengah tahun pula Namira berusaha menelaah pembelajaran yang diajarkan guru. Awalnya semua terlihat sulit dan melelahkan karena bagaimanapun juga Namira tidak dapat hanya mengandalkan materi yang diberikan sekolah. Namira perlu mencari sumber lain sebagai referensi tambahan supaya pemahaman materi tidak hanya sekedar dasarnya saja, bahkan kala itu Namira juga mulai mengerjakan soal-soal dengan level HOTS. Hal ini juga sebagai langkah awal mempersiapkan UTBK, ujian yang selalu dinantikan para pencari universitas. Perlahan namun pasti berbagai jenis soal dapat Namira kerjakan dengan mudah. Hingga hal tersebut membawa Namira menjadi salah satu siswa eligible jurusan MIPA dengan mengantongi ranking 9 dari 190 murid. Rasa bahagia dan sukacita tak dapat tertahan. Tak sabar memberikan informasi ini kepada orang tua tercinta. Namun, “Mama sama ayah gak ridho kalau mbak langsung kuliah! Kami pengen mbak jadi hafidz qur’an. Nah baru setelah itu mbak boleh kuliah, kalau bisa ke luar negeri supaya lebih terjamin.” Kaget bukan main. Tak terpikir oleh Namira jika kedua orang tuanya akan merespon demikian. Rasa sedih dan kecewa mendominasi perasaan Namira saat itu, ia harus melepas kesempatan SNMPTN begitu saja. Tapi, bagaimanapun juga ridho Allah adalah ridho orang tua, sebagai anak yang berbakti apalagi telah ditempa dengan ilmu agama selama 3 tahun membuat Namira paham bagaimana menempatkan perasaan yang seharusnya. Dengan demikian, kapal akan segera berlayar kembali tanpa tahu pelabuhan mana yang akan menjadi destinasi terakhir.

 

Gemuruh riuh hati kecil ingin bertanya. “Mengapa sangat pelik?, aku hanya ingin seperti mereka, bukankah itu wajar dan biasa?”

30 Juli 2021, Namira hanya menatap kosong semak belukar dari balik kaca mobil. Mobil yang membawa Namira ke sebuah pondok yang akan menjadi pelabuhan berikutnya. Ma’had Aly Fatimah Az Zahra, Magetan.

“Ahla wa sahlan ya ukhty.” Sambut seorang wanita bercadar waktu itu. Sambil membawa Al Qur’an, Namira memulai kelas pagi dengan materi tajwid. Di Mafaza (sebutan akrab Ma’had Aly Fatimah Az Zahra) wajib bagi mahasantri untuk mengikuti matrikulasi selama 3 bulan lamanya. Maka, selama ini pula Namira dan kesepuluh kawannya beradaptasi dan mulai saling mengenal satu dengan yang lain karena mau tidak mau selama 2 tahun mereka akan selalu bersama.

 

Hameeza, para perempuan yang kuat. Itulah panggilan bagi mereka, kesebelasan Mafaza tahun 2021. Perempuan yang dihadang dengan berbagai halang dan rintang, walau terkadang tetap diiringi dengan canda dan tawa. Dalam menghafal Al Qur’an tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, penuh dengan perjuangan dan kesabaran. Tapi pada akhirnya,  hanya ada satu kata Alhamdulillah yang dapat terucap dari lisan mungil Namira setelah dikatakan sah menyelesaikan hafalan 30 juz. Rasa syukur yang tiada tandingnya memenuhi setiap sendi di dalam raga. Namun, dibalik itu semua ada perjuangan yang benar-benar membakar jiwa. Bahkan tak jarang tangis, amarah, dan perasaan menyerah selalu datang menghampiri. Bagaimana tidak, Namira tanpa modal hafalan dan bahkan tidak terpikir untuk menghafal Al Qur’an diwajibkan untuk menyelesaikan satu mushaf Qur’an hanya dalam kurun 2 tahun saja, yang mana Namira juga dituntut untuk menyelesaikan TA (Tugas Akhir) sebagai syarat kelulusan lainnya. Terkadang cobaan lain justru datang dari orang yang dianggap paham agama. Ya, dialah musyrifah Namira kala itu. “Namira kalau di masjid hafalan atau ngobrol?!” “Ana capek sama Namira, gak mau ngobrol dulu sama dia.” “Namira murojaahnya dikencengin lagi! Soalnya kamu ketinggalan sama yang lain.” Begini dan begitu. Beberapa kalimat semangat yang sampai di telinga Namira. Hingga, pada suatu hari, Namira memutuskan untuk ingin berhenti dalam menghafal dan kembali pulang.

 

Pohon yang semakin tumbuh tinggi akan berhadapan dengan angin yang lebih kencang. Sabar, ikhtiar, dan tawakal. Tiga kunci yang selalu Namira ingat hingga dapat naik ke atas podium sembari membawa selempang bertuliskan “30 juz”. Tiga kunci itu pula yang ibu ucapkan ketika Namira menangis di atas balkon sambil menelpon dengan hp Samsung GSM gt e 1205. Namira mengeluarkan segala sendu sendanya kepada ibu kala itu. Ibu hanya diam mendengarkan dan berkata “Sabar, ikhtiar, dan tawakal mbak.” Kalimat inilah yang akan Namira ingat hingga kini. Manusia mungkin dapat berencana, namun Sang Pemilik Perencana memiliki rencana yang jauh lebih hebat. Namira mengurungkan kembali niat untuk berhenti dan kembali mencoba walaupun tertatih tatih, dan “Kun fayakun!” inilah keajaiban yang pernah Namira rasakan seumur hidup.

 

Setelah menyelesaikan jenjang Ma’had Aly, Namira kembali fokus untuk meraih impiannya. Study abroad. Walaupun telah memiliki modal hafalan Qur’an namun, hal itu tidaklah cukup karena Namira sadar kemampuan bahasa Inggrisnya masih kurang dan perlu untuk ditingkatkan. Oleh karena itu, ibu memilihkan tempat untuk mengembangkan bahasa Inggris Namira, yaitu di Kampung Inggris Yogyakarta. Selama 2 bulan, Namira mengikuti segala kegiatan yang ada di KIJ (Kampung Inggris Yogyakarta). Friday conversation, Saturday show, dan masih banyak lagi. Bahkan tak ketinggalan, ruang romansa antara dua insan mulai tumbuh layaknya bunga yang akan mekar. Perasaan suka yang hanya mengiringi selama proses pembelajaran, sedikit mencairkan kenyataan bahwa impian itu belum tercapai. Tak apa, karena sejatinya hidup juga butuh hiburan. Di tempat ini pula Namira dapat mengembangkan bakat berbicaranya dengan menjuarai lomba pidato bahasa Inggris dan memperoleh juara 1. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Walaupun hanya 2 bulan, namun Namira dapat memperoleh pengalaman dan juga relasi yang berharga. Bertemu dengan orang-orang dari berbagai penjuru Indonesia yang tentunya dengan latar belakang yang bermacam-macam dapat mengajarkan Namira, bahwa ia tidak sendiri, banyak pejuang lain yang berada di posisi dan situasi yang sama.

 

“Aku bukanlah air yang mengalir begitu saja, aku ingin menjadi air yang mampu sampai ke laut dan dapat memandang luasnya samudra.” Banyak orang menganggap bahwa hidup yang Namira tempuh sangat berbeda dari kebanyakan orang lainya. Sekolah, kuliah, kerja, dan tua. Terkadang memilih menjadi sesuatu yang berbeda justru mendekatkan kita kepada keistimewaan. Istimewa karena mampu menjadi pribadi yang mahal dan jarang orang lain jumpai. Namun, istimewa juga harus tetap diimbangi dengan budi pekerti yang luhur.

 

Bulan Februari 2024, “MasyaAllah, pendaftaran beasiswa SIS (study in saudi) sama BDGS (Brunei Darussalam Government Scholarship) udah dibuka bu, bismillah aku daftar tahun ini.” Dua beasiswa yang menjadi gerbang pembuka dari sebuah perjuangan yang sesungguhnya. Perjuangan untuk menyiapkan sertifikat TOEFL min. band 550, mengurus segala dokumen mulai dari paspor hingga essay, dan termasuk di dalamnya adalah terjemah dokumen yang tidak murah (65.000 setiap halaman). Semua itu dilakukan Namira dengan sungguh-sungguh karena Namira percaya bahwa tahun 2024 adalah waktu penantian itu akan berakhir. Waktu dimana akan ada senyum bahagia dan penuh rasa syukur. Namira kecil akan segera menggapai bintang yang selama ini hanya berupa angan-angan. Apalagi, tanda-tandanya sudah sangat dekat, Namira dikatakan lolos dalam kualifikasi dokumen dan lanjut untuk tahap wawancara. Rasa yakin itu semakin tumbuh dan berakar. “InsyaAllah, this my show time.”

 

Namun, Namira lupa, keputusan itu bukan di tangannya. Justru kenyakinan itu mengarahkannya kepada patah hati yang disengaja. Patah hati yang disengaja adalah terlalu berharap kepada makhluk, termasuk pada diri sendiri. Terlalu yakin dan bahkan mengarah pada sifat sombong. Mungkin hal inilah yang membuat Namira tak jadi menggapai bintang itu. “Bu, aku gagal dua-duanya.” Tangis tak bisa terbendung lagi. Antusiasme itu rasanya langsung lenyap tak berbekas. Putus asa dan kecewa. Rasanya ingin mencubit pipi berkali-kali agar terbangun dari mimpi buruk ini. Tapi sayang, bukan raga yang harus disadarkan namu jiwa yang telah hanyut menghilang.

 

“Menjadi seorang pejuang beasiswa luar negeri harus siap mental dan fisik! Jangan gampang loyo! Ayo sekarang coba lagi!” Kalimat semangat yang sebenarnya terkandung rasa kecewa. Namira yakin, ibu juga sebenarnya telah berharap banyak dari dua beasiswa di atas. Namun, apalah daya takdir berkata ‘Anda kurang beruntung dan coba lagi’.

Setelah merenung dan mencoba untuk belajar dari kegagalan, Namira memilih untuk bangkit dan berjuang lagi. Benar kata ibu, sesuatu yang besar hanya untuk mereka yang layak mendapatkannya. Maka, kali ini Namira mencoba untuk mendaftar YTB scholarship Turki. Namun, berbeda dari yang sebelumnya kali ini Namira tidak terlalu berharap dan berpikir bahwa ia akan diterima hanya dengan mengandalkan kemampuannya saja. Namira hanya akan melakukan yang terbaik dan menyerahkan hasilnya kepada Sang Pengendali Hidup. Walaupun pada akhirnya, Namira tetap berjumpa dengan kata “maaf Anda tidak memperoleh beasiswa ini”. Sedih, tentu saja. Kecewa, pasti. Tapi, bukankah setiap kejadian pastilah ada campur tangan Tuhan?

 

“Walaupun telah ku genggam dengan erat, apa yang bukan milikku pasti akan pergi juga.” Segala proses di atas membawaku hingga pada titik ini. Titik dimana aku, Namira memilih untuk keluar dari zona nyaman. Bekerja. Suatu kegiatan yang benar-benar di luar radar hidup seorang Namira. Anak manja yang hanya gemar belajar dan belajar. Hidup memang penuh kejutan, terkadang apa yang kita hindari justru datang mendekat. Tapi, tanpa adanya plot twist hidup akan membosankan.

 

Aku saat ini bekerja di sebuah yayasan bernama Alfatihah di Semarang. Bekerja bukan sekedar bekerja. Aku sadar selama setahun ini telah banyak uang orang tua yang dikeluarkan untuk persiapan pendidikanku. Maka, ini saatnya aku berdiri diatas kakiku sendiri. Menghasilkan sedikit pemasukan yang rencananya akan diinvestasikan dalam bentuk les IELTS di sebuah lembaga bahasa Inggris online yang telah terkenal. Biayanya pun tak bisa dibilang murah, maka dari itu, ini adalah kesempatanku untuk belajar menjadi dewasa. Walaupun hanya menjadi seorang penjaga kantin, tapi ku ucapkan Alhamdulillah karena dengan gaji yang sedikit ini aku dapat mulai menabung sebagai modal perjuanganku selanjutnya. Inilah kisahku, kisah perjuangan seorang gadis biasa yang sedang mencoba membuka jendela pikiran yang sederhana ini. Pikiran yang selalu mengarah pada impian yang begitu tinggi bahkan tangis pun tak mampu meleburkannya. Tapi, selagi kaki ini masih bisa berdiri dan tangan ini masih bisa menggenggam, maka akan ku nyatakan tidak ada yang mustahil. Bismillah.

“Jangan berkata tidak mungkin sebelum kamu mati dalam mencoba.” Muhammad Al Fatih.