Kampus Swasta

Oleh: Reinawati Amardhianti

Saya bukanlah anak perempuan yang terlahir dari keluarga kaya. Kedua orang tua saya juga bukan dari kalangan orang yang berpendidikan tinggi. Ayah saya hanya sebatas lulusan Sekolah Dasar, begitu pula Ibu saya yang terpaksa putus sekolah ketika di Sekolah Menengah Pertama karena keterbatasan biaya. Jadi, disini saya sebagai anak perempuan pertama memiliki niat yang besar untuk merubah nasib keluarga saya.

Dimulai dari awal pertama masuk Sekolah Menengah Atas, dimana saat itu sedang ramai ramai nya virus covid. Pembelajaran jarak jauh membuat saya kehilangan semangat belajar saya, karena disitu saya sangat sulit memahami materi yang diajarkan. Rasa malas saya lebih dominan, karena terlalu lama berdiam diri di rumah. Ketika pengumuman nilai hasil ujian, disitu saya merasa menyesal karena melihat nilai saya yang terbilang berantakan. Namun, hal yang saya syukuri adalah saya masih bisa bertahan di kelas unggulan. Awalnya saya tidak memiliki niat untuk melanjutkan pendidikan saya nanti, lagi-lagi karena masalah biaya. Namun, karena teman-teman saya selalu bercerita dan memiliki rencana tentang perguruan tinggi, disitulah saya merasa saya harus melanjutkan pendidikan saya. Di kelas sebelas saya mulai bersungguh-sungguh untuk belajar agar nilai saya memuaskan dan dapat masuk perguruan tinggi nantinya. Walaupun saya tau nantinya akan sulit setidaknya saya sudah berusaha, untuk hasilnya nanti saya serahkan semua kepada Allah, karena saya yakin pasti akan ada jalan tersendiri bagi orang yang mencari ilmu. Hasil dari belajar saya tidak sia-sia, saya berhasil mendapatkan nilai yang memuaskan, lebih baik dari sebelumnya. Disaat itu, orang tua saya tidak tahu bahwa saya memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan saya. Ketika saya menyinggung masalah kuliah jawaban orang tua saya selalu sama yaitu, “Biaya kuliah mahal, Nak.”. Saya sering kehilangan motivasi untuk masuk ke perguruan tinggi karena saya tidak mau membebankan orang tua saya, apalagi saya sebagai anak pertama tidak boleh egois, masih ada adik saya yang juga perlu dipenuhi kebutuhannya. Namun saya tetap giat dalam belajar, walaupun mungkin nantinya saya tidak bisa melanjutkan pendidikan saya, setidaknya saya masih memiliki ilmu yang tidak akan sia-sia. 

Ujian semester lima tak terasa telah tiba. Saya merasa takut akan kegagalan, saya takut nantinya saya tidak termasuk dari salah satu siswa eligible. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain berusaha dan berdoa. Akhirnya tibalah saat dimana pengumuman siswa eligible. Saya merasa takut sekaligus bimbang, apabila saya menjadi salah satu dari siswa eligible tersebut, apa yang harus saya lakukan? Lanjutkan atau ikhlaskan?. Rasa takut saya akhirnya terjawab, saya menjadi salah satu siswa eligible dan berhasil menduduki sepuluh besar. Namun, rasa bimbang saya semakin besar, apa yang harus saya lakukan setelah ini?. Teman-teman saya mulai memilih mana perguruan tinggi yang nantinya akan dijadikan pilihan pertama, sedangkan disini saya masih bingung apa tindakan saya selanjutnya. Dengan seluruh keberanian saya, saya mencoba meminta izin kepada orang tua saya untuk masuk ke perguruan tinggi. Namun, jawaban yang saya dapatkan membuat saya semakin putus asa, ekonomi keluarga saya semakin turun karena dampak dari covid. Disitulah akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan apa yang sudah saya dapatkan. Besoknya, ketika saya memasuki kelas, saya diberi pertanyaan oleh teman-teman saya tentang dimana nantinya saya kuliah, saat itulah tangis saya pecah. Di depan teman saya, saya bercerita bahwa saya terpaksa tidak melanjutkan pendidikan saya dikarenakan keluarga saya tidak mampu. Mungkin, teman saya merasa iba, banyak motivasi-motivasi dan kata-kata penenang yang saya dapatkan dari teman-teman saya. Bahkan, mereka memberikan saya solusi untuk berkonsultasi kepada Bimbingan Konseling. Akhirnya, saya mencoba untuk berkonsultasi kepada Bimbingan Konseling di sekolah saya. Disitu saya mendapatkan beberapa informasi mengenai beasiswa. Semangat saya sedikit demi sedikit mulai muncul kembali, saya merasa bahwa masih ada kesempatan besar bagi saya. Saya mencari tahu lebih dalam mengenai beasiswa tersebut. Saat di rumah, saya menceritakan hal tersebut ke orang tua saya, dan pada akhirnya walaupun dengan adanya keraguan, orang tua saya setuju dengan syarat saya harus mendapatkan beasiswa, saya sangat senang akan hal itu. Tiba saat dimana hari pendaftaran perguruan tinggi jalur rapot dibuka, dengan semangat penuh saya mendaftarkan diri sekaligus mengurus keperluan beasiswa saya, dibantu dengan teman-teman serta tim Bimbingan Konseling sekolah saya. Semua nya selesai, hal-hal yang perlu dipersiapkan sudah terpenuhi, kini tinggal menghitung hari untuk mendapatkan hasil dari perjuagan tiga tahun ini. 

Hari dimana pengumuman penerimaan mahasiswa baru telah tiba. Saya tidak berani membuka nya waktu itu karena takut kecewa, ditambah lagi sebagian dari teman saya belum berhasil, saya takut menjadi salah satu dari orang yang belum berhasil itu. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk membuka hasil dari perjuangan saya. Tak terasa air mata saya jatuh melihat hasil pengumuman tersebut, saya tidak menyangka bahwa akhirnya saya berhasil menjadi bagian dari salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dengan semangat saya memberitahukan hal tersebut ke orang tua saya. Namun, respon yang saya dapatkan ternyata berbeda dari perkiraan saya, tetapi saya yakin dari hati orang tua saya beliau pasti bangga atas pencapaian yang saya dapatkan, apalagi saya menjadi orang pertama dikeluarga besar saya yang berhasil menginjakkan kaki di perguruan tinggi. Ternyata tidak sampai situ saja kebahagiaan saya, saya berhasil lolos dari beasiswa yang saya ikuti. Disana saya benar benar merasa Bahagia, tidak ada habisnya ungkapan syukur yang saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Disaat berkumpul dengan keluarga besar saya dan ditanya mengenai apa rencana setelah lulus sekolah, dengan bangganya saya memberitahukan bahwa saya akan melanjutkan pendidikan saya di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Namun, lagi-lagi respon yang saya dapatkan berbeda dari harapan saya. Hampir semua bagian dari keluarga besar saya menentang keputusan yang saya ambil dengan alasan “Kasihan orang tua kamu, biaya kuliah itu mahal, mending kamu kerja saja cari uang.”. Saya hidup di lingkungan patriaki, dimana kata kata “Percuma perempuan sekolah tinggi tinggi, ujung-ujungnya juga kerja di dapur.” selalu menjadi hal yang saya dengarkan setiap hari. Namun, hal tersebut tidak membuat saya kehilangan semangat untuk melanjutkan pendidikan saya. Karena seperti motivasi saya diawal “Saya ingin merubah nasib keluarga saya!”. Jadi, saya akan berusaha dan membuktikan kepada semua orang, bahwa saya bisa dan saya akan berhasil!.