Kampus Swasta

Saya Siti Aisyah, mahasiswa jurusan Agribisnis di Universitas Trunojoyo Madura saat ini saya menjalani tahun kedua perkuliahan. Menjadi mahasiswa merupakan anugerah yang sangat saya syukuri karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk duduk di bangku kuliah. Selama menjadi mahasiswa banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa saya peroleh baik dari segi organisasi di himpunan mahasiswa maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang tentu saja berbeda dari kehidupan semasa SMA. Selain itu, kesempatan untuk membangun relasi dengan orang-orang di luar lingkungan saya serta peluang untuk mengembangkan diri dan meningkatkan skill adalah hal yang berharga dan sulit didapatkan jika saya tidak melanjutkan kuliah. Oleh karena itu, menjadi mahasiswa adalah kebanggaan tersendiri bagi saya.

Akan tetapi, perjalanan menjadi mahasiswa tidak selalu mudah bagi saya. Seharusnya, saya sudah memasuki tahun ketiga kuliah, tetapi ada beberapa kendala yang membuat saya harus menunda perkuliahan setelah lulus SMA. Keterbatasan biaya menjadi faktor utama yang menghambat saya untuk langsung melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, tentunya hal ini menjadi permasalahan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga sederhana untuk melanjutkan kuliah. Setelah lulus SMA, saya sempat mendaftarkan diri di salah satu kampus negeri di Jawa Timur, namun sayangnya, saya tidak diterima. Rasa sedih semakin bertambah ketika orang tua saya menyarankan agar saya tidak melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Pada satu sisi, saya sangat ingin melanjutkan pendidikan, tetapi di sisi lain saya tidak ingin membebani orang tua, mengingat biaya kuliah tidaklah murah.

Saat itu saya memutuskan untuk meyakinkan orang tua saya dengan memilih gap year satu tahun dan bekerja untuk mengumpulkan biaya kuliah. Pada saat itu, saya bekerja di sebuah koperasi, sambil tetap belajar dan mengikuti try out untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Bekerja sambil belajar tentu bukan hal yang mudah, terutama karena jam kerja saya sering tidak menentu, bahkan bisa pulang larut malam. Meski begitu, saya tetap berusaha keras karena saya tidak ingin mengecewakan orang tua yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk melanjutkan kuliah. Setelah beberapa bulan bekerja, saya memutuskan berhenti atas saran orang tua untuk fokus belajar. Tidak lama setelah itu, saya kembali bekerja di toko baju dan sepatu, tentunya saat itu saya juga belajar sambil bekerja, pekerjaan ini lebih mudah dibandingkan pekerjaan sebelumnya.

Saat persiapan untuk try out UTBK atau sekarang SNBT semakin dekat, saya memperkuat usaha belajar. Waktu persiapan hanya tersisa lebih dari satu bulan dan saya pun meningkatkan intensitas belajar dengan mengikuti banyak try out gratis yang tersedia di media sosial. Dalam sehari, saya bisa mengerjakan hingga tiga sesi try out dengan jeda waktu yang berdekatan. Meskipun lelah, saya terus berusaha karena saya tidak ingin mengecewakan orang tua yang telah berjuang agar saya bisa melanjutkan pendidikan dan meraih gelar sarjana. Perjalanan saya mungkin penuh tantangan, tetapi saya selalu berpegang pada keyakinan bahwa usaha keras tidak akan mengkhianati hasil dan itu benar adanya. Saya juga sangat bersyukur ketika menerima beasiswa KIP-K setidaknya beasiswa ini bisa meringankan beban di pundak kedua orang tua saya.

Hari ini saya bangga bisa berdiri sebagai mahasiswa di Universitas Trunojoyo Madura. Meski jalan yang saya lalui ada hambatannya tapi dari itu saya belajar bahwa setiap kesulitan adalah peluang untuk berkembang. Saya tau bahwa ini merupakan awal perjalanan saya untuk mencapai impian saya, dengan semangat yang sama saya akan terus berusaha maju kedepan untuk meraih masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri dan orang-orang disekitar saya.