Kampus Swasta

Universitasku saat ini bukanlah impianku melainkan tujuanku untuk menjadi pemudi yang berpendidikan dan bisa bermanfaat di masa sekarang dan masa yang akan datang nanti. Selama duduk di kursi SMA, aku selalu mengutamakan nilai. Aku berusaha untuk bisa mendapatkan nilai yang sempurna dan bisa mempertahankannya. Saat duduk di kelas X, aku berhasil mendapatkan nilai yang baik dan membuatku merasa cukup puas. Ketika nilai ujian telah keluar aku berusaha keras untuk bisa mempertahankan sekaligus meningkatkannya. Hal tersebut aku lakukan supaya bisa masuk perguruan tinggi lewat jalur undangan atau disebut dengan SNBP. Meskipun banyak rintangan dalam mempertahannya, sering tergoda ajakan teman untuk main, menghadapi beberapa konflik pertemanan di kelas, tetapi aku tetap bisa meningkatkan nilaiku sampai aku semester 4. Tiba di semester 5, mulai banyak tugas-tugas, praktek, dan mulai memikirkan pendaftaran masuk PTN, itu semua membuatku terpengaruh. Di semester 5 nilaiku sedikit menurun. Aku sudah mulai overthinking, aku mulai ragu apakah aku bisa masuk perguruan tinggi lewat jalur SNBP atau tidak.

Di kelas XII ini, aku harus memutuskan akan melanjutkan pendidikan atau tidak. Hal yang membuatku bimbang adalah kondisi ekonomi keluargaku yang meragukan. Setiap kali aku bertanya kepada orang tuaku, mereka selalu menjawab semua keputusanku ada ditanganku sendiri. Mereka tidak pernah mau memberitahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dari diriku. Hingga akhirnya, karena banyaknya motivator di sekolah memberiku sebuah jalan keluar dari kebimbangan. Aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Aku sempat direkomendasikan guruku untuk mengambil jurusan desain interior, namun aku tidak yakin apakah aku mampu, apakah aku sanggup menghadapi penugasannya. Apalagi jurusan ini membutuhkan banyak dana, aku tidak mungkin mempersulit orang tua. Selain itu, jurusan ini hanya ada di beberapa kampus di Indonesia. Aku mencoba mencari tahu apa kesukaanku, apa kemampuanku, hingga akhirnya aku memutuskan mengambil jurusan periklanan. Namun, saat aku bertanya kepada guru BK, mereka tidak bisa merekomendasikan kampus apapun. Aku juga tidak tahu apakah pengetahuanku mengenai keberadaan jurusan ini benar atau tidak. Hingga akhirnya hari pengumuman siswa eligible telah tiba.

Saat itu, harapanku sudah sangat kecil, tapi ternyata aku berhasil masuk dalam daftar siswa eligible tersebut. Aku masuk di urutan 15. Namun masalahnya, aku belum tahu jurusan apa yang aku ambil. Aku terus mencari informasi mengenai jurusan perkuliahan di internet, sampai akhirnya aku menemukan jurusan yang sesuai kebutuhanku. Jurusan tersebut yaitu jurusan ilmu komunikasi. Aku anak introvert, selalu gugup saat di depan publik, kurang mampu untuk berkomunikasi dengan baik. Tetapi aku ingin menantang diriku, aku ingin berubah, aku tidak bisa terus-menerus seperti ini. Hingga akhirnya aku yakin untuk memilih jurusan ini di kampus UPNV Jatim sebagai pilihan pertama dan UTM sebagai pilihan kedua. Aku sangat berharap bisa lolos dengan rata-rata nilai yang telah kuperjuangkan selama ini. Meskipun aku tidak lolos di pilihan pertama setidaknya aku bisa lolos di pilihan kedua.

Hari pengumuman telah tiba. Sebelum hari pengumuman, aku sudah mempersiapkan diri mengikuti les untuk persiapan UTBK. Dan tiba pukul 15.00 WIB. Aku sudah mantengin handphone jauh sebelum pukul 15.00. Saat waktunya tiba, aku langsung membuka website pengumuman, namun ternyata eror. Banyak temanku yang sudah berhasil melihat hasil pengumuman, aku sudah mendapat banyak info hasil pengumuman dari teman-temanku. Banyak yang gagal, tetapi banyak juga yang berhasil. Ketika berhasil, ternyata hasil yang kudapatkan adalah warna merah yang menandakan bahwa aku gagal. Jauh-jauh hari aku memang sudah tidak yakin bisa lolos karena nilaiku yang turun, rata-rataku yang pas-pasan untuk jurusan ilmu komunikasi, dan aku yang tidak memiliki sertifikat apapun untuk membuka peluang diriku bisa diterima. Meskipun aku sudah punya sedikit dugaan, tetapi tetap saja hasil itu membuatku terpuruk, nafsu makan menurun, dan aku terus menangis.

Namun aku tidak boleh dengan begitu mudah untuk putus asa. Keesokan harinya, aku langsung berangkat les, sesampai di rumah aku belajar lagi, aku tryout online hampir setiap hari, dan aku tidak lupa untuk terus berdoa. Tetapi hasil dari tryout membuatku terus overthinking, hasilnya selalu dibawah 500, jika sampai 500 itupun hanya beberapa kali. Aku mencoba belajar lewat beberapa konten kreator di media sosial, buku UTBK, bimbingan dari guru, tetapi hasil tryout malah terkadang menurun. Melihat skor tryout, dan karena rasa traumaku, aku mengubah kampus tujuanku. Pilihan pertama jalur SNBT ini adalah UM, dimana jurusan ini adalah jurusan/prodi baru, sehingga peluang diterima cukup besar.

Tiba di hari UTBK, aku berangkat bersama teman-teman sekolahku. Sehari sebelum UTBK, aku tidak belajar sama sekali, aku menganggap bahwa ini waktunya otakku istirahat supaya besok di hari tes tidak jenuh. Saat duduk di kursi ruang tes, aku sangat gugup, tetapi terkadang sejenak aku merasa sangat santai. Jujur saja, aku cukup kesulitan mengerjakan tes ini, terutama bab bahasa inggris dan matematika. Setelah tes, aku terus terdiam, melamun, merenung. Bahkan aku sudah merencanakan untuk daftar di PTS.

Tetapi saat pengumuman tiba, hal tak terduga menghendakiku. Aku tidak lagi mendapatkan kata semangat melainkan kata selamat. Dan hal tak terduga lagi skor yang kudapatkan diluar ekspektasiku. Skorku cukup tinggi, lebih dari 600. Tanganku langsung gemetar melihat hasil itu. Aku sangat terharu mendapat banyak ucapan selamat dari teman sekaligus keluargaku.

Setelah aku diterima di Universitas Negeri Malang (UM), aku menjalani kehidupan baru sebagai anak kost. Selama aku kuliah sampai sekarang semester 3, aku ingin untuk meningkatkan kualitas diriku. Aku mulai dari mengikuti lomba poster dan cerpen, namun tidak pernah ada yang berhasil. Aku juga sempat mencoba daftar kepanitiaan di kampus, namun aku gagal. Aku sering mencoba daftar beasiswa, tetapi selalu gagal. Dan baru-baru ini, aku mengikuti beberapa lomba menulis esai, cerpen, dan Gadjah Mada Competition 2. Aku juga sedang mencari beberapa informasi tentang lowongan kerja part time, aku sudah melamar beberapa lowongan, tetapi sampai saat ini belum ada panggilan satupun. Aku tidak tahu apakah semua tujuanku sekolah di UM selama menjadi mahasiswa dan sampai lulus nanti bisa tercapai atau tidak, tetapi aku tidak akan menyerah untuk terus berjuang mulai sekarang. Banyak orang yang bilang bahwa “kampus ini impianku”, tetapi sesungguhnya kampus itu bukanlah impianmu melainkan sebagai tujuanmu untuk mengembangkan diri mulai sekarang dan kedepannya nanti.

 

Nama: Resa Emilia Indriyani